Serba-serbi Hidup di Singapore

1) Dikira Cina
2) Election day / Pemilu

***

1) Dikira Cina

Barangkali kalau Anda melihat tampang saya, Anda bisa langsung mengira kalau saya dari ras Austronesia. Kemudian kalau mendengar cara saya berbicara serta tindak-tanduknya, Anda bisa dengan tepat mengatakan kalau saya orang Jawa. Namun berbeda kasusnya kalau yang melihat orang-orang Singapore. Berdasarkan pengalaman saya, sekitar 60% (ini kira-kira saja, tapi cukup sering terjadi) orang yang menyapa saya di luar kampus akan berbicara kepada saya dalam Bahasa Mandarin, dan saking seringnya, saya kerap kali jadi jengkel.

Ini saya kasih contoh. Beberapa hari lalu saya belanja di supermarket dekat apartemendan mengantre di kasir. Orang di depan saya adalah ibu (atau mbak, lupa) dari etnis India, Tamil tepatnya, sementara kasirnya sendiri ibu-ibu etnis Cina, yang kalau saya lihat sih Cina-nya Cina Singapore. Kasirnya melayani pembeli depan saya dengan Bahasa Inggris (saya perlu menuliskan ini sebagai bukti kalau beliau bisa Bahasa Inggris, sementara beberapa orang sini memang tidak bisa Bahasa Inggris). Namun ketika giliran saya, beliau menyebutkan nominal uang yang harus saya bayar dengan Bahasa Mandarin. Yah jujur saja saya jadi otomatis jengkel, dan kalau jengkel saya ndak banyak bicara, lebih irit dari sebelumnya yang udah jarang juga. Wong saya ini kulitnya coklat gelap, matanya ndak sipit, kok ya banyak to yang ngira saya orang Cina. Jadi waktu itu saya cuma melihat layar LED di mesin penghitung, mengeluarkan uang dan membayar, lalu bilang “Thank you” dengan volume sangat rendah dan keluar.

Itu tadi contoh jengkel normal. Dalam kasus lain yang sudah lama terjadi di supermarket yang sama, ada bapak-bapak pembeli yang bertanya kepada saya tentang suatu barang dalam Bahasa Mandarin juga. Kali itu saya mencoba menjadi agak ketus (sambil tetap tersenyum, tentu saja) dan bilang, “Sorry, I cannot speak Chinese”, mendengar bapak itu berkata “Hoo? Hoo.” dan saya pun berlalu. Tentu saja kalimat ini tidak jarang saya katakan. Tahun lalu, ketika saya membantu Koh Eon Strife pindah apartemen, sang pemilik flat yang orang Cina Singapore mengajak ngobrol saya dalam Bahasa Mandarin, dan ya tentu saja harus bilang itu lagi, kali itu sambil mringis, yang diikuti dengan beliau bertanya, “Oh, you are from where?” “Indonesia,” jawab saya. OK sekian dengan kalimat itu. Lain waktu lagi, saya berniat ngusili ibu-ibu pengantar minuman di food court yang agak jauh dari apartemen saya. Ketika beliau menyebut harga minuman yang saya pesan dalam Bahasa Mandarin, saya sebenarnya tahu sih kalo saya harus membayar SGD 1.10, tapi waktu itu saya itu merespon, “English please?” sambil tetap tersenyum, dan ibu itu pun jadi awkward dan tergagap-gagap. Karena kasihan, saya pun bilang “Mmm…one ten ah?” “Ya, one ten” kata ibu itu, dan saya pun membayarnya.

Itu tadi yang 60%. 39% nya, tentu saja orang mengira saya orang Melayu. Orang Jawa di Singapore dimasukin Melayu juga sih, walaupun kalau di Indonesia, Jawa dan Melayu kebudayaannya sungguh berbeda; setidaknya kami tidak punya zapin dan alih-alih punya campur sari. Nah, kalau yang begini saya bisa menjawab. Dulu waktu ada bapak-bapak etnis Melayu tanya rute bus ke saya dalam Bahasa Melayu, saya pun menjawabnya dengan Bahasa Melayu saya yang terbatas (“Pakcik nak ke mane? Oh, pakcik boleh ke bus stop itu, lalu bus itu nanti berput–berpusing di sini lalu kembali ke Boon Lay”), tentu saja dengan logat Jawa hahaha. Yang agak susah kalau yang mengira saya Melayu itu orang Cina. Walaupun ga semahir orang Cina di negara tetangga (Malaysia dan Indonesia), beberapa orang Cina sini bisa lah ngomong Melayu terbatas, atau sekedar yang standar-standar begitu. Kalau ditimpali dalam Bahasa Melayu, yang ada malah saya jadi tergagap-gagap dan akhirnya milih untuk melanjutkan ngomong dalam Bahasa Inggris. Nah kalau ditanya, apa ada jengkelnya? Tentu saja ada. Yang bikin jengkel adalah kalau saya beli makanan lauk babi. Seperti layak diketahui, mayoritas (>99%) orang Melayu adalah Muslim, dan yang ada di pikiran orang sini adalah bahwa Melayu = Muslim. Maka dari itu saya pun sering dikira Muslim. Jadi kalau saya beli char siew misalnya, sang penjual kadang bertanya, “This one is pork, can ah?” Tapi pertanyaan ini ga sering sih, makanya jengkelnya ndak amat-amat dan biasanya saya cuma bilang, “Caaan.”

Tapi tapi…60+39 kan 99? Satu persennya gimana? Satu persennya, ada satu orang Vietnam dulu mengira saya orang India, lalu ada satu lagi orang India mengira saya orang Jamaika. Katanya gara-gara saya terlihat bukan Cina, bukan India, dan nama saya nama Kristen. Lah tapi kan rambut saya ga dreadlock?

***

2) Election day / Pemilu

Jumat minggu ini, Singapore akan mengadakan pemilu parlemen. Hari itu bakal jadi hari libur. Ini foto-foto kampanye di sekitar apartemen saya.

Mobil pick-up berbendera itu mobil kampanye National Solidarity Party (NSP)

Mobil pick-up berbendera itu mobil kampanye National Solidarity Party (NSP)

Mobil pick-up berbendera itu mobil kampanye People's Action Party (PAP)

Mobil pick-up berbendera itu mobil kampanye People's Action Party (PAP)

Kandidat anggota parlemen dari NSP wilayah Chua Chu Kang

Kandidat anggota parlemen dari NSP wilayah Chua Chu Kang

Kandidat anggota parlemen dari PAP wilayah Chua Chu Kang

Kandidat anggota parlemen dari PAP wilayah Chua Chu Kang

Logo PAP dan NSP

Logo PAP dan NSP

Sekedar informasi mengenai latar belakang politik di Singapore, partai yang berkuasa saat ini adalah People’s Action Party (PAP), yang diketuai oleh Lee Hsien Long, yang tak lain adalah PM saat ini dan anak dari MM Lee Kuan Yew. PAP sudah berkuasa sejak 1959, sebelum Singapore merdeka sepenuhnya pasca ditendang dari Malaysia. Pada pemilu 2006, dari 84 kursi yang diperebutkan, PAP memenangkan 82 kursi, sedangkan sisanya dibagi untuk 2 partai lain yang lebih kecil. Sepertinya bisa ditebak pemenang pemilu kali ini. Untuk daerah tempat tinggal saya di Nanyang, daerah pemilihan Chua Chu Kang sendiri, partai yang bersaing adalah PAP dan National Solidarity Party (NSP). BTW, oposisi tangguh Chee Soon Juan dari Singapore Democratic Party (SDP) juga hadir seperti tahun-tahun sebelumnya. Beliau terkenal dengan protes-protesnya, dan salah satunya adalah protes “Tak Boleh Tahan” tahun 2008 di bawah ini. Silakan klik gambarnya untuk info lebih jauh.

Demonstrasi "Tak Boleh Tahan" yang bikin Singapore heboh tahun 2008 (via Wikipedia)

Demonstrasi "Tak Boleh Tahan" yang bikin Singapore heboh tahun 2008 (via Wikipedia)

Sekian postingan kali ini.

Bonus, Lee Kuan Yew muda menyerukan “Merdeka!” dan kampanye PAP 1955 juga dengan slogan yang sama.

via Wikipedia

13 Responses to “Serba-serbi Hidup di Singapore”


  1. 1 Eon Strife 01/05/2011 at 6:13 PM

    1. Sama, banyak selalu menyapa saya dengan Mandarin..kadang2 saya kerjain sengaja paksa dalam bahasa Inggris…Dari wajah saya, keknya orang2 lebih sering kira saya orang M’sia😀

    2. Vote Nicole Seah ! She’s hot ! She’s not married yet ! http://www.facebook.com/nicoleseahnsp

  2. 2 Eon Strife 01/05/2011 at 6:23 PM

    Lain kali, kalo ada yg tiba2 pake MAndarin, nge-troll dia aja, dengan bilang : “dui4 bu4 qi4, wo3 bu2 hui4 shuo1 guo2 yu3 (对不起,我不会说国语)” <- translation : sorry, saya gak bisa bicara dalam bahasa Mandarin😀

    plus, guo2 yu3 (国语) itu istilah yg dipake orang Taiwan buat nge-refer ke Mendarin (kalo orang RRC, pake istilah pu3 tong1 hua4 (普通话)) \m/

  3. 3 lambrtz 01/05/2011 at 6:24 PM

    Kalo kamu kan memang etnis Cina, dan tampangnya juga tipikal tampang Cina.😆 Anyway, kalo ngerjain pake Hokkien dong, bisa buat ngerjain orang-orang PRC:mrgreen:

    Wot, cewek 24 tahun dan ikut partai oposisi??? Daring😯😳
    Aku baca di page itu, dia kampanye malam ini di Jurong West Stadium. Mau ke sana?:mrgreen:

  4. 4 lambrtz 01/05/2011 at 6:25 PM

    Hahahaha Taiwan, ide bagus. Tapi gila aja, aku ga bisa baca itu dengan lancar, gimana coba😆

  5. 5 Eon Strife 01/05/2011 at 6:48 PM

    tapi, menurut teman2 baik kita yg orang RRC di gameLab, tampang saya gak tampang Chinese loh \m/

    Jurong West Stadium ? boleh boleh..keknya gatsby saya masih ada sisa, kemudian pigi beli parfum, bunga..

  6. 6 lambrtz 01/05/2011 at 7:00 PM

    Ah mereka orang utara sih, pantas aja bilang gitu. Coba tanya orang Singapore lah :-”

    Kelamaan bos, keburu mulai. Cepat ke stadion sana:mrgreen:

    (BTW, IMO lebih cantikan itu Bu Low Yen Ling dari PAP😳 )

  7. 7 Eon Strife 01/05/2011 at 8:38 PM

    buat u aja bos..saya punya cukup Tin Peiling dan Nicole Seah😀

  8. 8 itikkecil 02/05/2011 at 12:03 PM

    Maridjo orang Jamaika?
    *ngikik*
    coba model dreadlock dulu gih…
    *masih ngikik*

    pertanyaannya, apakah praktek bagi-bagi uang aka serangan fajar juga berlaku di sana?
    *sepertinya tidak ya*

  9. 9 lambrtz 02/05/2011 at 12:43 PM

    @Eon Strife
    Jadi kemarin jadi datang?:mrgreen:

    @itikkecil
    Yang ada, pengalaman bu kos saya, waktu itu ada orang dari partai kecil minta dukungan ke rumah, ketemu bu kos saya. Setelah ngomong panjang-panjang, malah orangnya minta bayaran😆

  10. 10 Arm Kai 02/05/2011 at 12:50 PM

    hm, mungkin karena kacamata tebal makanya matanya ketutupan, jadi ga ketahuan kalo ga sipit😀

    masih mending lah dikira beda etnis, daripada beda gender😛
    *pengalaman*
    cuma sekali sih

  11. 11 Felicia 02/05/2011 at 10:59 PM

    Waktu saya di Changi kemarin itu, ada cewe yg tiba2 nanya cara ke MRT pakai Mandarin, dan dia ngga ngerti Inggris…jadilah saya susah payah nerangin pake bahasa tubuh…😆

    @Eon Strife:

    dui4 bu4 qi4, wo3 bu2 hui4 shuo1 guo2 yu3

    pertama kali baca kupikir nulis alay, baru ngeh ternyata itu 1234 nunjukkin nadanya ya?😀

    @Arm:

    masih mending lah dikira beda etnis, daripada beda gender
    *pengalaman*
    cuma sekali sih

    Eeh? Hontoouu??
    Kapan? Di mana? Gimana?😛

  12. 12 lambrtz 02/05/2011 at 11:17 PM

    @Arm Kai
    Ya bisa juga sih karena mata mblolok ini ketutupan kacamate tebel😛

    Kalo dikira cewek, itu beberapa kali terjadi kalau saya nrima telpon waktu masih sekitar umur 15, ketika suara saya sedang berubah dari suara anak-anak ke suara dewasa.😆

    Anyway, cerita cerita dong.:mrgreen:

    @Felicia
    Sama seperti respon ke Koh Eon, kalo kamu kan memang etnis Cina, dan tampangnya juga tipikal tampang Cina.😆 Makanya ga heran dulu waktu kita makan berdua itu waiternya awalnya tanya dalam Bahasa Mandarin. :-”

    Anyway, itu juga susahnya jadi Cindo di Singapore sih. Sepertinya kebanyakan ga bisa Bahasa Mandarin ya. Paling-paling dialeknya, kaya Koh Eon yang bisa Hokkien. Sementara anak muda di sini setahu saya udah berkurang kemampuan ngomong dialeknya, seperti saya sudah tergagap-gagap ngomong Jawa halus. Jadinya ya…bahasa tubuh itu.😛

  13. 13 AnDo 03/05/2011 at 3:28 PM

    Sekarang saya punya kemampuan untuk ngerjain orang yg ngomong chinese sama saya: balas pake bahasa Jepang😆


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

May 2011
S M T W T F S
« Apr   Jun »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  
Click to view my Personality Profile page