Again, the Science of Love

Jadi saya iseng-iseng googling dan menemukan artikel ini: The 4 Phases of Love. Jadi cinta yang bagaikan putri diselamatkan pangeran lalu hidup bahagia selama-lamanya itu bullshit. Itu hanya perasaan yang dialami pada fase 1. Masih ada kekecewaan (fase 2), konflik (fase 3), sebelum akhirnya sampai pada level bahagia selama-lamanya (fase 4). Pada fase 2 dan 3, kita dihadapkan pada pengorbanan yang luar biasa, dan diharapkan untuk bisa saling berkompromi, bahkan untuk hal-hal yang kita tadinya ga mau kompromikan. Fase-fase ini juga merupakan fase yang lama, dan sepertinya banyak orang buntu di sini. Konon fase-fase ini dicetuskan oleh Carl Jung, tapi saya belum menemukan publikasi aslinya.

Carl Jung

Carl Jung, via Wikipedia

Fase-fase ini sekaligus membuktikan pernyataan-pernyataan berikut ini.

  • “Love lasts a long time, but burning desire — two to three weeks.” — Carla Bruni (sumber)
  • “Menikah itu memang ngeri kok Jo […] karena hal-hal yang sepele, seperti cara dia makan, cara mencet odol, cara dia tidur, itu bisa jadi masalah besar. […] Tapi ada baiknya, kalian pacaran lama dulu, ngerasain masa jenuh pacaran, yang pasti bakal terjadi selama nikah. ‘Gile lu..tiap pagi dia lagi dia lagi’. Jadi, jangan ambil keputusan pas lagi kasmaran.“– RA, teman di dunia nyata, via chat.
  • “Ternyata, kebanyakan orang berpacaran tidak memasukkan fase-fase konflik sebagai ajang training emosi dan psikologi satu sama lain. Dan kalaupun ada, […] itupun tanpa manajemen konflik yang memadai, Hasil akhirnya bisa ditebak: alih-alih sebagai penguji kesetiaan untuk tetap resist dan percaya, konflik malah menjadi sebuah alasan untuk mengakhiri sebuah hubungan. Ya… mereka melupakan kekuatan sebuah rekonsiliasi.” — Aris S, dalam Cinta itu Perlu Didialogkan — Sebuah Analisis Ringkas.

Postingan pendek aja sih, gara-gara sedang ga ada akun Facebook.:mrgreen:

Sebagai catatan akhir, gambar ini. Ndak saya embed di sini, bercopyright soalnya. Anyway, apakah terlihat “bahagia selama-lamanya?”

13 Responses to “Again, the Science of Love”


  1. 1 sora9n 08/01/2011 at 12:14 AM

    Itu hanya perasaan yang dialami pada fase 1. Masih ada kekecewaan (fase 2), konflik (fase 3), sebelum akhirnya sampai pada level bahagia selama-lamanya (fase 4).

    Not sure why, but that reminds me of the following Fark headline

    [Obvious] Why married men behave better: because everything interesting, funny, cool and dangerous has been crushed and ground out of them, leaving behind a boring, soulless husk which follows orders and says “yes dear”.

    /pertamax
    //also, killjoy (ninja)

  2. 2 Pak Direktur 08/01/2011 at 9:34 AM

    Pada fase 2 dan 3, kita dihadapkan pada pengorbanan yang luar biasa, dan diharapkan untuk bisa saling berkompromi […]

    Kita? Situ kali:mrgreen:
    Saya mulus-mulus saja tuh, langsung loncat ke fase malah 4 B-)
    .
    .
    .

    Fase-fase ini juga merupakan fase yang lama, dan sepertinya banyak orang buntu di sini.

    As far, sejauh pengalaman pengamatan pribadi ini, ada dua poin krusial yang menjadi pemicu kenapa mayoritas stuck di fase tersebut:
    • Masing-masing individu lupa——atau tidak tahu[?]——kalau romansa adalah sebuah game, bukan sebuah ajang saling menjatuhkan/memaksakan/menundukkan ego pihak lain.
    • Terkait poin pertama, lantaran masing-masing pihak tidak sadar bahwa romance adalah sebuah permainan, maka masing-masing pihak juga tidak cerdas dalam memilih partner. B-)

  3. 3 Butterfly Menikmati Dunia 08/01/2011 at 2:05 PM

    Masih bertanya-tanya, kenapa si empunya blog…semangat bener bahas soal cinte-cinte belakangan…Kemungkinan yang sedang dialami :

    A. Yang punya blog sedang mencari teori ideal untuk cinta.
    B. Yang punya blog pengen jatuh cinta (lagi) tapi masih malu-malu.
    C. Yang punya blog ingin mengundang pembaca baru, khususnya wanita.
    D. Semuanya benar….

  4. 4 lambrtz 08/01/2011 at 2:59 PM

    @sora9n
    Well, I have read the original paper by Alexandra Burt et al., and if you are, by “everything interesting, funny, cool and dangerous”, referring to antisocial behaviours, then yes, I am in agreement with you.:mrgreen:

    @Pak Direktur

    Saya mulus-mulus saja tuh, langsung loncat ke fase malah 4 B-)

    Ah, situ pasti seorang Nowhere Man, tinggal di Nowhere Land.:mrgreen:

    Terkait poin pertama, lantaran masing-masing pihak tidak sadar bahwa romance adalah sebuah permainan, maka masing-masing pihak juga tidak cerdas dalam memilih partner. B-)

    😆 Berarti memang dari awal kudu milih yang memahami bahwa ini game, begitu?😛

    Anyway, boleh loh nyeritain pengalaman pengamatan sampeyan.😛

    @Butterfly Menikmati Dunia
    Kan udah ditulis di postingan LA

    Oleh karena itu, agar supaya kewarasan saya tetap terjaga,

    :-“

  5. 5 sora9n 08/01/2011 at 5:31 PM

    Hey now, I wasn’t talking about the linked news. It was all about that submitted headline, geez.😐

    *switch Indonesia*

    Air dingin dicampur air panas hasilnya air hangat. Dua orang berbeda bergesekan lewat konflik dan kekecewaan (fase 2-3), kalau disatukan berlama-lama pasti akan tercapai ekuilibrium. Tinggal pertanyaannya: ekuilibriumnya lebih dekat ke mana, si suami atau si istri… (haha)

    /yes dear
    //yes what?
    ///happiness is all about acceptance methinks

  6. 6 grace 08/01/2011 at 6:31 PM

    ///happiness is all about acceptance methinks

    Nah, saya setuju.
    Sering bertukar pikiran dan cerita dengan orang-orang yang sudah menikah (termasuk orang tua sendiri), pernikahan itu sesuatu yang sulit sekali, terlebih kalau salah seorang partner tidak bersedia untuk kompromi alias maunya hidup dengan caranya sendiri saja. Apalagi kalau dua-duanya begitu. Ah saya sendiri lama-lama jadi skeptis soal yang namanya pernikahan🙄
    *jadi ngomongin pernikahan bukannya soal cinta*😛

  7. 7 calon orang bebas 09/01/2011 at 1:25 PM

    Protes* udah ah ngomonngin cinta, tentang hal lain saja *dah mabok tentang cinta* hal ini seperti menjelaskan bgaimana rasanya buah pisang, ndak gampang., toh cinta juga bukan hal berharga, murah, gratis, *sinis* seperti halnya seks! tapi tentu cinta tak sama dengan seks. seperti ktanya fauocult kenapa seks itu bebas? coz seks is free *sinis lagi*!

    you have to experience it! *maksud saya pacaran:mrgreen: *

    dah nonton laskar pelangi lom?

    *ditendang empunya blog*

  8. 8 calon orang bebas 09/01/2011 at 1:27 PM

    walah, salah tag, saya pengen strike kok malah quote..
    *tolong benerin🙂

  9. 9 Pak Direktur 09/01/2011 at 5:01 PM

    Pertanyaannya, “acceptance” yang bagaimana dulu ya yang dikamsud, banyak kategorinya soale😛 Dan dalam hal sepelik relationship, kesannya “acceptance” itu lebih condong (atau malah ekuivalen?) ke “mengalah”.🙄

    *setel Seventeen – Selalu Mengalah* ~♫

    *nengok komen Grace*
    *setel Agnes Monica – Teruskanlah* ~♫

  10. 10 Ceritaeka 10/01/2011 at 3:42 PM

    Kamu itu akhir2 ini ngomongin cinta, kawin molo siy?
    Udh kebelet kawin?
    Gituh?
    *run-run small*

  11. 11 ruri 11/01/2011 at 4:26 PM

    Muahahaha..dirimu nggakpapakan nak?
    Kebetulan saia lagi bosen ini
    Saya akan jadikan ini ajang berantem aahh…
    Siap” tak curhati yak😀

  12. 12 lambrtz 11/01/2011 at 10:02 PM

    Ini agak susah balesnya. Bentar yah…:mrgreen:

  13. 13 lambrtz 11/01/2011 at 10:42 PM

    @sora9n
    Trolling fails. (ninja)
    Sisanya saya jadikan satu sama punya Pak Direktur ya.😀 Serasa di kantor

    ***

    @Grace
    Pernikahan kan besar kaitannya sama cinta😛

    terlebih kalau salah seorang partner tidak bersedia untuk kompromi alias maunya hidup dengan caranya sendiri saja. Apalagi kalau dua-duanya begitu.

    Jadi gimana ini, nyari yang sama-sama mau kompromi, kaya balesan saya ke Pak Direktur sebelumnya, begitu?😕
    Kalo ngliat orang tua saya sih, kayanya mereka uda. Such is Papi, such is Mami. Dan mereka masih membawa ciri khasnya, tentu saja dengan kebiasaan buruk masing-masing. Entah perjuangannya gimana dulu, nyatanya bisa. Dan saya termasuk yang kena getah kebiasaan buruk mereka to😆

    Sisa balesannya juga takjadiken satu sama buat Pak Direktur ya.😀

    ***

    @calon orang bebas
    Sex is free? Think again.😎 Di Geylang, yang paling murah konon kabarnya SGD 50 sekali main.
    Experience? Udah pernah😛 walaupun sekarang sendiri lagi, hehehe
    Nah kalau Laskar Pelangi baru belom pernah…

    BTW udah dibereskan tagnya.😀

    ***

    @Pak Direktur, sora9n, grace
    Acceptance, menurut saya, ya bisa menerima sisi yang dikau suka maupun ga suka dari pasangan. Kalau dirunut ya masuk akal sih. Pada fase 1, dikau cuma tertarik dengan sisi baiknya pasangan. Pada fase 2, dikau mengalami delusi, kok ternyata pasanganku begini begitu. Dan ini tentunya membawa kekecewaan to some extent. Hanya dengan menerima pasangan apa adanya, ToC applies, kita bisa menuju ke level berikutnya.😛

    Sebenernya, urusan acceptance, saya sedikit banyak sependapat sama Denmas Sora, bahwasanya cinta itu bagaikan \frac{0+1}{2} \pm \epsilon, dengan epsilon itu toleransinya. Kalau positif dekat ke 1, kalau negatif dekat ke 0. Tapi tenang aja. Menurut saya sih, ini cuman satu aspek. Aspek lainnya adalah bahwa kita juga we gain some. Jadi macem give (up) and take begitu kayanya.😀

    PS: Selalu ada pengecualian. Misal KDRT.😛

    Pinter ngomong, ndak pinter njalanin

    ***

    @Ceritaeka
    Musim kawin mbake…tapi aku ga ikutan😆 *ngaco*

    ***

    @ruri
    Kok aku nulis begini orang mesti bertanya-tanya ya, apa imageku ga cocok jadi insinyur cinta?😆 *halaaaaaah*
    Ndak apa-apa brur.😛
    Anyway, selamat berantem, mumpung masih pacaran. Semoga langgeng ntar kalo dah nikah😉
    Monggo curhat😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

January 2011
S M T W T F S
« Dec   Feb »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
Click to view my Personality Profile page