Nostalgia Kediri

Kalau Anda mengenal saya dengan baik, pastinya Anda tahu bahwa saya orang Yogyakarta yang menghabiskan masa kecilnya di Ponorogo, yang ceritanya sudah saya tuliskan di sini. Kali ini saya ingin bercerita tentang Kediri, kota yang juga menghiasi masa kecil saya, setidaknya sampai awal dekade 2000-an.๐Ÿ˜€

Ya kurang lebih di sini lah lokasi Kotamadya Kediri.

Ya kurang lebih di sini lah lokasi Kotamadya Kediri.

***

Tidak afdhol rasanya kalau tidak memulai cerita ini dari Ibu saya. Keluarga Ibu saya berasal dari Ponorogo. Beliau dan saudara-saudaranya menghabiskan masa kecilnya di kota Ponorogo (berbeda dari saat tahun 1990-an ketika kami tinggal di desa, sedikit di luar kota), dan (kalau tidak salah) mereka semua menempuh pendidikan SD di SD saya juga. Bahkan ada beberapa guru saya waktu itu yang juga mengajar mereka. Kakek saya, ayah Ibu saya, kerja di sebuah pabrik di Ponorogo. Nah, sekitar akhir 1960-an / awal 1970-an, mereka sekeluarga pindah ke Kediri, 2 jam naik mobil dari Ponorogo, dan menetap di sana.

Nah itu sejarah sebelum saya lahir. Sekarang lompat ke saat setelah saya lahir.๐Ÿ˜€

Saya lahir di Yogyakarta, 198x. Ibu saya, yang waktu itu barusan lulus dari Fakultas Kedokteran UGM dan menikah dengan Bapak saya, akan menempuh Penataran P4 di Malang sebagai (lagi-lagi, kalau tidak salah; maklum Orde Baru sudah lewat) tahap awal menjadi Pegawai Negeri Sipil. Supaya tidak jauh dari beliau, saya diboyong ke Kediri, ke tempat keluarganya berada, untuk dirawat. Saya masih ingat melihat foto saya versi bayi digendong Tante, adik Ibu yang paling kecil (Ibu saya 6 bersaudara), yang waktu itu masih berumur awal 20-an (beliau cantik lo, mirip dengan adik kelas saya semasa S1 yang sempat saya taksir๐Ÿ˜ณ namun sayang keduluan temen ospeknya :-w ). Kata Mami (lho kok sekarang Mami?๐Ÿ˜€ ), karena banyak bertemu orang lain inilah saya tidak takut dengan orang asing semasa kecil, berbeda dengan adik saya.

Sekarang masuk ke 1990-an.

Biasanya kami ke Kediri saat saya liburan sekolah, bergiliran mengunjungi keluarga di Yogyakarta. Kalau ke Kediri, saya jadi semacam cucu yang mendapat perlakuan khusus: tidur bareng kakek dan nenek saya. Kenapa? Karena kakek saya suka bercerita, dan saya suka mendengarnya. Dari cerita tentang kancil versi modifikasi sampai cerita seorang anak Perancis bernama Emil. Sayang saya lupa ceritanya.๐Ÿ˜ฆ

Di Ponorogo tidak ada kereta api. Hasil Googling mengatakan bahwa kereta api terakhir lewat sana sebelum 1985. Pada 1988 jalur ditutup karena kalah bersaing dengan mobil, lalu stasiun dijadikan pasar. Nah, kebetulan rumah kakek nenek saya ini hanya beberapa ratus meter dari Stasiun Dhaha di Kediri. Masih terngiang suara “ting tong…ting tong…” tanda kereta mau berangkat, dan “tu…lit…tu…lit…” ketika palang penutup jalan diturunkan yang nostalgik itu. Pagi-pagi jam 6, mengganggu jadwal merapikan tanaman kakek saya (setelah pensiun, kakek saya hobi merawat tanaman), kami berangkat mendekati rel, sekedar bagi saya untuk menghitung jumlah gerbong yang tersambung, entah itu kereta penumpang maupun kereta minyak (?), dan merasakan getaran resonansi akibat bergeraknya kereta. Terkadang jumlahnya kurang dari 10, tapi saya senang sekali kalau jumlahnya melebihi 15.

Kolam renang! Kolam renang di Ponorogo itu (seingat saya) sangat dalam buat ukuran saya waktu itu, maka biasanya ketika ke Kediri kami menyempatkan diri ke kolam renang Pagora. Di sana ada tamannya, dan ada warung bakso juga. Saya ingat pernah kejedot di sebuah wahana di sana, kalau ga salah waktu itu saya ke 5 SD, dan harusnya berdasar umur sudah tidak boleh main wahana itu.๐Ÿ˜† Namun biasanya kami fokus ke renang. Saya pernah nyaris tenggelam di sini, tapi untung langsung ditolong Bapak saya. Dan saya ingat pernah nonton Ria Enes dan Susan di sana.๐Ÿ˜€

Belum lengkap kalau belum bicara makanan.:mrgreen: Ada beberapa makanan yang saya sangat terkenang. Pada pagi hari, terkadang Budhe saya yang paling tua membeli nasi kuning entah di mana untuk makan pagi. Enak. Porsinya besar, dengan serundeng, dan lauk pauk standar nasi kuning lainnya (saya lupa soale:mrgreen: ). Makanan lain, yang saya selalu setia kunjungi, adalah Soto Lamongan, yang hanya selisih beberapa rumah dari rumah kakek nenek saya. Mak nyus bener!๐Ÿ˜€ Dan saya biasanya makan pakai lauk paru basah. Di sini saya pertama kali melihat jam dinding yang arah putaran jarumnya CCW.:mrgreen: Nah, bicara soal roti, ada tiga yang saya ingat. Pertama adalah donat Delicious, yang tempatnya ada di dekat stasiun Dhaha. Kedua adalah berbagai macam penganan yang dijual di supermarket di bawah Bioskop Golden. Di sini pula saya untuk pertama dan kedua kalinya menonton film di bioskop. Yang pertama adalah Kura-kura Ninja, dan yang kedua adalah Warkop DKI (yang sepertinya bukan tontonan anak kecil:mrgreen: ). FYI, yang ketiga adalahย Daun di Atas Bantal pada tahun 1998 di Bioskop Empire, Jogja, yang beberapa bulan sesudahnya hangus dilalap api. Kembali ke makanan di Kediri. Nah, roti yang paling berkesan bagi saya adalah roti Orion yang biasa dibeli di tukang roti, bukan di toko. Lambangnya menarik: jempol.๐Ÿ˜† Dan saya suka yang isi…apa sih namanya…manis-manis warna putih, dengan bungkus warna kuning. Lezat sekali, dan biasanya kami beli beberapa untuk dibawa pulang ke Ponorogo.๐Ÿ˜€

Kakak sepupu saya, waktu itu sudah remaja, adalah simpatisan PDI. Dan saya ingat betul bahwa PDI selalu menduduki posisi paling buncit setiap Pemilu, makanya saya menyindirnya dan menjagokan Golkar. Ah, kalau saja saya tahu waktu itu…๐Ÿ˜€

Kediri adalah tempat saya pertama kali memainkan game arcade / ding dong. Suatu kali saya diajak kakek main ke tempat bermain ding dong ini di dekat rumah. Game yang saya mainkan adalah Street Fighter II, yang kala itu memang lagi hot. Saya pakai M Bison. Karena ga tahu cara mainnya, ya tentu saja kalah.:mrgreen: Semasa saya SMA, ada pusat perbelanjaan baru, namanya Sri Ratu, dan di sana saya pertama kali ke Timezone. Mainnya ya game ketangkasan seperti basket itu, dan tembak-tembakan. Mahal euy. Tapi saya cukup terpukau dengan penampilan salah seorang gamer yang memainkan Dance Dance Revolution tanpa melihat selama beberapa detik. Memang dia sudah hapal kali ya.๐Ÿ˜›

Salah satu momen yang takkan saya lupa adalah ketika pernikahan adik nomor 5 Ibu saya, yang diadakan di rumah kakek nenek saya itu. Siang hari, saya diajak sepupu-sepupu saya dari kakak kedua untuk ke rumah entah siapa, temannya kali, di dekat rumah. Beberapa lama, tiba-tiba Bapak saya menghampiri dan menjewer telinga saya sampai ke rumah. Katanya, “kamu itu dicari ke mana-mana, pergi ga pamit, bikin orang khawatir aja.” Saya menangis. Lalu protes, lha kok sepupu-sepupu saya boleh? Mungkin mereka sudah pamit, katanya. Iya juga sih, memang saya yang salah. Ibu saya terus memberi sepiring Sup Merah yang sejatinya akan disajikan buat para tamu. Malamnya, setelah prosesi manten selesai, saya merebut topi pengantin pria yang tadinya dipakai Oom (barusan jadi Oom๐Ÿ˜› ) saya dan duduk di kursi pelaminan. Dan ditertawakan banyak orang.๐Ÿ˜€ Lalu difoto. Baju saya waktu itu motif buah-buahan. Lalu ganti baju, foto bersama keluarga, saya pasang pose dengan angkuhnya. Waktu itu menyontek pose Nikaidou Taiga dari komik Honล no Tลkyลซji Dodge Danpei.๐Ÿ˜€

Ya, gara-gara masalah komik dan kartun ini saya sering disindir keluarga besar ibu saya. Sampai sekarang. Karena hobi saya waktu itu meniru gerakan-gerakan dari Saint Seiya, sambil mengucapkan mantranya dalam Bahasa Jepang. Bahasa Jepang versi saya, tentu saja, berkat pendengaran ngawur dari video-video Saint Seiya yang biasa kami sewa darii persewaan video milik orang tua teman SD saya di Ponorogo.:mrgreen:

Sebenarnya tanah rumah kakek nenek saya ini cukup luas. Bangunannya bekas peninggalan Belanda yang seharusnya simetris (saya pernah lihat foto kuning hitam zaman kolonialisme), tapi dibagi dua dengan tetangga, entah siapa dan kenapa. Di belakang ada halaman yang cukup besar dan beberapa ruangan yang disewakan menjadi kos-kosan wanita. Terkadang saya main ke kamar Mbak-mbak itu. Salah satunya yang masih saya ingat adalah Mbak Ana (atau Anna?), seorang Protestan. Emang penting ya nyebut agama?:mrgreen:

Oh ya, sepertinya saya belum menyebutkan bahwa keluarga kami adalah keluarga yang multireligius. Ini salah satu yang saya banggakan dari keluarga kami.๐Ÿ˜€ Kakek nenek kami adalah penganut Katholik Roma. Anak nomor 1 menikah dengan seorang Muslim, dan keluarganya menjadi keluarga Muslim. Anak kedua menikah dengan seorang Protestan, dan keluarganya menjadi keluarga Protestan. Anak ketiga, Ibu saya, menikah dengan seorang Katholik juga, dan saya beserta adik saya tumbuh sebagai Katholik. Anak keempat menikah dengan seorang Muslim dan menjadi keluarga Muslim. Anak kelima menikah dengan seorang Protestan dan menjadi keluarga Protestan. Dan anak keenam menikah dengan seorang Muslim dan menjadi keluarga Muslim juga. Dan kami menjadi Bhineka Tunggal Ika mini: ketika Natal kami berkumpul bersama, dan ketika yang Kristen merayakan Natal di Gereja, yang Muslim menyiapkan makanan untuk disantap bersama malamnya. Tentunya ketika Idul Fitri dan Idul Adha giliran kami yang menyelamati saudara-saudara Muslim kami. Dan saya ingat betul ketika salah satu Oom saya berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji beberapa tahun lalu, ibu saya terus meng-update perkembangan tentang beliau.๐Ÿ˜€ Mungkin yang kurang dari ke-Bhineka Tunggal Ika-an itu adalah perihal kesukuan, karena kami pada dasarnya orang Jawa, dan kalau ada darah lain di keluarga, itu adalah Madura, yang tentunya juga banyak ditemui di Jawa Timur. Tapi ini ย just for your information lah.

Nah, nostalgia buyar kalau bercerita tentang dekade 2000-an.

Kakek saya meninggal 2001. Saya tidak sempat ke Kediri karena ada ulangan di SMA, dan cuma sempat menghadiri peringatan 7 hari meninggalnya. Beberapa tahun kemudian, rumah mereka dan kompleks sekitarnya dibeli (kalau tidak salah) Jawa Pos Group untuk dijadikan daerah perdagangan. Rumah digusur, namun pakde saya, suami dari kakak Ibu yang paling tua, sempat menyelamatkan kayu-kayu mahal yang menjadi pondasi rumah.:mrgreen: Nah, karena digusur ini pula tentunya soto Lamongan langganan kami itu pindah juga, entah ke mana. Sekarang cuma keluarga Bude yang paling tua itu, termasuk anak dan cucunya (saya ini sudah Oom๐Ÿ˜€ ) yang tinggal di Kediri, agak di luaran kota (atau di kabupatennya?). Nenek saya, yang sekarang tinggal di Malang bersama keluarga Tante yang paling muda, menderita Alzheimer, yang sifatnya menurun. Jadi ada kemungkinan ibu saya atau saya besok kena Alzheimer juga.๐Ÿ˜€

Ada tips untuk menghindarkan diri dari Alzheimer?

19 Responses to “Nostalgia Kediri”


  1. 1 lambrtz 09/01/2010 at 2:29 AM

    Saya melihat Netherlands Antilles dan Shizuoka di Feedjit. Selamat datang buat Mas Bima dan Bang Ando.:mrgreen:

  2. 2 Frederick Mercury 09/01/2010 at 11:14 AM

    wogh!๐Ÿ˜ฎ postingannya panjang bener:mrgreen:

    dan kalau melihat akar historikalmu, di kancah liga nasional, at least, kamu harusnya jadi pendukungnya Persik, mberts:mrgreen:

    Ada tips untuk menghindarkan diri dari Alzheimer?

    kurangi konsumsi protein berlebihan? atau asah otak tiap hari? konon katanya, penggunaan otak secara optimal bisa mencegah kematian sel saraf sehingga bisa menghambat terjadinya alzheimer๐Ÿ˜›

  3. 3 Mr.El-Adani 09/01/2010 at 12:01 PM

    Menarik sekali perjalanan masa lalunya, Masbro! Yang paling saya suka bagian, multireligius dalam keluarga, bisa saling merayakan hari besar secara bersama-sama, meskipun berbeda dalam keyakinan.

    Selama ini, belum ada satu orangpun dari beberapa sahabat saya yang beda agama, ini yang saya khawatirkan, ditakutkan saya tidak bisa menghargai keyakinan orang lain, dan secara pribadi, saya tidak pernah berharap orang lain untuk mengikuti agama saya, meskipun saya nyaman dengannya. Loh kok ini malah curhat ya????

    BTW, nostalgianya menginspirasikan….๐Ÿ˜€

  4. 4 mauritia 09/01/2010 at 1:57 PM

    Waah, nostalgiaa..๐Ÿ˜ฏ
    Lagi kangen Kediri yaa mas?
    Tahu, keripik tahu atau getuk pisang*-nya ga masuk kategori makanan nostalgia?๐Ÿ˜€

    *) oleh2 andalan anak-anak Kediri

  5. 5 bima 09/01/2010 at 2:11 PM

    “(beliau cantik lo, mirip dengan adik kelas saya semasa S1 yang sempat saya taksir namun sayang keduluan temen ospeknya :-w ).”

    nek ngono kowe karo ponakanne adik kelas kui wae ben de’e dadi tante mu๐Ÿ˜›

    “Kata Mami (lho kok sekarang Mami? ), karena banyak bertemu orang lain inilah saya tidak takut dengan orang asing semasa kecil,”

    itu jelas… lah yg takut kui orang asing nya kok klo ngeliat kamu๐Ÿ˜€

    *minggat… sinau2 senin ujian :((*

  6. 6 Snowie 09/01/2010 at 5:44 PM

    Wow, cerita tentang keberagaman agama itu,….

    Sepertinya memperjelas deh alasan perasaan di postingan “Love, but … ” yang dulu itu.๐Ÿ˜›

  7. 7 bima 10/01/2010 at 3:51 AM

    “Oh ya, sepertinya saya belum menyebutkan bahwa keluarga kami adalah keluarga yang multireligius. Ini salah satu yang saya banggakan dari keluarga kami.”

    masih kalah mbe… bapakku islam, ibunya (mbah ku) katolik, kakaknya bapakku budha, anak2nya islam dan hindu… anak’e bapakku (mungkin) calon agnostic \m/… nanti aku cari istri israel kali yah, biar ada yg jewish๐Ÿ˜€

    yg masih kurang ya konghucu mungkin๐Ÿ˜€

  8. 8 Felicia 10/01/2010 at 12:24 PM

    *liat komen di atas*
    Iya, Lambrtz, masih kurang tuh keberagamannya๐Ÿ˜€

  9. 9 lambrtz 10/01/2010 at 9:57 PM

    @Frederick Mercury (astaga nama apa lagi ini๐Ÿ˜† )

    kamu harusnya jadi pendukungnya Persik, mberts

    Oh tidak, saya sempat mendukung PSMakassar, tapi karena kurangnya keterikatan, ga jadi.๐Ÿ˜›

    kurangi konsumsi protein berlebihan? atau asah otak tiap hari? konon katanya, penggunaan otak secara optimal bisa mencegah kematian sel saraf sehingga bisa menghambat terjadinya alzheimer

    Makasih masukannya.๐Ÿ˜€

    @Mr.El-Adani
    Curhat juga gakpapa kok.:mrgreen:

    @mauritia
    Iya, Kediri memang terkenal dengan tahunya, tapi buat saya kurang berkesan. Masalah selera saja.๐Ÿ˜€

    @bima1
    Wis ra sah wewet…sinau kono, meh ujian to…

    @Snowie
    Well, bisa jadi, saya juga lupa asalnya dari mana.:mrgreen:

    @bima2
    Yo wis, kalah deh…tapi intinya kan bukan di menang-menangan, melainkan seberapa jauh kita bisa menerima perbedaan di sekitar kita, ya to?๐Ÿ˜€

    Saran saya, kamu cari penganut Rael. Atau pengikut Westboro Baptist Church, biar kamu agak ke kanan.๐Ÿ˜†

    @Felicia
    Tenang, nanti saya cari istri yang ethnically Chinese. :-“

  10. 10 ๅฎ‰่—คๅ› 11/01/2010 at 2:54 AM

    @lambrtz
    *liat komentar#1*
    tadinya mau ngasih komentar, gak jadi. terkenang kampung kecilku nun jauh di seberang pulau sana.

  11. 11 ๅฎ‰่—คๅ› 11/01/2010 at 2:57 AM

    dan mengenai keragaman suku, aku teringat pada keluargaku yang campur aduk kayak adonan.

  12. 12 lambrtz 11/01/2010 at 9:52 AM

    ^

    tadinya mau ngasih komentar, gak jadi. terkenang kampung kecilku nun jauh di seberang pulau sana.

    Eh bikin postingan tentang Kampong Parit dong!๐Ÿ˜€

    dan mengenai keragaman suku, aku teringat pada keluargaku yang campur aduk kayak adonan.

    Bang Ando ini Peranakan bukan?๐Ÿ˜•
    Ini juga keren kalau diceritakan.:mrgreen:

  13. 13 ๅฎ‰่—คๅ› 11/01/2010 at 2:19 PM

    Bang Ando ini Peranakan bukan?๐Ÿ˜•

    Definisi peranakan sendiri bagiku masih rancu. Apakah sunan-sunan dari walisongo itu termasuk peranakan? kalau iya, mungkin memang saya peranakan (keliatan banget mata sipit dan putih kayak Andy Lau๐Ÿ˜ˆ ). Saya sendiri gak bisa ngomong China dalam dialek apapun, tapi saya bisa bicara bahasa campuran saya yg lain yaitu melayu(belitung), sunda, dan sedikit ngerti batak (gak bisa ngomong). Sekarang malah bisa bahasa Jepang, padahal gak ada turunan jepun๐Ÿ˜›

  14. 14 ๅฎ‰่—คๅ› 11/01/2010 at 2:22 PM

    Eh bikin postingan tentang Kampong Parit dong!๐Ÿ˜€

    Males ah, ntar disangka saya mau jadi plagiator Andrea Hirata lagi. Mungkin saya bakal bikin postingan yg agak nyerempet masa kecil saya dulu di kampung sana.

  15. 15 itikkecil 11/01/2010 at 4:53 PM

    hooo… dulu lambrtz pendukung golkar ya???
    *terkenang penataran P4 pas kuliah dulu*
    dulu semua orang harus ikut penataran P4. kalau tidak ya tidak pancasilais๐Ÿ˜†
    tips terhindar dari alzheimer?
    katanya sih sering-sering isi tts
    tapi katanya loo.. since saya juga bukan dokter…

  16. 16 Zephyr 12/01/2010 at 12:35 AM

    Alzheimer? pernah liat film A moment to Remember ?

  17. 17 lambrtz 17/01/2010 at 1:16 PM

    @Ando
    Ah makasih penjelasannya.๐Ÿ˜€

    @itikkecil
    Waktu itu kan masih kecil, tahunya yang bagus itu yang menang.๐Ÿ˜†

    katanya sih sering-sering isi tts

    Bisa gitu?๐Ÿ˜•

    @Zephyr
    Belum. Di sana ada tipsnya?๐Ÿ˜€

  18. 18 almascatie 17/01/2010 at 5:30 PM

    bacanya semacam transmigrasi antar kota dah๐Ÿ˜€


  1. 1 Ayahku dan Musik « ใ„ใคใงใ‚‚้ฆฌ้นฟ้ฆฌ้นฟใ—ใ„่ฉฑ Trackback on 13/01/2010 at 3:59 PM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

January 2010
S M T W T F S
« Dec   Feb »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
Click to view my Personality Profile page