Dulu,
ibu saya kerja di puskesmas di sana, dan kami tinggal di rumah dinas di seberangnya.
Rumah kami dikelilingi sawah; hanya di sebelah kanan ada tetangga yang berjualan pecel.
Saya suka bandel, menyeberangi sawah ke rumah teman ibu. Pernah suatu kali setelah sawah itu dibajak dan masih berair, saya mencoba menyeberang, tapi sandalnya hilang satu dan akhirnya kembali ke rumah.
Saya sekolah di kota, 30 menit perjalanan naik mobil atau sepeda motor atau korupsi pakai ambulans puskesmas.
Di dekat puskesmas ada masjid, yang setiap Ramadhan menyetel lagu Arabic yang diikuti pembacaan doa tiap subuh, dan saya ketakutan karena lagunya.
Setiap 17an ada pementasan grup reog yang jalurnya melewati jalan di depan rumah saya. Dan saya selalu lari ke belakang rumah, ketakutan.
Binatang masuk rumah, lalat, nyamuk, kodok, kupu gajah (kami menyebutnay demikian), laron, capung, ngengat, kecoa, kadal, tokek, kucing, ular, itu sudah biasa.
Rumah kami kebanjiran 2 kali.
Pernah kemasukan orang gila sekali (atau dua kali?).
Kadang saat liburan kami memutari gunung, ke tempat kakek nenek kami berada, dua jam perjalanan lamanya.
Dan biasanya rumah dititipkan kepada staf puskesmas, yang lalu menginap di situ.
***
Sate paling enak itu berasal dari sana! Percayalah!
Selain itu, dulu juga ada Ayam Goreng Pemuda yang juga enak.
***
Saya ingat, saat masih kelas 2 SD (1994) saya gagal tidur siang, dan karena ketahuan, saya marah-marah dan nangis sendiri.
Akhir Juni 1992, sepupu saya yang dari Jogja bermain ke rumah dan mengajari saya membaca huruf K (waktu itu saya membacanya “ta”).
September 1993, adik saya lahir. Kami mengadakan selamatan dan mengantarkan dus-dus makanan ke Puskesmas ke tempat ibu bekerja. Saya marah-marah. Saya ingat, saya cuma minta 1 dus buat saya, tapi sepertinya mereka tidak memahami.
Konon kota ini panas, karena setelah saya pindah ke Jogja saya selalu merasa kedinginan, tapi saya ingat beberapa kali bapak mengajak olahraga dan lari pagi di sekitar rumah. Enak sekali. Sepi dan sejuk.
***
Pertama kali saya memakai kacamata waktu kelas 1 SD. Waktu itu minusnya sudah 6.
Saya dulu koleksi komik Doraemon sampai jilid 31. Karena tidak ada toko komik di sana, kami hanya membelinya di Jogja ketika liburan. Tapi karena saya berkacamata, bapak membatasi jam membaca komik, karena tulisannya kecil-kecil.
Saya mengkoleksi penghapus Power Rangers.
Kami meminjam video film, mungkin satu-satunya di sana.
TV hampir selalu tidak pernah jelas. Siaran parabola saja sering diacak.
Tapi ada bagusnya juga, kami bisa nonton Fort Boyard dan MTV dan fashion show ala Perancis.
Tidak ada telepon sampai tahun-tahun terakhir kami di sana.
***
Saya tidak punya banyak teman di rumah, karena teman sekolah saya tinggal di kota, jadi untuk hiburan saya antara nonton TV atau main Spica (bajakannya Nintendo).
Beberapa kali kami mengundang seorang staf Puskesmas yang juga teman keluarga kami, waktu itu masih muda, untuk bermain game Dragon Ball. Dia suka memakai Cell Junior, sedangkan saya pakai Cell.
Mesin Spica, yang sepertinya sekarang sudah teronggok rusak di rumah Pakde saya di Surabaya ini memang menyimpan banyak memori. Bapak saya dulu begadang menamatkan sebuah game, lupa namanya, tentang petualangan anak laki-laki bugil di hutan Adventure Island (acknowledgment to Budi Tan; kamsia koh!
). Beliau ahli main Arkanoid, Kontra, dan Tetris. Almarhum Pakde saya (pakde yang lain) jago Pinball. Ibu saya bermain Goonies, sedangkan saya suka bermain Mo Ay Jin. Saya takut bermain Macross.
***
Ya, 12 tahun sudah lewat sejak saat itu.
Dan belum pernah ke sana lagi.
Konon kabarnya rumah kami tidak ada yang meninggali, dan hampir ambruk.
Padahal komik Casper dan Richie Rich saya tertinggal di sana.
Teman-teman sudah pada merantau.
Ada yang ke Surabaya, ke Salatiga, ke Yogyakarta, dan kalau tidak salah ingat, tempo hari saya menemukan profil Friendster teman saya, terpampang fotonya ketika berada di negeri Cina.
Saya sudah merasakan hidup di desa, di kota dan di kota besar. Betapapun enaknya kota besar, saya merasa lebih nyaman ada di desa.
Kata jensen99 sih, orang kaya saya harus sekali-sekali berlibur ke desa.
***
Walaupun saya orang Jogja, lahir di Jogja, besar di Jogja, lekat dengan budaya Jogja, berbicara dengan logat Jogja walaupun ga lancar krama inggil, saya tidak akan lupa pada masa kecil saya di desa yang indah dan permai. Kampung halaman kedua saya. Serasa hidup ala buku PMP.

Tepatnya…

Ah, tentunya Mbak ini lebih tahu.
Sumber gambar:
ini
ini
最近评论