Random Thoughts

Ada yang bentuknya pertanyaan, ada yang retorika… ๐Ÿ˜€

***

1) Misalkan saja nih. Saya adalah mahasiswa Indonesia di Singapore. Kebetulan saya lagi bermasalah dengan perkuliahan saya, dan pada taraf tertentu bisa dibilang saya lagi stres, depresi. Lab saya ada di lantai 5, jadi setiap kali datang, pergi makan, pulang makan, mau boker, dllsb, entah dalam keadaan sadar, sakit ataupun lunglai, saya selalu lewat balkon itu. Sebagai informasi, pagar pembatas balkon itu tingginya cuma sepinggang saya. Nah, sekarang kan lagi musim hujan nih. Kalau ada hujan angin dan kebetulan anginnya lagi nakal, balkon ini basah tergenang air. Waktu balik dari kantin tadi, saya jadi berpikir. Seandainya (ini seandainya lo ya), seandainya saya terpeleset dan kemudian, entah bagaimana caranya, badan ini melesetnya ke arah pagar, kemudian jatuh ke bawah…

…apakah ini akan menjadi kasus David II? Yang akan mengundang kutukan dan makian dari kaum ultra nasionalis, golongan kanan jauh yang ternyata populasinya cukup banyak di Indonesia? ๐Ÿ˜€

***

2) Bagaimana sih caranya menoleransi radikalisme / radikalis? Katakan saja begini. Ada teman Anda yang tadinya biasa-biasa saja. Karena satu dan lain hal, dia terpengaruh sebuah ideologi dan spektrum politiknya menjadi berbeda jauuuuuuuuh sekali, entah ke kiri atau ke kanan. Nah, lalu dia menge-add Facebook Anda, sedangkan Anda sendiri adalah orang moderat, orang tengahan, entah agak ke kanan atau ke kiri. Di approve ga?

Nah, katakan saja Anda ng-approve. Ternyata teman Anda ini sukanya preaching! Ya suka-suka Anda saja mau membayangkan beliau mau mengutip ayat-ayat kitab suci, baik yang dari agama Anda maupun bukan, atau omongan tokoh agama, atau buku-buku filosofi klasik, atau petikan dari literatur-literatur gubahan Marx, Mao maupun Trotsky, tapi yang jelas ide yang diusung itu kontroversial dan menyebalkan! Apa yang Anda lakukan? Membiarkan saja, dengan resiko men-disturb diri sendiri, atau hide dia?

Sekedar catatan, saya ini tidak enak (dasar wong Jowo) nge-hide orang, walaupun dia ga tahu kalau saya hide. Kok impresinya seperti dia habis melakukan kesalahan besar saja sama saya.

***

3) Beberapa minggu lalu saya bertanya-tanya, kenapa ya pemain sepakbola dari Singapura yang bukan hasil naturalisasi itu kebanyakan orang Melayu? Hasil Googling memberikan opini yang tertulis di sini. Well, benar atau tidak, saya malah terpaku pada salah satu komentar di sana.

…we are the humble people, not greeding for too much in life. As long as we make an honest living, we are satisfied. No 5Cs? It’s ok.

Lagi-lagi, benar atau tidak, itu masalah nanti, tapi saya malah bertanya-tanya, apakah ini yang juga menjangkiti orang Indonesia? Penyakit “humbleness”?

OK, saya sendiri bukan pendukung 5Cs. Saya dari kecil sudah berikrar bahwa saya ini tidak akan mencari kekayaan. Bahwa jika suatu ketika saya menjadi kaya, itu adalah efek samping saja. Namun dari kecil saya dididik untuk jadi ambisius. Untuk menarget yang tinggi. Oleh karena itu, saya sering merasa gemas kalau melihat orang yang kurang ambisi. Dan belum tentu 5Cs itu jelek juga, karena bisa saja sembari nyari 5C, efek samping bagi lingkungan sekitar mereka bagus.

Suatu kali saya pernah ngomong sama Mas Aris yang kalau tidak salah waktu itu sedang protes tentang Indonesia yang tidak maju-maju. Maka komentar saya adalah, “Barangkali kita sebaiknya berguru pada Bhutan. Terimalah fakta bahwa kita bukan negara ambisius.” Ya, sinisisme memang: kalaulah ada orang kiasu di Indonesia, itu hanya segelintir. Tidak banyak yang ambisius, atau orang-orang di posisi vital tidak ambisius, alhasil ya negara kita itu gitu-gitu aja. Macet, banjir, listrik mati…

***

4) Dan saya masih bertanya-tanya, apa sih justifikasi untuk hidup ambisius? Apa sih justifikasi untuk hidup santai? Mana yang lebih baik?

Konon kabarnya, kalau ga salah dari blog Gentole, saya bisa mempelajari itu dari The Unbearable Lightness of Being karya Milan Kundera. Saya males baca bukunya. Panjang. Maka saya cari filmnya, dan dapet dari link yang dikasih Bang Ando (makasih Bang!). Baru nonton 1 jam dari hampir 3 jam film itu, dan sejauh ini yang terkesan dari film itu ya…adegan…anu…euh…tonton sendiri aja lah. :mrgreen:

***

5) Saya cuma ingin menorehkan tinta (??) di blog bahwa buat saya ideologi itu nomor sekian. Cinta dan kemanusiaan adalah nomor kecil. Contoh fiktif: seseorang dari partai kanan yang sering beradu mulut dengan saya tiba-tiba mendapat musibah. Yah katakan saja masuk rumah sakit dan diopname. Maka akan menjadi lebih baik kalau saya mengunjunginya. Kita bisa saja bertarung ideologi pada waktu tertentu, tapi apalah arti ideologi dibanding kemanusiaan. ๐Ÿ˜€

***

6) Kadangkala susah menjadi orang liberal yang memilih hidup secara konservatif, seperti yang saya tulis di profile Facebook saya. Seringkali ga ada angin ga ada hujan pemikiran saya bentrok sendiri kalau menemui suatu isu, dan stres sendiri. Belum lagi secara pergaulan. Ketika melihat profile Facebook orang yang menjadi fan halaman, misalnya, “mendukung UU pornografi”, dalam hati saya berkata, “wah mesti jaga pembicaraan ini”. Bukan karena saya mesti ngomong yang jorok-jorok! Bukan! Tetapi karena, ya itu tadi: karena mereka konservatif. Dan secara demografis, kebanyakan teman saya di Facebook adalah dari golongan kanan, entah kanan dekat ataupun kanan jauh. Harap maklum, lulusan fakultas teknik di universitas negeri. Alhasil, saya jadi deg-deg ser setiap kali mau memposting yang aneh-aneh. Lirik Imagine, misalnya, atau bagaimana saya secara filosofis menolak konsep nasionalisme. Atau bahwa orang-orang konservatif ini sukanya menulis status yang klise-klise! Lihat saja misalnya, ketika saya membawa konsep “Bahasa Indonesia itu tidak nasionalis; hurufnya aja Latin dan kosakatanya sebagian besar ngerampok dari Bahasa Arab, Sanskrit, Belanda dan bahkan Bahasa Inggris. Jadi berhentilah berfikir Anda sudah bersikap nasionalis dengan menggunakan Bahasa Indonesia.”, ajaran Gentoleisme, ke kotak status, dan pencet “Share”. Langsung komentar berdatangan. Katanya, “Lambe mulai dipengaruhi ajaran ekstrim!” Yeah, and I’d surely blame Gentole for that. ๐Ÿ˜›

Nah, sementara itu, saya juga susah untuk menjelaskanย posisi saya mengenai konsumsi alkohol, di antara orang-orang sejawat yang menganggap minuman beralkohol itu minuman biasa (untungnya belum perlu). Pun ketika mendengarkan salah satu petuah Pak Supir Taksi yang taksinya saya gunakan untuk kembali ke Jurong West dari Changi Airport: cari pacar, dan berhubungan seks lah secara regular, supaya sperma tidak terlalu penuh. What the lulz? Lupa dengan mimpi basah Pak? Saya tidak merasa nyaman seperti itu, walaupun bisa jadi itu praktek biasa di budaya Pak Supir Taksi (Qigong?). Saya sih jawab “Yes…haha…OK” saja. Seperti sudah terlalu sering saya gembar-gemborkan, saya ini Newtonian. Tidak suka dan cenderung menghindari perdebatan yang tak perlu.

See? I’m ideologically lonely. ๐Ÿ˜ฆ

Advertisements

13 Responses to “Random Thoughts”


  1. 1 Amd 14/01/2010 at 8:03 AM

    Ah, untunglah saya bukan orang Jawa, jadi nggak ngerasa ndak enak ketika meng-hide orang-orang tak dikenal yang terlalu sering memenuhi live feed dengan ocehan nggak penting…

  2. 2 sora9n 14/01/2010 at 11:39 AM

    1) Err… extraordinary claims require extraordinary evidence? ^^;;

    Walaupun susah juga buat nggak mikir bunuh diri, kalau kondisinya seperti itu. ๐Ÿ˜›

    2) Coba di-debunk dengan senyum. Diskusinya sambil nyindir dan nyepet saja; toh teman sendiri ini. :mrgreen:

    3) He, sama. Saya justru menghindari gaya hidup “kejar kaya” macam itu. Agak terlalu superfisial IMHO. ๐Ÿ˜•

    Soal tidak ambisius, konon kultur wilayah tropis/subtropis memang begitu. Pengaruh lingkungan? Brasil, India, ASEAN to name few.

    4) Well… nothing? ^^;

    5) “Our true nationality is mankind” — H. G. Wells

    *mudah-mudahan nyambung* ๐Ÿ˜›

    6)

    Atau bahwa orang-orang konservatif ini sukanya menulis status yang klise-klise!

    IMHO, sebagian besar mereka itu konservatif karena tidak/belum banyak belajar pemikiran di luar grupnya. Jadi wajarlah kalau klise. ๐Ÿ˜•

    Ibaratnya aktivis JIL disuruh baca Ayat-ayat Cinta…

    See? Iโ€™m ideologically lonely. ๐Ÿ˜ฆ

    Methinks you’re more like “ikan payau di air tawar”. ๐Ÿ˜• Cari kolam yang cocok lah.

  3. 3 itikkecil 14/01/2010 at 2:12 PM

    banyak random thought nya
    saya gak sungkan tuh menghide orang. bodoh amat, daripada saya yang jengkel hati.
    soal saran pak supir mungkin ada benarnya juga, daripada nanti kamu kena prostat…
    *kalem*

  4. 4 Felicia 14/01/2010 at 2:49 PM

    1) Kalau begitu Lambrtz mesti hati-hati, nanti tulisan di blog ini bisa dijadikan bukti tertulis bahwa Lambrtz pernah berpikir mau bunuh diri :mrgreen:
    .
    2) Errr… berhenti maen Facebook aja?
    .
    3) Gimana yah, kan dari sejak dahulu kala selalu digembar-gemborkan kalau Indonesia adalah negara yang kaya. Lah kalau sudah kaya ya ngga perlu ngejar harta lagi donk? ๐Ÿ˜€
    Plus, orang-orangnya juga pada pemaaf pelupa. Hari ini banjir, besok sudah ngga ingat. Jadinya tetep aja buang sampah di kali. Sudah lupa, sih. :mrgreen:
    .
    4) Yang lebih baik mungkin hidup ambisius saat ini supaya dapat hidup santai di kemudian hari ๐Ÿ˜›
    .
    5) Yang ini bukan pertanyaan tapi pernyataan ya? Saya setuju ๐Ÿ™‚
    .
    6) Lihat komen nomer 3

  5. 5 Ando-kun 14/01/2010 at 3:13 PM

    1. Jangan banyak berkhayal. Nanti berangan-anagn ingin menjadikannya sebagai kenyataan
    2. Hide? Saya termasuk radikal nih, bisa saja lsg di terminate. Maklumlah Terminator
    3. Saya ini termasuk pengejar kecukupan, bukan kekayaan. Situ tahu lah… ๐Ÿ™‚
    4. Paling suka dengan puisi bisikan Tomas ke si cewek yg lagi tidur-tiduran :mrgreen:
    5. Teringat pada Soekarno – Hatta yang sering debat gak mau ada yang ngalah, tapi pas nonton timnas main sepakbola, dua-duanya justru kompak ๐Ÿ˜›
    6. Tunjukkanlah jalan yang lurus. Kalau liberal, hiduplah secara liberal ๐Ÿ˜ˆ

    Langsung komentar berdatangan. Katanya, โ€œLambe mulai dipengaruhi ajaran ekstrim!โ€

    uuhhhhh… saya termasuk tidak yah?????
    Tapi saya suka dengan perbedaan, membuat saya merasa benar-benar sebagai “manusia”

    Iโ€™m ideologically lonely.

    Go get a co-pilot

  6. 6 Kgeddoe 14/01/2010 at 7:13 PM

    Izinkan saya menjawab dengan kebijaksanaan saya yang termahsyur. ๐Ÿ™‚

    1) Saya yakin demikian. Pertama nama Anda akan muncul di Twitter (“#nicholaswardana”), kemudian Kaskus, beberapa blog, dan akhirnya Metro. Cue Bapak Permadi berbusa-busa di talk show. Sayang Anda tidak kuliah di Malaysia untuk efek yang lebih bombastis.

    2) Wooo. Tidak usah. Biasalah itu. Atau memang sedemikian mengganggunya?

    3/4) Ambisius is in the eye of the beholder. :mrgreen: Buat Anda dapat PhD sebelum 26 itu ambisius, buat orang lain dapat diploma saja sudah terhitung target tinggi. Saya sendiri masih kabur, apakah orang yang tidak ambisius itu malas, memang tidak perlu kondominium mahal, atau keduanya.

    5) Sebentar, ‘kan asumsinya tentu baik ideologi Anda maupun kepunyaan itu orang terkapar sama-sama menghargai kemanusiaan? Berarti tidak ada ideologi yang dilanggar dong.

    6) Loh itu sudah tergolong nyeleneh ya? ๐Ÿ˜ฏ Atau karena demografis pengomentarnya saja yang memang condong ke kanan? Bahaya juga ini, sebab buat saya itu masuk akal saja tuh? Atau salahkan saja Masbro Gentole. :mrgreen:

    Tidak suka dan cenderung menghindari perdebatan yang tak perlu.

    Sepakat. ๐Ÿ˜€

    Ongkos seratus dua puluh delapan ringgit.

  7. 7 Frederick Mercury 14/01/2010 at 10:59 PM

    1) asalkan enggak ada modifikasi di koran-koran hardcopy atau softcopy, saya pikir nggak bakal ada isu macem2 mbertz… kecuali kalo pose-mu pas udah nyungsep di bawah agak2 ganjil. lagian belakangan free-fall itu lumayan jadi tren kalo pengen memangkas biografi koq, mbertz ๐Ÿ˜†

    2) hla… saya nggak ngerti masalah ini, karena perspektif-nya beda-beda, tergantung siapa mau ngeliat dari sudut berderajat berapa. ketika ngomongin soal tata pemerintahan negara kita saja, temen saya malah menuding saya belok ke kiri ๐Ÿ˜ฏ ๐Ÿ˜ณ ๐Ÿ˜† ๐Ÿ˜†
    *yang kepikiran waktu itu: kick-out!* ๐Ÿ˜† ๐Ÿ˜ˆ

    akhirnya kita sama2 mahfum, kalo kita beda cara pandang, beda political view-nya. akhirnya kita nemu solusi biar tidak mengalami thought-collision lagi, yaitu buang jauh2 soal politik (atau tiru caranya saipul jamil pas buang sial: lempar celana ke pantai ancol! :mrgreen: ). mending ngomongin soal yang kita sama2 demen. soal gita gutawa atau aura kasih saja, sehingga jumlah yang tertera di friend list kaga bakal berkurang ๐Ÿ˜†

    3) sebutlah, saya ini orang materialistis. sebut saja gitu. hla wong saya masuk rumah sakit aja selama seminggu ortu saya kudu kelabakan ngumpulin duit buat nebus biar saya bisa ditarik keluar dari situ.

    jadi yaa. saya pengen jadi kaya. titik. :mrgreen:

    4) justifikasi buat hidup santai? saya pikir bang rhoma sudah pernah melantunkan soal ini :mrgreen: kalo justifikasi buat hidup ambisius? bilang saja gini: udah mepet. 2012 dunia kiyamat! mosok sesekali nggak boleh saya kencengin usaha dan niat buat menggapai impian saya sejak jaman playgroup?! ๐Ÿ˜†

    5) friksi lantaran beda ideologi itu bumbu. kalo kita nggak ngejaga perkawanan itu, kita bakal kesepian karena nggak ada sparring partner buat melincinkan kemampuan kita beradu argumentasi. saya pikir begitu. ๐Ÿ˜

    6) konservatif. saya masih rancu dengan term yang satu ini. bisa jadi, justru orang2yang tidak sepaham dengan saya yang menuding saya konservatif. yang penting saya menghindari debat kusir atau diskusi dialektik yang kemungkinan besar cuman bakal membikin saya mengalami tudingan nggak rasional macam yang saya terima di nomer 1 ๐Ÿ˜

    See? Iโ€™m ideologically lonely

    well, same with me ๐Ÿ˜

  8. 8 Frea 15/01/2010 at 1:54 AM

    ~mampir

    1) dicoba dulu, baru ketauan hasilnya. ๐Ÿ‘ฟ

    2) di hide saja kalau memang sudah sangat mengganggu, ga usah ga enak-ga enakan. Toh belum tentu orangnya sadar ๐Ÿ˜›

    3)Saya pengejar kebahagiaan, tapi tetap berkecukupan. Sometimes the idea of me getting super rich freaks me out ๐Ÿ˜›

    4) Saya ini moody, kadang begitu ambisius; tidak menolerir kegagalan dalam bentuk apapun, tidak mau kalah dll, tapi kadang sebodo amat. Saya memang sebal dengan sifat saya itu, but to tell you the truth, it keeps me balanced somehow. Jadi saya ga terlalu ambisius sampai akhirnya jadi lupa menikmati hidup yang santai. So far so good sih buat saya ๐Ÿ˜›

    5) Dan saya teringat kisah Nabi Muhammad yang mengunjungi orang yang pernah meludahinya ketika orang itu sakit. u_u
    Well, saya stuju dengan Lambrtz ๐Ÿ˜€

    6)

    See? Iโ€™m ideologically lonely

    Kadang2 saya juga merasa seperti itu di kampus ini ๐Ÿ˜†
    Yah, tapi selama akhirnya nemu tempat berkubang lain, dunia maya/blogsphere misalnya, mungkin masih terobati lah ๐Ÿ˜›

  9. 9 Gentole 15/01/2010 at 2:58 AM

    *ikutan*

    1. Iya. Politikana dan Kompasiana siap menampung semua teori.
    2. Hide!! Wong saya yang temennya kurang dari 100 aja ngehide.
    3. Komplasensi itu gak baik; gak jelek, buat saya.
    4. Makanya bukunya dibaca. Kalo filmnya stuck di Juliette…
    5. Ideologi dan akhlaq dua hal yang berbeda. ๐Ÿ˜€
    6. Hati-hati bergaul.

  10. 10 lambrtz 15/01/2010 at 3:27 PM

    Jawab dikit dulu.

    Tentang nomor 2. Well neither does this person try to argue with me or what. S/he (to blur hide this person’s sex) merely posts some articles that I don’t like (well if you know well you must have known what kind of ideas these articles might contain). Most of you said “hide”, so I’ll hide her/his articles.

    Well it’s not that s/he is not good to me. S/he is basically a nice and polite guy. It’s just her/his ideas that I dislike.

    Hide. Done. Thanks. ๐Ÿ˜€

  11. 11 lambrtz 17/01/2010 at 1:09 PM

    @Amd
    Udah saya hide. ๐Ÿ˜Ž

    @sora9n
    1) Itu maksud saya, saya terpeleset lo, alias tidak sengaja. ๐Ÿ˜•
    2) Bukan begitu, dia cuman posting. Tapi ya biasnya saya, saya tidak menyukai artikel yang dia posting. ๐Ÿ˜•
    3) Dan lalu ada Singapore. Dan India, ada artikel ini. Iri saya. ๐Ÿ˜€
    4) Well… ๐Ÿ˜
    5) “Love is my religion” – Ziggy Marley. \m/
    6)

    IMHO, sebagian besar mereka itu konservatif karena tidak/belum banyak belajar pemikiran di luar grupnya. Jadi wajarlah kalau klise.

    Betul. Mungkin berlebihan kalau mengatakan mereka konservatif, tapi ya…saya suka sebel sendiri baca kaya ginian. ๐Ÿ˜›

    Cari kolam yang cocok lah.

    Blogosphere. ๐Ÿ˜€
    Sayang cuman minoritas di friend list saya. ๐Ÿ˜ฆ

    @itikkecil

    saya gak sungkan tuh menghide orang. bodoh amat, daripada saya yang jengkel hati.

    Udah. ๐Ÿ˜Ž

    soal saran pak supir mungkin ada benarnya juga, daripada nanti kamu kena prostatโ€ฆ

    Saya akan merasa bersalah kalau menumpahkan protein di rahim wanita yang bukan istri saya. ๐Ÿ™‚ Biasanya sih masuk WC

    @Felicia
    1) Woops… :-SS
    2) ๐Ÿ‘ฟ
    3) Saya sih ga masalah kalau mereka ga cari kekayaan, toh saya juga nggak. Tapi kalau orang-orang tidak ambisius, gimana kita bisa memperbaiki negara? ๐Ÿ˜ฆ
    4) Kayanya orang-orang di atas sono pingin hidup santai terus, sementara yang ambisius dari muda ga dapat tempat (atau terpengaruh lingkungan ๐Ÿ˜› )
    5) \m/
    6) Maksudnya? ๐Ÿ˜•

    @Ando-kun
    1) :-SS
    2) ๐Ÿ˜†
    3) Punya Ferrari cukup…
    4) Wah saya lupa. Apa belum sampe situ? ๐Ÿ˜•
    5) Pres dan wapres 1 itu? Konon kabarnya sih politisi kala itu lebih santun dalam berrelasi dan mengungkapkan pendapat. ๐Ÿ˜€
    6) Maaf saya bukan purist. ๐Ÿ˜Ž

    Go get a co-pilot

    Ntar.

    @Kgeddoe
    1) Kok Bapak Permadi? ๐Ÿ˜• Dalam kasus ini sih Mr IP, Mas Gentole tahu tuh. :mrgreen: Dan ya, kalo Malaysia kayanya lebih hebat lagi. ๐Ÿ˜†
    2) Pikiran bias saya terganggu, maka saya hide. ๐Ÿ˜€
    3, 4) Ya memang sih, makanya saya juga ga bisa memaksa orang lain untuk hidup ambisius. ๐Ÿ˜•
    5) Seringkali orang lupa bahwa “ideologi […] sama-sama menghargai kemanusiaan” toh, dan lantas berseteru? ๐Ÿ˜€
    6) Buat saya juga ga nyeleneh, tapi demografi orangnya, silakan baca komentar Sora no 6. ๐Ÿ˜€

    Ongkos seratus dua puluh delapan ringgit.

    Antum datang dan kasih solusi tanpa persetujuan ana, jadi afwan, ana tak mau kasih fulus ke antum. ๐Ÿ‘ฟ ๐Ÿ˜†

    @Frederick Mercury
    1) Ndah usah pake pose-posean kayanya media massa Indonesia bakal manas-manasin. ๐Ÿ˜†
    2) Masalahnya, kami ga diskusi. Dia mosting artikel. Dan saya yakin kalo kami diskusi ga bakal ada titik temunya. Dan saya memang malas kasih komentar ke sono. Hence, hide. ๐Ÿ˜Ž
    Tapi caramu itu bagus sih. ๐Ÿ˜€
    3) Situ pingin kaya? Silakan. Serius. ๐Ÿ˜€
    4) ๐Ÿ˜†
    5) Yap, makanya saya juga ga mau musuhan, sama orang yang beda ideologi sekalipun. ๐Ÿ™‚
    6) Apakah menemukan air payau di blogosphere? ๐Ÿ˜€

    @Frea
    1) ๐Ÿ‘ฟ
    2) Udah. ๐Ÿ˜Ž
    3) Dan kebahagiaan adalah…? ๐Ÿ˜€
    4) Hooo… ^:)^
    5) Saya pernah dengar tentang itu. Dan tentunya tidak mudah. Salut buat beliau. ๐Ÿ˜€
    Dan saya jadi juga ketika Pope John Paul II mengunjungi Mehmet Ali AฤŸca di penjara. 8->
    6) Ya, blogosphere memang air payau juga buat saya. ๐Ÿ˜€

    @Gentole
    1) =)) Masih sinis dengan mereka? :mrgreen:
    2) Udah. ๐Ÿ˜Ž
    3) @_@
    4) Ntar aja kapan-kapan. :-”
    5) Iya Mas. ๐Ÿ˜€
    6) Baik Mas. ๐Ÿ˜€

  12. 12 Felicia 18/01/2010 at 5:26 PM

    maksudnya komen saya yang nomer 3…
    maap rancu >.<

  13. 13 aftrie 02/02/2010 at 11:59 AM

    doh, mo komen ya kok keknya daku malah bakal ngelantur ga jelas ke timur utara barat selatan yah.. well, what a thought.. rr.. thoughts..

    ah sudahlah..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

January 2010
S M T W T F S
« Dec   Feb »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
Click to view my Personality Profile page