Archive for September, 2011

After Reading 5 Centimetres Per Second Manga

  1. Takaki now belongs to the League of Uber-Foolishness. That’s 23 levels below the Premier League of Awesomeness. He was in the 15th level of the pyramid.
  2. Akari, whilst still sharing a bit of Takaki’s trait, is much better.
  3. Kanae looks cute, energetic, and sexy, despite being flat-chested, as she proclaimed. Not that I hate flat-chestedness, anyway. It’s just too bad that I often resent unambitious people, but at least she made that effort. Having said that, it might be the case that I grew slight interest to her; too bad again, she’s not real.
  4. That surfer guy in the last chapter looks adorable. I mean behaviourally.
  5. How much feeling is a male person allowed to show? That’s the question I have been asking for quite some time. It seems to be the gender requirement, emerging from biological and cultural evolution, that a man is expected to behave more rationally, instead of being emotionally-driven, and that is also why I adhere to near-stoicism (well men are still human being after all, hence the near- prefix). I, as an INTJ, don’t like being emotional, and also don’t like being in emotional situations as well. That’s why I also choose to work in a field in which my I deal mostly with logic. Nevertheless, being emotional is sometimes inevitable, even for ones like me, but it’s like the society is against touchy-feely men. “Wooo bocah kae gembeng tenan. Wong lanang kok gembeng.” Something like that.

Inhumanity dan INTJ

Ellen Ripley, via Wikipedia

Ellen Ripley, via Wikipedia

Tadinya sih saya mau nulis bagaimana saya seringkali menjadi inhumane, menidaksukai orang-orang sensitif yang secara emosional kelewat mudah tersinggung dan meledak (plus saya musti berpikir 1637x untuk menentukan omongan yang pas sama mereka), hidup berdasar standar perfeksionisme dan idealisme yang saya bikin sendiri, menerapkan standar tersebut pada orang lain, diprotes orang-orang kelamin seberang jalan karena dianggap insensitif, mengagung-agungkan emotional stability plus rasionalisasi dalam kehidupan, dll dll. Namun, setelah membaca link yang tidak langsung didapat dari badge MyPersonality.info di sisi kanan halaman ini, saya pikir tidak perlu lagi saya menulisnya. Kalo ada yang tertarik, silakan kemari. Kepribadian INTJ termasuk minoritas di dunia, dengan jumlah populasi yang tidak sampai 4%, ya kali aja ada yang penasaran. Ternyata kepribadian saya ini stereotipikal INTJ sekali. 😆

Karena lelaki ingin dimengerti. 😛

Cara

Di dunia ini banyak orang yang berniat baik. Saya pun tentunya sebagai orang yang baik turut mendukung orang-orang seperti ini. Cuman masalahnya, seringkali cara mereka yang gunakan itu menyebalkan. Misalnya, orang-orang yang bergabung dengan organisasi macam **** atau **********. Niat mereka baik, cuman ya itu tadi. Caranya menyebalkan. Teriak-teriak di tempat umum, kepada orang yang sebenernya ga banyak sangkut pautnya terhadap misi yang diemban. Lah kalau begitu caranya kan orang jadi tidak simpati? Apa bedanya dengan orang fundamentalis yang ceramah agama dengan pemahaman literal di tempat umum? Ya mohon maaf juga kalau saya jadi sentimen terhadap mereka. Padahal kalau menurut perkataan John Lennon sang nabi, semuanya kan sudah jelas. Lumuri perkataanmu dengan gula, dan orang awam akan lebih mudah menerima.

Queen

Dalam rangka merayakan ulang tahun mendiang Freddie Mercury, yang banyak dikutuk kaum konservatif sosial dan fundamentalis karena homoseksualitas dan penyakit AIDSnya, saya ingin menulis top 3 lagu Queen yang menjadi favorit saya. Mari kita mulai dari nomor 3.

***

3) Fat Bottomed Girls

Hard rock sejati yang upbeat plus lirik lucu yang bikin semangat menyanyikannya. 😆

Main point: “Fat bottomed girls you make the rockin’ world go round” yang dinyanyikan secara harmonis.

***

2) Don’t Stop Me Now

Apalagi kalau bukan sexual innuendo-nya. 😆 Cocok didengarkan untuk Anda-anda yang sedang bersiap-siap berhubungan badan dengan agak rough dan meletup-letup bersama sang kekasih. *eh*

Main points: saya terbagi di sini.

  1. “Whoa, whoa whoa whoa whoa exploooooooooooddddeeeeee!!!!”
  2. Solo Brian May

***

1) Killer Queen

Menyukai lagu ini sejak pertama kali mendengarnya di kos teman saya pada masa-masa akhir kuliah saya di Jogja. Menonjolkan Freddie’s queerness at its finest. Perlu dicatat bahwa saya menggunakan kata queer dengan definisi jadulnya yang banyak dipakai di novel Inggris abad 19. 😛

Main point: permainan nada turun berturutan bas oleh John Deacon , dibarengi Freddie Mercury yang memainkan jemarinya di leher bass John secara sinkron.


lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

September 2011
S M T W T F S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  
Click to view my Personality Profile page