Pink Floyd — The Return of The Son of Nothing

Maaf tiga video. Lagu ini aslinya berdurasi sekitar 23 menit.

Ehm. Jadi, walaupun sebenarnya sudah tahu mereka lama lewat lagu standar Another Brick in The Wall Pt 2, saya mulai menyukai Pink Floyd sejak dipinjami CD mereka oleh teman Papi saya yang memang demen progressive rock dan jago main gitar beberapa tahun lalu. CDnya sendiri sih CD album The Division Bell, album terakhir mereka yang beraroma progresif kental. Kurang tertarik sebenarnya, tapi dari situ saya juga mengeksplorasi karya-karya lawas mereka, semisal film The Wall (jadi ingat orang bermuka pantat…hiii), dan sampailah saya di album-album pertama mereka, yang tak dinyana, sangat psikedelik. Lagu-lagu macam See Emily Play, Arnold Layne dan Corporal Clegg pun masuk ke daftar lagu favorit saya.

Tapi tidak berhenti sampai di situ. Pada saat yang bersamaan saya juga mendengarkan lagu-lagu Hawkwind, band seangkatan mereka yang juga berasal dari UK. Lagu dari mereka yang pertama kali saya dengarkan adalah Master of The Universe, dari album mereka In Search of Space. Saya pun mulai menyadari bahwa Pink Floyd juga memiliki karya-karya yang bisa dibilang jatuh di topik yang sama, luar angkasa, seperti tersurat di lagu macam Set The Controls for The Heart of The Sun, Astronomy Domine dan Interstellar Overdrive. Tidak hanya di lirik, elemen-elemen luar angkasa pun terdengar dari efek-efek suara yang direkam, tapi karena saya tidak terlalu kompeten di bagian sini, tidak perlu saya lanjutkan lah.:mrgreen:

Nah, akhir-akhir ini saya berdiskusi dengan Pak Guru *halah* tentang Pink Floyd. Debat kusir sebenarnya. Buat dia, lagu terbaik mereka adalah Echoes, sedangkan saya menjagokan lagu-lagu psikedelik era Syd Barrett, macam Corporal Clegg dan See Emily Play tadi, yang dirilis di dalam dua album pertama mereka. Bukan berarti saya menafikkan Echoes. Konon saya menonton penampilan mereka memainkan lagu ini di Live At Pompeii dan sangat terkesan. Efek latar belakang bekas amphitheater di Pompeii, lagu epik super panjang Echoes serta potongan-potongan gambar yang disajikan di lagu Set The Controls for The Heart of The Sun tak ayal meingatkan saya pada satu hal: ancient astronaut theory. Tetapi karena saya punyanya dua album pertama Pink Floyd sahaja yang masih psikedelik, lagu Echoes, yang bisa dibilang transisi dari era psikedelik mereka ke era progresif ini jadi jarang didengarkan dan terlupakan.

Jadi, setelah debat kusir ini, saya pun mulai agak sering mendengarkan Echoes lagi, dan menemukan bahwa lirik aslinya juga bertema luar angkasa, tidak seperti lirik Echoes yang sekarang. Judul aslinya pun berbeda: The Return of The Son of Nothing. Lirik asli tersebut bisa didengarkan di tiga video di atas. Mari kita amati beberapa bait awal liriknya (diambil dari sini).

Planets meeting face to face
Bound to the air of light, how sweet!
If purposely we might embrace
The perfect union deep in space

Ever might this once relent
And give us leave to shine as one
Our two lights shining better than one light can

And in that longing to be one
The parting “suns” shine as one
I see you’ve got to travel on
And on and on, around the sun

Sungguh indah, epik, melankolis dan menawan. Yep, boleh dikata, Pink Floyd, di samping Hawkwind dan Muse, adalah band yang membuat saya tertarik untuk menggunakan metafora-metafora luar angkasa dalam sajak-sajak picisan saya: link 1, link 2, link 3.

So? Ya sudah, cuman pingin cerita kok.:mrgreen:

10 Responses to “Pink Floyd — The Return of The Son of Nothing”


  1. 1 lambrtz 03/04/2010 at 5:22 PM

    *lanjut nonton Trololo*

  2. 3 lambrtz 03/04/2010 at 5:42 PM

    Nicknamenya ganti😆

  3. 4 itikkecil 03/04/2010 at 5:55 PM

    jadi… kamu makhluk luar angkasa?
    *lospokus*
    *oot*
    posting soal ini, yang dikomenin soal trololo lagi…
    sana!!! bikin posting soal trololo beneran….

  4. 5 Snowie 03/04/2010 at 6:16 PM

    OMG! Dari tadi pagi bahasannya trolololo terus…

    Btw, IMHO, penilaian terhadap karya seni itu subjektif. Bagus bagi seseorang, bukan berarti juga harus bagus buat orang lain…walaupun terhadap pemusik yg sama.

    Kalau dilihat dari apa yg dipaparkan ttg perbedaan pendapat itu, jelas sekali karena pandangan personal melatar belakangi penilaian terhadap produk.:mrgreen:

  5. 6 Asop 03/04/2010 at 8:00 PM

    Huahahaha…. cerita itu hak semua orang.:mrgreen:
    Btw, saya belom pernah denger lagunya Ping Floyd.😀

  6. 7 lambrtz 04/04/2010 at 11:17 AM

    @itikkecil
    Trololo frenzy sudah reda kok😀
    Itu di blog Geddoe dah ada kok, postingan trololo. Coba aja mampir ke sono.😀

    @Snowie
    Betul Un, makanya di atas saya bilang debat kusir.:mrgreen:

    @Asop
    Kalau mau dengar, itu video-video di atas bisa disetel kok.:mrgreen:

  7. 8 jensen99 04/04/2010 at 8:45 PM

    Sungguh indah, epik, melankolis dan menawan.

    Apa? Bukannya lirik saat mabuk dan berhalusinasi itu?😆

  8. 9 lambrtz 04/04/2010 at 10:24 PM

    ^
    Lha saya kan memang sukanya yang bau-bau mabuk-sakaw gitu. Ya wajar dong kalau saya bilang menawan. :-“


  1. 1 Crosswalk | lambrtz's Blog Trackback on 05/11/2013 at 1:12 AM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

April 2010
S M T W T F S
« Mar   May »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  
Click to view my Personality Profile page