Keilmuan

Beberapa tahun lalu ketika saya mulai mengokohkan pemijakan kaki di ranah blogosphere, saya menyadari bahwa banyak teman blogger yang fasih benar tulis-menulis dalam bidang Filsafat, termasuk bidang yang secara populer langsung berkaitan, misalnya Agama. Generalisasinya pun sedikit banyak mempengaruhi saya: semakin teoritis sesuatu, semakin tinggi nilainya. Filsafat itu keren! Dan kalau ketika saya bicara tak banyak orang yang memahami, itu juga keren! Makanya yang teoritis-teoritis itu sebaiknya mendapat posisi yang tinggi di hirarki keilmuan! Tapi itu dulu. Sekarang saya berpendapat sebaliknya. Yang berguna buat orang-orang, itulah yang menempati posisi yang tinggi. Ada beberapa hal yang membuat saya berpikir begini. Pertama, saudara Esensi yang lama berhenti menulis tentang Filsafat. Kedua, penemuan saya bahwa banyak penelitian dalam bidang saya yang tidak menarget apa yang menjadi masalah sebenarnya di dunia nyata. Ya, cara A dan B itu benar dan terbukti, tapi bukan itu masalahnya! Saya pernah sinis dengan Matematika murni. Ambil contohnya, konjekturnya Goldbach. “Setiap bilangan bulat genap positif yang lebih besar dari 2 bisa ditulis sebagai hasil penjumlahan dari dua bilangan prima.” Jujur saja, saya ga ngerti apa aplikasi konjektur ini di dunia nyata. Walaupun, ya, saya ndak mengharuskannya untuk ada sih, karena ini kan domainnya Matematika murni, dan yang tertarik dengan hal ini ya ahli Matematika murni. Orang komputasional seperti saya sepertinya kurang dapat mengambil manfaatnya, walaupun saya tetap terbuka untuk kemungkinan sebaliknya. Tapi, hal ini membuat saya berpikir bahwa ahli Matematika murni lebih suka bersenang-senang dengan orang di lingkaran internal mereka, di dalam dunia kecil mereka. Oleh karena itu,ย saya sempat delusional dengan dunia keilmuan dan riset, sebelum saya memutuskan untuk, alih-alih menyerah, “mengembalikannya ke jalan yang benar”. Bahwa ilmu yang menghasilkan, yang menarget masalah di dunia nyata, yang membantu peneliti-peneliti di bidang yang berkaitan tapi tak sama, yang membantu hidup orang banyak, yang mengubah cara pikir orang banyak, yang dipandang tabu dan kontroversial karena bertentangan dengan norma-norma konservatif dan tradisional di masyarakat, itulah ilmu yang lebih tinggi, karena ianya bermanfaat. Teleponnya Bell. Teori evolusinya Darwin. Internetnya DARPA. Teori big bang-nya Lemaรฎtre. Triangulasinya Delaunay.ย Dan tentu saja ilmu-ilmu ini harus direalisasikan, tidak hanya mandeg di level wacana.

Separuh saja dari isi kepala saya. Separuh sisanya tak elok ditulis di sini.

30 Responses to “Keilmuan”


  1. 1 lambrtz 20/06/2011 at 12:17 PM

    Ini juga menjadi bukti kalau hasil dari menuliskan isi pikiran dalam satu paragraf besar, kendati runtut, tidak mudah dibaca. Begitu ya Mas ya.

  2. 2 Grace 20/06/2011 at 12:32 PM

    *puk puk*
    (komentar orang yang ga mendalami bidang di atas tapi somehow mengerti, mungkin)
    Btw, ayo semangat! :mrgreeb:

  3. 3 lambrtz 20/06/2011 at 12:56 PM

    Laah kenapa malah dipuk-puk ๐Ÿ˜† *bingung*

  4. 4 dnial 20/06/2011 at 2:12 PM

    Anti-intelektual anda… [-(
    Sesungguhnya pengejaran ilmu harus diberi tepukan tangan, karena cepat atau lambat pasti ketemu aplikasinya.

    *memang lebih baik cepat sih*

  5. 5 lambrtz 20/06/2011 at 2:30 PM

    Kalau tepukan tangan doang, pasti saya berikan kok. Orang waktu Lin Dan ngalahin Simon Santoso Jumat kemarin aja saya tetep ngasih tepuk tangan. :mrgreen:

    Kalau dilihat lagi, tulisan saya kok ada beberapa hole ya. Bentar coba saya perjelas di komen berikut.

  6. 6 lambrtz 20/06/2011 at 2:40 PM

    Benernya premis utama saya ini: bahwa ilmu itu harus dilakukan demi kemajuan peradaban manusia (atau spesies unggul penerusnya). Demi tujuan itu, riset mustinya 1) menarget apa yang menjadi permasalahan peradaban sebenarnya dan bukan cuma subset-subset kecilnya, lalu 2) dibawa ke level aplikasi / realisasi di masyarakat luas! Lima topik yang saya tulis di hampir akhir postingan itu IMO memenuhi semua. Contoh lain lagi yang sebenernya pingin saya masukkan tapi terlupa misalnya feminisme dan sexual revolution, yang AFAIK berawal dari concern filosofis segelintir individu saja, diobrolkan di lingkungan mereka, lalu menyebar luas dan diamini masyarakat lintas negara. Kalau Filsafat cuma berhenti di level ekspresi kegalauan seseorang untuk dibicarakan dengan teman yang notabene sudah mengerti, buat apa? Kalau Matematika cuma berhenti di obrolan minum kopi senja hari laiknya ngisi TTS, buat apa? Cuma jadi paper yang, walaupun mungkin highly cited, teronggok di repository ACM / IEEE / AMS / apapun saja. Alternatif lain ya Matematika menjadi semacam seni, dan ini jadinya ada di luar domain saya sih. Tetep saja saya kurang sreg dengan ilmu yang begini sih. Jadi semacam seni yang hanya bisa dinikmati seniman, karena untuk menikmatinya pun kita harus punya fondasi keilmuan itu, sementara bahkan di dunia seni sebenarnya orang non-seniman juga bisa menikmati seni itu. Omong-omong ini berpotensi untuk menjadikan “kasta-kasta” dalam lingkungan akademisi sendiri, seperti halnya di seni ada alay, hipster, elitis dan sebagainya. ๐Ÿ˜† Anyway kalau yang macam begini mestinya bukan anti intellectualism kan.

  7. 7 lambrtz 20/06/2011 at 3:00 PM

    …kok masih merasa acakadut. Apalagi yang kurang ya?

  8. 8 dnial 20/06/2011 at 3:10 PM

    Bukannya riset itu untuk memenuhi keingintahuan manusia?

  9. 9 lambrtz 20/06/2011 at 3:16 PM

    Terus kalo udah tahu diapain? Kalo cuma sampe “Ooo…gitu toh ๐Ÿ˜€ “, buat apa? ๐Ÿ˜€

  10. 10 sora9n 20/06/2011 at 4:12 PM

    @ lambrtz

    โ€ฆkok masih merasa acakadut. Apalagi yang kurang ya?

    BAGI PARAGRAF YANG BENER, ITU NOH KURANGNYA ๐Ÿ˜ˆ KOMEN UDAH PAKE POIN MASA MASIH RENTENG-BERENTENG ๐Ÿ˜ˆ

    *bunyi SFX cambuk*
    *ctar*

  11. 11 sora9n 20/06/2011 at 4:15 PM

    *komen sesuai topik*

    Ya ndak lah, sains murni itu penting. Di samping alasan yg dibilang dnial di atas, ada lagi yang lain. Sains itu membantu kita mengenal diri sendiri. Mempelajari tempat di alam, bagaimana cara kerja dunia yg kita tinggali, dsb. We are we and our circumstances. Nah ini hal yang bersifat priceless. ๐Ÿ˜›

    Dari pengetahuan itulah, kita mengembangkan bagaimana baiknya, meng-harness kekuatan alam. Dan memenuhi kebutuhan secara bijak. Sebagaimana sering dibilang: “barangsiapa menyerahkan suatu perkara bukan pada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.” (=3=)/

    Filsafat dan matematika murni juga ga sepenuhnya jelek kok. Mereka itu kan ibaratnya menyediakan building block. Matematika diolah buat engineering; Filsafat diturunkan jadi etika, ilmu politik dsb. Dari yang sudah terungkap tinggal dipilih. Kalau building block-nya ga ada, mau memajukan praktis pasti bakal terhambat. :-/

    *IMHO, CMIIW*

  12. 12 lambrtz 20/06/2011 at 4:44 PM

    BAGI PARAGRAF YANG BENER, ITU NOH KURANGNYA ๐Ÿ˜ˆ KOMEN UDAH PAKE POIN MASA MASIH RENTENG-BERENTENG ๐Ÿ˜ˆ

    Doh, dude, that’s a work of satire -_-
    sambil mengorbankan pembaca :-“

    Untuk komen berikutnya:

    Maaf kalau kurang jelas dan, ya itu tadi, acakadut, tapi saya sebenarnya ndak sedang menyinisi ilmu murni sih, melainkan ilmu murni yang…yang apa? Yang ndak memenuhi dua kriteria di komen #6 dari saya. Saya setuju dengan skema building block Sodara sora9n, bahwasanya ilmu-ilmu ini sebenarnya saling membantu. Salah satu contoh yang saya tulis di postingan ya triangulasi Delaunay, yang akhir-akhir ini juga saya pakai. Dulu mungkin masuk ranah Matematika murni pada waktu ditemukan, tapi ternyata sekarang banyak dipakai di, misalnya, Grafika Komputer. Cuman ya itu. Saya masih ndak ngerti faedahnya membuktikan Konjekturnya Goldbach itu, misalnya, termasuk demi alasan “membantu kita mengenal diri sendiri”. Apa konjektur ini sebegitu pentingnya sampai dana riset dikucurkan sebanyak itu buat para peneliti untuk membuktikannya? Saya berharapnya investasi ini ndak sia-sia dan konjektur ini bisa masuk ranah aplikasi sih. ๐Ÿ˜•

    Mindset saya mungkin udah terlanjur mindset engineer sih…

  13. 13 sora9n 20/06/2011 at 7:51 PM

    Apa konjektur ini sebegitu pentingnya sampai dana riset dikucurkan sebanyak itu buat para peneliti untuk membuktikannya?

    Barangkali itu bukannya tidak berguna. Cuma kitanya saja yang belum paham. (ninja)

    *ahem*

    Yaah, per saya pribadi sih, saya juga punya sentimen rada mirip ke ide2 yang terlalu pure. Saya sendiri didikan engineering science, jadi bisa agak paham dgn mindset MIPA murni. Walaupun juga merasa bahwa pragmatisme harus diutamakan.

    Ambivalen sih soal apakah ide-ide ‘langitan’ macam homotopi/manifold/digit ke-duamilyar pi itu layak dapat grant. Pengennya ya, penemuan sains itu yang ‘menyetir’ perkembangan matematik — jadi ga sepenuhnya mengawang. Kira-kira macam kalkulus Newton lah. Ada gejala apa, matematiknya dibangun dari situ. Tapi ya ini kan maunya saya. ๐Ÿ˜•

    (para profesor matematika murni pastinya gak setuju, tapi itu cerita lain lagi ๐Ÿ˜› )

  14. 14 lambrtz 20/06/2011 at 8:08 PM

    Nah, ndak usah dicoret, persis itu maksud saya di komen sebelumnya. Mungkin kita (umat manusia) belum sampai pada tahap mengerti aplikasinya. Walaupun itu konjektur umurnya sudah 2-3 abad. Berapa lama lagi ya sampe aplikasi? Dan pada periode itu konjektur-konjektur baru muncul, dibuktikan atau ditakbuktikan. Persentase yang lanjut ke level aplikasi adalah… *tutup mata* ๐Ÿ˜†

    Kalau topik-topik yang lain, saya ga segitu familiar. Tapi tentang manifold, walaupun saya pada saat ini belum bisa menjabarkan (mungkin ntar kalo dah dipublikasi), trust me it matters. Ini salah satu latar belakang nulis postingan ini. :mrgreen:

  15. 15 Gentole 21/06/2011 at 3:00 AM

    saya benar-benar berniat belajar matematika hanya karena ingin tahu benar bagaimana caranya para ilmuwan sampai pada satu kesimpulan tertentu tentang alam semesta. ini klise tapi buat saya ga ada kata terlambat buat belajar dan saya gak percaya kalo ada orang yang bener-bener bodoh dan bener-bener pintar. kalo niat siapapun saya kira bisa melakukan apa saja. kalo ga bisa, ya mungkin kurang niat, atau sial. :p soal kontribusi buat peradaban, saya kira pikiranmu ada benarnya. ini emang soal pilihan, meski demikian, sains/matematika murni dan filsafat bukan tak berguna lah. bukannya sudah jelas kalo sains murni yang memberi jalan pada teknologi โ€” yang kau bilang kontribusi terhadap peradaban? tapi, yah, pada akhirnya, orang mencari makna/kebahagiaan hidup dan makna/kebahagiaan ini bisa berarti macam-macam buat setiap orang. buat saya, hidup itu puisi, katakanlah keseharian yang puitis: melihat bulan, melihat bintang, jalan kaki sendirian di malam hari, menghayati melankoli, dll.buat saya peradaban sudah cukup jauh. saya ga tau apa saya ingin peradaban lebih maju lagi. mungkin terlalu mengerikan. mungkin.

  16. 16 lambrtz 21/06/2011 at 10:27 AM

    Hahahaha itu bukan karena komentar orang di blogmu kan? ๐Ÿ˜›
    Read about it dude, menarik kalau dibaca sebenarnya ๐Ÿ˜€

    Tentang sains murni, seperti saya tulis di komen ke sora9n, saya ga menyinisi sains murni, tapi sains murni yang ndak sampe ke level realisasi / aplikasi, contohnya seperti Konjekturnya Goldbach yang saya tulis di postingan itu. Saya harap sih masalah waktu saja sebelum itu sampai ke sana. ๐Ÿ˜•
    Kalau puisi ya…ada kok estetika dari sains dan teknologi, bisa dijadikan sumber melankoli juga nantinya :-” *nyanyi: planets meeting face to face, bound to the air how sweet dst*

    buat saya peradaban sudah cukup jauh.

    Not that far, Dude. We haven’t got anti-AIDS medicine, inter galaxy spacecraft, suspended animation technology, aaaaand…a proof that P is equal or not equal to NP yet! :mrgreen:

  17. 17 lambrtz 21/06/2011 at 10:44 AM

    BTW, sora9n, cepat sembuh ya. ๐Ÿ˜€ :-*

  18. 18 sora9n 21/06/2011 at 6:55 PM

    @ gentole

    Pakai e-book awalan kalkulus aja masbro. ๐Ÿ˜€ Ada yang bahasannya cukup populer, ga teknis seperti di kuliah MIPA/teknik. Kalo tertarik nanti saya kirim link unduhannya via japri.

    (jangan di sini, soalnya melanggar ToS wordpress. dulu oom Matt suka galak soal begituan)

    [review amazon buku ybs]

  19. 19 sora9n 21/06/2011 at 6:56 PM

    @ lambrtz

    Yup, terima kasih. ^^

  20. 20 lambrtz 21/06/2011 at 7:55 PM

    @gentole
    Boleh coba baca buku ini kalo ketemu masbro, barangkali buat bacaan setelah buku yang disarankan sora9n:
    Link 1
    Link 2
    *kabur*

  21. 21 Gentole 22/06/2011 at 6:58 AM

    @sora9n, lambrtz
    .
    Hahaha sama sekali bukan karena komentar di blog. Tapi karena Brian Cox. Salah satu kelemahan buku dia kata orang adalah terlalu patronizing sama orang yang malas berurusan sama matematika. Dan lagian saya juga sekedar siap-siap aja ikut GRE. Hidup begini singkat, sayang juga melewatkan beberapa hal yang menurut saya menarik. Anyway, sains mana bisa melankolik. Kalo melankolik, puisi namanya. ๐Ÿ˜› Oh, iya, peradaban sudah terlalu jauh. Misalnya satu saat ketemu obat kekal; obat mati. Nah, itu mengerikan. Sangat mengerikan. People have to die.

  22. 22 Gentole 22/06/2011 at 6:58 AM

    btw you two makasih sarannya ๐Ÿ˜€

  23. 23 lambrtz 22/06/2011 at 12:46 PM

    Anyway, sains mana bisa melankolik. Kalo melankolik, puisi namanya.

    Pure mathematics is of no use, and that’ because it rather has aesthetic side than practical side. ๐Ÿ˜ฎ

    Oh, iya, peradaban sudah terlalu jauh. Misalnya satu saat ketemu obat kekal; obat mati. Nah, itu mengerikan. Sangat mengerikan. People have to die.

    We are just afraid of the unknown. ๐Ÿ˜Ž

  24. 25 bangaiptop 22/06/2011 at 5:44 PM

    Cuma jadi paper yang, walaupun mungkin highly cited, teronggok di repository ACM / IEEE / AMS / apapun saja

    Omong-omong soal paper di repo. Tumpukan paper itu sempat menyelamatkan nasib saya. Ceritanya sedikit memalukan (bahkan bisa dibilang sangat memalukan). Tidak jauh-jauh dari logaritma yang dikembangkan tiga periset tau.ac.il dibalik poker online. I triple E memang tidak menceritakan secara utuh hasil riset mereka, tapi saya tahu jika saya jalan lebih jauh dengan riset saat itu, maka saya akan jatuh ke wilayah abu-abu bahkan gelap plus ilegal. (*Hehe, logarithm ethics ternyata bukan hanya milik John Napier saja*)

    Hehe, sori saya OOT.

  25. 26 lambrtz 25/06/2011 at 10:22 PM

    Saya kok bingung maksudnya Bang. Jadi, paper yang berisi logaritma (atau algoritma?) itu membantu Bangaip di persoalan legal, begitu kah? ๐Ÿ˜•

  26. 27 Berita Pilihanku 30/06/2011 at 11:37 PM

    ngelmu menenangkan batin supaya berpikir jernih itu ilmu juga bukan ya? ๐Ÿ˜€

  27. 28 lambrtz 05/07/2011 at 9:31 PM

    Waduh itu di luar domain saya Mas :-SS


  1. 1 Arah Hidup « lambrtz's Blog Trackback on 08/03/2012 at 1:06 AM
  2. 2 On Research in Media Technology, Whether It Should Adhere to Public Demand or Fundamental « lambrtz's Blog Trackback on 15/03/2012 at 8:43 PM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

June 2011
S M T W T F S
« May   Jul »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  
Click to view my Personality Profile page