Kembul Bojana with Indian Food

Semuanya berawal beberapa hari yang lalu ketika salah satu teman lab saya bercerita kalau dia memesan kotak makan siang dari catering tempat teman yang lain, katakanlah namanya D (bukan inisial asli), biasa beli. D, dari India selatan, adalah satu-satunya vegetarian di lab kami, setelah vegetarian lain yang datang lebih dulu menyerah dengan keadaan di Singapore yang jarang makanan vegetariannya lalu convert menjadi pemakan ayam dan ikan. D dan teman-teman apartemennya yang kerja/kuliah di NTU selalu pesan catering dari restoran ini, karena buat mereka susah menemukan stall vegetarian di kampus yang rasanya cocok di lidah mereka, juga bervariasi; stall vegetarian di kampus lebih bercorak Cina. Saya pun tertarik mencoba menu yang biasa D makan dan pesan ke D untuk memesan satu box juga buat saya. Ternyata, pada hari Jumat kemarin, D membelikan beberapa box makan siang cukup untuk semua anggota lab yang ada di sana. Jadilah kami, orang 10, makan bersama umpek-umpekan di pantry yang didesain agar mirip bar namun ukurannya tak seberapamana itu.

Nah, menunya seperti ini.

Makanan vegetarian ala India

Makanan vegetarian ala India

Makanan utamanya adalah nasi briyani, ditambah chapati dan vada. Karena vegetarian, tentu saja tidak ada lauknya. Sayurnya yang banyak. Ada sayur rebus (entah apa), lalu sayur asam (dal?) dan macam coleslaw tapi berkuah. Rasanya, seperti makanan India pada umumnya, kecut dan pedas, walaupun yang ini tidak terlalu pedas. Porsinya banyak, dan oleh karena itu pantas kalau D, walaupun vegetarian, adalah orang paling besar di lab kami. Buat saya, yang paling enak adalah chapatinya. Kebetulan saya penggemar roti India. Tapi waktu saya tanya Koh Eon, gimana menurutnya makanannya, katanya tidak ada rasanya hahahaha. Ampun dah yang orang Sumatraaaa.

Makanan ini dipesan di restoran Annalakshmi, yang kantornya ada di daerah Amoy Street dekat Chinatown MRT Station. Restoran ini adalah restoran vegetarian yang dikelola sebuah yayasan Hindu. Berdasar yang tertulis di websitenya, pengelolaannya unik: kalau Anda datang sendiri ke restorannya, Anda mau ambil seberapa banyak terserah, membayarnya juga terserah. Alasannya, mereka tidak bisa memberi label harga kepada apa yang mereka sebut wujud cinta kasih. Stafnya pun semua sukarelawan, dan dengan cara ini mereka mencoba untuk menyerahkan diri lewat makanan. Di halaman ini pun tertulis satu filosofi yang mengesankan.

“Follow any path, religion or doctrine, but believe in it sincerely, because the sincerity of your belief will illuminate and guide you to the ultimate common goal – God”

Tidak ada rasa eksklusivitas, bahwa agamaku yang benar, agamamu salah. Menurut mereka (dan yang saya amini juga), agama apapun benar, dan Anda bisa mengikuti agama apapun. Asal Anda meyakininya sungguh-sungguh, semua akan bermuara kepada satu tujuan: Tuhan. Sangat kontras kalau dibandingkan, misalnya, sebagian masyarakat Indonesia yang sangat berhati-hati dalam merespon pluralisme (yaitu, pluralisme pake tapi), atau bahkan terang-terangan mengharamkan pluralisme; atau dalam taraf global. yang sedang panas saat ini, ramalan kiamat 21 Mei 2011.😀

Nah, cukup pesan sponsornya, kembali ke sesi makan bersama. Suasana seperti ini menyenangkan buat saya. Sudah lama kami tidak kembul bojana / makan bersama-sama. Sejak Mr Wong, orang CinMal manajer proyek sebelumnya keluar dari lab untuk kembali kerja di industri telekomunikasi, tidak ada lagi yang berinisiatif untuk mengajak orang lab makan bersama. Paling-paling cuma 3-4 orang makan di kantin kampus, sudah. Kumpul-kumpul seperti inipun menjadi suasana yang langka. Selain itu, demografi lab ini, yang notabene adalah ruangan sampingan / annexe, bukan ruang utama, cukup merata, dan kesannya menjadi lumayan internasional. Kalau ruangan utama dikuasai orang Cina daratan (RRC), di ruangan kami setidaknya sampai sebelum masa ujian ada tiga orang Indonesia (saya, Koh Eon, dan satu lagi orang Riau lulusan ITB), satu orang Malaysia, satu orang Singapore, satu orang Vietnam, satu orang Myanmar, dua orang India, dua orang RRC, dan satu orang Perancis.

Makan bersama

Makan bersama

Makan bersama. Terima kasih buat Koh Eon yang motretin.

Makan bersama. Terima kasih buat Koh Eon yang motretin.

Tebak-tebakan tidak berhadiah. Di foto di atas, tebak mana yang orang Perancis. Ada di sana. Kalau gambarnya kekecilan, bisa diklik untuk melihat gambar yang lebih besar.:mrgreen: Koh Eon ndak boleh jawab, kalo jawab aku masukin spam.😈

Oya, satu-satunya wanita di sana, yang menurut saya secara penampilan adalah persilangan antara Mari Illustrious Makinami dan Tamako Nobi (née Takaoka), sudah menikah, jadi pembaca pria tolong jangan berharap banyak ya.:mrgreen: *dikeplak*

Omong-omong, mumpung sebagian besar pembaca blog saya orang Muslim, saya mau tanya. Restoran ini vegetarian, jadi makanannya tidak mengandung anjing, babi, dll yang dilarang dalam Islam; daging apapun tidak ada. Namun, karena restorannya dikelola Yayasan Hindu, makanannya tidak berlabel halal. Saudara/Saudari bisa makan ga?😕

Terima kasih buat Koh Eon yang motretin beberapa foto, dan terima kasih buat D yang nraktir kami.😀

18 Responses to “Kembul Bojana with Indian Food”


  1. 1 Kimi 21/05/2011 at 11:42 AM

    Baru tau kalo ada gosip kiamat 21 Mei 2011. Duh, parah gak update. BTW, kalau saya sih mau2 aja makan di situ asalkan enak.😀

  2. 2 lambrtz 21/05/2011 at 11:47 AM

    Itu saya juga baru tahu kemarin, dikasih tahu itu Koh Eon😆

    Ah, baiklah kalau begitu, selamat bergabung dengan kami untuk makan bersama. Enak kok😀

  3. 3 lambrtz 21/05/2011 at 11:49 AM

    BTW di sini hujan deras. Apakah The Rapture sedang dimulai? :-SS *halah*

  4. 4 Eon Strife 21/05/2011 at 12:25 PM

    kalo kasih hint gak termasuk spam kan :p

    mana foto2 lainnya ? taruh di fesbuk loh😀

  5. 5 Eon Strife 21/05/2011 at 12:26 PM

    lebih mirip Tamako Nobi saat muda :p
    (gak hobi ama evangellion \m/ )

  6. 6 Felicia 21/05/2011 at 1:18 PM

    oh cewenya cuma sendiri, asik juga ya..
    cowo Prancisnya hmm, apa yang di kanan depan? atau yang di kiri tengah? tapi pastinya bukan yang di paling kiri sendirian ngacungin jempol kan…😀

  7. 7 lambrtz 21/05/2011 at 2:25 PM

    @Eon Strife
    Ndak boleh kasih hint😈
    Foto lain ntar ya kalo udah onlen FB lagi. Aku belom mau login hahahaha
    Udah bilang ybs kalo dia mirip ibunya Nobita? *eh*

    @Felicia
    Udah nikah, ga asik😈 *eh*
    Yang ngacungin jempol itu belum jadi orang Perancis hahahaha
    Jadi yang mana yang orang Perancis? Kanan depan atau kiri tengah? Tentukan pilihanmu segera Nona, siapa tahu akan mengubah hidup Anda selamanya😀 *apa coba maksudnya*

  8. 8 Asop 21/05/2011 at 5:13 PM

    Hmmmm jawaban saya, mending cari restoran lain selama masih bisa memilih. Jangan makan dari restiran yang dikelola yayasan Hindu itu.🙂

  9. 9 lukisanlangit 21/05/2011 at 5:29 PM

    kembul bojana itu, bahasa jawa ya😀

  10. 10 Ando-kun 22/05/2011 at 2:40 AM

    Ngomong2, aku punya teman Buddha yang vegetarian (alasan kepercayaan). Pernah dia makan roti tawar yang tak berisi, tapi ingredient-nya tertulis gelatin yang 99 persen pembuatannya menggunakan bahan hewani, terutama kulit dan tulang babi. Kalau aku jelas nggak makan, tapi dia makan aja. Komentarnya sih, karena sudah tidak terlihat bentuk hewannya😆

    Soal makanan dari yayasan Hindu atau apapun itu yayasannya, kalau bisa dimakan (termasuk liat ingredient-nya) aku sih makan aja. Jadi minoritas selama 6 tahun membuat toleransiku utk makanan cukup besar, selama masih dalam batas.

    Yang WN Perancis, itu tuh yang bermata sipit.

  11. 11 lambrtz 22/05/2011 at 3:35 AM

    @Asop
    Yah ga bisa ikut kami dong😦

    @lukisanlangit
    Betul, itu Bahasa Jawa. Setidaknya diajarkan di pelajaran Bahasa Jawa.😀

    @Ando-kun
    Hahahaha, beda-beda memang ya pendiriannya, ada yang mau makan ada yang nggak😀

    Kalau temanku si D itu sih, dia menolak bilang kalau vegetarianismenya karena alasan agama. Memang aku amati cukup banyak orang India yang vegan sih, mungkin lebih karena latar belakang budaya ya.

    Yang sipit yang mana Bos. Koh Eon juga sipit tuh, WN Perancis?😛 Etapi ndak ada di foto paling bawah sih:mrgreen:

    BTW, minoritas 6 tahun? Keciiiil. Aku udah jadi minoritas 23 tahun nih :-” (terus kenapa)

  12. 12 Eon Strife 22/05/2011 at 10:14 AM

    @Ando

    Yg masalah vegan..yg di Buddhis,

    1. itu boleh kok sebenarnya makan daging dengan syarat hewannya dah mati duluan dan bukan karena kita. Mis pigi makan Chicken Rice di kantin..itu boleh kok, karena ayamnya memang dah dari awal-awalnya dibunuh orang lain, bukan karena kita bunuh atau suruh orang lain bunuh.

    2. Yg gak disarankan adalah kita mengakibatkan hewannya mati utk dimakan kita. Mis mo makan seafood atau chili crab..Kita bisa pilih kepiting hidup mana yg mo dimasak.

    toh, sang Buddha nya sendiri ada makan daging kok (point 1) :))

  13. 13 AnDo 22/05/2011 at 12:39 PM

    @lambrtz
    Anu boss, situ jd minoritas tanpa pantangan makan tertentu tentunya bisa makan puas apapun yang berkaki empat
    *dibahas*

    Temanku yg orang Hindu asal Calicut cm tahan sebulan. setelah itu apapun dihajar termasuk sapi. Sampai ada teman Jepun komentar kalau Deva-nya dia ada di India, jadinya gak liat😆

    Yang sipit dan tentunya yg bisa cas cis cus ngomong Perancis lah :-”

    @Eon
    Katanya sih tergantung sekte juga yah.
    Theravada ikut apa yang Koh Eon tulis diatas dan setahu saya memang Asia tenggara (termasuk Indonesia) mayoritas Buddha Theravada.
    Tapi Mahayana justru menolak makan daging krn khawatir daging yg dimakan akan mempengaruhi samsara, walaupun pengikut Mahayana di Asia timur biasanya sih makan2 aja.

  14. 14 lambrtz 22/05/2011 at 12:53 PM

    @Eon Strife
    Terima kasih atas penjelasannya😀

    @AnDo
    Sapa bilang aku ga ada pantangan.😕
    Aku pantang makan ga enak :-” *dihajar*

    Hahahaha, di sana juga kerepotan yah. Makanya hebat tuh temanku D, dibela-belain tiap hari pesen catering dari restoran vegetarian di tengah kota (padahal kalau diliat dari websitenya, menu makanannya ndak banyak beda ya). Well menurutku di antara kami dia yang paling spiritual sih. Orangnya ramah dan rendah hati juga walaupun tampak menyeramkan.😛

    Kayanya 50% yang ada di sana sipit deh, dan di foto ga ada keterangan mana yang bisa Bahasa Perancis😆 ^:)^

  15. 15 Akiko 22/05/2011 at 9:06 PM

    yang sebelah kiri nomer tiga dari depan, kayaknya cakep deh.😛

    ehem, dalam ajaran islam, tidak ada larangan memakan makanan —yang tidak mengandung bahan yang di haramkan islam— karena lembaganya atau yang memasaknya. IMO bahkan jika dapat kiriman masakan dari tetangga yang memasak untuk perayaan natal atau thanks giving pun boleh ikut makan selagi memenuhi syarat makanan halal dalam Islam.

    AFAIK, istilah halal yang sebenarnya dalam islam adalah sesuatu yang baik. Baik dalam kandungan makanannya, baik mendapatkannya, dan baik manfaatnya. So selagi semua syarat di penuhi, boleh saja ikut makan.

    Masalahnya, kenapa ada pendapat berbeda soal makanan seperti ini, karena ada beberapa penganut ajaran islam yang terlalu membatasi diri atau terlalu takut, atau lebih suka jalan aman. Tapi dari yang saya pelajari, dan jika benar tidak sedikitpun makanan itu mengandung bahan yagn di haramkan, maka makanan itu boleh dimakan oleh umat muslim.

  16. 16 lambrtz 22/05/2011 at 9:25 PM

    Nah itu dia orangnya. Jeli juga Uni, cepat membedakan yang tampan dari yang kurang tampan dan tampan sekali:mrgreen: *dihajar*

    Sebenarnya penekanan pertanyaan saya bukan di yayasan Hindu yang memanage restorannya, tapi karena ketidakadaan label halal di sana. Walaupun musti diverifikasi lagi, mayoritas orang India AFAIK tidak mengkonsumsi babi (dan sumber makanan lain yang diharamkan di Islam) dalam berbagai bentuk, seperti gelatin. Yang di kasus bang Ando sepertinya orang Asia timur ya. Cuma ya itu, karena asumsi saya semua orang yang memasak makanan itu beragama Hindu, restoran ini tidak bisa mendapatkan sertifikat halal.

    Jadi secara konsep sebenarnya ndak apa-apa, cuman pelaksanaannya tergantung pribadi masing-masing ya. Makasih atas penjelasannya Un, and welcome to the kembul bojana😀

  17. 17 Eon Strife 22/05/2011 at 11:41 PM

    @Ando

    Ohhhhhh, makasih penjelasannya

    @Akiko

    Ohhhhh, makasih penjelasannya

    @lambrtz
    Yg paling tampan itu saking tampannya hingga gak masuk dalam foto😀

  18. 18 itikkecil 27/05/2011 at 3:48 PM

    kalau saya selama tidak mengandung bahan-bahan tak halal ya makan saja. apalagi kalau gratis😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

May 2011
S M T W T F S
« Apr   Jun »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  
Click to view my Personality Profile page