Jadi baru-baru ini saya ngulangin lagi main Lengan Beribu, yang di Argentina, tepatnya di Rosario dan Falkland Island, terkenal dengan nama Thousand Arms. Saya pingin menulis dua tiga (kok ga ada yang koreksi sih!?) poin tentang perenungan hidup yang saya petik setelah bermain game ini selama beberapa jam (di bawah 10).
- Pertama kali saya main game tersebut kira-kira 10 tahun yang lalu
HUANJRIT 10 TAHUN YANG LALU LAMA BANGET WTFLOLBBQ. Saya pinjam cd bajakan game tersebut dari seorang temanweeabooyang memang maniak sama Jejepangan. Memang waktu itu SMA kami dilanda demam Jejepangan, tapi dia termasuk yang heboh maniaknya. Anyway, itu adalah masa-masa ketika saya jatuh cinta untuk pertama kalinya, tapi betul-betul blank soal kewanitaan. Jadi waktu saya main game ini, saya bener-bener ndak ngerti pilihan jawaban yang tepat waktu ngedate. Sekarang, saya *uhuk* udah lebih ngerti dikit soal perempuan, jadinya bukan masalah besar untuk memilih jawaban. Cuman ya itu… - …saya pun jadi merasa bahwa game-game simulasi kencan macam begini rada menipu pria-pria yang culun hati dan pikirannya, karena mereka jadi berpikiran bahwa ketika kencan, mereka harus memberi jawaban seperti apa yang si cewek inginkan. Padahal IMO ini ndak bagus. Bagaimanapun juga pendapat diri sendiri musti dipertimbangkan, terutama ketika kita ada pendapat atau pendirian yang berbeda dengan mereka. Misalnya, saya langsung ilfil ketika salah seorang karakternya punya impian hidup “ingin menikah”. Bleh. Ya silakan-silakan aja sih. Tapi kalau mau jadi pacar saya ya you must do better. Terserah aja kalau si cewek marah-marah. Ya berarti ndak cocok. Sayangnya di game ndak ada pilihan untuk protes. Namun demikian, apapun komplen saya di sini, saya ya ndak bisa menyalahkan karena tujuan game ini adalah menjadi pandai besi sejati, yang untuk mencapainya kita musti mampu menjalin hubungan dengan berbagai macam wanita. Terakhir…
- …karena saya sudah agak pintar menebak, lama-lama dating ini jadi membosankan juga *hoahem*
Sebagai penutup postingan ini, saya persembahkan lagu pengantar galau, yang tak lain tak bukan adalah ending dari Lengan Beribu ini. Judulnya Two of Us, dinyanyikan oleh Meffrouw Ayumi Hamasaki. Selamat menikmati!
Kata laman ini, alihbahasa salah satu baitnya macam begini:
I wanted to be loved, it’s not that you loved me
I knew it, I could have slept alone, but
The song we both loved, the movie we saw together
I couldn’t forget, somewhere
I hoped for tomorrow



Recent Comments