Akhir-akhir ini saya jadi produktif ngeblog. Maklum, dekat deadline.
***
You have heard that it has been said: An eye for an eye, and a tooth for a tooth. But I say to you not to resist evil: but if one strike you on your right cheek, turn to him also the other: And if a man will contend with you in judgment, and take away your coat, let go your cloak also unto him. And whosoever will force you one mile, go with him other two. Give to him that asks of you, and from him that would borrow of you turn not away.
Mat 5:38-42
Dulu sekali, waktu pertama kali saya diajarkan tentang ayat-ayat ini di pelajaran agama, yang terbayang di benak saya adalah bahwa dalam meneladani Yesus, orang Kristen harus menghancurkan ego ketika ditindas, ketika didzolimi. Tidak boleh membalas. Beberapa orang juga menganggapnya sebagai ajakan untuk menjadi pasifis, untuk menolak kekerasan. Namun, sewaktu SMA, ada teman saya yang berpendapat lain, bahwa itu ajakan untuk melawan penindasan. Katanya, latar belakangnya begini. Pada zaman Romawi dulu, orang menampar dengan punggung tangan sebagai bentuk penghinaan, dan kalau menampar dengan posisi begini, yang kena duluan pipi kanan bukan? Nah, menurut kawan saya ini, Yesus menyuruh pengikutNya untuk menyodorkan pipi kiri, sebagai bentuk ketidakpatuhan, sebagai bentuk resistansi, bahwa kita harus fight ketika ditindas. Sepertinya ada beberapa pendapat lagi tentang ayat-ayat ini (misalnya bisa baca artikel Wikipedia ini), tapi buat saya keduanya cukup dan sama bagusnya. Saya pribadi mencoba menyeimbangkan keduanya, dengan memahami teks ini sebagai himbauan untuk melawan penindasan tanpa jalan kekerasan.
Kenapa saya nulis tentang ini? Kan khotbah di gereja bukan tentang ini?
Kalau melihat ke belakang, Kristen, khususnya Katholik Roma (karena saya ga kapabel bicara tentang denominasi lain), sudah mengalami fase-fase ditindas dan menindas. Pemahaman saya tentang tradisi Kristen adalah bahwasanya Yesus ditindas dengan disalib. Selanjutnya, pengikut-pengikut awal Kristus yang gantian ditindas. Konon kabarnya, 10 dari 12 rasul menjadi martir, mati dibunuh karena kepercayaannya. Namun, ajaibnya, beberapa ratus tahun kemudian, gantian orang Kristen yang menindas orang Pagan. Siklus ini berulang terus. Di satu sisi abad pertengahan ada Perang Salib, pengadilan Galileo Galilei, dan Spanish Inquisition, tapi di sisi lain dunia ada pengadilan Galileo Galilei (dia kan Katholik juga), dan penindasan terhadap Kirishitan. Pada zaman Modern, ada Kristen penindas dan Kristen tertindas. Perhatian saya belakangan ini terarah kepada para Kristen Arab (Chaldean, Orthodox, Koptik, dll) yang sering terlupakan oleh dunia internasional. Di Iran, Afghanistan, dan Irak mereka terdiskriminasi, sementara di Palestina dan Mesir mereka terdesak penguasa. Mereka orang native, sesama orang Kristen yang tidak terlihat oleh sesama umat Kristen di Barat yang powernya relatif dominan.
Itu di luar sana, dan sekarang saya mau kembali ke lingkungan saya.
Saya nulis ini habis selesai pulang Misa Natal. Saya senang bahwa di Singapore, walaupun kami juga minoritas, saya tidak melihat polisi berjaga-jaga di sekitar kami. Ini kontras dengan di Indonesia, mengingat sudah belasan tahun ini kalau saya Natalan di gereja, saya selalu melihat polisi dan anggota Banser-nya GP Ansor di luar gereja. Saya berterima kasih sangat kepada mereka karena kepeduliannya terhadap kami kaum minoritas. Bahkan beberapa tahun lalu ada anggota Banser, namanya Riyanto, menemukan bom di gereja di Mojokerto dan membawanya lari, tapi bomnya meledak dan dia meninggal. Buat kami, dialah martir, yang berjihad sebenar-benarnya. Kalau bisa malah saya pingin usulkan beliau jadi Santo hahahaha. Yah begitu. Tapi, di sisi lain, adanya mereka yang menjaga ini malah penanda bahwa beribadah secara Kristiani tidak terlalu aman di Indonesia, bahwa bom bisa saja datang sewaktu-waktu. Itu yang ada di benak saya.
Ini memang kasus ekstrim, yang walaupun tidak banyak, sekali ada menghentak. Namun kenyataannya, beberapa praktek berkehidupan sehari-hari kurang menyenangkan buat saya. Misalnya, saya melihat reluktansi beberapa teman Muslim untuk mengucapkan selamat ketika kami merayakan hari besar, sementara kami, setidaknya saya, selalu menyelamati kalau teman-teman yang berbeda keyakinan, apapun keyakinannya, sedang ada perayaan. Jujur saja, saya kurang sreg dengan ini. Hubungan yang baik adalah hubungan dua arah, dan kalau cuma satu yang aktif, timpang. Beberapa bilang itu “cuma” ucapan selamat, tapi buat kami itu fundamental buat melihat seberapa diterimanya saya di pandangannya, dan apakah hubungan tersebut mutual.
Yah, suka dukanya jadi minoritas. Namun demikian, kembali ke ayat yang saya kutip di atas, ketimpangan, perlakuan kurang menyenangkan, apapun namanya, tidak baik untuk dibalas sedemikian rupa. Setidaknya secara umum, kami dianggap bagian dari masyarakat juga. Saya ingat ketika ada kelompok radikal Islam menyerang beberapa gereja di Temanggung, Jawa Tengah, beberapa bulan lalu, masyarakat sekitar menyelundupkan dan menyelamatkan para warga gereja lewat belakang gereja [link]. Contoh simpel lagi, saat ini orang tua dan adik saya sedang Natalan bersama-sama anggota keluarga besar kami yang lain di Malang, di rumah om kami yang seorang Muslim. Coba di Korea Utara. Mungkin kami sudah masuk kamp 22 dari dulu.
***
Kalau boleh mengaku, saya cukup bangga menjadi orang Katholik. Walaupun saya terlahir sebagai Katholik dari orang tua Katholik dan dididik secara Katholik, kebanggaan ini boleh dibilang masih belum lama, karena saya baru menyadari hal-hal yang, walaupun saya ga berani bilang unik di komunitas kami, membuat saya bangga berikut ini. Pertama, sebagai komunitas kami sudah mengalami masa kegelapan, baik dalam soal fundamentalisme, penolakan sains, dan penindasan. Kami belajar banyak dari masa itu dan dengan berkaca kepadanya, mencoba menjadi lebih baik. Paus Yohanes Paulus II dulu meminta maaf atas dosa umat Kristen pada masa lalu. Kedua, tidak seperti pada zaman dulu, pada zaman modern ini, orang Katholik cukup terbuka terhadap sains. Berdasar Catechism of the Catholic Church, pendapat resmi Vatikan adalah bahwa teori evolusi adalah bagian dari sejarah dan menjadi sarana bagi kita untuk mengagumi ciptaan maupun kuasa Allah. Sepanjang pengalaman saya belajar di sekolah Katholik, kami pun mendapat pelajaran tentang teori ini tanpa embel-embel “cuma teori” (tahu maksudnya kan?). Selain itu, pencetus teori Big Bang, Georges Lemaître, pun seorang biarawan Katholik. Ketiga, setidaknya di sekitar saya, orang Katholik biasanya moderat, baik tentang pemahaman agama maupun perilaku sehari-hari. Beberapa lebih konservatif, beberapa lebih liberal, tapi mereka low profile dalam beragama, dan tidak ketat dalam menjalankan aturan-aturan yang kadang, saya pikir, cukup trivial. Buat saya, beragama tidak boleh membuat orang lain sakit hati. Keempat, terutama sebagai orang Katholik Jawa Indonesia yang tinggal di Singapura, menjadi minoritas membuat kami lebih toleran terhadap budaya dan kepercayaan lain. Dalam upacara-upacaranya, umat Katholik memasukkan unsur-unsur tradisi dan kearifan lokal, alih-alih menganggapnya “budaya lama” yang tidak sesuai dengan kaidah agama. Contohnya, dalam tradisi Jawa ada upacara 1 hari, 1 minggu, 40 hari pasca kematian seseorang, dan kami pun mengadakan ibadat pada hari-hari tersebut. Secara eksternal pun kami bisa toleran jika seseorang tidak mempercayai apa yang kami percayai.
Tapi yah ini manifesto doang. Pada kenyataannya, saya jauh dari orang Katholik yang baik. Ke gereja aja bolong-bolong, dan tentunya masih banyak hal lagi. Selain itu, menjadi minoritas berarti peluang menemukan jodoh adalah kecil. *eaaa curhat*
Sekian racauan saya. Eid Milad Majid buat semua pembaca yang merayakannya, dan selamat berlibur buat yang tidak merayakannya.
Recent Comments