Saya sebenarnya suka pasang jenggot. Kesannya garang aja kalo ngaca. *halah* Mana kebetulan saya diberi anugerah Tuhan hormon penumbuh jenggot yang deras. Dua minggu ga cukur sudah kaya Chuck Norris. Dua bulan ga dicukur kaya Che Guevara. Yang di foto itu kalo ga salah 4 bulan ga cukur. Saya pernah punya impian punya jenggot seperti Leland Sklar, bassist-nya Phil Collins, sebelum memutuskan bahwa yang seperti itu berlebihan, lantas mengalihkan perhatian ke Fidel Castro.
Tapiiiiiiiiiiiiii.
Kalau semua lurus-lurus saja, ndak bakal ada postingan ini toh. Tapi ya itu. Halangannya banyak sekali.
Satu, persepsi publik. Jenggot = teroris. Setidaknya, jenggot = Muslim. Bah. Hanya karena Muslim ortodoks itu memelihara jenggot, saya lantas dikira Muslim, dibilang teroris pula? Sejak kapan jika “jika x maka y” benar “jika y maka x” juga selalu benar? Seorang akhwat bilang saya mirip syaikh Taliban. Bah, bahkan teman saya orang Iran aja sempat mengira saya Muslim! Why, just because I am bearded I suddenly become a Moslem? Tapi ya begitu. Yang saya takutkan itu nanti kalau cuma gara-gara berjenggot dan punya tampang Asia Tenggara, saya jadi susah berpergian ke negara Barat.
Dua, perempuan-perempuan jaman sekarang konon kabarnya tidak menyukai laki-laki yang rambutnya berlebih di bagian-bagian tubuh selain tempurung kepala. Lebih jelasnya silakan lihat video ini. “Ewwwwww, gross!!!!!”, kata seorang perempuan berdasarkan cerita Russell Peters ketika dia menunjukkan dadanya yang berbulu.
Dan tiba-tiba hanya gara-gara jenggot saya jadi dihadapkan pada dilema terbesar abad ini. Jika saya ingin mengekspresikan diri, saya akan menumbuhkan jenggot. Namun ada “norma” sosial yang sepertinya menginginkan saya harus mencukur jenggot.
Omong-omong, saya tidak suka kumis.




Saya ingat dulu ada yang mengomentari Hugh Jackman dengan jenggot penebang pohon. (Konteksnya lupa; Daily Mail? Kayaknya bukan. Reddit?) Itu dikomentari oleh laki-laki dengan positif sekali, jantan dan seolah-oleh dia bisa berkelahi dengan bulu-dagunya saja gak perlu pakai kepalan tinju. Kemudian ada gambar beliau sans jenggot, dan komentar wanita-wanita di situ, “Ini jauh lebih baik!”
@Pak Guru
Anekdot itu saya familiar. Itu juga yang menjadikan problem ini dilematis. Saya sih peduli amat pendapat laki-laki lain. Yang saya bingung ini saya musti berjenggot demi saya sendiri atau tidak berjenggot demi selera pasar?
Berjenggotlah karena Allah.
Pffff—Ah benar, ampun Pak ^:)^Ah ngga semua perempuan begitu kok Ito, aku termasuk yang bukan kebanyakan itu ;D Kadang cowo berjenggot itu seksi, apalagi kalau baru-baru numbuh gitu…paling seneng liat pacarkku jenggotan, soalnya ada efek gelinya kalau cium-cium pipinya *eh ;D
Wkwkwkwk…lha itu kan kalo jenggotnya tipis.
Kalo pacarmu punya jenggot begini mau?
Persepsi publik
Indon. Mata sipit = Kafir. Setidaknya, mata sipit = China. Bah. Hanya karena bermata sipit, saya lantas dikira China, dibilang kafir pula. Memangnya yang sipit cuma China? Memangnya semua tampang Arab berjenggot itu muslim? Mayoritas penduduk asia timur (China, Jepang, Korea) dan sekelilingnya termasuk Vietnam, Kamboja, Laos, Tajikistan, Kyrgyztan, Kazakhstan bermata sipit (plus tampang bule/arab untuk yang berakhiran -tan).Apa supaya dianggap muslim sejati, saya harus melihara jenggot lebat serta beralis gondrong sampai menutupi mata sipit saya?
mau…mau…mau…kalau pacar saya che saya juga mau…tapi pacar saya yang sekarang, jauh lebih keren dari che ;D
@Bang Ando : Saya juga sipit nih…makanya pake eyeliner *kaganyambung*
)
@Ando Kun
Wkwkwkwk
Situ mau tukeran muka sama saya?
Lumayan saya dapet tampang campuran Andy Lau + Aaron Kwok :-”
@Butterfly Menikmati Dunia
Hahahaha…kalo gitu sampeyan termasuk minoritas di urusan selera perjenggotan
@lambrtz
Eeerrrr… tukeran mata aja.
Saya ndak mau tuker tampang sama sampeyan, Rugiiiiiiiii…..
Sepertinya sih soal selera, masbro. Adik saya umumnya gak suka cowok jenggotan, tapi menurut ybs Casillas & Stramaccioni ganteng karena… “jenggot tipis-tipis lucu”. What gives? x)
Memang perempuan susah dimengerti?Damn, I spend too much time in G+.
*format italic fail*
@AnDo
Kenapa ndak mau? Padahal bibir saya seksi lho, seseksi Angelina Jolie ;;) *wink* *wink*
@sora9n
Sudah diperbaiki
Dan ya soal selera. Barangkali mirip kaya Ito Butterfly di atas. Jenggot tipis-tipis lucu. Sebenernya yang ini ndak terlalu sulit dimengerti sih. Soalnya memang kalo saya usapin ke tangan sendiri emang keri-keri gimana gitu. Mungkin sensasi macam ini yang mereka suka. Cuman ya itu. Jenggot tipis-tipis lucu ini cuma bisa saya pertahankan pol 1 minggu
@ sora9n, lambrtz
Tapi katanya stubble memang sering gak dihitung sebagai jenggot betulan. Wanita suka, pria menganggapnya bersahabat. Entah kenapa. Saya gak berbakat ber-stubble.
Kumis versi klasik juga katanya bersahabat, tapi kayaknya gak diartikan sebagai seksi.
^ Apa situ termasuk orang yang stubblenya cepat hilang karena tumbuhnya jenggot cukup cepat seperti saya? Kalo gitu mungkin bisa diakali dengan menampilkan stubble pada hari-hari tertentu saja. Misalnya, kira-kira saja, misal situ mau kencan malam Minggu, cukurnya Rabu sebelumnya.
Tentang kumis, barangkali tergantung era-nya, bisa juga diartikan sebagai seksi? Yang saya ingat anaknya Bill Cosby di sitkom era 80an itu masih ABG tapi buru-buru pingin punya kumis buat menarik gebetannya. Apa ndak ada unsur seksualnya di situ?
Re: stubble, karena miskin jenggot.
Bisa berkumis dan jenggot di dagu saja, gak bisa mengelilingi rahang seperti lazimnya. (Melayu?) Mirip ikhwan-ikhwan yang kostumnya timteng tapi jenggotnya fakir, itu karena sudah dipanjangkan juga gak bisa mentereng.
Re: era, iya memang tergantung eranya. Burt Reynolds ‘kan kumisnya begitu. Saya ingat pertengahan 2000-an Brandon Flowers sok berkumis Freddy Mercury, tapi sebentar juga dia pangkas. Iya memang ada aja yang suka, tapi namanya rock star ya lumrahlah. Bukan jasa dari kumisnya.
@ Pak Guru
Kalau buat saya kesannya lebih rapi aja sih. As in, ada kesan macho, tapi tak lantas ‘brutal’, begitu.
Jenggot full blown itu kerennya di alam bebas seperti pedalaman USA; nampak badass.
Kalau di perkotaan yang ‘beradab’ kesannya kok rada terlalu gahar. (IMO)
@ lambrtz
Not about sexy, but I’m reminded of this…
1920 – Kumis kotak tampak adorable, sangat populer (Chaplin)
1950 – Kumis kotak tampak buruk, mengerikan, traumatis (Hitler)
Jiwa zaman beda-beda?
Saya termasuk yang enggak suka jenggot atau kumis. Simply karena kesannya jorok dan bau (I know, it’s all only in my mind). Kecuali orang yang punya jenggot itu putih, bersih, rapi, wangi, dan jenggotnya pun civilized, baru kelihatan bahwa punya jenggot karena diniatkan dan bukannya karena lupa atau malas cukur :p
btw, saran saya sih kalau situ mau cari cewek seumur atau lebih muda, jangan punya jenggot lebat lah, I dont think they dig it, kecuali yang memang punya fetish itu. Tapi kalau cari wanita lebih tua, bisa dipake. Plus nambahi kesan umur lebih tua (gara2 foto jenggotmu itu temen saya ngira situ umurnya >30 loh. Which is good for cougar hunting xD)
saya punya jenggot; tiga, empat lembar.
f**k me, right?
ngomong-ngomong masalah jenggot, jadi inget piala Eropa kemarin, beberapa pemain banyak yang numbuhin jenggot dan kumis (tipis), terutama di timnas Italia, mungkin sedang trend juga.
omong-omong kumis, beberapa dekade lalu kumis identik dengan pornstar ya?
btw Jo, kalo mau sekalian numbuhin jambang dibentuk model Lincoln gitu keren deh *wink*
di kalangan perempuan ada istilah five o’clock shadow. Dan katanya itu lebih sekseh. terutama kalo empunya jenggot berkulit putih.
*mendadak mimisan membayangkan adam levine with five o’clock shadow*