Archive for September 11th, 2009

Ganyang: Tulisan Tak Selesai

Dan ketika kau berteriak “GANYANG!!!!”
Maka terkenalah semua makcik, pakcik, encik, datok yang tak urus mengurus masaalah-masaalah ini
Justru rasa ketakutan tumbuh di dalam sanubari mereka
Salah-salah sentimen dan fanatisme terhadap nasionalisme justru terpupuk semakin kuat
Dan Nusantara arena jihad bagi mereka

Semoga itu tidak terjadi

…apakah tidak sebaiknya kita berteriak, “KENYANG!!!” ? 😀

Nasi goreng

Nasi goreng

=======

Beberapa minggu yang lalu saya mau mempublish ini. Harus di-retouch, tapi saya sudah malas. Dan akhirnya saya putuskan untuk mempublish tulisan tak selesai ini setelah membaca sebuah postingan di sebuah blog (seleblog kayanya; jumlah komentarnya > 50 pada masing-masing postingan). Ternyata justru nasionalisme seperti ini yang mereka amini. Orang negeri seberang yang tidak bersalah dimaki-maki dan mereka puas. Ini persis seperti tanggapan teman saya beberapa tahun lalu, dan waktu itu saya debat habis-habisan sampai pacarnya bilang “sudah to, berhenti saja”. Ya sudah, mungkin memang saya lagi-lagi berperan antagonis di sini, menjadi orang yang berbeda dari khalayak ramai.

Sebenarnya kalau saya mau melakukan ini pun bisa. Di lab ada 2 orang MY, dan bapak kos juga. Tapi saya ga mau melakukannya. Mereka kan ga bersalah.

Anyway, I hope someday you’ll join us. 🙂

Advertisements

Protected: What Would You Be Like If You Were A …

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Javanese Indonesian

Seperti dalam Bahasa Inggris yang ada versi American dan British dan Australian dkk, Bahasa Indonesia pun memiliki berbagai macam dialek, dan saya sehari-hari terbiasa mengucapkan Bahasa Indonesia dialek Jawa, misalnya “anget” alih-alih “hangat”, “bayem” alih-alih “bayam”, dll. Lebih spesifik lagi, dialeknya adalah Jawa Yogyakarta, misalnya “mBantul” alih-alih “Bantul” (salah satu kabupaten di DI Yogyakarta).

Dan sekarang saya cukup kesulitan untuk berbicara dalam bahasa Indonesia “standar” ke ibu kos saya yang Singaporean Malay. Walaupun medok Melayu, beliau bisa Bahasa Indonesia, mengingat – entah ada hubungan kausal atau tidak – orang tuanya berasal dari Jawa. Namun demikian tentu saja saya harus berbicara dalam Bahasa Indonesia standar. Susah dan terasa aneh sekali untuk bilang “hangat” kalau kita sudah terbiasa bilang “anget”. Berbeda dengan saya, teman kos yang orang Jawa murtad Sunda sepertinya bisa dengan nyamannya menggunakan kata-kata baku, walaupun nadanya tetap ala Bahasa Sunda.

Dan ini tentu saja tidak cuma terjadi ketika berbicara dengan ibu kos saja, tetapi juga dengan orang-orang Melayu lain di sini. Barusan saya berbincang-bincang dengan seorang janitor di sini dan cukup tergagap-gagap untuk menggunakan Bahasa Indonesia standar.

Pabu sacilat…


lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

September 2009
S M T W T F S
« Aug   Oct »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
Click to view my Personality Profile page

Advertisements