Maafkan pandangan elitis saya.
Saya tahu bahwa ada kemungkinan Bima Sakti dan Andromeda bertubrukan 3 miliar tahun lagi dan mengakibatkan hasil jerih payah peradaban, ya ilmunya, ya teknologinya, ya seninya, ya sastranya, etc, musnah, kecuali kalau manusia bisa menyebar ke planet di galaksi lain. Tapi menurut pandangan elitis saya, manusia yang terlahir di situasi yang normal (misal, tidak ada perang) haruslah memiliki kontribusi buat dunia. Kalau tidak bisa, ya buat negara. Kalau tidak bisa ya buat propinsi. Atau kabupaten. Atau kecamatan. Desa. Dukun. And so on and so forth. Sesuai talentanya, sesuai kemampuannya.
Nah, kebetulan saya sendiri seorang perfeksionis yang selalu ingin mepet-mepet ke target yang tertinggi, dan kalau ga begitu ga bisa diterima. We don’t tolerate failure, mengutip Ernst Stavro Blofeld dengan mengubah sedikit kata. Mungkin terdengar khayal dan berlebihan, tapi saya ingin mencatatkan nama saya dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan, yang menurut saya menjadi kemampuan utama saya (silakan lihat hasil mypersonality di kanan, logic-nya tinggi lo heheheh). Dan sekarang masalah tiba.
GPA (ID: IPK) saya njeblok, gara-gara ga bisa ngatur waktu dengan baik.
Well, nilai belum keluar sih, tapi ujian kemarin saya ga bisa banyak ngerjain.
Dan saya jadi khawatir, apakah bisa saya tetap di sini dengan GPA yang demikian? Sebenarnya, saya pikir DO dari postgraduate ga sebegitu memalukanlah, ketimbang dari undergrad atau SMA atau di bawahnya, tapi bukan itu masalahnya. Kalau saya DO, bagaimana bisa saya mengejar aspirasi saya?
OK, saya sudah berdiskusi dengan boss, dan katanya untuk Master saya masih bisa bertahan, tidak perlu terlalu khawatir, walaupun untuk naik ke PhD kami harus melihat GPA akhir dan hasil riset saya sekarang. Asumsikan saja bisa. Asumsikan juga saya bisa meraih A atau A+ untuk 2 mata kuliah terakhir. Masalah tetap ada. GPA saya tetap ga bakal tinggi, palingan berkisar 4.0 – 4.2 dari maksimal 5.0. Apakah akan berpengaruh pada karir saya nanti, mengingat target agak dekat saya adalah postdoctoral, dan kemudian mengejar tenure di universitas top 500 dunia berdasar ARWU ataupun HEEACT?
Seorang teman yang sedang mengerjakan thesis di RWTH Aachen, Jerman, berkata, “kamu sepertinya terlalu perfeksionis”. Well, indeed I am, and I have to! Silakan klik [ini], dan lihat GPA para profesor tersebut untuk level PhD. 4.0/4.0 (4.0 dari maksimum 4.0). 3.9/4.0. Paling jelek 3.8/4.0. Bagaimana saya bisa bersaing dengan mereka kalau tidak mengejar dan mendapat yang terbaik?
Anyway, saya sedang berpikir bahwa jalur hidup seseorang tidak selalu lurus. Konon kabarnya Abraham Lincoln harus gagal 10 kali sebelum jadi presiden. Saya bisa jadi bakal berhenti sementara dari postgraduate study dengan gelar Master, kerja di industri 1-2 tahun untuk kemudian kembali ke universitas, mengejar PhD. Ini saya jadikan Immediate Plan B. Next time, don’t play play with time.
Yah, setidaknya kejadian ini bisa saya jadikan bahan untuk renungan dan pelajaran. Saya memang awal semester ini keteteran. Banyak tugas di lab, sampai-sampai tugas kuliah “harus” (?) dikerjakan saat kuliah, dan akhirnya saya tidak mendengarkan kuliah dan melewatkan beberapa materi. Saya akui, manajemen waktu saya buruk. Tidak perlu beri alasan lain. Jadi ya…harus lebih baik lagi ke depannya.
Mungkin terdengar klise, tapi saya yakin bahwa kalau kegagalan disikapi dengan tepat, diri kita secara keseluruhan akan menjadi lebih baik. Simpelnya saja, jadi tidak terlalu perfeksionis, dalam artian kalau gagal tidak perlu terlalu depresi, hehehe. Dan pada kasus ini, saya sadar bahwa time management saya harus diperbaiki.
Sekian, terima kasih sudah membaca curhat saya.
…
UPDATE
Failed person.
Dua kata ini terlintas di pikiran saya. I am a failed person.
Dan teman saya yang lulusan Groningen ini bilang, “Aku sudah merasakan ini dulu; bersyukurlah kamu yang baru mengalaminya sekarang.” Dia menceritakan bagaimana perjuangan hidupnya sebelum bisa ke Belanda, ditambah dengan kondisi keluarganya yang tidak stabil waktu itu. Toh akhirnya dia bisa lulus dari Groningen.
Pesan moralnya bukan bahwa kegagalan adalah jalan menuju keberhasilan, tapi kegagalan melengkapi dirimu sebagai seorang manusia.



Standar di NTU tinggi sekali ya
*asal jangan seperti si “D” aja ya*
Saya juga pernah seperti itu, terseok-seok dan terbirit-birit dengan target yang saya buat sendiri. Lalu tersandung batu kecil, jatuh terguling-guling, untungnya masih bisa jalan lagi. Yah, kecepatannya lebih lambat sih, tapi masih untung daripada langsung tewas
Kalau sudah tersandung dan jatuh, ayo bangkit lagi
Ganbatte!!
Mmm, wew ip 4.2 dari 4, eh 5 ya.
kalau nunggu 3M tahun lagi, seharusnya manusia udah bisa sampai mana2, paling ga ga cuman andromeda atau bima sakti. harusnya udah ada kapal super guede kayak macros dan pesawat2 gundam. tapi ya itu kalau manusianya masih ada.
@Sukma
Bukan begitu sih, cuma saya ga bisa mengalokasikan waktu untuk kegiatan dengan baik.
Ga, ga akan!
Hidup terlalu berharga untuk dilewatkan.
Terima kasih…
—
@tito
Makanya, berikan kontribusimu kepada dunia supaya manusia bisa siap-siap kalau saat itu tiba
GPA di NTU max 5 yah? Di saya max 4 soalnya.
You rise, you fall, your down, then you rise again
What don’t kill you make you more strong
Metallica – Broken, Beat & Scarred
(i) Kemungkin tubrukan antargalaksi yang destruktif itu sebesar apa toh? Setahu saya itu cuma bakal lewat saja tanpa merusak tata surya?
(ii) Kegagalan Lincoln setahu saya dibesar-besarkan; waktu dia kalah pemilihan itu dia kalau tak salah karena dicalonkan (bukan mencalonkan diri) sepihak dan itu pun sukses meraup ~sepertiga suara dewan. Selanjutnya dia menang. Bukan cerita motivasi yang terlalu bagus.
(iii) Omong-omong jatuh, saya sudah “jatuh” tahun lalu. Sekarang ambil Plan B. Apa lacur? Asal bukan berniat jadi sukses dan gol jadi anggota Klub 27 saja. Deadline ‘kan masih panjang.
@Disc-Co
Nice quote!
—
@Kgeddoe
(i)Berdasar yang saya tonton sih, ada 2 kemungkinan. Kalau tubrukan di sisi yang jauh dari tata surya, tata surya bakal terlepas dari Bima Sakti. Kalau dekat dengan Bumi, Bumi akan terhisap ke supermassive black hole di tengah galaksi. Tapi ga tau sih, itu penelitian tahun 2000, ga tahu penelitian terbaru
(ii) I see. Cariin yang lebih cocok dong
(iii) Saya juga ga mau jadi Klub 27. The show must go on.
Lo tulisan di Wiki tentang tubrukan kok berbeda dengan yang saya tonton ya. Apa itu lebih baru?
anda tidak sendiri!!!
@Irene
—
Anyway, saya sudah punya jawaban tentang masalah ini. Terima kasih sudah membaca tulisan super katarsis saya.
suhu _(u_u)_
*
..
*sekali-kali 1 liner
*disambit*
hmm….. bungkuk bungkuuuuk… saking malunyaaaa… perasaaan gua tuh pintaaar… eee teteeeep OON sur OON.. maluuuuuu ampuuuun boooos… muka gue taruh di mana yaa IPK nya hmm… apaaan yaa booos… maklum gak pernah makan bangku sekolaaaahan… ya begini ini jadinyaaaa.. bodoh dan toloool.. huuuwaaaaaaakakakak…
*kabuuuuur aaah*
Salam Sayang…
1] soal tubrukan antargalaxi, saya mengutip yud1 saja:
2] Abe Lincoln memang gak cocok. Ryan Giggs saja. Kegagalannya main di Piala Dunia melengkapi daftar suksesnya sebagai pemain bola.
3] Saya susah komen soal studimu, saya ni bodoh dan sial dalam studi, tapi saya percaya kamu akan mengukir legendamu sendiri.
Udah lari ke puisi aja bro; melupakan segalanya, jadi romantik seperti Chairil, yang mau hidup 1000 tahun lagi meski sakit-sakitan, lapar dan kesepian. Katakan tidak pada kemapanan! Katakan tidak pada segala yang diiyakan orang lain! Biar dikata orang naif dan tolol,
yang penting keren.*jadiiblis*
saya gak ngerti kenapa nilai seorang manusia harus ditentukan orang lain…
menurut saya, gak ada tuh hubungannya IPK sama kepandaian seseorang…
soalnya ada juga orang yang sebenarnya pandai tapi entah kenapa IPK-nya cuma segitu2 aja…
jangan terpaku pada angka-angka deh…
dosen saya juga ada kok yang katanya dulunya mahasiswa jeblok, kuliah banyak ngulang, lulus telat, IPK segitu2 aja, nyatanya sekarang uda jadi salah satu dosen yang disegani di jurusan…
kamu juga semangat ya!
Wah, bersabarlah Mas…. ^^
Hmmm… “kegagalan adalah jalan menuju keberhasilan”, itu boleh juga…