Elite Schools

Sabtu kemarin saya menyempatkan waktu jalan-jalan ke beberapa lokasi di Singapore yang jauh dari keramaian. Tentu, para turis itu kan sukanya cari keramaian, dugem dll. Saya turis yang berbeda: membuat tema yang berhubungan dengan sejarah Singapore dan mengunjungi beberapa tempat terjadinya peristiwa di masa lampau. Laporan perjalanan lengkap menyusul. Kali ini, side questnya dulu.

Sabtu kemarin saya menyempatkan waktu jalan-jalan ke beberapa lokasi di Singapore yang jauh dari keramaian. Beberapa di antaranya adalah sekolah di bawah level universitas di daerah Bukit Timah. Ini beberapa foto yang sempat saya ambil. Tentu saja semua saya ambil dari luar. Tidak mungkin memasuki area sekolah-sekolah tersebut hanya dengan alasan jalan-jalan.

Saya ga akan menulis banyak-banyak mengenai mereka, karena sudah ada di Wikipedia, namun sebagai informasi, sekolah-sekolah yang saya potret ini termasuk sekolah elit.

***

Hwa Chong Institution [website] [Wikipedia]

Hwa Chong Institution

Chinese High School

Chinese High School

Hwa Chong Instution

Hwa Chong Institution

Hwa Chong Instution

Hwa Chong Institution

Hwa Chong Institution

Hwa Chong Institution

***

Nanyang Girls’ High School [website] [Wikipedia]

Nanyang Girls High School

Nanyang Girls High School

Nanyang Girls High School

Nanyang Girls High School

Nanyang Girls High School

Nanyang Girls High School

Nanyang Girls High School

Nanyang Girls High School

***

National Junior College [website] [Wikipedia]

National Junior College

National Junior College

National Junior College

National Junior College

***

Elitis mode on.

Mengunjungi sekolah-sekolah tersebut membawa kesan yang berbeda dari apa yang saya rasakan sehari-hari. Saya tinggal di Jurong West, di daerah barat Singapore, yang bisa dikatakan cukup ndeso bila dibandingkan dengan area tengah kota. Apartemen tua, pasar, food stall kelas kopitiam yang setara dengan angkringan di Jogja, dan orang-orang dari working class, tentu saja di luar mahasiswa mengingat kondisinya yang dekat dengan NTU, adalah tetangga saya. Sedangkan bangunan-bangunan sekolah ini menunjukkan sisi lain Singapore; sisi yang ditonjolkan, dibanggakan, dari masyarakat Singapore yang konon kabarnya meritokratis ini. Murid-murid teladan, murid-murid kelas wahid yang ditakdirkan menjadi punggawa-punggawa kemajuan Singapore, dididik di sini.

Omong-omong, jika saya memotret Raffles Institution, Victoria Junior College dan NUS High School of Mathematics and Science, akan semakin lengkap daftar ini.

Saya sangat terpana dengan kondisi fisik sekolah-sekolah tersebut. Saya tidak tahu dengan Jakarta (seorang teman saya menyebut beberapa nama seperti Global Jaya, Sekolah Pelita Harapan dan Sekolah Binus yang bisa jadi setara dengan sekolah-sekolah ini), tapi setahu saya tidak ada sekolah seperti ini di Yogyakarta. Bahkan sekolah favoritnya seperti SMA 1, SMA 3, Stella Duce dan *ehem* de Britto tidak ada yang seperti ini. Sekolah berlapangan sepakbola, seperti SMA 3 dan de Britto itu sudah termasuk yang bagus. Ah, tapi ini kan kondisi fisiknya saja.

Anyway, mari berbicara ide. Saya kembali berpikir mengenai sekolah-sekolah elite. Tidak seperti proponen “pendidikan murah” yang radikal, yang apa-apa harus murah, saya mendukung bahwa pendidikan itu harus mahal. Ini untuk maintenance dan upgrading fasilitas sekolah, seperti bangunan gedung, laboratorium, perpustakaan, dll, termasuk menggaji guru dengan layak biar mereka tidak perlu mencari penghasilan di luar sekolah. Masalahnya adalah sekolah-sekolah ini harus bisa dijangkau oleh murid-murid dari berbagai kalangan, terutama dari latar belakang finansial yang berbeda. Sudah layak dipahami bahwa seringkali sekolah bagus diasosiasikan dengan beaya yang mahal. Ya memang sih. Coba saja lihat website salah satu sekolah di Jakarta ini. SPP-nya 2 juta per bulan, itu hampir sama dengan gaji Ibu saya sebulan. Dan ini cuma untuk level TK. Yang level SMA bisa lebih mahal lagi, sampai sekitar 5 juta per bulan. Weleh-weleh. Ya, ini yang menjadi perkara. Sekolah harus bagus, tapi jangan sampai menimbulkan gap antara si kaya dan si miskin. Si miskin tetap harus bisa mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan pada level tersebut. Kalau tidak, si kaya bisa terjangkit elitisme dan arogansi akut, dan si miskin bisa kena kecemburuan sosial.

Maksud saya begini. Katakanlah intelegensia itu bisa dikur dengan sebuah variabel kuantitatif, semacam IQ lah. Katakanlah lagi ada sebuah sekolah elite. Dan mahal. Buat saya, tidak masuk akal jika yang bisa masuk sana adalah orang-orang dengan latar belakang finansial yang mencukupi dengan kemampuan intelegensia pas-pasan. Seharusnya yang bisa masuk sana adalah mereka-mereka yang dianugerahi kecerdasan yang cemerlang, tanpa melihat status finansial keluarganya.

Jadi? Ha mbuh. Saya sih punya mimpi, kalau besok punya anak, dan anak saya secara kemampuan mampu, dan saya punya duit, dan dia laki-laki, ingin menyekolahkannya di Eton College. :-“

13 Responses to “Elite Schools”


  1. 1 frozen 07/09/2009 at 3:53 AM

    Ah, ndak ada foto sama cewek, kurang perfect, kurang lengkap, ibarat mangan sego ra ono lawuhe, hambar, tak panas lah aku :-”

    Omong-omong Mas, kok tempate suwung? :-“

  2. 2 aftrie 07/09/2009 at 9:25 AM

    sekolah bagus identik dengan mahal.. *catet*

    sekolah mahal = gaji guru memuaskan = guru tak banyak pikiran = anak-anak dididik dengan riang dan ikhlas..

  3. 3 Ali Sastroamidjojo 07/09/2009 at 9:32 AM

    Tapi bukannya di Singapura sendiri sudah muncul semacam protes-protes yang bernada eksistensialis di kalangan anak muda. Apa benar benar kehidupan hanya soal prestise kemewahan dan nilai A? Yang aku lihat dari blog orang Singapura juga surat-surat pembaca di ST, rakyat Singapura sepertinya sedang mengevaluasi ulang cara pandang mereka tentang “kemajuan” dan “kemakmuran”.

    Soal elitisme. Masalahnya begini. Tak semua orang yang berhasil mengubah sejarah berasal dari sekolah yang elit itu. Jadi, yah, kadang sekolah elit cuma memberi prestise; tak lebih, itupun cuma beberapa tahun saja. Tidak untuk selamanya.

    Btw, dulu di ST ada tulisan khusus tentang kuis Fesbuk; dari sekolah elit mana kah kamu di Singapura. Tiap sekolah, saya dengar, ada setereotip-nya masing-masing.

  4. 4 lambrtz 07/09/2009 at 11:10 AM

    @frozen

    Ah, ndak ada foto sama cewek, kurang perfect, kurang lengkap, ibarat mangan sego ra ono lawuhe, hambar, tak panas lah aku

    Ribut.

    Omong-omong Mas, kok tempate suwung? :-“

    Sabtu.๐Ÿ˜›
    Eh itu di Hwa Chong aslinya ada banyak yang lagi sepakbola. Tapi ga takpotret, males kalo ditanyain apa-apa.๐Ÿ˜›

    @aftrie

    sekolah bagus identik dengan mahal..

    Yaa…mungkin saja ga begitu, tapi kalo bisa murah pasti ada apa-apanya (konotasi bisa bagus atau buruk). Guru yang sangat idealis? Atau ada sokongan dana dari pihak keempat?๐Ÿ˜›

    sekolah mahal = gaji guru memuaskan = guru tak banyak pikiran = anak-anak dididik dengan riang dan ikhlas..

    Nah itu maksud saya.๐Ÿ˜€

    @Ali Sastroamidjojo

    Tapi bukannya di Singapura sendiri sudah muncul semacam protes-protes yang bernada eksistensialis di kalangan anak muda. Apa benar benar kehidupan hanya soal prestise kemewahan dan nilai A? Yang aku lihat dari blog orang Singapura juga surat-surat pembaca di ST, rakyat Singapura sepertinya sedang mengevaluasi ulang cara pandang mereka tentang โ€œkemajuanโ€ dan โ€œkemakmuranโ€.

    Yap. Aku sendiri juga merasa kalau hanya berorientasi nilai, ada aspek lain pendidikan yang tidak mereka berikan. Pendidikan mental, apalah namanya. Ah itu kan tugas National Service.๐Ÿ˜†

    Soal elitisme. Masalahnya begini. Tak semua orang yang berhasil mengubah sejarah berasal dari sekolah yang elit itu. Jadi, yah, kadang sekolah elit cuma memberi prestise; tak lebih, itupun cuma beberapa tahun saja. Tidak untuk selamanya.

    Tentu. Orang pun bisa jadi “orang” tanpa harus masuk ke sekolah-sekolah seperti ini. Tapi coba lihat daftar alumni Raffles Institution. Katanya tujuh dari dua belas presiden Singapore dididik di situ. Mungkin saya salah, dan semoga saja salah, tapi seakan-akan jika murid berprestasi bagus di sini, dibandingkan jika berprestasi bagus di “neighbourhood school”, kemungkinannya jauh lebih besar untuk menduduki posisi-posisi vital tersebut. Well…namanya juga elitis. *siyul-siyul*

    Ah cara pandang elitis seperti ini menyebalkan. Kapan ya bisa diusir.

    (BTW, ini masih nyambung dengan academic elitism yang saya tulis tempo hari.)

    Btw, dulu di ST ada tulisan khusus tentang kuis Fesbuk; dari sekolah elit mana kah kamu di Singapura. Tiap sekolah, saya dengar, ada setereotip-nya masing-masing.

    Yap. Saya dari Nanyang Girls High School katanya. “You are polite, giggly and not too loud. You try to achieve balance in all things that you do.”:mrgreen:

  5. 5 fikri 07/09/2009 at 1:33 PM

    Sekolah berlapangan sepakbola, seperti SMA 3 dan de Britto itu sudah termasuk yang bagus. Ah, tapi ini kan kondisi fisiknya saja.

    luar biasa. SMA yang disebut pertama sepertinya bagus sekali.

    BTW, ngapain mau disekolahin ke Eton? Ntar nggak bisa 4 tahun lho SDnya.

  6. 6 lambrtz 07/09/2009 at 4:52 PM

    ^
    Wah narsis.๐Ÿ˜†
    Tapi di antara keempat sekolah itu, kayanya Stella Duce yang paling bagus.๐Ÿ˜€

    BTW, ngapain mau disekolahin ke Eton? Ntar nggak bisa 4 tahun lho SDnya.

    Kan ga perlu ngikutin jejak bapaknya :-“

  7. 7 Frea 07/09/2009 at 6:44 PM

    Kok saya ngeliat foto Nanyang girls high school, pas bagian trek lari nya, jadi kebayang para cewek-cewek lagi olahraga dengan seragam olah raga dan pants khas cewek anime jepang gitu ya?๐Ÿ˜›
    *lospokus*

  8. 8 Ando-kun 08/09/2009 at 1:06 AM

    Masalahnya adalah sekolah-sekolah ini harus bisa dijangkau oleh murid-murid dari berbagai kalangan, terutama dari latar belakang finansial yang berbeda.

    Okelah, pendidikan level menengah keatas harus bisa dicicipi juga oleh orang yang kurang mampu secara finansial. Tapi, apakah sekolah level demikian tidak berhak dicicipi oleh orang yang kurang mampu disegi akademik?
    Orang bodoh dilarang sekolah disekolah bagus?
    Padahal menurutku (sampai sekarang, tolong diubah pola pikirku kalau salah) bodoh dan pintar itu relatif, bahkan anak autis pun punya kelebihan tersendiri. Jadi kebayang anak tak mampu secara finansial dan dianggap bodoh karena nilai akademik pelajaran tertentu jeblok.
    Hehehe… akibat nonton film I not stupid nya Jack Neo.

  9. 9 Kurotsuchi 08/09/2009 at 1:06 AM

    Seharusnya yang bisa masuk sana adalah mereka-mereka yang dianugerahi kecerdasan yang cemerlang, tanpa melihat status finansial keluarganya.

    ๐Ÿ˜ฏ

    *minjem monolog dalam lagu Finally Free dari album scenes form a memory;*

    “OPEN YOUR EYES, NICHOLAS…”
    ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†

    AFAIK, kebanyakan sekolah dengan fasilitas bagus dan lengkap memiliki grafik ‘bayaran’ yang berbanding lurus dengan aspek fasilitas yang komplet tersebut. bahkan, di SMA pinggiran macam sekolah saya dulu aja udah ada gap-gap yang memisahkan mereka yang berasal dari kota dan dari desa, termasuk aspek kemampuan finansial. heran, saya. kemakmuran dan kesuksesan hidup koq diturunkan lewat jalur genetis๐Ÿ˜›

  10. 10 Kurotsuchi 08/09/2009 at 1:09 AM

    btw, saya malah jadi inget poster demo di FT kampus saya dulu; “Orang Miskin dilarang masuk!”:mrgreen:

  11. 11 lambrtz 08/09/2009 at 2:06 AM

    @Frea
    Maksudnya yang pake celana super mini itu? Lospokus atau tidak, yang jelas itu ga ada di Indonesia. At least belum pernah nemu. Lha SMP saya yang notabene serasa di Singapore aja ga kaya gitu. Dulu cewek-ceweknya masih pake celana selutut waktu olahraga. [-(

    We want thighs!๐Ÿ‘ฟ

    *lhaaa???๐Ÿ˜† *

    @Ando-kun

    Sebelumnya, no need for political correctness ya.๐Ÿ™‚ Males milih-milih kata soalnya.:mrgreen:

    Tapi, apakah sekolah level demikian tidak berhak dicicipi oleh orang yang kurang mampu disegi akademik?
    Orang bodoh dilarang sekolah disekolah bagus?

    Tentu saja mereka berhak. Setidaknya mereka bisa ikut serta dalam ujian masuk tanpa harus memikirkan “waduh kok SPP-nya mahal ya”, seperti yang saya alami dulu ketika ikut UM UGM tahun 2003.๐Ÿ˜€
    Cuman masalahnya begini. Dalam definisi saya, sekolah elite itu menawarkan kurikulum yang lebih dari standar. Misalkan, pendidikan olahraga selevel atlet semipro untuk mempersiapkan mereka menjadi atlet profesional. Lha kalau orang ga pintar olahraga kaya saya dipaksa masuk ke sono, kan ya tiap kali pulang sekolah encok pegel linu?๐Ÿ˜†
    Begitu juga dengan yang kurang mampu pada bidang lain. Daripada belajar Fisika kurikulum plus-plus sampai ngotot tapi ga bisa-bisa, kan lebih baik mendapat kurikulum standar saja sambil mengembangkan apa yang menjadi talentanya? Main catur, misal.๐Ÿ˜€

    Dan omong-omong, bukannya begitu pesan moral film I Not Stupid 1 dan 2? Seingat saya sih, 1) orang tua Singapore terlalu mendewakan Matematika, Ilmu Alam dan Bahasa Inggris; 2) salah satu tokoh utama kurang mampu dalam Matematika tapi jago menggambar; 3) tokoh utama lain nakal luar biasa tapi lihai bela diri; 4) ada tukang potong rambut sukses yang “cuma” lulusan ITE / vocational school.๐Ÿ˜€

    @Kurotsuchi

    AFAIK, kebanyakan sekolah dengan fasilitas bagus dan lengkap memiliki grafik โ€˜bayaranโ€™ yang berbanding lurus dengan aspek fasilitas yang komplet tersebut. bahkan, di SMA pinggiran macam sekolah saya dulu aja udah ada gap-gap yang memisahkan mereka yang berasal dari kota dan dari desa, termasuk aspek kemampuan finansial. heran, saya. kemakmuran dan kesuksesan hidup koq diturunkan lewat jalur genetis๐Ÿ˜†

    Ya itulah. Dalam dunia awang-awang saya, sekolah macam ini harus tetao membuka jalan bagi mereka yang kurang mampu secara finansial. Salah satunya ya biar si kaya dan si miskin bergaul bersama, membaur.

    Etapi masak kemakmuran dan kesuksesan diturunkan secara genetis sih? Isaac Newton itu kalau ga salah orang miskin aslinya.๐Ÿ˜•

    Nice quote from Finally Free, btw.๐Ÿ˜†

    btw, saya malah jadi inget poster demo di FT kampus saya dulu; โ€œOrang Miskin dilarang masuk!โ€

    ๐Ÿ˜†
    Ah ya UGM tambah mahal, tapi kualitas input dan output masih ga jelas. Konon kabarnya ada yang masuk UGM hanya dengan bekal duit. Lha kok sampai menggadaikan idealisme begini?๐Ÿ˜
    Eh, “FT kampus saya”? Situ bukannya dari UGM ya? Berarti FT kampus kita dong, yang berarti fakultas saya.๐Ÿ˜†

  12. 12 jensen99 08/09/2009 at 2:56 PM

    Jadi, begini yang kepikiran…

    1] Orang kaya berhak elit, pintar maupun bodoh
    2] Orang miskin (meski pinter) kalo digabung disitu, nanti beresiko teralienasi. Apalagi kalo masuknya jalur khusus, beasiswa misalnya, wah.. sekali ada yang ungkit, bisa kerusuhan itu.๐Ÿ˜†
    3] Lha wong orang kaya yang masuk sekolah biasa aja bisa jadi tirani minoritas koq.๐Ÿ˜† Percayalah, pembauran itu akan berwujud “juragan” dan “anakbuah”.๐Ÿ˜†
    4] Untuk mengatasi elitisme, arogansi dan kecemburuan sosial itulah maka di sekolahan diterapkan baju seragam. Emang gak banyak nolong sih.

    *baca ulang*

    Aih, komen saya gak mutu banget.. tapi ya, kalo mau idealismemu jadi, saya lebih pilih meningkatkan mutu sekolah non-elit supaya selevel elit, tanpa menaikkan biaya (ntah gimana caranya) daripada membuka sekolah (terlanjur) elit untuk kaum pintar non kaya.๐Ÿ˜‰

  13. 13 lambrtz 09/09/2009 at 7:38 PM

    @jensen99

    1) Ya, tapi elite dalam hal apa dulu? Kalo elite dalam artian bisa beli macam-macam, semacam Paris Hilton gitu, ya wajar dong, mereka punya duit. Tapi that sounds derogatory to me. Kalo elite dalam hal keilmuan, kayanya ga pengaruh deh. Tapi memang dalam kenyataan kayanya seperti itu. Temen-temen yang rankingnya di bawahku dulu bisa kuliah S1 di LN tanpa beasiswa. *iri*

    2) Well, bisa jadi sih.๐Ÿ˜•

    3) Ah masa sih? IMO sampeyan menyamakan “kaya” dengan “arogan”, kan ya belum tentu to.๐Ÿ˜› (tapi bisa juga saya salah)

    SMAku itu multi-latar belakang lo, dari yang anaknya juragan mobil sampai yang pada waktu senggang harus jualan gorengan. Kayanya OK-OK aja itu.๐Ÿ˜•
    Kalau terjadi geng-gengan, itu bukan antara yang kaya dan yang miskin, tapi mana yang alim + menyebalkan dan mana yang preman + menyebalkan dan mana penggemar material H yang asik-asik aja kaya saya๐Ÿ˜†

    4) Kami tidak butuh seragam. Perbedaan itu bukan buat dihilangkan ataupun disembunyikan, tapi buat dianggap biasa.๐Ÿ˜Ž

    tapi ya, kalo mau idealismemu jadi, saya lebih pilih meningkatkan mutu sekolah non-elit supaya selevel elit, tanpa menaikkan biaya (ntah gimana caranya) daripada membuka sekolah (terlanjur) elit untuk kaum pintar non kaya.

    Mengelitkan khalayak ramai, ide bagus.๐Ÿ˜€


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

September 2009
S M T W T F S
« Aug   Oct »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
Click to view my Personality Profile page