Archive for August 10th, 2009

To Date is To Love is To Marry

Cepatlah, PDKT ulang sana, mumpung dia blum nikah! :twisted:” – jensen99

***

Pertengahan dekade 2000an, saya yang sudah remaja sedang kuliah pada tingkat S1. Pada saat itu kisah cinta saya selalu kandas sebelum dimulai. Dimulai dari penolakan via email pada tahun 2001, terlalu lama mengejar sampai memergoki cewek yang diincar jalan bareng pacarnya pada akhir 2004, “praktikum PDKT” sebelum saya tinggal setelah satu minggu pada tahun 2005, keduluan bukan karena kelamaan tapi karena si target yang merupakan adik kelas saya jadian sama temen ospeknya pada tahun 2006, sebelum akhirnya untuk pertama kali “katakan cinta” secara langsung face-to-face pada orang yang menolak saya pada tahun 2001 dan stop berharap bisa jadi pacarnya pada tahun 2007. Yah, saya memang rada ga yakin, apakah orang tua saya juga bakal merestui kalo saya pacaran, mengingat sebelumnya ayah saya pernah bilang ke seorang sepupu bahwa pacaran itu nanti saja setelah selesai kuliah, dan saya pikir ini bakal berlaku buat saya juga. Well, saya memang kurang terbuka pada mereka dalam masalah cinta, dan baru akhir-akhir ini ayah saya berkata pada saya, “Sesuk nek golek bojo, golek wong Jepang ae le.” 😆 Amin, Be! :mrgreen:

Tentang pacaran, saya saat itu (dan sekarang masih) memandang pacaran hanya memiliki 2 tujuan: buat main-main atau persiapan pernikahan. Dan buat saya pacaran buat main-main itu absurd. Ga masuk akal. Buang-buang waktu. Terlalu banyak tenaga waktu pikiran dan duit terbuang percuma. Bayangkan. Seorang teman ditelpon sama pacarnya jam 3 pagi. Seorang teman yang lain kerap kali mengantarkan pacarnya kuliah melewati rute yang membentuk huruf T, PP bisa 40 km per hari. Mana emansipasi wanita??? Kalau mereka berantem, wadow. Langit runtuh itu. (FYI saya ini bukan orang yang suka emosi. Ekspresi saya cuma datar, senyum dan tertawa. Sama depresi akut kalo lagi kambuh. Tapi sungguh, saya ini ga suka marah-marahan.) Mungkin saja mereka dengan senang hati melakukannya, tapi buat saya ini merenggut kebebasan. Saya waktu itu lebih suka menghabiskan waktu untuk main game atau main musik atau sekedar nongkrong-nongkrong di warung burjo bersama teman (yang juga jomblo waktu itu). Makanya, saya mengikuti jalan hidup satunya, bahwa pacaran hanya untuk persiapan menikah. Nah, masalahnya adalah…

For Christ’s sake, I was very very very very young. And I still am.

Ya, tahun ini saya baru akan 22. Buat saya usia menikah ideal sebagai laki-laki adalah sekitar 26-31 tahun. Tidak ada dalil atau pemikiran apa-apa, saya cuman mencontoh dari Bapak saya yang waktu menikah umurnya 29 tahun. Nah, pacarannya mau berapa tahun? Sepuluh? Terlalu lama lah. Tiga atau empat saja. Pacaran membutuhkan resource yang tidak sedikit. Terlalu lama pacaran berarti menyia-nyiakan resource tersebut yang seharusnya bisa digunakan untuk hal lain.

Nah, kebetulan salah satu impian saya adalah kerja di luar negeri. Tapi apalah daya, kampus saya tidak punya tradisi menelorkan lulusan yang bisa langsung kerja di luar negeri (dan ini benar: cuma satu temen seangkatan saya yang bisa langsung dapet penempatan di luar negeri, di Cina tepatnya). Saya bertanya kepada alumni di forum, ini caranya enaknya gimana? Jawaban yang saya dapat adalah bahwa cara yang paling cepat adalah dengan kuliah lagi. Jujur saja, ini tidak terpikir sebelumnya, mengingat waktu itu saya masih terpengaruh persepsi masyarakat bahwa orang kuliah lagi itu cuman jadi dosen, dan saya waktu itu ga berniat jadi dosen di universitas dalam negeri (sampai sekarang masih sih hehehe). Rencana kuliah ini akhirnya sekaligus menghidupkan semangat Newtonian dan Einsteinian yang pernah saya miliki waktu SD. Berkat arahan orang tua yang selalu memberikan buku-buku mengenai ilmuwan hebat masa lalu (tentunya di samping Bobo dan Doraemon), saya waktu itu bercita-cita menjadi seorang ilmuwan. Ga tahu ilmuwan apa, pokoknya ilmuwan. Dan lewat jalur inilah saya kembali mencoba mewujudkan cita-cita tersebut, menjadi seorang ilmuwan Ilmu Komputer.

Pada saat mengambil keputusan tersebut, saya teringat cerita tentang almarhum Eyang saya dari pihak bapak yang konon kabarnya dulu sempat akan dikirim belajar ke Belanda. Ya, beliau ini memang orang yang cerdas dalam bidang permesinan. Kecerdasan ini menurun pada saya pada bidang yang berbeda. Namun demikian rencana itu diurungkan demi nenek saya yang waktu itu pacarnya (atau sudah jadi istri ya? Ga tahu deh). Masa ditinggal sendirian beberapa tahun. Dan setahu saya sampai akhir hayatnya beliau tidak pernah ke luar negeri. Saya menghargai keputusan beliau, tapi pemikiran idealis saya mengatakan bahwa setidaknya kalau saya saat ini disodori dua pilihan tersebut, pilihan yang lebih bagus adalah melanjutkan kuliah. Sehingga, kalau Eyang saya mengorbankan pendidikan, saya akan mengorbankan cinta. I’m not going to trade this aspiration off. Either my wife follows me or I look for local person. Mungkin terdengar egois, tapi biarlah. Dan mumpung saya single, saya bisa bebas ke mana-mana. Saya ingin membawa orang tua saya ke luar negeri (yang lebih jauh dari ini, karena ibu saya sudah pernah ke Singapura dan kayanya sebentar lagi bapak atau (bukan XOR) adik saya juga akan ke sini), mungkin secara permanen kalau mereka berkenan. Saya juga ingin membawa adik saya kuliah di luar negeri, kalau tidak untuk level S1 ya S2/S3, menjadi fisikawan kelas dunia, kalau dia memang jadi ambil Fisika dan berniat lanjut sekolah tentunya.

Nah karena itu, sekaligus merespon kalimat Bung jensen99, saya memutuskan untuk tidak akan mencari wanita dulu selama beberapa saat. Saya juga in some way bersyukur tidak berpacaran dulu, sehingga tidak memiliki ikatan “dinas” untuk kembali ke Indonesia. Saya lakukan ini setidaknya sampai saya ada rencana untuk settle di suatu tempat. Semoga saya bisa tinggal di Dublin atau Stockholm nantinya, menjadi staf di universitas lokal. Saya dengar Trinity College Dublin punya track record riset yang bagus pada bidang saya. 🙂

Omong-omong, sekonservatif-konservatifnya saya, saya ini ogah dibelenggu secara langsung oleh orang lain. Biasanya saya kalau konservatif itu adalah by choice, tapi kalau disuruh demikian oleh orang lain saya malah ga mau. Nah, Yanglik saya, seorang biarawati, menasihati saya untuk kuliah yang benar selama di Singapore ini. Jangan pacaran, katanya. Gelora anak muda saya seketika bangkit melawan, walaupun saya cuman bilang “Hehe, ya ya.” Toh ga ada kewajiban untuk memenuhi. Tapi lama kelamaan saya sadar bahwa saya ga punya banyak waktu untuk kehidupan sosial. Jadi ya memang tidak mungkin.

Sekian postingan ini. Saya tidak mengklaim pendapat saya ini benar, dan bahwa pendekatan-pendekatan saya ini flawless. Tapi ya kira-kira beginilah keputusan saya saat ini. Terima kasih. Xie xie ni.

PS: Saya ga seperti Bung Gentole yang sempat-sempatnya mikir pernikahan itu masuk akal atau ga. Dasar filsuf. Saya sih dalam hal ini rada konformis aja, ngikutin orang-orang lain. Saya ga begitu berani mendobrak tradisi untuk melakukan, katakan, hubungan tanpa pernikahan atau apa. Lagipula konsep pernikahan is OK buat saya. Anyway, semoga nantinya beliau bisa melangsungkan pernikahan dengan lancar. Kapan nikah bos? :mrgreen:

Advertisements

lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

August 2009
S M T W T F S
« Jul   Sep »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
Click to view my Personality Profile page

Advertisements