Memangnya Mampu?

Mumpung kerjaan rada berkurang intensitasnya, ngeblog lagi.

[Tadinya ada gambar, tapi setelah ngecek websitenya yang bikin, saya hapus, dan sebagai gantinya, silakan melihat ini]

Di kalangan masyarakat sekitar saya yang cenderung konservatif™, tema cinta dan pernikahan menjadi salah dua yang kerap didengung-dengungkan. Gambar di atas itu menampilkan salah banyak harapan orang yang sering saya jumpai. Bentuk hubungan terbaik lah, sumber dari sumber segala kebahagiaan lah, segala macam. Dan tentunya, mengingat saya orang yang sinis, hal ini selalu berhasil bikin saya depresi. Kenapa? Karena begini.

Memangnya situ pikir nikah itu enak? Manis? Bahagia selama-lamanya? Nope, Chuck Testa Mas/Mbak.

Sebagai permulaan, kata sebuah riset, cinta itu efeknya mirip seperti efek narkoba. Euforia yang diberikan, dan daerah otak yang teraktivasi, mirip dengan khasiat kokain. Love is a legal drug, and it can go wrong. When it does, it can be fatal.

Kemudian, silakan renungkan ini. Bersediakah Anda setia kepada keluarga Anda, ketika…

  • …Anda bosan dengan pasangan Anda?
  • …Anda bertemu cinta pertama Anda? Ada kasus di Inggris ketika seorang suami membunuh cinta pertama istrinya karena sang istri ini, yang sudah dinikahinya selama puluhan tahun, selingkuh dan kembali pada cinta pertamanya. [link]
  • …Anda tiba-tiba naksir pada orang lain?
  • …pasangan Anda dipecat, atau menghadapi cobaan besar dalam hidupnya?
  • …pasangan Anda membutuhkan Anda dalam karirnya? Ada contoh yang bagus dari sepasang penjual makanan di Singapore. [link]
  • …pasangan Anda, yang biasanya setia, tiba-tiba khilaf tapi kembali lagi kepada Anda?
  • …pasangan Anda lumpuh? Seorang vikaris (pendeta?) di Inggris menikah lagi dengan wanita lain setelah istrinya terkena Alzheimer dan lupa akan pernikahan dengannya. [link]
  • …pasangan Anda nyaris kehilangan akal sehatnya? Adalah Christina Maslach, kekasih dan, kemudian, istri dari Philip George Zimbardo, yang berinisiatif untuk menghentikan eksperimen penjara Stanford. Katanya, kalau dia cuma orang biasa, dia akan kabur, tapi karena ini adalah orang yang dicintainya, dia tidak ingin kehilangan perasaan itu. [link]
  • …pasangan Anda menjadi orang radikal?
  • …anak Anda terkena penyakit yang tidak umum, sedemikian sehingga Anda harus merawatnya secara full-time dan mengorbankan karir Anda yang sebenarnya prospektif?
  • …anak Anda tersandung narkoba?
  • …dan banyak lagi.

Berat? Otentusaja. Ringan? Yakin? Yang jelas ini sebenarnya cuma penulisan ulang dari janji-janji pernikahan yang ada di berbagai macam tradisi, budaya, dan upacara keagamaan. Nyatanya, di sekitar saya saja banyak yang tidak bisa memenuhi ini, apalagi kalau ditambah orang-orang di sekitar Anda, para pembaca. Ya walaupun tentu saja banyak juga yang berhasil. Yang jelas, kalau belum menempuh fase-fase macam ini, bisa dibilang hubungan Anda dan pasangan Anda belum teruji.

Anyway, saya tentu saja pernah mengalami fase-fase pengaminan idealisme cinta™ macam gambar di atas, terutama pada masa muda dulu™. Tapi ketika saya tersadar akan hal ini, segala hal seakan ter-reset, dan saya jadi bertanya kepada diri saya sendiri. Bagaimana bisa saya dulu suka sama ini-itu-anu tanpa memikirkan hal-hal ini? Gimana kalau ada apa-apa sama mereka, emangnya saya siap mau dan mampu menolong? Ini yang menjadi PR saya buat ke depannya.

Akhirul kalam, saya cuman mau bilang, terutama buat Anda-anda yang memang menganggap pernikahan itu sakral, atau setidaknya bukan buat main-main, pernikahan itu susah. Namun, sebagai penyemangat, kalau Anda bisa mempertahankan cinta yang stabil dalam jangka waktu yang lama, konon kabarnya romansa tetap bertahan seumur cinta Anda dan pasangan Anda (atau kemari untuk artikel ilmiahnya). Tapi ya itu. Kalau bisa bertahan stabil dalam jangka waktu yang lama. Cinta monyet anak muda yang saling obsesif tentunya tidak termasuk.

28 Responses to “Memangnya Mampu?”


  1. 1 itikkecil (males login) 14/11/2011 at 11:42 PM

    i don’t know, but i’m still in love with my boyfriend everyday.
    puppy love? maybe🙂
    *malah curcol*

  2. 2 lambrtz 14/11/2011 at 11:46 PM

    Cepet banget😯
    Anyway, curcollah selagi curcol belum dilarang :-“

  3. 3 lambrtz 14/11/2011 at 11:51 PM

    Eh lagunya mestinya ini ding😆

  4. 4 Grace 15/11/2011 at 12:03 AM

    Halah, ini obrolan terakhir dulu itu juga bukan sih?
    Berat emang, banyak yang harus dipikir ya? Tapi katanya, hal-hal begini ini hal yang kita ga akan tahu jawabannya sebelum ngerasain sendiri..
    Ah yu, bikin makin galau saja [-(

  5. 5 lambrtz 15/11/2011 at 12:35 AM

    Ya dan tidak. Keinginan nulis ini udah muncul beberapa hari/minggu sebelumnya, tapi ya gara-gara paper jadi tertunda.😛

  6. 6 lambrtz 15/11/2011 at 12:36 AM

    Eh salah, mustinya “tapi ya musti ditunda demi paper.”😆

  7. 7 Ms. Plaida 15/11/2011 at 10:44 AM

    Bagus juga tuh daftarnya, mungkin harus dibikin kuis, minimal bersedia menjalani 5 dari 11 berarti udah siap nikah, hehehe.

    Perasaan romantis itu cuma bertahan beberapa tahun pertama kok, maka sisanya diisi dengan perasaan eman, sayang.
    Buat saya sih, secinta apapun, klo mau nikah logika tetep kudu maen. Mungkin saya aneh ya, cuma ya begitu deh..Selama saya pikir saya punya kapasitas, mungkin berani.

    Klo ngga ya, klise sih.. “Saya ngga cukup baik buat kamu”, salah satu kalimat menyebalkan, abis klo cinta mah, klo udah tau ngga cukup baik harusnya berusaha memperbaiki diri dong. 😆

  8. 8 lambrtz 15/11/2011 at 7:25 PM

    Apakah terpikir untuk bikin list yang panjang buat janji pernikahan?😛

    Walaupun saya tetep terbuka buat kemungkinan perasaan romantis untuk jangka waktu yang lebih lama, buat saya memang logika musti main dari awal. Ini yang orang kayanya sering lupa kaya dah pengalaman aja😆

    Tapi ya…kalo pasanganmu bilang “Saya ngga cukup baik buat kamu”, ya kalo dia pergi ya udah to, wong dianya juga ga merasa siap :-“

  9. 9 dnial 15/11/2011 at 11:52 PM

    Dude, you think too much…

  10. 10 lambrtz 16/11/2011 at 12:38 AM

    You don’t expect me to think less, do you.😆

  11. 11 Takodok! 16/11/2011 at 7:53 AM

    orang sekitar saya ndak ada yang bilang nikah itu gampang, tapi toh mereka menjalani itu juga. Kenapa? Ya karena ada yang khilaf mau menjalani masalah itu (pake kata masalah karena daftar di atas loh ya) bersama mereka, apapun latar belakangnya😀

  12. 12 lambrtz 16/11/2011 at 9:31 AM

    Khilaf? Kok khilaf?😆

  13. 13 christin 16/11/2011 at 10:29 PM

    ya mampu lah… kan pake kekuatan sinar bulan cinta…

    *huek*

    no, I don’t believe in love. not really. I think it’s just commitment and friendship love what remains in the following decades. that, if thing doesn’t go wrong in the first 5 years😆 *jahad*

  14. 14 lambrtz 17/11/2011 at 12:24 AM

    Ah masaaaa. Coba tanya dirimu 5 tahun lagi. Masih sama ga percayanya ga ya😉
    Kalo saya rada materialistis sih. Saya percayanya itu semua reaksi kimia di dalam tubuh kita.😆 (mbakyu mestinya lebih ngerti)

  15. 16 arm 18/11/2011 at 5:52 PM

    ndang rabi, dab™
    😆

  16. 17 Ando-kun 22/11/2011 at 11:51 PM

    Pertama, saya tahu dan sadar kalau menikah itu berat dan banyak pertimbangannya, tapi koq saya juga mikir tidak menikah (melajang) juga sama beratnya dengan alasan berbeda.
    Pada akhirnya, kalau ada dua hal yang sama beratnya dan anda dipaksa harus pilih salah satu ketika masih hidup, apakah anda akan memilih atau tidak memilih sama sekali (alias mati aja)?

    Terakhir, kebanyakan list diatas diberikan contohnya berupa link.
    Ada satu point yang ingin saya kasih link ttg kisah nyata pengorbanan orang tua demi anaknya yang sakit langka seperti yang situ tulis:

    …anak Anda terkena penyakit yang tidak umum, sedemikian sehingga Anda harus merawatnya secara full-time dan mengorbankan karir Anda yang sebenarnya prospektif?

    Dan mereka adalah keluarga Odone

  17. 18 lambrtz 23/11/2011 at 12:06 AM

    @Butterfly Menikmati Dunia
    Harus beli yang kami jual aja, lain ga boleh😈

    @arm
    Awakmu sik dab😆

    @Ando-kun
    Ah Lorenzo’s oil! Dulu pernah saya nonton filmnya di TV malem-malem. Keren orang tuanya, riset termotivasi penyakit anaknya.😀

    Tentang list di atas, sepertinya saya terpengaruh doktrin agama saya yang mengharamkan perceraian, makanya standar untuk ini tinggi sekali, dan melihat beberapa kejadian di sekitar, kadang saya tanya ke diri sendiri, apa bisa saya menangani hal-hal di atas itu semua. Kalau lajang kan everything’s on my own.😛

  18. 19 Ando-kun 23/11/2011 at 1:24 AM

    Kalau lajang kan everything’s on my own.

    Kembali ke judul atas: Memangnya Mampu?😈

  19. 20 lambrtz 23/11/2011 at 1:27 AM

    Setidaknya kalau hidup saya hancur, saya ga menghancurkan hidup orang lain😛
    Lagipula > 90% hidup saya sejauh ini saya habiskan sebagai single, jadi ya… :-??

  20. 21 Butterfly Menikmati Dunia 24/11/2011 at 1:20 AM

    Emang situ jualan apa ya? Saya sukanya popcorn manis *makin absurd*

    Btw jatuh cinta lah kisanak…perkara nanti mau dinikahin atau ngga, itu perkara kesepakatan kedua belah pihak. Nikmatnya jatuh cinta itu bikin kita jadi centil. Dan kamu pasti unyu kalau centil hehehehehehe *nyengir sambil mamerin sisa popcorn manis nyempil di gigi*

  21. 22 lambrtz 24/11/2011 at 1:28 AM

    ^
    Postingan di link ini umurnya sudah dua tahun lebih. Dalam kurun waktu tersebut, saya udah berulang kali mengalami perubahan pemikiran dan perasaan. Tapi saya masih mengamini ide di postingan tersebut.

    Makanya, saya mengikuti jalan hidup satunya, bahwa pacaran hanya untuk persiapan menikah.

    Mekaten nyai.😛

  22. 23 Butterfly Menikmati Dunia 24/11/2011 at 6:09 PM

    Eh mekaten apa ya artinya…?

  23. 24 lambrtz 24/11/2011 at 10:18 PM

    Mekaten itu artinya begitu, nyai.😛

  24. 25 Butterfly Menikmati Dunia 25/11/2011 at 11:59 AM

    aaaaa…..i see….i see….bahasa apaan apaan itu?

    Oiya, makasih udah diartiin ya pinguin imut :p

  25. 26 ibeng 28/11/2011 at 11:33 PM

    Bersyukur gue sudah melewati masa-masa seperti itu.
    sekarang,gue sedang sibuk membagi tugas.

  26. 27 yisha 16/12/2011 at 10:25 PM

    oh? lagu bagus…. 🙂


  1. 1 Agnes Chan – Hinageshi no Hana, dan Mid-life Crisis pada Usia 20an (?) « lambrtz's Blog Trackback on 04/08/2012 at 2:42 AM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

November 2011
S M T W T F S
« Sep   Dec »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
Click to view my Personality Profile page