On Electoral Abstention

And once again I am questioning what the logical background of white voter’s right to protest removal[1] is.

  1. Even a consenting absentee might have participated in the country’s development in another way.
  2. This is a form of ad hominem.
  3. Good criticisms can come from any person. Filtering them out merely based on whether the speaker has voted or not is not a good idea, for the government’s sake.
  4. You can just protest if you’d like.

Anybody desires to enlighten me? Otherwise I will stick to the idea that every citizen has the right to abstain.😎

UPDATE:

[1] Just to make it clear, I think there is a consensus (at least in my home country) that an absentee has no right to protest the government, since s/he does not participate in the election(?). “Orang golput wajib diam“, white voters must keep silent, they say.

[2] For an extreme example, consider all candidates in presidential and parliamentary elections abstaining. What should happen?😀

41 Responses to “On Electoral Abstention”


  1. 1 dnial 03/11/2009 at 10:36 PM

    Tiba2 teringat dengan konsep civil disobedience. Hmmm….

  2. 2 dnial 03/11/2009 at 10:46 PM

    Kita juga harus tahu konsekuensi pemikiran ini.

    Pandanganku lebih cenderung kapitalis-liberal, aku berpikir, peran terbaik yang bisa kita berikan itu bukan dengan memilih. Memilih itu kecil, dan IMHO, malah nggak signifikan. Tapi itu lain soal.

    Sumbangan terbaik untuk negara, dalam prinsip ekonominya Webber adalah bekerja sebaik mungkin, seefisien dan seefektif mungkin, sehingga kita bisa menggerakan ekonomi.

    Dan membayar pajak, sesuatu yang 60% anggota DPR yang DIPILIH rakyat selama ini gagal memenuhinya (punya NPWP aja enggak mau mbayar pajak?).

    Menurutku, membayar pajak dan bekerja keras adalah wujud patriotisme, bukan memilih.

    Ada yang nggak sepakat?

  3. 4 jensen99 03/11/2009 at 10:56 PM

    Pada saat pemerintahan sudah berjalan, saya pikir status seorang golput terhadap pemerintah tidak banyak bedanya dengan pemilih yang caleg pilihannya tidak masuk gedung dewan, atau capres pilihannya gagal jadi RI-1. Sama juga dengan voter yang milih SBY tapi surat suaranya gak sah (tanpa diketahuinya).🙂

  4. 5 jensen99 03/11/2009 at 11:11 PM

    Otherwise I will stick to the idea that every citizen has the right to abstain.😎

    Kalo di Pemilu Israel hak itu malah diakomodasi.😀

  5. 6 安藤君 04/11/2009 at 12:35 AM

    “Orang golput wajib diam“, white voters must keep silent, they say.

    dubidam….dam…dubidubidam….dam….
    *ngaku golput…..*

  6. 7 Kgeddoe 04/11/2009 at 11:13 AM

    It’s just simple logic: political parties and their followers want your vote, you don’t give them your vote, then they hate you. Oh, you’re not “good citizen,” you’re “betraying the nation, the hallowed spirit of democracy.” Oh, you can’t complain of the government’s routine fuckups.

    Clear as day.

  7. 8 Ali Sastro 04/11/2009 at 11:29 AM

    Ah, this again toh? Masih penasaran?

    Look, Mario. In a democracy, everybody has the right to voice their opinions. That’s what democracy is: letting people say anything they want to say. Yes, tentu saja, abstainers have the right to protest the government; to express their disagreement with what the president is doing. But that, IMO, would be absurd and silly, because you could save energy by voting the ‘right’ candidates before the president you criticized got elected. The logic is quite simple: When you abstain, you are actually giving a nod to all candidates. So if you did not vote a few months ago, you were paving the way for SBY’s victory. If you criticize him now; it would be, again, silly.

    Abstaining is absurd because its supporters seem to believe that a country will continue to exist with or without a government. While that’s not true. If nobody comes to the poll; then there will no legitimate government; and the who nation will be chaotic, and you will have no one to protest against then. The case might be different if the military takes control or The King of the Kings Qaddafi and Dear Leader Kim want a new state to play with. You’d be glad if you live in a monarchy and dictatorship, because you don’t have to vote and. But you will have no right to criticize your leaders, let alone decry the appointment their incompetent heirs, or you’ll end up rotting in jail.

    If you think the current government sucks; you have the moral obligation to prevent it from ruling the country again in the next period. If you don’t; what’s the point of criticizing? If SBY got elected again, he’d be like a king, and you’d risk losing not only your right to vote, but your right to differ as well. Got my point?

    Ah, pake perumpamaan saja;

    Misalnya Kamu berlima kopdaran sama Grace, Ando, dkk mau makan siang; kemudian kalian voting untuk menentukan mau makan di mana. Dua orang bilang Burger King, satu orang lagi milih McDonnald, satu orang lagi warteg, dan kamu golput. Pas di Burger King, kamu ngeluh makanannya nggak enak. Yah sah-sah saja. Tapi kan YOU MESTINYA BILANG DARI TADI!!

    Wah panjang!

  8. 9 S™J 04/11/2009 at 1:38 PM

    saya pilih bayar pajak… menyekolahkan anak… nggaji pembantu… belanja di pasar tradisonal… beli bensin pertamina… it should be enough for one person.😎

  9. 10 dnial 04/11/2009 at 3:07 PM

    @Ali Sastro

    Itu kan kalau kita assume, kita mengkritik SBY-nya sendiri. Wajar lah kalau kita protes “Kok SBY yang jadi presidennya?” itu dianggap nggak valid. Kan kita nggak ikut milih.

    Tapi ada masalah lagi, satu, dalam pemilu kita kan milih siapa presiden, bukan siapa yang bukan presiden. Bedanya, misal ada 3 calon, kita cukup milih satu atau dua orang yang tidak kita inginkan jadi Presiden. Misal kita nggak pingin SBY jadi Presiden, tapi kalau Mega atau JK nggak masalah, kita pilih not SBY, misal. Dalam model moralitas yang anda ajukan, sistem yang saya ajukan bisa jalan, asal bukan SBY. Tapi untuk sistem sekarang, misal kita nggak mau milih SBY, ya bakal terpecah antara Mega dan JK dong?

    Seingat saya, jalannya moralitas, waktu mahasiswa dulu, bukan untuk memilih siapa yang terbaik tapi untuk tidak memilih atau menolak memilih calon yang jelek. Sama seperti, gerakan moral saat menolak Soeharto sebagai presiden, tapi gerakan moral yang sama saat ditanya siapa yang ngganti bakal korup karena itu politis.

    Masalah kedua dalam model logika itu, apakah yang milih McD dan Warteg punya hak untuk protes, dan terlebih lagi, punya hak untuk terus protes? Kalau emang salah gimana? Apakah kita nggak berhak protes?

    Masalah ketiga, emang ngefek? Itu kan contohnya 5 orang, jadi suara kita minimal bikin seri misal kita milih McD atau Warteg. Gimana kalau 500 dan 300 milih untuk BK, apakah kita milih Warteg ngaruh sama hasilnya? Ini kan sistem winner takes all. Nggak apa2 sih kalau misal kita milih Warteg bisa mecah jadi barisan pemilih Warteg dan pergi ke warteg terpisah sama golongan McD dan golongan BK.

    Permasalahan lain, sebenarnya mengkritik di sini kan konteksnya mengkritisi kebijakan. Misal, aku nggak masalah kalau SBY naikin harga BBM, bahkan aku mikir BBM harusnya dipajakin, bukan disubsidi. Tapi aku nggak suka lihat SBY mbiarin Polri, Kejagung sama KPK berantem. Masak setiap aku mengkritisi SBY aku harus nggak sepakat sama SEMUA kebijakannya?

    Dan terakhir dan pamungkas, saat Calon Presiden jadi Presiden, atau calon anggota DPR jadi anggota DPR, dia jadi Presiden untuk pemilihnya doang, untuk semua pemilih atau presiden untuk seluruh rakyat Indonesia? dia jadi anggota DPR untuk yang milih dia doang, buat semua pemilih atau buat seluruh rakyat Indonesia?

    Kalau buat yang milih saja, ya sudah berarti kita nggak berhak mengkritisi, bikin negara sendiri aja… Republik Putih.😀

  10. 11 Nicholas Hwa 04/11/2009 at 7:33 PM

    @dnial

    Tiba2 teringat dengan konsep civil disobedience. Hmmm….

    My name is Nicholas, which means people’s victory! Aquí manda el pueblo y el gobierno obedece! \m/ *halah*

    Menurutku, membayar pajak dan bekerja keras adalah wujud patriotisme, bukan memilih.

    Amin.:mrgreen:

    @jensen99

    saya pikir status seorang golput terhadap pemerintah tidak banyak bedanya dengan pemilih yang caleg pilihannya tidak masuk gedung dewan, atau capres pilihannya gagal jadi RI-1. Sama juga dengan voter yang milih SBY tapi surat suaranya gak sah (tanpa diketahuinya).

    Amin.:mrgreen:

    Kalo di Pemilu Israel hak itu malah diakomodasi.

    😆
    Amin. Sistem formal yang lebih bagus.:mrgreen:

    @安藤君
    Kamuuuu makaannya apaaa…sayaaa juruuu masaknyaaa…

    @Kgeddoe
    Is it the case? Seems to be too simplistic way of thinking. If they hate some people for not voting for them, they will hate other party’s voters.😕

    mPun semanten rumiyin.:mrgreen:

  11. 12 安藤君 04/11/2009 at 8:31 PM

    @Nic Hwa
    Lha? siapa yang milih kamu buat jadi juru masak? toh saya udah tau kalau situ masaknya hambar. Makanya skrng saya ada diluar rumah dan berencana makan di restoran jepang yg masakan kokinya enak.
    kalau udah kenyang,….. baru pulang:mrgreen:

  12. 13 Ali Sastro 04/11/2009 at 9:14 PM

    @dnial

    Tapi ada masalah lagi, satu, dalam pemilu kita kan milih siapa presiden, bukan siapa yang bukan presiden. Bedanya, misal ada 3 calon, kita cukup milih satu atau dua orang yang tidak kita inginkan jadi Presiden. Misal kita nggak pingin SBY jadi Presiden, tapi kalau Mega atau JK nggak masalah, kita pilih not SBY, misal. Dalam model moralitas yang anda ajukan, sistem yang saya ajukan bisa jalan, asal bukan SBY. Tapi untuk sistem sekarang, misal kita nggak mau milih SBY, ya bakal terpecah antara Mega dan JK dong

    Yah memang terpecah. So? Yang penting hasilnya bukan yang terburuk berdasarkan kalkulasi yang Anda lakukan. Kalau pilihan Anda kalah, well at least you try, dan Anda kan bisa komplen kapan saja. Misalnya kisruh KPK-Polri sekarang. SBY itu ngapain coba? Lelet!! Doh, yang milih menyesal dah.

    Masalah ketiga, emang ngefek? Itu kan contohnya 5 orang, jadi suara kita minimal bikin seri misal kita milih McD atau Warteg. Gimana kalau 500 dan 300 milih untuk BK, apakah kita milih Warteg ngaruh sama hasilnya?

    Haha ini sih cara berfikir yang salah menurut aku. Seingat saya yang menang Pilkada Jakarta bukan Fauzi Bowo, tetapi Golput! Kan aneh kalo jumlah orang yang berfikir “suara Anda gak ngaruh” sebenarnya pemenang pemilu. Persoalan ini, sama kayak inflasi, sensus penduduk, dll, memang harus dilihat secara makro, bukan mikro. Pilihan individu, kalo ditimbang satuan, ya jelas gak ngaruh dong. Satu lawan 1,000 yah gak level atuh. Lagian, ini kan pemilu, kalo memiliih meminta harus menang mah mending main togel saja?:mrgreen:

    Mana reply Mario Oza Hwa?

  13. 14 Kuroyanagi 04/11/2009 at 10:46 PM

    woooo…. ramee😀
    selaku golput ga boleh cawe-cawe sama pemerintahan yang exist sekarang? teori macam apa itu… lha emangnya golput lantaran sifat moderat-netralnya otomatis langsung diekstradisi? trus dimana posisi mereka dalam kancah kehidupan berpolitik di indonesia? di luar boundary?

    IMO, bersifat netral bukan berarti kehilangan haknya untuk bersuara. bagaimana kalo netralnya karena merasa wakil2 rakyat yang disodorkan kurang berkenan bagi para golongan putih itu? apakah itu berarti para kaum putih itu jadi didepak dari negara indonesia? menurut saya sih enggak… tidak memilih bukan berarti kehilangan kewarganegaraan indonesia, dan masih punya hak untuk mengkritisi pemerintahan yang lagi exist sekarang… keberadaan rakyat yang kritis terhadap pemerintahan bisa jadi merupakan sistem koreksi yang bagus, sehingga mereka yang duduk di kursi bisa membenahi apa yang kudu dibetulkan… tapi yaa itu, saya kan nggak tau apa2 soal politik…

    yoo mbertz, menurutmu dimanakah posisi para kaum putih ini di struktur perpolitikan negara indonesia tercinta ini?😀

  14. 15 dnial 05/11/2009 at 3:07 PM

    Kalau pilihan Anda kalah, well at least you try, dan Anda kan bisa komplen kapan saja.

    Pertanyaan:
    Trus kalau saya golput nggak boleh komplen?
    Meski saya WNI yang taat pajak nggak boleh komplen?
    Semua hak saya sebagai WNI hilang karena saya nggak milih?
    Wkwkwkwk…. Bikin negara dhewe ae lah..😀

    Pilihan individu, kalo ditimbang satuan, ya jelas gak ngaruh dong. Satu lawan 1,000 yah gak level atuh. Lagian, ini kan pemilu, kalo memiliih meminta harus menang mah mending main togel saja?

    Makro itu harus punya model mikronya. Pilihan indvidu negara harus bisa dilihat saling bebas satu sama lain sebelum membuat model makro.

    Dan sejujurnya, pemilu itu secara logis emang kayak main togel, nggak guna, dan kemungkinan menang kecil. Misal tokoh kita besar massanya, kita milih nggak milih sama saja, kalau kecil apalagi, buang-buang suara. Dan nggak ada efek balik baik langsung atau tak langsung bagi kita. Pajak juga sih, cuman pajak itu kewajiban, bisa dianggap saham kitaterhadap pemerintahan.😛

    Secara proporsional, negara maju, jumlah presentase golputnya memang tinggi, AS sampai 40%, Belgia kalau nggak salah 60%. Satu-satunya negara maju yang tingkat golputnya rendah cuman Swiss.

    Tingkat golput rendah biasanya milik negara yang either: 1. Pemerintahannya korup atau tidak demokratis, seperti Iran, Zimbabwe atau Indonesia di masa Soeharto, atau 2. Demokrasi baru mulai, seperti di Indonesia tahun 1999, atau di Kamboja dulu.

    Tingkat golput tinggi menandakan either: 1. tingkat kepercayaan masyarakat terhadap sistem tinggi, artinya mereka percaya siapa pun yang memerintah, kebijakannya bisa terprediksi, 2. atau mereka simply apatis dan mandiri, percaya bahwa siapa pun yang terpilih, mereka sendirilah yang menentukan nasib mereka, bukan pemerintah. yang terakhir adalah alasanku golput.

  15. 16 dnial 05/11/2009 at 3:10 PM

    Kesimpulan sementara: Banyak yang golput = Demokrasi Indonesia sudah maju?😀

  16. 17 Ali Sastro 05/11/2009 at 4:09 PM

    Trus kalau saya golput nggak boleh komplen?

    Ya tentu boleh saja. But, as I said, it makes u look silly. For you never give a damn about the electoral process that produces the government you criticize. So why complaining when the election is over?

    Wkwkwkwk…. Bikin negara dhewe ae lah.

    No. You can’t make your own country. You wouldn’t have been able to enjoy your life — working and blogging — in Indonesia if hadn’t for millions of people who went out to vote; to elect a elect that gives you all the privileges as citizen. Stateless people have rights. Mau jadi refugee? Atau novelis in exile? It’s not easy.

    Makro itu harus punya model mikronya. Pilihan indvidu negara harus bisa dilihat saling bebas satu sama lain sebelum membuat model makro.

    So? Can you elaborate?

    Tingkat golput tinggi menandakan either: 1. tingkat kepercayaan masyarakat terhadap sistem tinggi, artinya mereka percaya siapa pun yang memerintah, kebijakannya bisa terprediksi.

    Tingkat golput tinggi itu karena demokrasi menjamin hak individu untuk memilih atau tidak memilih. Itu sebabnya golput selalu ada. Lagian demokrasi itu bukan paksaan. Kalau orang memilih karena dipaksa dan dibayar, bukan demokrasi namanya. Yang membedakan golput dan pemilih adalah yang terakhir peduli dan mau bertanggungjawab. Hak keduanya tentu tak berbeda.

    2. atau mereka simply apatis dan mandiri, percaya bahwa siapa pun yang terpilih, mereka sendirilah yang menentukan nasib mereka, bukan pemerintah. yang terakhir adalah alasanku golput.

    Ya Anda memang menentukan nasib anda sendiri; tetapi Anda tidak bisa bikin jalan tol sendiri; atau jembatan layang sendiri; atau pembangkit listrik sendiri; atau uang kertas sendiri, bukan? Harus ada yang mengatur soal pajak (kebijakan fiskal) dan juga peredaran uang (soal moneter). Soal hubungan dengan ‘bangsa’ lain bagaimana?

    Dan sejujurnya, pemilu itu secara logis emang kayak main togel, nggak guna, dan kemungkinan menang kecil.

    Obama menang karena Bush jelek. Bukan karena togel. Kalau semua orang berfikir seperti Anda, McCain bakalan menang pemilu, dan dunia gak seperti sekarang. Lagian, jadi alternatifnya apa? Monarki kayak Brunei? Atau one-party system kayak di Singapura. No thanks.😀

    NB: Masih ada argumen yang lebih kuat untuk menjadi golput. Yang Anda sajikan di sini masih gimana ya…hehehe. They are not good reasons why you should be golputer.😀

  17. 18 Ali Sastro 05/11/2009 at 4:14 PM

    You wouldn’t be able to enjoy your life — working and blogging — in Indonesia if millions of people hadn’t gone out to vote; to elect a government that gives you all the privileges as citizen.

    Koreksi. Maaf kan bahasa Inggris saya yang buruk. Buru2.:mrgreen:

  18. 19 dnial 05/11/2009 at 4:32 PM

    Ya tentu boleh saja. But, as I said, it makes u look silly. For you never give a damn about the electoral process that produces the government you criticize. So why complaining when the election is over?

    Lho secara pribadi, I give a damn. Tapi tetep memilih golput. Karena percaya 59% hasil polling sebelum pemilu adalah kepastian suaraku nggak ngaruh, dan juga aku di Jakarta dengan KTP Sidoarjo, ngurusnya nggak segampang orang Jakarta asli, so yeah… aku malas.

    Pemilu hanya mengkonfirmasi hasil polling.😛

    Dan sekali lagi, kita nggak komplain sama siapa yang kepilih. That will be, like you said, very silly. Kita komplain sama apa yang dilakukan SBY, atau apa yang tidak dilakukannya. Kita nggak komplain kok SBY yang kepilih, kebijakannya. Itu 2 hal yang berbeda.

    Orang memilih karena ada urge, dorongan untuk memilih. Saat Pemilu 2004, aku masuk kotak pemilu karena nggak pengen Golkar jadi mayoritas, and failed.

    And come on, be realistic. SBY lebih merasa berhutang pada parpol kan, bukan sama rakyat?

    We are just freakin’ statistic, dude…

  19. 20 dnial 05/11/2009 at 4:36 PM

    ralat:

    Kita nggak komplain kok SBY yang kepilih, kebijakannya.

    Kita nggak komplain kok SBY yang kepilih, tapi soal kebijakannya.

  20. 21 Nicholas Hwa 07/11/2009 at 2:31 AM

    @S™J
    Wah punya pembantu!😯

    @Ando-kun
    Ngiming-imingi fails. Selain udon dan ramen, saya ga begitu suka makanan Jepang.:mrgreen:

    @Kuroyanagi

    masih punya hak untuk mengkritisi pemerintahan yang lagi exist sekarang…

    Amin.:mrgreen:
    Kalau dipikir-pikir, kritik itu bukan cuma hak, tapi kewajiban. Kan ada pepatah klise, “kita sebagai manusia wajib mengingatkan”.😕

    menurutmu dimanakah posisi para kaum putih ini di struktur perpolitikan negara indonesia tercinta ini?

    IMO sih sama dengan yang lain: berhak dan wajib mengkritisi.😀

  21. 22 Nicholas Hwa 07/11/2009 at 2:38 AM

    @Ali Sastro, dnial
    Waduh jadi ruwet begini. :-S
    Satu hal yang saya pelajari dari kalian (dan beberapa artikel yang dikasih Frea via YM): isu ini tidak sesederhana yang saya pikirkan.

    Masih ada argumen yang lebih kuat untuk menjadi golput.

    Apakah itu? Apakah “argumen moral”, misalnya, kalo Republikan dan Demokrat sama-sama mendukung War Against Terror, sementara (anggap saja) partai peserta pemilu cuma itu dan kita ga setuju atas tindakan ini?😕

  22. 23 Ali Sastro 07/11/2009 at 8:24 AM

    Karena percaya 59% hasil polling sebelum pemilu adalah kepastian suaraku nggak ngaruh

    Yah terserah deh. Ini sebenarnya sama dengan pegawai negeri yang bilang: tak apalah korupsi sejuta dua juta. Gak bakalan ngaruh. Infinitesimal dibanting anggaran negara yang trilyunan. Kalo jumlah orang yang berpikir kayak kamu itu cuma satu orang sih tak apa. Tapi kalo sampai menang pemilu kan berarti ada masalah, toh? Itu sebabnya kampanye partisipasi pemilu jalan terus.

    Pemilu hanya mengkonfirmasi hasil polling.

    Tidak selalu.

    Dan sekali lagi, kita nggak komplain sama siapa yang kepilih. That will be, like you said, very silly. Kita komplain sama apa yang dilakukan SBY, atau apa yang tidak dilakukannya. Kita nggak komplain kok SBY yang kepilih, kebijakannya. Itu 2 hal yang berbeda.

    Lah, apa bedanya?

    And come on, be realistic. SBY lebih merasa berhutang pada parpol kan, bukan sama rakyat?

    Tak peduli hutang sama siapa. Masalahnya dia kompeten tidak; bakalan deliver apa nggak. Sama kayak prusahaan. Dewan direksi harus milih CEO yang tepat. Coba kalo banyak orang golput dan yang terpilih presiden macam Prabowo.

    Apakah itu?

    Ya banyaklah. Misalnya di Afghanistan, Abdullah2 mundur dari pemilu dan banyak yang golput karena mereka yakin pemilunya curang. Tapi yah kok saya mesti harus pindah kubu?:mrgreen:

  23. 26 Nicholas Hwa 07/11/2009 at 8:31 AM

    ^
    Iya tahu. Ini orang pertama yang saya tahu yang seluruh namanya bisa dikasih angka 2 kaya gitu. Marga Butarbutar kalah.:mrgreen:

  24. 27 Ali Sastro 07/11/2009 at 8:38 AM

    @mario

    IMO sih sama dengan yang lain: berhak dan wajib mengkritisi.

    Hehehe…kalau merasa wajib dan berhak mengkritisi kenapa tidak merasa wajib dan berhak memilih? Bukankah ujung-ujungnya emi kebaikan semua? Abstaining is neither rational nor cool.

  25. 28 Nicholas Hwa 07/11/2009 at 9:00 AM

    ^
    Is giving your vote the only way to “support” and “criticise”?

    BTW, so far I have never been actively abstaining from Pemilu. I “was abstained” for the legislative election since the embassy didn’t send me the ballot. But anyway, I didn’t think there were really outstanding candidates among the political parties, so had I been sent the ballot, I would have abstained (which you considered irrational and not cool), or I could have also done the same thing as what my friend did: voting for ***P to lower the number of **S’ representatives in Senayan.:mrgreen:

    Look, once I wrote this question in FB: when you vote, do you use “absolutely best” or “relatively best” algorithm? And most people agree with the relatively best one, so I guess unless something extraordinary happens, we should seek for the latter candidate. But what about those people who use the other method and decided to abstain?

    And BTW, Ali, IMO you are not a suitable opponent. Your main idea is “Abstaining is neither rational nor cool”, and you still tolerate abstainers to criticise, however suck they sound to you. Look at dnial’s post. How many people said “orang golput wajib diam”.😀

    *bikin mie*

  26. 29 Ali Sastro 07/11/2009 at 9:10 AM

    Yah kalo itu sih; pemerintah Amerika mengkritik Indonesia berkali-kali; kita juga ngritik Myanmar, meskipun kita ndak ikut pemilu. Loh semua orang bebas mengkritik toh.😀

  27. 30 Nicholas Hwa 07/11/2009 at 9:17 AM

    ^
    Lah kan gakpapa toh? Katanya, yah lagi-lagi dalam kasus yang bukan gak umum, asal tidak nyuruh-nyuruh.😕

  28. 31 Ali Sastro 07/11/2009 at 9:38 AM

    Is giving your vote the only way to “support” and “criticise”?

    Yah enggak lah. Kita bisa aja kok golput dan melakukan apa saja untuk membantu orang lain; selama masih ada banyak orang yang memilih tentunya.😀

    Begini aja deh. Buat Dnial dan Mario:

    Kalau bukan pemilu, mekanisme alternatifnya apa untuk pembentukan dan suksesi pemerintahan?

  29. 32 Ali Sastro 07/11/2009 at 9:39 AM

    Yah tagnya rusak.

  30. 33 Nicholas Hwa 07/11/2009 at 9:43 AM

    Lah, yang menolak pemilu itu siapa? Saya bukan Taliban.😕

  31. 34 dnial 07/11/2009 at 12:24 PM

    @Ali Sastro

    Lha? Yang nolak pemilu siapa?

    Pengalihan isu ini. Kan argumen kita berdua bahwa golput itu nggak salah, dan nggak ada masalah jika golputers mengkritisi pemerintahan.

    Kok jadi nolak pemilu? :s

  32. 35 Guh 07/11/2009 at 3:37 PM

    Kritik itu… semacam hujatan yang disertai solusi juga ya? hehe. Trus bedanya sama protes apa ya?
    *males buka kamus*

    “orang golput berhak mengkritik pemerintah atau gak?”

    Ya kritiknya tentang apa. Kritik semacam “harusnya Partai Kafir Islami yang menang, bukan Partai Ulamakrasi Perjuangan” jelas tidak pantas dilontarkan oleh seorang yang sengaja menyia-nyiakan hak pilihnya.

    Tapi kalau kritik soal kebijakan seperti “Sebaiknya menteri kesehatan yang lahir batinnya sangat tidak sehat segera dilempar ke neraka” atau “Pemerintah harusnya memperhatikan pertanian dengan lebih tulus tanpa memaksakan Mosantoisme”… Tentu boleh dilontarkan oleh setiap warga negara, lebih-lebih yang kehidupan sehari-harinya terpengaruh oleh kebijakan pemerintah. Siapapun yang terpilih kan wajib berkerja sebaik mungkin untuk kemakmuran warganya, termasuk yang mangkir pemilu.

  33. 36 gentole 07/11/2009 at 4:15 PM

    Kan aku dah bilang dikomen pertama kalo gak apa2 golput dan golputer bisa kritis sama pemerintah. Tapi ya itu silly aja. Pernyataanku mau dibantah ndak? Tentang pertanyaan saya; itu kan dnial bilang memilih gak bakal ngaruh: cm konfirmasi poling aja; dan menganggap voting is a waste of time. Lagian kalo golput itu artinya mengabaikan pemilu atau tak menganggapnya perlu?

  34. 37 dnial 08/11/2009 at 2:19 AM

    @gentole

    Kan aku dah bilang dikomen pertama kalo gak apa2 golput dan golputer bisa kritis sama pemerintah. Tapi ya itu silly aja

    Nggak apa-apa, tapi nggak ikhlas. wkwkwkwk….
    Bantahannya simple: nggak silly. Yang silly adalah seperti katanya Guh, memprotes siapa yang menang. Memprotes kebijakan siapa saja boleh.

    Kan aku bilang voting is waste of *my* time. Selama 60% orang Indonesia tidak menganggapnya begitu, kita semua akan baik2 saja. Seenaknya sendiri? That’s what capitalism, isn’t it?

    Intinya sih, saat orang Indonesia bisa melihat track record calon, track record partai pengusung, aliran dana kampanye, track record penyumbang utama dengan mudah dan transparan sehingga memungkinkan pilihan rasional.

    Atau saat aku dalam posisi bisa diuntungkan secara langsung atau tidak langsung dengan siapa yang terpilih, sehingga aku juga tergerak bertaruh menyumbang dana untuk calon jagoanku, sehingga akhirnya dia berhutang budi padaku.

    Atau saat aku sendiri yang maju sebagai calon.

    Mungkin aku akan kembali milih.

  35. 38 Ali Sastro 08/11/2009 at 10:10 AM

    @dnial

    Nggak apa-apa, tapi nggak ikhlas. wkwkwkwk….
    Bantahannya simple: nggak silly. Yang silly adalah seperti katanya Guh, memprotes siapa yang menang. Memprotes kebijakan siapa saja boleh.

    I really don’t understand you. Kita ini kan memilih orang karena kebijakannya; bukan orangnya?

  36. 39 Arm 09/11/2009 at 7:08 AM

    Kan aku bilang voting is waste of *my* time. Selama 60% orang Indonesia tidak menganggapnya begitu, kita semua akan baik2 saja. Seenaknya sendiri? That’s what capitalism, isn’t it?

    tuh, inti dari alasan mengapa orang2 pada ga milih:mrgreen:
    jadi, biarlah mereka2 yg malas memilih menunjukkan rasa nasionalismenya dengan bekerja keras dan membayar pajak yg tinggi😀
    IMO yg kayak gitu sih masih mendingan, setidaknya pemilu bisa terselenggara juga karena pajak yg dibayarkan:mrgreen:
    yg paling menyebalkan itu udah mahasiswa pengangguran dan ga ada sumbangsih sama sekali buat negara, golput, pasca pemilu tereak2 koar2 memprotes hasil pemilu atau kebijakan2 dari pemerintahan terpilih😛

    seperti kata bung Ali Sastro

    Kita ini kan memilih orang karena kebijakannya; bukan orangnya?

    meskipun kebanyakan masyarakat Indonesia memilih (terutama presiden) karena orangnya😛

    btw, saya golongan berwarna😛

  37. 40 S™J 09/11/2009 at 11:38 AM

    nonton ini deh…:mrgreen:

  38. 41 Frea 12/11/2009 at 1:39 PM

    Jujur saja, saya sempat tidak berminat untuk nyoblos karena saya merasa siapapun yang menjadi presidennya (selama bukan banteng) saya merasa oke-oke saja, dan berpikir bahwa soal kebijakan itu urusan nanti , toh yang di gembar-gembor selama kampanye juga mungkin cuma sekedar gembargembor saja. Yah, saya segitu ga pedulinya memang.
    Padahal tahu soal kebijakan-kebijakan yang masing2 calon akan bawa itu penting, jadinya kita bisa menuntut ketika calon tsb ga merealisasikannya, karena itu kita memilih calon karena kebijakan yang di bawa.

    For you never give a damn about the electoral process that produces the government you criticize. So why complaining when the election is over?

    Somehow saya setuju sama mas Ali. Alasan saya sama, protes bisa di lakukan oleh siapa saja, tapi terlihat lucu kalau di lontarkan oleh golputers yang masa pemilu ga ambil bagian karena menganggapnya ga perlu. Penjelasan lainnya saya setuju dengan point mas Ali. *selalu kesusahan untuk menjelaskan sesuatu*😛

    jadi, biarlah mereka2 yg malas memilih menunjukkan rasa nasionalismenya dengan bekerja keras dan membayar pajak yg tinggi

    Kalo saya merasa bayar pajak itu ya kewajiban, soalnya buat biaya dan modal bangun negara. Sedangkan pemilu itu untuk memilih orang-orang yang di anggap pantas membangun negara dan kebijakan-kebijakan yang akan menggunakan biaya tsb. Kan sayang sekali kalau uang pajak yang tinggi-tinggi itu justru di salah gunakan karena waktu itu gak milih mau di gunakan dengan cara gimana.
    Protes di tengah-tengah jalan bisa saja, tapi kalau udah begitu, apa pemilu tahun depannya masih mau golput? kalo masih, apa gak takut bakal terulang lagi di pemerintahan berikutnya?
    *garuk-garuk kepala*
    **berharap semoga ada yang ngerti maksud komen saya**


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

November 2009
S M T W T F S
« Oct   Dec »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
Click to view my Personality Profile page