Frustrasi

Seharusnya aku mempergunakan skeletonisation dan Voronoi diagram untuk membuat representasi dunia.
Seharusnya aku memakai kd-tree untuk manajemen node.
Seharusnya aku memanfaatkan CGAL di proyek ini.
(UPDATE: And I just knew that waypoint graph is now obsolete 😥 . Thanks to Le Minh Duc for pointing this out.)

Tapi semua sudah terlambat.
Proyek sudah berjalan 1 tahun, dan begitu juga dengan program masterku.
Waktu itu aku belum mengenal konsep-konsep itu.
Pun mengerti bagaimana cara mengimplementasikannya.

Lagi-lagi, aku merasa tidak puas.
Yah, frustrasi seorang perfeksionis.
Aku pinginnya, semua paper yang aku tulis, semua project yang aku lakukan ketika PhD, world-class.
Novel.
Baru.
Lha iya dong, namanya juga PhD, harus menemukan sesuatu yang baru.
Tapi bagaimanapun juga, ada gap yang besar antara pendidikan S1 ku dengan pengetahuan yang seharusnya aku miliki pada saat aku memulai program master ini.
Dan, ya, aku lambat dalam programming.
Malu aku jadi lulusan Komputer.
Dan baru beberapa bulan terakhir ini aku menyadarinya, ketika semua sudah berjalan lama.

Tapi ya sudahlah.
Sepertinya Tuhan tidak menyediakan tombol rewind.
Waktu adalah dimensi searah yang tidak bisa kita jelajahi seenak udel masing-masing.
Mau menyalahkan institusi tempat aku ngambil S1 dulu pun ga ada gunanya.
Jadi yang bisa aku lakukan ya mencari jalan lain.

Saat ini ada 3 opsi yang bisa dipilih.

Pertama, convert dari Master ke PhD.
Kalau memilih opsi ini, total waktu sejak pertama masuk Master ke PhD adalah 4 tahun.
Dan sekarang sudah habis 1 tahun.
Tinggal 3 tahun lagi.
Dan sepertinya tidak banyak waktu untuk menghasilkan banyak paper berkualitas, sementara aku sendiri juga kurang berwawasan luas.
Jadi, kemungkinan besar opsi ini tidak aku ambil.

Kedua, daftar ulang, sehingga aku mengulang PhD dari awal, dan sisa waktu masih banyak, kalau dihitung dari sekarang 5 tahun.
Dengan demikian aku punya waktu lebih banyak untuk mengurangi ketertinggalanku.
Memang, saat ketika aku mendapat PhD menjadi tertunda, tapi itu bukan prioritas utamaku.
Yang aku pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya mendapat ilmu yang cukup dan memakainya pada penelitian-penelitianku.

Namun, aku baru-baru ini memunculkan opsi ketiga, yaitu mengambil program Master lagi setelah Master yang ini selesai.
Lebih disukai coursework + thesis programme pada bidang Applied Maths atau Computational Science atau Theoretical Computer Science.
Kalau aku memilih opsi ini, bakal ada lebih banyak waktu untuk mengisi gap tersebut, dan aku tidak terlalu dihantui deadline seperti yang aku jalani saat ini.
Selain itu, jika aku mengambil langkah ini, pada saatnya nanti aku memulai program PhD yang beneran, aku tidak perlu mempelajari hal tersebut dan bisa langsung masuk ke riset.
Masalahnya adalah, apakah supervisor dan universitas mau melepasku?
Sekedar info, aslinya supervisor merekrutku untuk PhD, tapi tidak direstui universitas karena 1) aku mendaftar untuk Master dan 2) aku tidak melampirkan GRE.
(Ya gimana lagi, di Indonesia tes GRE hanya diadakan di Jakarta, dan lagipula aku tidak yakin bisa mengerjakannya)

Sampai saat ini aku belum memutuskan akan mengambil opsi kedua atau ketiga, bahkan bisa jadi bakal ada opsi lain yang muncul.
Rencananya sih aku akan berkonsultasi dengan supervisorku.
Yah mudah-mudahan saja beliau mengerti dan mau membantu.

BTW, mestinya sih menulis masalah ini di blog tidak menyelesaikan masalah 😛

***

Oh jalan panjang dan berliku menuju PhD…
Aku ingin berkontribusi pada perkembangan sains, karena aku merasa itu talenta utamaku, itu panggilanku.
Namun bagaimana lagi.
Salah asuhan?
Makanya aku selalu iri dengan mereka mahasiswa Indonesia yang bisa menempuh pendidikan undergraduate / S1 di luar negeri, terutama di universitas ternama.
Bukan karena gengsi, tapi karena mereka bisa mendapat pendidikan yang bermutu tinggi.
Tiga tahun yang lalu, saat aku masih mahasiswa S1, Pak Romi menulis artikel ini.
Dan, ya, barangkali aku salah satu produknya.

…kadang aku merasa dunia ini tidak adil.
Seorang anak bertalenta dari negara, katakan, Somalia, akan mendapat tantangan yang lebih besar untuk mendapat pendidikan yang bisa ditempuh anak lain dengan talenta yang sama tapi berasal dari, katakan, Amerika Serikat.
Ah, tapi sejak kapan dunia ini “adil” yang semacam itu.
Kan memang tantangannya berbeda-beda.

…hahaha…sepertinya aku memang orang menyebalkan yang tidak bisa bersyukur dengan apa yang telah aku capai.
Yah, ok lah, setidaknya sekarang aku ada 2 opsi, dan tinggal memilih salah satu.
Untuk jangka pendek, proyekku harus diselesaikan, dan aku harus mendapat gelar master dulu. 😉

Sudah ah, malah ngelantur. 😛

13 Responses to “Frustrasi”


  1. 1 fikri 04/07/2009 at 10:13 PM

    nice thought. akhirnya kau menuangkannya. hehehe..

    ya, kalau dibandingkan dengan dunia, mungkin pendidikan undergrad kita masih belum apa-apa. walau saya pernah juga bertemu dengan beberapa orang yang lulusan undergrad univ lumayan terkenal di dunia (misal todai).

    itupun sebetulnya dasarnya tidak selalu lebih baik dari kita..

    mereka pun saat mengerjakan riset (kalau yang saya tau, berupa pemodelam matematis), harus banyak mengulang matematika mereka sendiri..

    jadi saat kita mengalami kondisi ini, ya kita harus belajar sekuat tenaga.. ya sambil sedikit berandai2 bolehlah.. walau jangan terlalu larut.

    semoga tulisan dan semangat macam ini bisa membuat pendidikan di indonesia semakin baik..

    -di asrama, sambil masih mengamati matriks yang tersenyum mengejek-

  2. 2 yayan 05/07/2009 at 1:36 AM

    今大丈夫???
    kamu kenapa e? kok frustasi?
    tak kancani ya… aku juga frustasi dengan yang kupelajari sekarang, harusnya aku dulu masuk S1nya kedokteran atau biologi atau apalah yang berhubungan dengan yang kupelajari sekarang…tapi yo wis lah… nasine wis dadi bubur dan setelah dirasakan bubure yo ternyata enak, opo meneh ditambahi bumbu macem-macem sing ora nggenah, pasti tambah enak… yo kiro-kiro koyo ngono lah kalo misal dirimu juga bisa berusaha enjoy dengan “kefrustasian” yang kaualami sekarang…

  3. 3 Generasi Patah Hati 05/07/2009 at 6:09 AM

    Ndak apa kok Mas ditulis di blog, menuangkannya di blog bisa sedikit meringankan beban 😀 .
    Semoga anda dapat memilih opsi yang terbaik. 🙂
    Yap,semoga institusi tempat Anda S1 dulu segera menjadi lebih baik ke depannya, karena saya juga akan menempuh pendidikan S1 di situ,hahaha. :mrgreen:
    Sukses selalu Mas 😀

  4. 4 lambrtz 05/07/2009 at 9:55 AM

    @fikri
    Makasih bos. 🙂

    itupun sebetulnya dasarnya tidak selalu lebih baik dari kita..

    Yah aku hanya melaporkan apa yang aku lihat dan berandai-andai “seandainya aku dulu kuliah di situ”. 😛

    BTW memang sepertinya kurang cocok membandingkan univ di Indonesia dengan univ maju seperti Toudai (yang kamu sebutkan), bahkan dengan NTU yang baru berdiri 1980an. Biasanya sih aku membandingkan mereka dengan uni di India atau Thailand, sebagai kompetitor yang harus kita samai levelnya dalam waktu dekat.

    ya kita harus belajar sekuat tenaga..

    Yoi…strategi untuk itulah yang sedang aku pikirkan saat ini 😛

    semoga tulisan dan semangat macam ini bisa membuat pendidikan di indonesia semakin baik..

    Amin ya Fikri. Aku percaya sama kemampuan kalian kok :mrgreen:
    Aku pun pinginya sumbang apalah buat pendidikan Indonesia, cuman belum tahu caranya. Mungkin sesuatu yang ga konvensional. Kudeta posisi Menteri Pendidikan, mungkin 😛

    @yayan

    Makasih mas. 😀

    Tentu, dalam waktu dekat memang aku harus berusaha menyenangi apa yang aku kerjakan sekarang. Aku juga pingin setidaknya kalau aku pindah aku masih sempet publish 1-2 kali lagi. Tapi ya itu, I *think I* know my limit, dan ya mungkin butuh replanning. 🙂

    @Generasi Patah Hati
    Hahaha…sejujurnya saya dari dulu mau bilang tentang yang sekarang saya postkan ke kamu, tapi ga enak karena sepertinya kamu senang sekali masuk sana. Anyway, now you know 😉

    Yap,semoga institusi tempat Anda S1 dulu segera menjadi lebih baik ke depannya,

    Tentu. Dosen muda seperti fikri dan mas yayan di atas (tapi yang terakhir ini dosen tetangga) sangat idealis dan ingin memajukan univ lewat cara itu, sehingga saya yakin nanti univ akan maju. Tapi ya itu, saya pikir kok tidak dalam waktu dekat 8-> butuh proses yang panjang dan berliku memang (halah)

    Makasih. 😀

  5. 5 Generasi Patah Hati 05/07/2009 at 3:33 PM

    Hahahaha. Gak apa kok Mas. Mas Joe juga udah pernah nulis kok kalau jadi pintar di UGM itu bukan karena perkuliahan, tapi karena komunitas, haha.
    Jadi tentu saya akan banyak belajar sama senior di luar perkuliahan, cari buku-buku penunjang, dan referensi dari internet tentu.
    Yang jelas sih, saya milih UGM karena dibanding kota-kota lain ber PTN, saya betahnya di Jogja :mrgreen: , mau keluar negeri gak ada uang, mau cari beasiswa luar negeri English masih paspasan.
    Semoga saya bisa menjadi Engineer Telekomunikasi yang berkualitas kelak, walaupun hanya kuliah di UGM. Amin. 😀
    Semoga Anda juga bisa meraih Master/Ph.D dengan lancar jaya Mas 😀
    Teknik… Jaya! Jaya… Teknik *baru pra ospek :mrgreen: *

  6. 6 lambrtz 05/07/2009 at 6:31 PM

    Mas Joe juga […] dari internet tentu.

    Sip! :mrgreen:

    Semoga saya bisa menjadi Engineer Telekomunikasi yang berkualitas kelak, walaupun hanya kuliah di UGM. Amin.

    Amin ya Fadhil… 😀
    (siap-siap manjat BTS ya :mrgreen: )

    Semoga Anda juga bisa meraih Master/Ph.D dengan lancar jaya Mas

    Makasih juga 😀

    Teknik… Jaya! Jaya… Teknik *baru pra ospek :mrgreen: *

    Hati-hati kena chauvinisme 😛

  7. 7 Ando-kun 05/07/2009 at 6:45 PM

    Wah, ada sedikit persamaan nasib. Dulu S1 aku ngambil tetek bengek yg berhubungan dgn kimia, waktu lulus pembimbingku ngasih saran kalau mau S2 ngambil material science. Waktu ngambil S2 kuturuti saran beliau, walaupun memang menarik tp materi yg hrs kupelajari ternyata 80 persen beda jauh. Belum lg pas kuliah terjebak dibelantara huruf cakar ayam :mrgreen:
    Apa boleh buat, cuma ada satu pilihan
    頑張らなきゃいけない!!!

  8. 8 Sukma 06/07/2009 at 9:19 AM

    Wah, saya pun merasa demikian. Ga hanya di UGM kok, UI juga begitu. Ilmu yang saya dapet selama kuliah serasa masih jauh dari kebutuhan untuk masuk ke dunia riset di universitas luar. Dan hal itulah yang bikin saya masih maju-mundur buat apply Master, apalagi PhD :|. Makanya saya berniat belajar selama 2-3 tahun dulu di lembaga riset tempat saya bekerja, supaya mengejar ketertinggalan itu. Etapi ga terasa waktu sudah berjalan selama 2 tahun, dan saya masih belum banyak kemajuan juga… haaaaah :|. Hehehe, jadi curcol dah 😛

    Tetep semangat, mas lambrtz!!! 😀

  9. 9 lambrtz 06/07/2009 at 10:05 AM

    @Ando-kun

    Etapi itu kan karena beda jurusan? 😕
    Dalam kasus saya sih ga terlalu jauh beda jurusannya (Elektro-Informatika ke Ilmu Komputer) tapi…ya gitu deh…harusnya ilmu dasarnya sudah dikuasai tapi…ya gitu deh…frustrasi…

    BTW Ando dan yayan ini saling kenal kah, sama-sama kuliah di Jepang walaupun beda pulau :mrgreen:

    @Sukma

    Ga hanya di UGM kok, UI juga begitu.

    Weh masa ini gejala nasional sih? 😕

    Hehehe, jadi curcol dah 😛

    Silakan, ga bayar kok 😛

    Tetep semangat, mas lambrtz!!! 😀

    Makasih…mas?? Kayanya saya lebih muda deh :mrgreen:

  10. 10 Sukma 06/07/2009 at 10:47 AM

    @ lambrtz:

    Makasih…mas?? Kayanya saya lebih muda deh :mrgreen:

    Heh, masa sih?

    Yah sudah kalau begitu… dik lambrtz :mrgreen:

  11. 11 Sukma 06/07/2009 at 10:59 AM

    ^

    Just kidding ^_^

  12. 12 Arm 06/07/2009 at 12:29 PM

    wah… 😐
    permasalahan orang2 postgraduate, saya ga bisa banyak komen ini 😛
    ah, yg penting pilih yg terbaik aja deh 😉
    may hoki be with you 😉

    @ Sukma :
    si lambrtz emang lebih muda dari mbak Sukma kok 🙂 *beneran ini* 😀

  13. 13 Generasi Patah Hati 06/07/2009 at 2:16 PM

    Semoga saja dapat kerja kantoran atau lapangan juga boleh tapi yang gak manjat-manjat ah, hahaha. *masih takut ketinggian soale* :mrgreen:


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

July 2009
S M T W T F S
« Jun   Aug »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
Click to view my Personality Profile page