To Date is To Love is To Marry

Cepatlah, PDKT ulang sana, mumpung dia blum nikah! :twisted:” – jensen99

***

Pertengahan dekade 2000an, saya yang sudah remaja sedang kuliah pada tingkat S1. Pada saat itu kisah cinta saya selalu kandas sebelum dimulai. Dimulai dari penolakan via email pada tahun 2001, terlalu lama mengejar sampai memergoki cewek yang diincar jalan bareng pacarnya pada akhir 2004, “praktikum PDKT” sebelum saya tinggal setelah satu minggu pada tahun 2005, keduluan bukan karena kelamaan tapi karena si target yang merupakan adik kelas saya jadian sama temen ospeknya pada tahun 2006, sebelum akhirnya untuk pertama kali “katakan cinta” secara langsung face-to-face pada orang yang menolak saya pada tahun 2001 dan stop berharap bisa jadi pacarnya pada tahun 2007. Yah, saya memang rada ga yakin, apakah orang tua saya juga bakal merestui kalo saya pacaran, mengingat sebelumnya ayah saya pernah bilang ke seorang sepupu bahwa pacaran itu nanti saja setelah selesai kuliah, dan saya pikir ini bakal berlaku buat saya juga. Well, saya memang kurang terbuka pada mereka dalam masalah cinta, dan baru akhir-akhir ini ayah saya berkata pada saya, “Sesuk nek golek bojo, golek wong Jepang ae le.” 😆 Amin, Be! :mrgreen:

Tentang pacaran, saya saat itu (dan sekarang masih) memandang pacaran hanya memiliki 2 tujuan: buat main-main atau persiapan pernikahan. Dan buat saya pacaran buat main-main itu absurd. Ga masuk akal. Buang-buang waktu. Terlalu banyak tenaga waktu pikiran dan duit terbuang percuma. Bayangkan. Seorang teman ditelpon sama pacarnya jam 3 pagi. Seorang teman yang lain kerap kali mengantarkan pacarnya kuliah melewati rute yang membentuk huruf T, PP bisa 40 km per hari. Mana emansipasi wanita??? Kalau mereka berantem, wadow. Langit runtuh itu. (FYI saya ini bukan orang yang suka emosi. Ekspresi saya cuma datar, senyum dan tertawa. Sama depresi akut kalo lagi kambuh. Tapi sungguh, saya ini ga suka marah-marahan.) Mungkin saja mereka dengan senang hati melakukannya, tapi buat saya ini merenggut kebebasan. Saya waktu itu lebih suka menghabiskan waktu untuk main game atau main musik atau sekedar nongkrong-nongkrong di warung burjo bersama teman (yang juga jomblo waktu itu). Makanya, saya mengikuti jalan hidup satunya, bahwa pacaran hanya untuk persiapan menikah. Nah, masalahnya adalah…

For Christ’s sake, I was very very very very young. And I still am.

Ya, tahun ini saya baru akan 22. Buat saya usia menikah ideal sebagai laki-laki adalah sekitar 26-31 tahun. Tidak ada dalil atau pemikiran apa-apa, saya cuman mencontoh dari Bapak saya yang waktu menikah umurnya 29 tahun. Nah, pacarannya mau berapa tahun? Sepuluh? Terlalu lama lah. Tiga atau empat saja. Pacaran membutuhkan resource yang tidak sedikit. Terlalu lama pacaran berarti menyia-nyiakan resource tersebut yang seharusnya bisa digunakan untuk hal lain.

Nah, kebetulan salah satu impian saya adalah kerja di luar negeri. Tapi apalah daya, kampus saya tidak punya tradisi menelorkan lulusan yang bisa langsung kerja di luar negeri (dan ini benar: cuma satu temen seangkatan saya yang bisa langsung dapet penempatan di luar negeri, di Cina tepatnya). Saya bertanya kepada alumni di forum, ini caranya enaknya gimana? Jawaban yang saya dapat adalah bahwa cara yang paling cepat adalah dengan kuliah lagi. Jujur saja, ini tidak terpikir sebelumnya, mengingat waktu itu saya masih terpengaruh persepsi masyarakat bahwa orang kuliah lagi itu cuman jadi dosen, dan saya waktu itu ga berniat jadi dosen di universitas dalam negeri (sampai sekarang masih sih hehehe). Rencana kuliah ini akhirnya sekaligus menghidupkan semangat Newtonian dan Einsteinian yang pernah saya miliki waktu SD. Berkat arahan orang tua yang selalu memberikan buku-buku mengenai ilmuwan hebat masa lalu (tentunya di samping Bobo dan Doraemon), saya waktu itu bercita-cita menjadi seorang ilmuwan. Ga tahu ilmuwan apa, pokoknya ilmuwan. Dan lewat jalur inilah saya kembali mencoba mewujudkan cita-cita tersebut, menjadi seorang ilmuwan Ilmu Komputer.

Pada saat mengambil keputusan tersebut, saya teringat cerita tentang almarhum Eyang saya dari pihak bapak yang konon kabarnya dulu sempat akan dikirim belajar ke Belanda. Ya, beliau ini memang orang yang cerdas dalam bidang permesinan. Kecerdasan ini menurun pada saya pada bidang yang berbeda. Namun demikian rencana itu diurungkan demi nenek saya yang waktu itu pacarnya (atau sudah jadi istri ya? Ga tahu deh). Masa ditinggal sendirian beberapa tahun. Dan setahu saya sampai akhir hayatnya beliau tidak pernah ke luar negeri. Saya menghargai keputusan beliau, tapi pemikiran idealis saya mengatakan bahwa setidaknya kalau saya saat ini disodori dua pilihan tersebut, pilihan yang lebih bagus adalah melanjutkan kuliah. Sehingga, kalau Eyang saya mengorbankan pendidikan, saya akan mengorbankan cinta. I’m not going to trade this aspiration off. Either my wife follows me or I look for local person. Mungkin terdengar egois, tapi biarlah. Dan mumpung saya single, saya bisa bebas ke mana-mana. Saya ingin membawa orang tua saya ke luar negeri (yang lebih jauh dari ini, karena ibu saya sudah pernah ke Singapura dan kayanya sebentar lagi bapak atau (bukan XOR) adik saya juga akan ke sini), mungkin secara permanen kalau mereka berkenan. Saya juga ingin membawa adik saya kuliah di luar negeri, kalau tidak untuk level S1 ya S2/S3, menjadi fisikawan kelas dunia, kalau dia memang jadi ambil Fisika dan berniat lanjut sekolah tentunya.

Nah karena itu, sekaligus merespon kalimat Bung jensen99, saya memutuskan untuk tidak akan mencari wanita dulu selama beberapa saat. Saya juga in some way bersyukur tidak berpacaran dulu, sehingga tidak memiliki ikatan “dinas” untuk kembali ke Indonesia. Saya lakukan ini setidaknya sampai saya ada rencana untuk settle di suatu tempat. Semoga saya bisa tinggal di Dublin atau Stockholm nantinya, menjadi staf di universitas lokal. Saya dengar Trinity College Dublin punya track record riset yang bagus pada bidang saya. 🙂

Omong-omong, sekonservatif-konservatifnya saya, saya ini ogah dibelenggu secara langsung oleh orang lain. Biasanya saya kalau konservatif itu adalah by choice, tapi kalau disuruh demikian oleh orang lain saya malah ga mau. Nah, Yanglik saya, seorang biarawati, menasihati saya untuk kuliah yang benar selama di Singapore ini. Jangan pacaran, katanya. Gelora anak muda saya seketika bangkit melawan, walaupun saya cuman bilang “Hehe, ya ya.” Toh ga ada kewajiban untuk memenuhi. Tapi lama kelamaan saya sadar bahwa saya ga punya banyak waktu untuk kehidupan sosial. Jadi ya memang tidak mungkin.

Sekian postingan ini. Saya tidak mengklaim pendapat saya ini benar, dan bahwa pendekatan-pendekatan saya ini flawless. Tapi ya kira-kira beginilah keputusan saya saat ini. Terima kasih. Xie xie ni.

PS: Saya ga seperti Bung Gentole yang sempat-sempatnya mikir pernikahan itu masuk akal atau ga. Dasar filsuf. Saya sih dalam hal ini rada konformis aja, ngikutin orang-orang lain. Saya ga begitu berani mendobrak tradisi untuk melakukan, katakan, hubungan tanpa pernikahan atau apa. Lagipula konsep pernikahan is OK buat saya. Anyway, semoga nantinya beliau bisa melangsungkan pernikahan dengan lancar. Kapan nikah bos? :mrgreen:

Advertisements

20 Responses to “To Date is To Love is To Marry”


  1. 1 lambrtz 10/08/2009 at 1:51 AM

    Kayanya sih emang ada yang bolong, tapi apa ya? 😕

  2. 2 Ando-kun 10/08/2009 at 2:36 AM

    Hmmmmm. masalah pelik bagi dirimu, tp jangan takut dik. Masih banyak gerilyawan putri IRA nan cantik menantimu di Dublin sana untuk kau persunting. Jangan mau kalah sama si agen Mossad itu, agen IRA juga gak kalah hebat koq :mrgreen:

    NB. Yang bolong tuh, kriteria calis (calon istri???) gak disebutkan. siapa tau ada pembaca yg tertarik daftar 😈

  3. 3 Pak Guru 10/08/2009 at 5:17 AM

    Wahliao you still 22 izzit? I thought you very old dy. This depressing one lah, I’m 20 dy, later got thinking and thinking what to do, 20 dy, got responsibility this lah, responsibility that lah, very confusing one… cibai. 😦

  4. 4 Pak Guru 10/08/2009 at 5:24 AM

    On a more serious note, however, a bachelor working in the fields of computers is a painfully easy target for those who’s got a taste for stereotypes. 😛

  5. 5 Felicia 10/08/2009 at 9:33 AM

    sekarang umurnya 22, rencana nikah umur 26-31
    maunya pacaran 3-4 tahun
    kalo ambil rencana paling muda,
    mestinya dari sekarang cari pacar biar bisa nikah pas umur 26 😀

  6. 6 Grace 10/08/2009 at 10:30 AM

    Pacaran itu capek, kalau belum bisa mengurus diri sendiri dan belum bisa settle, seriously, pacaran bisa jadi sooo painful.
    (/setengah curhat) 😛

  7. 7 dnial 10/08/2009 at 10:42 AM

    @pak guru
    The stereotypes in Indonesia (at least what I get) is ICT workers are smart geeks with high wages. Not that all have a high wages, though. 😦

    Usually women are intimidated with smart part. Because it’s not usual smart (or street smart) but geeky smart with interest in obscure things. In my case, obsession with sci-fi and comics. 😀

  8. 8 lambrtz 10/08/2009 at 11:06 AM

    @Ando-kun
    IRA! Kenapa tidak terpikirkan yah? Bisa jadi profil pura-pura yang cocok dengan latar belakang saya ini! 😀

    kriteria calis (calon istri???) gak disebutkan

    Kriteria saya cuman 2. 1) Sebaya, bisa lebih tua atau lebih muda asal jaraknya ga jauh, 2) wanita. Saya heteroseksual.

    ***

    @Pak Guru
    Wahlaueee you think I am old orredy izzit? Aiya I 22 nia…
    Depressing from what ar? Responsibility also what? Relak lah. No need to think one.
    Chee bye, you chee hong mah? 😆
    BTW your creole English is a bit different from what I find here. Manglish? 😕

    ***

    @Felicia
    Nah itu bolongnya, ketemu satu. 😆
    Biarlah, saya ga ngejar umur minimal kok. Prioritas utama saya adalah bagaimana bisa lulus PhD dengan baik dulu. 🙂

    ***

    @Grace
    😆 OK OK :mrgreen:

    ***

    @Pak Guru, dnial
    Smart? Consider nerdy.
    And fat belly. Weteng om-om sucks.

  9. 9 dnial 10/08/2009 at 12:17 PM

    Hey.. I’m quite smart you know. In my french class, my score is among the highest. *pamer* 😀

    And feel free to exercise. This is the main motivator: http://xkcd.com/189/

  10. 10 lambrtz 10/08/2009 at 12:39 PM

    ^
    I know, we are smart. But nerds make a subset of smart people, and I think computer guys lean towards nerdiness.

    And usually I only exercise my INT. 😆

    I think 5 days x 40 minutes of walking in a week suffices, no? I don’t take buses anymore while going to and from campus. 😕

  11. 11 dnial 10/08/2009 at 1:23 PM

    You only Improving your STA that way. You need to improve STR, AGL and CON. *geek mode*

    For INT and WIS, i think we have enough already. 😛

  12. 12 jensen99 10/08/2009 at 1:44 PM

    Oh iya, baru 22 ya? Lupa. Saya baru semester 7 di S-1 saat itu sih. :mrgreen:
    Well, pilihan hidup yang menarik. Semoga lancar dan bahagia deh.
    syukurnya walaupun saya dikit lebih tua setidaknya saya nggak fat belly
    /siyul-siyul
    //sambil nulis2 lamaran kerja lagi

    @ Ando-Kun

    Meh, dia belum sampai ke Irlandia pun saya dah kalah duluan. Sebagai calon agen IRA dia dah dinas di S’por, karir saya kandas di Indo nih. 😆

  13. 13 Ali Sastroamidjojo 10/08/2009 at 2:27 PM

    Kenapa butuh secarik kertas? Kenapa tidak kohabitasi saja and live like birds? 😀 lagian kamu kebanyakan rencana mar. Why don’t u live for today before you know all your plans have fallen apart? *sadis*

  14. 14 Felicia 10/08/2009 at 4:14 PM

    geeks? nerds?
    I love it…
    geeks are the new sexy…
    nerds are the new cool…
    heheh…

    *terpengaruh Big Bang Theory*

  15. 15 Pak Guru 10/08/2009 at 4:15 PM

    @ dnial

    Di Indo mungkin gitu ya? Waktu SMA dulu, lagi heboh-hebohnya SPMB, semua emang mau ke TI ITB, itu kesannya elit banget. Material-material geeky sebangsa game, anime, sci-fi, itu juga kalo di Indo kesannya IMO masih hip, beda sama di negara-negara bule. 😕

    Tahun 2008 akhir saya sempat nonton komedi situasi di Metro TV (yang di-shoot dari vending machine itu loh), dan di situ ada gambaran IT worker yang seirama dengan stereotipe bikinan 4chan/ED. Jadi kayaknya yang negatif gitu memang dari luar, tapi mulai merembes ke sini? 😛

    @ lambrtz

    Ga tau juga, beda kali ya? Ah, ga perlu didalami lah kreol yang kaya gituan. :mrgreen:

    Aiyo, go to gym lah… Walking only what can you get?

  16. 16 Kurotsuchi 11/08/2009 at 12:43 AM

    AFAIK, fisikawan macam kk saya paling letoy untuk ngurus dirinya sendiri terkait sama asmaradana… :mrgreen: kalian terlalu perhitungan, seolah salah dikit aja bakal meleduk 😆

    dengerin vierra, brur… love’s not as simple as putting Natrium into a glass of water… the reaction is like a chain, merembet tak terkendali *jadi inget filem Chains Reaction*

    btw, koq postingan nyang ini inspiring ya… inspiratif banget gitu, jadi pengen nulis kisah suci asmara saya yang mengusung semboyannya Ti Pat Kay 😆

  17. 17 lambrtz 11/08/2009 at 1:42 AM

    @dnial

    For INT and WIS, i think we have enough already.

    Orly? I always think that they are not sufficien. 😐
    *tumbuhin jenggot*

    ***

    @jensen99
    Makasih. 😀
    Makasih juga didoain masuk IRA. 😆 *halah*
    Dan semoga sukses lamarannya. 😉

    ***

    @Ali Sastroamidjojo

    Kenapa butuh secarik kertas? Kenapa tidak kohabitasi saja and live like birds? 😀

    Well, kemungkinan itu ada, tapi saya coba usahakan dulu menikah, walaupun ga pake sakramen alias di kantor catatan sipil doang. 🙂

    lagian kamu kebanyakan rencana mar. Why don’t u live for today before you know all your plans have fallen apart?

    Well…kenapa yah? 🙄
    In fact, many of them (the plans) don’t fall apart. (Masa sih?)

    ***

    @Felicia
    Saya tersentuh 😳

    *terpengaruh Big Bang Theory*

    Wah tontonannya 😆 ampun deh ^:)^

    ***

    @Pak Guru
    Walking walking make your leg powderful siah.

    ***

    @Kurotsuchi

    fisikawan macam kk saya paling letoy untuk ngurus dirinya sendiri terkait sama asmaradana…

    Eh ya ga juga sih. Einstein itu istrinya dua. Hawking itu berkeluarga. 😛

    dengerin vierra, brur…

    *elitis mode on*
    Waduh saya anti sama yang beginian jeh. 😕
    *elitis mode off*

    ove’s not as simple as putting Natrium into a glass of water… the reaction is like a chain, merembet tak terkendali *jadi inget filem Chains Reaction*

    Ga paham kimia o.O

    koq postingan nyang ini inspiring ya

    ^:)^

    jadi pengen nulis kisah suci asmara saya yang mengusung semboyannya Ti Pat Kay 😆

    Waduh! 😯

  18. 18 Kurotsuchi 12/08/2009 at 12:06 AM

    Eh ya ga juga sih. Einstein itu istrinya dua. Hawking itu berkeluarga

    AFAIK, pernikahannya ancur kan nyang sama mileva? dan elsa? dia kan sepupunya! 😯

    hawking? oke lah… istrinya setiya meski hawking kena ALS…


  1. 1 Taxi-driving PhD « lambrtz的博客 Trackback on 24/08/2009 at 4:29 AM
  2. 2 Apanya yang Salah? « Esensi Trackback on 21/10/2009 at 2:13 AM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

August 2009
S M T W T F S
« Jul   Sep »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
Click to view my Personality Profile page