Archive for June, 2011

Pernikahan

…-nya orang lain. Elitism alert.

Tiap kali saya mendapat kabar ada teman menikah, selalu ada perasaan berkecamuk , yang terkadang menghalangi saya untuk menyelamati mereka, karena saya pantang menyelamati tanpa hati yang penuh dan hanya demi basa-basi (that is to say, kalau saya menyelamati Anda pada perkawinan Anda, be glad, I appreciated your life path hahaha). Walaupun di satu sisi saya senang melihat mereka, di sisi lain saya selalu bertanya-tanya, dengan adanya dunia yang terhampar luas di depan mereka, tidakkah mereka ingin menjelajahinya terlebih dahulu? It’s like you have enough when actually you have just explored sakiprit portion of this world. Pemikiran ini dikarenakan, sebagian besar orang di sekitar saya yang sudah menikah hidupnya akan begitu-begitu saja: beli rumah, pagi kerja sore pulang, malam ngobrol, lalu berantem, lalu ML, repeat, kalau sudah punya anak, repot ngurus anak, dst. Sebagian besar dari mereka bakal memilih hidup mapan, bukan seperti pasangan Pierre Curie – Marie Sklodowska, Noam Chomsky – Carol Schwatz, Hu Jia – Zeng Jinyan, Munir Said Thalib – Suciwati (walaupun majunya bergantian), dan lain sebagainya, yang maju bersama-sama menghadapi dunia. Tapi ini nanti dulu. Kalau mereka dihadapkan pada argumen seperti ini, jawabannya biasanya, “demi ibadah”, “demi kebahagiaan”, dan seterusnya. Jadi mana sih yang lebih penting sebenarnya, menjadi bahagia atau menjadi berguna? Saya pernah mengutarakan pemikiran ini pada orang tua saya, dan saran mereka adalah, “Lah mereka ini ndak usah dipikir!”, yang sebenarnya sangat logis. Cuman yaah sebagai seorang elitis saya tidak bisa tidak bepikiran bahwa [ sensor ] [ sensor ] [ sensor ] [ sensor ] [ sensor ] [ sensor ]. Anyway, my response to this pattern? This. I don’t want a supporter; I want a fellow combatant, to live with extraordinarily! Cool story bro!

Advertisements

Jealousy

Being familiar to a number of Japanese pop literature, like manga, anime, and movies, I found one recurring pattern. Finding love is not traditionally as hard as in my home country of Indonesia. By traditionally, I mean in terms of culture and religion.

Let me present this scenario. Many people start falling in love in high school or university (or their equivalent). Me too. I suppose in Japan, most of those who study in high schools and universities are also Japanese. Therefore, we can assume that love-based relationships between fellow Japanese are the majority. As it has been known, Japan is relatively homogeneous, so there is no big problem in finding mates, because almost everybody shares the same cultural background. Yes there are Ainu, Chongryon, Chinese Japanese, Brazilian Japanese, Christian Japanese, Moslem Japanese, but most of them are still ethnic Japanese with Shintoism and Buddhism backgrounds. There is almost no need to hold feelings, just because the person you love have different background. This came into my mind, because there is almost no mention of Japanese couples having problems to share loves because of their backgrounds in the pop literature. I think I only found one, in the manga Kenji, because the female protagonist comes from a yakuza family. I consulted a friend who had stayed for a long time in Japan, whether this only happens in comics, but, well, it is the truth. I cannot find any Japanese movie like the Indonesian indie movie Cin(t)a, which tells a bittersweet love story between a couple having different religions. Yes, as most of my readers are aware of, this happens a lot of times in Indonesia (and also in many heterogeneous countries), especially if you are a minority, like me. Even after moving to a foreign country (Singapore), I still belong to the minority. Christian Javanese. Javanese is considered Malay here. More than 99% of Malay people are Moslem, and most of people who attend my church are either Chinese, Indian, or Filipino. We have to hold feelings very often, because there is a big chance that you might fall in love to people who, rather than belonging to your community, belong to the unmarriageable communities.

Hi, teens in Japan. I am jealous at you. I don’t like the condition in many heterogeneous countries, and I just hope sooner of later this prevailing barrier disappears, even after I expire.

Oh wait, at least at this era I can try my luck with Spanish women. I heard many of them were super.

Sara Carbonero

Sara Carbonero, via Wikipedia

Motivation to Love

You are the strength, that keeps me walking.
You are the hope, that keeps me trusting.
You are the light to my soul.
You are my purpose…you’re everything.

How can I stand here with you and not be moved by you?
Would you tell me how could it be any better than this?

I have recently finished this Smash! manga, which tells about a bunch of Japanese teenagers pursuing their dreams to be top badminton players. I thought this was going to be Captain-Tsubasa-ish, or at least Shoot-ish, but it turned to be Salad Days-ish, yet I still finished the manga. Anyway, there is one topic that I still cannot understand. At one point, one of the male protagonists confesses that his main motivation behind his dream to be a top national badminton athlete is his girlfriend, one of the female protagonists. Apparently the latter, as a child prodigy, develops faster than the former, and the former tries to catch up with the latter. Had he not met her, he might probably have taken different life path, as he originally was not fascinated at badminton, even though he was quite good at it, before meeting her. After that, I found similar topic in the song attached in this post, after dnial posted it on Facebook. What causes my confusion is, why is it that some people need to have love to advance himself/herself? Thanks to my parents who gave me comics about the lives of well-known scientists like Isaac Newton and Albert Einstein when I was a kid, I have been self-motivated for the whole of my life. That’s why I don’t get how the philosophy which these people adhere to. In addition, as an elitist, honestly speaking, I consider them [censor][censor][censor][censor][censor][censor]. dnial mentioned that some people at some time do get stuck at some moments of their lives, which is a reference to the famous U2’s song, which I also fail to understand: I was stuck to my unrequited first love for 6 or 8 effin’ years, depending on the version you believe in, and I always remain the old self-motivated lambrtz. Well I considered dnial’s subsequent comment as an ad hominem, so I am moving my question here.

Me? I have different motivation to love, and it is another story.

Culture

I have to express that I don’t match with that culture. Yes, I mean that. So I have to pick the path which leads to the right culture. Forget other cultures, forget other cultures, just let people have their lives as they wish, but lead your own path, have your own culture, do not deride, no, do not care about other people. Just live your life correctly, according to your truest style.

You also agree with me, right, A?

Keilmuan

Beberapa tahun lalu ketika saya mulai mengokohkan pemijakan kaki di ranah blogosphere, saya menyadari bahwa banyak teman blogger yang fasih benar tulis-menulis dalam bidang Filsafat, termasuk bidang yang secara populer langsung berkaitan, misalnya Agama. Generalisasinya pun sedikit banyak mempengaruhi saya: semakin teoritis sesuatu, semakin tinggi nilainya. Filsafat itu keren! Dan kalau ketika saya bicara tak banyak orang yang memahami, itu juga keren! Makanya yang teoritis-teoritis itu sebaiknya mendapat posisi yang tinggi di hirarki keilmuan! Tapi itu dulu. Sekarang saya berpendapat sebaliknya. Yang berguna buat orang-orang, itulah yang menempati posisi yang tinggi. Ada beberapa hal yang membuat saya berpikir begini. Pertama, saudara Esensi yang lama berhenti menulis tentang Filsafat. Kedua, penemuan saya bahwa banyak penelitian dalam bidang saya yang tidak menarget apa yang menjadi masalah sebenarnya di dunia nyata. Ya, cara A dan B itu benar dan terbukti, tapi bukan itu masalahnya! Saya pernah sinis dengan Matematika murni. Ambil contohnya, konjekturnya Goldbach. “Setiap bilangan bulat genap positif yang lebih besar dari 2 bisa ditulis sebagai hasil penjumlahan dari dua bilangan prima.” Jujur saja, saya ga ngerti apa aplikasi konjektur ini di dunia nyata. Walaupun, ya, saya ndak mengharuskannya untuk ada sih, karena ini kan domainnya Matematika murni, dan yang tertarik dengan hal ini ya ahli Matematika murni. Orang komputasional seperti saya sepertinya kurang dapat mengambil manfaatnya, walaupun saya tetap terbuka untuk kemungkinan sebaliknya. Tapi, hal ini membuat saya berpikir bahwa ahli Matematika murni lebih suka bersenang-senang dengan orang di lingkaran internal mereka, di dalam dunia kecil mereka. Oleh karena itu, saya sempat delusional dengan dunia keilmuan dan riset, sebelum saya memutuskan untuk, alih-alih menyerah, “mengembalikannya ke jalan yang benar”. Bahwa ilmu yang menghasilkan, yang menarget masalah di dunia nyata, yang membantu peneliti-peneliti di bidang yang berkaitan tapi tak sama, yang membantu hidup orang banyak, yang mengubah cara pikir orang banyak, yang dipandang tabu dan kontroversial karena bertentangan dengan norma-norma konservatif dan tradisional di masyarakat, itulah ilmu yang lebih tinggi, karena ianya bermanfaat. Teleponnya Bell. Teori evolusinya Darwin. Internetnya DARPA. Teori big bang-nya Lemaître. Triangulasinya Delaunay. Dan tentu saja ilmu-ilmu ini harus direalisasikan, tidak hanya mandeg di level wacana.

Separuh saja dari isi kepala saya. Separuh sisanya tak elok ditulis di sini.

Solitary

Dan aku kembali ke kehidupan semula. Contoh sempurna majas paradoks di buku pelajaran bahasa Indonesia di sekolah menengah. Di kota yang ramai ini aku sendiri. Bersandarkan tepian Jembatan Anderson di atas Sungai Singapura, menikmati pemandangan sore matahari bersiap-siap membenamkan diri. Melihat orang di sekitar, berjalan segerombolan, dengan pasangan, dengan anak, dengan teman-teman, dengan anjing peliharaan, satu, dua, empat, berlalu lalang bersepian dari kiri, kanan. Pikiran sejenak melayang ke dimensi tak nyata, dimensi virtual, dan mereka yang menjalani kehidupannya masing-masing. Ah, aku hanyalah manusia dengan standar moral terlalu tinggi, yang tidak bisa tidak menumpahkan sinisisme dan penghakiman terhadap hal-hal kecil yang menjadi sumber keindahan bagi orang lain. Ya, sekat. Ideologi, idealisme, agama, agama, agama, sekat. Sekat itu ada, tapi tak lah selalu ditemui tiap hari. Tergantung ke mana otakmu mengarahkan kaki. Ada di sini sekat. Tapi cobalah liat sedikit ke sekitar. Mereka tersenyum dan tertawa, sejenak melupakan kegundahan hati sehari-hari. Hidup tak selamanya indah, apalagi untuk orang sinis sepertiku, tapi kalau dilihat senyuman mereka, tidak bolehkah mereka menikmati sejenak? Dan mereka semua berjalan, berjalan, meninggalkanmu sendiri di sini, yang ironisnya telah meninggalkan orang-orang yang sejatinya ingin dirimu berada di samping mereka. Ah, aku jadi teringat. Tak jauh dari sini ada secercah memori. Tapi apa gunanya mengungkitnya dan menghampirinya kembali, hanya akan menambah sakit di hati. Ingin rasanya memori diperbarui.  Di mana?

.

.

.

Picture is taken from here.


lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

June 2011
S M T W T F S
« May   Jul »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  
Click to view my Personality Profile page

Advertisements