Archive for July 4th, 2009

Frustrasi

Seharusnya aku mempergunakan skeletonisation dan Voronoi diagram untuk membuat representasi dunia.
Seharusnya aku memakai kd-tree untuk manajemen node.
Seharusnya aku memanfaatkan CGAL di proyek ini.
(UPDATE: And I just knew that waypoint graph is now obsolete 😥 . Thanks to Le Minh Duc for pointing this out.)

Tapi semua sudah terlambat.
Proyek sudah berjalan 1 tahun, dan begitu juga dengan program masterku.
Waktu itu aku belum mengenal konsep-konsep itu.
Pun mengerti bagaimana cara mengimplementasikannya.

Lagi-lagi, aku merasa tidak puas.
Yah, frustrasi seorang perfeksionis.
Aku pinginnya, semua paper yang aku tulis, semua project yang aku lakukan ketika PhD, world-class.
Novel.
Baru.
Lha iya dong, namanya juga PhD, harus menemukan sesuatu yang baru.
Tapi bagaimanapun juga, ada gap yang besar antara pendidikan S1 ku dengan pengetahuan yang seharusnya aku miliki pada saat aku memulai program master ini.
Dan, ya, aku lambat dalam programming.
Malu aku jadi lulusan Komputer.
Dan baru beberapa bulan terakhir ini aku menyadarinya, ketika semua sudah berjalan lama.

Tapi ya sudahlah.
Sepertinya Tuhan tidak menyediakan tombol rewind.
Waktu adalah dimensi searah yang tidak bisa kita jelajahi seenak udel masing-masing.
Mau menyalahkan institusi tempat aku ngambil S1 dulu pun ga ada gunanya.
Jadi yang bisa aku lakukan ya mencari jalan lain.

Saat ini ada 3 opsi yang bisa dipilih.

Pertama, convert dari Master ke PhD.
Kalau memilih opsi ini, total waktu sejak pertama masuk Master ke PhD adalah 4 tahun.
Dan sekarang sudah habis 1 tahun.
Tinggal 3 tahun lagi.
Dan sepertinya tidak banyak waktu untuk menghasilkan banyak paper berkualitas, sementara aku sendiri juga kurang berwawasan luas.
Jadi, kemungkinan besar opsi ini tidak aku ambil.

Kedua, daftar ulang, sehingga aku mengulang PhD dari awal, dan sisa waktu masih banyak, kalau dihitung dari sekarang 5 tahun.
Dengan demikian aku punya waktu lebih banyak untuk mengurangi ketertinggalanku.
Memang, saat ketika aku mendapat PhD menjadi tertunda, tapi itu bukan prioritas utamaku.
Yang aku pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya mendapat ilmu yang cukup dan memakainya pada penelitian-penelitianku.

Namun, aku baru-baru ini memunculkan opsi ketiga, yaitu mengambil program Master lagi setelah Master yang ini selesai.
Lebih disukai coursework + thesis programme pada bidang Applied Maths atau Computational Science atau Theoretical Computer Science.
Kalau aku memilih opsi ini, bakal ada lebih banyak waktu untuk mengisi gap tersebut, dan aku tidak terlalu dihantui deadline seperti yang aku jalani saat ini.
Selain itu, jika aku mengambil langkah ini, pada saatnya nanti aku memulai program PhD yang beneran, aku tidak perlu mempelajari hal tersebut dan bisa langsung masuk ke riset.
Masalahnya adalah, apakah supervisor dan universitas mau melepasku?
Sekedar info, aslinya supervisor merekrutku untuk PhD, tapi tidak direstui universitas karena 1) aku mendaftar untuk Master dan 2) aku tidak melampirkan GRE.
(Ya gimana lagi, di Indonesia tes GRE hanya diadakan di Jakarta, dan lagipula aku tidak yakin bisa mengerjakannya)

Sampai saat ini aku belum memutuskan akan mengambil opsi kedua atau ketiga, bahkan bisa jadi bakal ada opsi lain yang muncul.
Rencananya sih aku akan berkonsultasi dengan supervisorku.
Yah mudah-mudahan saja beliau mengerti dan mau membantu.

BTW, mestinya sih menulis masalah ini di blog tidak menyelesaikan masalah 😛

***

Oh jalan panjang dan berliku menuju PhD…
Aku ingin berkontribusi pada perkembangan sains, karena aku merasa itu talenta utamaku, itu panggilanku.
Namun bagaimana lagi.
Salah asuhan?
Makanya aku selalu iri dengan mereka mahasiswa Indonesia yang bisa menempuh pendidikan undergraduate / S1 di luar negeri, terutama di universitas ternama.
Bukan karena gengsi, tapi karena mereka bisa mendapat pendidikan yang bermutu tinggi.
Tiga tahun yang lalu, saat aku masih mahasiswa S1, Pak Romi menulis artikel ini.
Dan, ya, barangkali aku salah satu produknya.

…kadang aku merasa dunia ini tidak adil.
Seorang anak bertalenta dari negara, katakan, Somalia, akan mendapat tantangan yang lebih besar untuk mendapat pendidikan yang bisa ditempuh anak lain dengan talenta yang sama tapi berasal dari, katakan, Amerika Serikat.
Ah, tapi sejak kapan dunia ini “adil” yang semacam itu.
Kan memang tantangannya berbeda-beda.

…hahaha…sepertinya aku memang orang menyebalkan yang tidak bisa bersyukur dengan apa yang telah aku capai.
Yah, ok lah, setidaknya sekarang aku ada 2 opsi, dan tinggal memilih salah satu.
Untuk jangka pendek, proyekku harus diselesaikan, dan aku harus mendapat gelar master dulu. 😉

Sudah ah, malah ngelantur. 😛

Advertisements

lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

July 2009
S M T W T F S
« Jun   Aug »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
Click to view my Personality Profile page

Advertisements