讀萬卷書不如行萬里路
- ungkapan Tiongkok
Minggu kemarin saya kemari.

Fraunhofer IGD
Perjalanan terjauh saya, ke negara yang sungguh asing buat saya. Saya ke sana sendiri. Jalan-jalan sendiri. Memang dua hari terakhir saya bertemu teman saya. Tapi secara umum saya jalan-jalan sendiri. Ke tempat dengan bahasa yang tidak saya ketahui. Jadi sebelumnya musti belajar frase-frase penting dulu. Setidaknya cukup untuk membawa saya muter-muter di dan ke beberapa kota. Selain itu, saya juga belajar tentang sistem angkutan umumnya dulu terlebih dahulu. Namun demikian, tetap aja banyak hal yang sempat buat saya kaget. Hari pertama, sudah nyaris bikin masalah karena ketidakfamilieran saya dengan sistem [proof-of-payment]. Lalu, menelepon hotel teman di kota lain karena teman yang dijadwalkan datang pada hari yang sama belum kontak keluarganya ataupun saya. Terus perjalanan antar kota sendiri juga. Di event yang saya kunjungi pun, secara praktis saya juga sendiri. Memang ada dosen dari kampus saya, tapi kami tidak saling mengenal. Tidak ada teman. Jadi saya musti aktif juga mendekati orang-orang asing itu. Ndak buruk sih. Hari pertama bisa dapat teman makan malam mahasiswa dari Swiss dan Liechtenstein (negara ini, bahkan teman saya yang orang Perancis belum pernah bertemu orang dari negara ini). Hari kedua teman makan malamnya dosen Inggris, Italia, dan Swedia. Hari ketiga makan siang bersama dosen dari Jepang dan Inggris. Musti aktif juga membangun jaringan. Agak kaget juga saya. Karena saya selalu menganggap saya ini pendiam *bah*, introvert, dan agak susah berkomunikasi. Tidak luwes dalam bersosialisasi. Tapi setidaknya saya ada bukti bahwa saya cukup multicultural.
Menyenangkan berjalan-jalan seorang diri. Di satu sisi ada kepuasan tersendiri, karena ternyata tanpa bantuan praktis (ada bantuan finansial dan moral tentu saja) dari orang lain, saya bisa muter-muter sendiri di negara orang yang juauh dari kampung halaman saya. Walaupun di sana cuma sebentar, saya belajar banyak hal, baik tentang saya sendiri maupun orang sana. Musti berani tapi lihai, misalnya ketika mendekati orang asing. Belajar juga tentang keseharian orang sana. Tentang makanan dan perilakunya. Dan lain sebagainya.
Jika ada waktu dan dana, saya sarankan pembaca untuk berkelana sendiri sekali-sekali. Sendiri as in sendiri. Saya ingin melakukannya lagi sekali waktu. Semoga pada perjalanan berikutnya, ndak ada masalah yang cukup berarti.
Sekian aja, saya ngantuk.



“Jika ada waktu dan dana, saya sarankan pembaca untuk berkelana sendiri sekali-sekali.”
Sudah dua kali ! Lebih jauh lagi ! \m/
setuju. tapi entah kenapa kalau buat saya kok problemnya lebih ke arah inersia: kalau nggak ada kebutuhan yang memaksa (kayak disuruh konferensi atau assignment dari tempat kerja, misalnya), nggak jalan-jalan!
sahaya mohon doanya saja deh denmas. pengen sih udah dari kapan tau, ekseskusi masih kapan tau.
Sama bung.
wow Lambrtz abis jalan2 ke tempat yg jauuuh…
saya malah emang lebih seneng jalan2 sendiri, soalnya kalau banyak orang ribet… banyak keinginan yang bentrok dan akhirnya bisa bete2an di jalan
tapi kalo jalan2 sendiri susah kalo mau difoto, jadi paling mantap berdua atau bertiga deh, dengan temen yg uda kenal luar dalamnya
Sejauh pengalaman saya kenal orang2 introvert sih, umumnya semua senang ngobrol. Cuma jarang ketemu teman (& tema) yang cocok aja.
*there’s something about feedback loop in there*
“Jika ada waktu dan dana, saya sarankan pembaca untuk berkelana sendiri sekali-sekali.”
Cobalah jalan2 berkelana sendiri dengan waktu dan dana cekak, dijamin lebih seru petualangannya dan bikin jantung lebih berdebar
Usulan Bang Ando ekstrim juga itu…
Pantesan update foto yang di situuu…
Setelah selesai kuliah ini, bakal pergi sendiri juga ah..
nha tho…ngertio ngene aku ta’nitip jersey pertama klubnya yoshiharu kubo