Archive for February, 2009

Mengenang, Menerawang…

Part I

Dering telepon…
Satu…dua…tiga…empat…
Tak terangkat
Putus

Dering telepon…
Satu…dua…tiga…empat…
Tak terangkat
Putus

Rumah itu
Tiada berpenghuni lagi
Tertinggal bingkai-bingkai dimensi lalu
Yang tak boleh dijumpai
Tawa canda amarah pilu
Raib

Kita mencari jalan sendiri.
Kita semakin tua.

Part II

Yang terkecil pun kembali.
Tinggal ia yang tersisa.
Tapi jiwa yang datang terakhir
pun menunggu saatnya pergi.

Pergilah jauh
Arungi samudera dawai
Arwah Ishak bersamamu

Part III  

Kembali di sini,

“‘If I don’t collect cans, I will not have food”

dan tiba-tiba kumerasa janggal.
Ada yang salah dengan dunia ini.

Atau…

Ah, ia memang seperti itu sejak dulu kala.
Keadilan sejati itu utopia.

Dualisme, dualisme.
Iyakah? 

Part IV

Soundtrack hari ini.
Pink Floyd – Set the Controls for the Heart of the Sun. 

Advertisements

Macam-macam Hiatus

Klasifikasi hiatus ngeblog ala saya.

1) Hiatus level 1 aka Inactive Blogging : jarang update blog, ga banyak komen di tempat lain.

2) Hiatus level 2 aka Kelayapan : tidak posting sama sekali tapi suka tulis opini panjang di tempat lain. Ini tipikal orang yang ga patuh sama komitmennya sendiri, misalnya saya dulu.

3) Hiatus level 3 aka Junk : tidak posting sama sekali tapi kadang kasih komen di tempat lain walaupun cuma 1-2 baris.

4) Hiatus level 4 aka Full Hiatus : tidak posting sama sekali, tidak kasih komen di tempat lain sama sekali.

5) Hiatus level 5 aka Suicide : hapus blog.

Full Hiatus…?

Aaarghhhh…third hiatus in 4 months…but need to do that. And this time it will be full hiatus. No more comment in other blogs. My comments in khofia’s and jensen’s will be my last for now.

I really have a trouble.

Maybe self-blocking wordpress will be taken. My Google Reader is still active though, so I will be here spectating you all.

Farewell. Wish me luck with my hiatus.

UPDATE: As you wish, Mr jensen :mrgreen:
A vidclip from 松浦 亜弥, “桃色片思い“. The best ever made on Earth. Epic, majestic to the highest level. Any insult will mean blasphemy and lead to prosecution and capital punishment.

UPDATE2: The categories can give you some ideas why I go hiatus.

On Introducing Your(My)self in Blogosphere

Saya paham kalo para blogger itu ga seneng tulisannya yang dibuat ratusan tahun lamanya, pakai bertapa dan berpuasa 40 abad, lagi membahas topik yang kiranya bagi dia sangat sensitif bagaikan hidup dan mati, dihampiri orang yang cuma bilang “Salam kenal”, seperti yang dibahas Gunawan di sini: [link]. Saya pribadi pun tidak suka berkenalan dengan cara seperti ini, bahkan lewat halaman About Me atau yang khusus untuk OOT. Apa yang membedakan saya dari blogger lain kalau begitu caranya? Kalo boleh narsis saya dulu berkenalan dengan Jensen dengan pernyataannya di About Me, dengan Fritzter dengan berdiskusi di tempat Jensen, dengan Mengejaperistiwa dengan pertanyaan di tempat Sora, dengan Geddoe gara-gara pertanyaan pribadi di blog Joe, dengan Sora dengan…lupa, dah lama sih :mrgreen: , dengan Dafferianto dengan curhat sebagai sesama almamater yang gagal apply beasiswa yang dia dapat (uhiii repetitif abis), dll lah, lupa. AFAIRemember cara menuliskan “Salam kenal” di halaman About Me ini cuma saya lakukan di tempat Gentole, habisnya saya ga paham dengan postingan-postingan Filsafatnya. Jadi berbanggalah Anda yang mendapat komen semacam ini dari saya :mrgreen:

*dilempar martil*

Nah, saya pun berpikiran kalo satu-satunya cara yang pantas untuk berkenalan dengan blogger lain lewat blognya adalah membaca salah satu postingan terbaru sampai benar-benar paham, lalu memberi komentar yang sesuai. Tapi apa masalahnya? Speaking about the negative side, tentu saja saya tidak akan cepat berkenalan kalau topik yang dia bahas di luar keahlian saya. Katakan saja ada seorang cewek blogger cuakep banget lagi kawaii xD sukanya menulis tentang kerajinan kriya, yang saya sama sekali tidak paham. Bagaimana bisa nyambung?

…apakah teknik seperti ini yang dipakai para seleblog ya. Halo Joe, Zam, Mbak Tika, ada pendapat? 😕

*habis “ngejunk” di beberapa blog yang belum pernah dikomeni*

NB: flashback beberapa puluh tahun yang lalu, waktu masih newbie saya pernah iri sama Joe yang blognya rame malah sampe dianjing-anjingkan dan pernah menanyakan hal ini. Memalukan sekali. :mrgreen:

Students Flow

Inward

But

Outward

PS: Of course there are many local students in UG level, but their population in PG level, especially in PhD programmes is almost 0.
PS2: To be politically correct™, in the first figure the origin of the arrows are put near the centroids of the countries, except for Malaysia, whose arrow origin is near the centroid of Peninsular Malaysia.

Playlist Lagu Lokal

Sesuai sentilan Teh Akang Gale di sini, ini saya bikinken postingan tentang playlist lagu lokal.

1) Jadul

Yang pertama, Koes Plus. Bitel-bitelan, ngak ngik ngok, dan dipenjara, hence the song “Di Dalam Bui“.

Pancaran Sinar Petromaks, band “amatir” UI jaman dulu. “Gaya Mahasiswa“, dan sedikit “Ogah Ah“. Makenye jadi mahasiswe nyang bener 😛

Franky Sahilatua, di samping Koes Plus, adalah favoritnya bapak saya, jadi saya sedikit banyak tertular juga. :mrgreen:
Lagunya “Lelaki dan Rembulan“, tuk mengingat pacar saya yang nun jauh di sana *ngimpi mode on* 

Genjer-genjer. Sudah terkenal lah, ga usah dijelaskan lagi. Mungkin sudah pada tahu versi Lilis Suryani yang horor itu plus versi Bing Slamet yang rada gembira, jadi saya kasih yang versi Tikabanget, seorang musisi indie.

Komunis!! Komunis!!!! 👿

Benyamin Sueb aka Bang Ben, dengan “Hujan Gerimis“. Sebenenye aye ga begitu tahu sepak terjang beliau selain nyang di pelem-pelem kuno macam Tarzan Kota, Samson Betawi, ame Si Doel Anak Sekolahan. Aye cume naksir ame Ida Royani jaman taun 70an nyang sering jadi pasangan duetnya Bang Ben… 😳
Mau dikawinin jangan nangis! Ye? 

2) Baru kontemporer

White Shoes and Teh The Couples Company. Jadul lagi.
Windu Defrina

Sore. Yah jadul lagi 😦
Merintih Perih
Sebenarnya saya mau cari klip atau livenya yang “Karolina” tapi ga ketemu, ya sudahlah. 

The Adams, power pop. Tiga band ini bernaung dalam label yang sama, Aksara Record 🙂
Hanya Kau
*kangen sama pacar utopian

Sayang sekali ibu yang satu ini tidak begitu terkenal di Indonesia, masih kalah dari 3 Diva, apalagi Kangen Band, ST 12 dan sebangsanya. Anggun C Sasmi, “In Your Mind“. Jangan salahkan wanita jika kalian tergoda dengan penampilannya, wahai para lelaki satanis™! Ini namanya apa ya? Feminisme? 😕

3) Yang rada nyeleneh: jazz, tradisional, dan regional

Kolaborasi antara Teuku Adi Fitrian dan beberapa musisi manca, Bali Lounge. Lagunya yang standar aja dan sudah terkenal, “Something’s Wrong“.

Kalau lagu tradisional, saya sukanya lagu tradisional Aceh yang biasanya dipakai untuk mengiringi Tari Saman. Ga tahu nama alirannya, jadi ya…sudahlah 😛
Bermain sinkronisasi dan tempo. Cocok diadopsi di Psychedelic Rock :mrgreen:

Jogja punya. The Produk Gagal dengan “Misteri di Balik Punggung“. Kental guyonan khas Jogja yang gayeng abis :mrgreen:

Yang ini Solo punya. Genk Kobra, dengan “Ngayogyakarta“. Lho kok?? Hambuh yo *siyul-siyul*

4) Lokal yang sekarang

Harap diingat bahwa lokalnya saya sekarang berarti Singapore. :mrgreen:
Ini yang paling keren.

郭美美 – 不怕不怕, covernya Dragostea din Tei oleh O-zone.

Kawaiiiiii~~~!!! xD

5) Promosi

Airport Radio. Vokalisnya sepupu saya, soalnya 😛
Silakan kunjungi MySpace mereka, di sana ada playlistnya. Ga bisa diembed di sini. 👿


lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

February 2009
S M T W T F S
« Jan   Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
Click to view my Personality Profile page

Advertisements