Archive for December, 2011

The Bear and The Knight

A turtle shouted to a crocodile

“You stepped on me!
You didn’t step on me!
You stepped on me!
You didn’t step on me!
You stepped on me!
You didn’t step on me!
You stepped on me!
You didn’t step on me!
You stepped on me!
You didn’t step on me!
You stepped on me!
You didn’t step on me!
You stepped on me!
You didn’t step on me!
You stepped on me!
You didn’t step on me!
You stepped on me!
You didn’t step on me!
You stepped on me!
You didn’t step on me!
You stepped on me!
You didn’t step on me!
You stepped on me!
You didn’t step on me!
You stepped on me!
You didn’t step on me!

Whether you stepped on me or not,
it does not matter,
because even at the end of time,
no banana can be harvested from this soil.”

Advertisements

Christmas Gibberish

Akhir-akhir ini saya jadi produktif ngeblog. Maklum, dekat deadline. 😆

***

You have heard that it has been said: An eye for an eye, and a tooth for a tooth. But I say to you not to resist evil: but if one strike you on your right cheek, turn to him also the other: And if a man will contend with you in judgment, and take away your coat, let go your cloak also unto him. And whosoever will force you one mile, go with him other two. Give to him that asks of you, and from him that would borrow of you turn not away.

Mat 5:38-42

Dulu sekali, waktu pertama kali saya diajarkan tentang ayat-ayat ini di pelajaran agama, yang terbayang di benak saya adalah bahwa dalam meneladani Yesus, orang Kristen harus menghancurkan ego ketika ditindas, ketika didzolimi. Tidak boleh membalas. Beberapa orang juga menganggapnya sebagai ajakan untuk menjadi pasifis, untuk menolak kekerasan. Namun, sewaktu SMA, ada teman saya yang berpendapat lain, bahwa itu ajakan untuk melawan penindasan. Katanya, latar belakangnya begini. Pada zaman Romawi dulu, orang menampar dengan punggung tangan sebagai bentuk penghinaan, dan kalau menampar dengan posisi begini, yang kena duluan pipi kanan bukan? Nah, menurut kawan saya ini, Yesus menyuruh pengikutNya untuk menyodorkan pipi kiri, sebagai bentuk ketidakpatuhan, sebagai bentuk resistansi, bahwa kita harus fight ketika ditindas. Sepertinya ada beberapa pendapat lagi tentang ayat-ayat ini (misalnya bisa baca artikel Wikipedia ini), tapi buat saya keduanya cukup dan sama bagusnya. Saya pribadi mencoba menyeimbangkan keduanya, dengan memahami teks ini sebagai himbauan untuk melawan penindasan tanpa jalan kekerasan.

Kenapa saya nulis tentang ini? Kan khotbah di gereja bukan tentang ini?

Kalau melihat ke belakang, Kristen, khususnya Katholik Roma (karena saya ga kapabel bicara tentang denominasi lain), sudah mengalami fase-fase ditindas dan menindas. Pemahaman saya tentang tradisi Kristen adalah bahwasanya Yesus ditindas dengan disalib. Selanjutnya, pengikut-pengikut awal Kristus yang gantian ditindas. Konon kabarnya, 10 dari 12 rasul menjadi martir, mati dibunuh karena kepercayaannya. Namun, ajaibnya, beberapa ratus tahun kemudian, gantian orang Kristen yang menindas orang Pagan. Siklus ini berulang terus. Di satu sisi abad pertengahan ada Perang Salib, pengadilan Galileo Galilei, dan Spanish Inquisition, tapi di sisi lain dunia ada pengadilan Galileo Galilei (dia kan Katholik juga), dan penindasan terhadap Kirishitan. Pada zaman Modern, ada Kristen penindas dan Kristen tertindas. Perhatian saya belakangan ini terarah kepada para Kristen Arab (Chaldean, Orthodox, Koptik, dll) yang sering terlupakan oleh dunia internasional. Di Iran, Afghanistan, dan Irak mereka terdiskriminasi, sementara di Palestina dan Mesir mereka terdesak penguasa. Mereka orang native, sesama orang Kristen yang tidak terlihat oleh sesama umat Kristen di Barat yang powernya relatif dominan.

Itu di luar sana, dan sekarang saya mau kembali ke lingkungan saya.

Saya nulis ini habis selesai pulang Misa Natal. Saya senang bahwa di Singapore, walaupun kami juga minoritas, saya tidak melihat polisi berjaga-jaga di sekitar kami. Ini kontras dengan di Indonesia, mengingat sudah belasan tahun ini kalau saya Natalan di gereja, saya selalu melihat polisi dan anggota Banser-nya GP Ansor di luar gereja. Saya berterima kasih sangat  kepada mereka karena kepeduliannya terhadap kami kaum minoritas. Bahkan beberapa tahun lalu ada anggota Banser, namanya Riyanto, menemukan bom di gereja di Mojokerto dan membawanya lari, tapi bomnya meledak dan dia meninggal. Buat kami, dialah martir, yang berjihad sebenar-benarnya. Kalau bisa malah saya pingin usulkan beliau jadi Santo hahahaha. Yah begitu. Tapi, di sisi lain, adanya mereka yang menjaga ini malah penanda bahwa beribadah secara Kristiani tidak terlalu aman di Indonesia, bahwa bom bisa saja datang sewaktu-waktu. Itu yang ada di benak saya.

Ini memang kasus ekstrim, yang walaupun tidak banyak, sekali ada menghentak. Namun kenyataannya, beberapa praktek berkehidupan sehari-hari kurang menyenangkan buat saya. Misalnya, saya melihat reluktansi beberapa teman Muslim untuk mengucapkan selamat ketika kami merayakan hari besar, sementara kami, setidaknya saya, selalu menyelamati kalau teman-teman yang berbeda keyakinan, apapun keyakinannya, sedang ada perayaan. Jujur saja, saya kurang sreg dengan ini. Hubungan yang baik adalah hubungan dua arah, dan kalau cuma satu yang aktif, timpang. Beberapa bilang itu “cuma” ucapan selamat, tapi buat kami itu fundamental buat melihat seberapa diterimanya saya di pandangannya, dan apakah hubungan tersebut mutual.

Yah, suka dukanya jadi minoritas. Namun demikian, kembali ke ayat yang saya kutip di atas, ketimpangan, perlakuan kurang menyenangkan, apapun namanya, tidak baik untuk dibalas sedemikian rupa. Setidaknya secara umum, kami dianggap bagian dari masyarakat juga. Saya ingat ketika ada kelompok radikal Islam menyerang beberapa gereja di Temanggung, Jawa Tengah, beberapa bulan lalu, masyarakat sekitar menyelundupkan dan menyelamatkan para warga gereja lewat belakang gereja [link]. Contoh simpel lagi, saat ini orang tua dan adik saya sedang Natalan bersama-sama anggota keluarga besar kami yang lain di Malang, di rumah om kami yang seorang Muslim. Coba di Korea Utara. Mungkin kami sudah masuk kamp 22 dari dulu.

***

Kalau boleh mengaku, saya cukup bangga menjadi orang Katholik. Walaupun saya terlahir sebagai Katholik dari orang tua  Katholik dan dididik secara Katholik, kebanggaan ini boleh dibilang masih belum lama, karena saya baru menyadari hal-hal yang, walaupun saya ga berani bilang unik di komunitas kami, membuat saya bangga berikut ini. Pertama, sebagai komunitas kami sudah mengalami masa kegelapan, baik dalam soal fundamentalisme, penolakan sains, dan penindasan. Kami belajar banyak dari masa itu dan dengan berkaca kepadanya, mencoba menjadi lebih baik. Paus Yohanes Paulus II dulu meminta maaf atas dosa umat Kristen pada masa lalu. Kedua, tidak seperti pada zaman dulu, pada zaman modern ini, orang Katholik cukup terbuka terhadap sains. Berdasar Catechism of the Catholic Church, pendapat resmi Vatikan adalah bahwa teori evolusi adalah bagian dari sejarah dan menjadi sarana bagi kita untuk mengagumi ciptaan maupun kuasa Allah. Sepanjang pengalaman saya belajar di sekolah Katholik, kami pun mendapat pelajaran tentang teori ini tanpa embel-embel “cuma teori” (tahu maksudnya kan?). Selain itu, pencetus teori Big Bang, Georges Lemaître, pun seorang biarawan Katholik. Ketiga, setidaknya di sekitar saya, orang Katholik biasanya moderat, baik tentang pemahaman agama maupun perilaku sehari-hari. Beberapa lebih konservatif, beberapa lebih liberal, tapi mereka low profile dalam beragama, dan tidak ketat dalam menjalankan aturan-aturan yang kadang, saya pikir, cukup trivial. Buat saya, beragama tidak boleh membuat orang lain sakit hati. Keempat, terutama sebagai orang Katholik Jawa Indonesia yang tinggal di Singapura, menjadi minoritas membuat kami lebih toleran terhadap budaya dan kepercayaan lain. Dalam upacara-upacaranya, umat Katholik memasukkan unsur-unsur tradisi dan kearifan lokal, alih-alih menganggapnya “budaya lama” yang tidak sesuai dengan kaidah agama. Contohnya, dalam tradisi Jawa ada upacara 1 hari, 1 minggu, 40 hari pasca kematian seseorang, dan kami pun mengadakan ibadat pada hari-hari tersebut. Secara eksternal pun kami bisa toleran jika seseorang tidak mempercayai apa yang kami percayai.

Tapi yah ini manifesto doang. Pada kenyataannya, saya jauh dari orang Katholik yang baik. Ke gereja aja bolong-bolong, dan tentunya masih banyak hal lagi. Selain itu, menjadi minoritas berarti peluang menemukan jodoh adalah kecil. *eaaa curhat*

Sekian racauan saya. Eid Milad Majid buat semua pembaca yang merayakannya, dan selamat berlibur buat yang tidak merayakannya.

Jarak Topologis vs Jarak Geometris: Contoh Penerapan Formulasi Matematika Komputasional dalam Usaha Penyelesaian Permasalahan Sehari-hari

Saya sempat menulis sebuah draft yang idenya sama persis dengan postingan ini, tapi waktu itu saya terlalu elitis dengan membuatnya penuh simbol-simbol Matematika, memanfaatkan kode-kode Latex plus bahasa yang formal. Alhasil, ngetiknya jadi lama dan saya jadi malas menyelesaikannya. Pun itu orang juga belum tentu paham, jadi usahanya sia-sia. Makanya, ide itu saya tulis ulang di sini dengan istilah Matematika sehari-hari.

Katakan kita punya himpunan semesta S. Terus, kita terapkan algoritma clustering berdasarkan jarak geometris untuk mengelompokkan anggota-anggota S menjadi kelompok-kelompok yang anggotanya saling berdekatan…ya secara geometris. Maksudnya di sini adalah anggota-anggota yang secara fisik dekat. Mari kita namakan kelompok-kelompok ini menjadi G1, G2, dan seterusnya. Untuk saat ini, asumsinya mereka tidak saling tumpang tindih. Dengan kata lain, sebuah elemen hanya bisa masuk ke dalam sebuah kelompok macam ini. Kemudian, kita terapkan lagi algoritma clustering ke S, tapi kali ini berbeda, berdasarkan jarak topologis, untuk mengelompokkan anggota-anggota S berdasarkan kedekatannya secara topologis. Sepasang elemen unik dibilang dekat secara topologis jika dan hanya jika perjalanan antara kedua elemen tersebut termasuk mudah. Cluster-cluster hasil algoritma ini kita namakan T1, T2, dan seterusnya. Kita masih memakai asumsi ketidak-tumpang-tindihan yang serupa antar grup sejenis dengan sebelumnya. Sebagai catatan, mengukur jarak topologis kita anggap lebih sulit,  kompleks, dan lama daripada mengukur jarak geometris. Cuma, kesulitan pengukuran jarak topologis akan berkurang jika kita tahu bahwa jarak geometris sepasang elemen dekat. Oleh karena itu, biasanya orang mengukur jarak geometris dulu sebelum menghitung jarak topologis.

Sampai sini, apakah sudah bingung?

Biar mudah, saya beri ilustrasi. Letakkan dua butir kelereng di tanah lapang dengan jarak 1 meter. Jarak geometris = 1 meter, jarak topologis = 1 meter. Nah, sekarang pindahkan kelereng-kelereng itu ke dalam dua buah ruangan yang bersebelahan. Satu kelereng di satu kamar, dan kelereng lainnya di kamar lainnya. Jaraknya masih satu meter. Tapi perjalanan antar kelereng itu menjadi lebih jauh, bukan? Dalam kasus ini, jarak topologisnya menjadi lebih dari satu meter. Kira-kira seperti itu.

Apakah sudah paham?

Kembali ke topik utama. Eh tunggu dulu. Mari memperumit kondisi awalnya dulu. Masih menggunakan asumsi ketidak-tumpang-tindihan, kita izinkan grup-grup itu, baik yang grup geometris maupun topologis, untuk berubah seiring berjalannya waktu. Dengan kata lain, grup-grup ini bersifat dinamis. Dengan begini, ukuran tiap grup bisa berubah, membesar ataupun mengecil, dan kita bisa memasukkan/mengeluarkan sebuah anggota S ke/dari grup topologis maupun geometris. Perbedaannya, memperbesar ukuran grup tidak mudah dan membutuhkan waktu yang lama, tapi memperkecilnya dengan membuang beberapa elemen di grup lebih gampang. Malah, kalau dibiarkan begitu saja, jumlah anggota grup bisa berkurang sendiri.

Satu lagi sebelum penjelasan masalah. Untuk sepasang elemen unik s dan t di S, kita definisikan sebuah fungsi kedekatan f(s, t) yang memberikan penjumlahan berbobot dari jarak topologis dan jarak geometris antara s dan t. Kalau mau dipaksa nulis matematis, ya…misalkan g(s,t) dan h(s,t) berturut-turut mengembalikan jarak geometris dan topologis antara s dan t,

f(s,t) = a \times g(s,t)^i + b \times h(s,t)^j

dengan a, b, i, k semua positif.

*fyuh*

Saya belum tahu nilai variabel-variabel ini, maka ini saya jadikan future work™. Persamaan ini pun asal-asalan, baru dibikin waktu nulis ini.

Pada titik ini, kita tahu kondisi awalnya seperti apa. Sekarang tugas utamanya adalah menyelesaikan permasalahan optimisasi berikut ini. Diketahui sebuah elemen s anggota sebuah grup geometris (katakan) G1 dan sebuah grup topologis (katakan) T1. Ukuran T1 kecil bila dibandingkan dengan S, anggap saja kurang dari 20%-nya. Untuk mempermudah permasalahan, mari asumsikan bahwa s tidak berpindah grup. Tugas no 1 nya adalah, dengan waktu yang terbatas, carilah t anggota S yang nilai f(s, t)-nya lebih kecil dari suatu nilai threshold, dengan syarat bahwa dengan kondisi awal apapun, pada saat penentuan jawaban, t harus ada di dalam G1 dan T1. Perumusan ini lebih mudah daripada mencari t yang memaksimalkan f(s,t), yang bakalan lebih lama lagi, tapi sebenarnya sudah cukup untuk menyelesaikan masalah.

Persoalan ini menantang, karena alasan-alasan berikut.

  1. Adalah tidak mudah untuk memperbesar grup. Walaupun grup geometris lebih mudah diperbesar daripada grup topologi, tetap saja itu sulit. Menjaga agar grup geometris tetap besar pun juga tantangan tersendiri, karena kita musti pintar mengalokasikan sumber daya dengan pengukuran jarak topologis.
  2. Ukuran T1 kecil, dan karena itu, kemungkinan bahwa suatu elemen tidak termasuk dalam T1 sangatlah besar. Ini menambah kompleksitas problem yang kita ingin selesaikan.

Solusi saya sejauh ini macam begini.

  1. Perluas G1. Masukkan sebanyak-banyaknya elemen ke dalam G1, tapi tetap jaga supaya jumlah anggota G1 tidak berkurang.
  2. Cek jarak topologis setiap anggota G1 dengan s. Anggota-anggota G1 yang sudah pernah dihitung jaraknya juga tetap dihitung, karena bisa jadi jarak topologis pada saat itu menjadi sangat dekat.
  3. Jika menemukan kandidat jawaban yang nilainya langsung di bawah threshold, atau dengan kata lain dia juga berada di T1, langsung kembalikan itu.
  4. Ulangi dari 1 sampai waktu habis.

Kekurangan pendekatan ini, tentunya, adalah di langkah 2, ketika kita musti ngecek satu per satu anggota di dalam G1. Selain itu, bisa jadi sampai waktu habis kita tidak punya hasil apa-apa. Maka dari itu, apakah ada pembaca yang punya pendekatan yang lebih baik?

Penutup. Lah sampeyan bilang ini untuk permasalahan sehari-hari. Memangnya permasalahan macam apa sih yang sebenarnya ingin diselesaikan?

Itu PR nomor 2.

Drummer Favorit

Kalo dulu udah bikin list diva dan gitaris favorit, sekarang saya bikin list drummer favorit. Ndak berdasarkan urutan.

***

1) Neil Peart (Rush)

Saya suka dengar musik rock progresif, tapi anehnya dia bakal jadi satu-satunya drummer progresif di sini. Kenapa ya? Ya ga kenapa-kenapa. Saya kok pas suka dengar lagu Rush, dan mereka kebetulan aja punya drummer jago, bisa mainin lagu dengan tempo ndak umum. 😆 Tapi ya memang beliau banyak menjadi panutan drummer-drummer progresif lain. Selain itu, ketabahan hidupnya menghadapi kematian istri dan anaknya plus perjalanan keliling Amerika plus niatnya membangun hidup pasca kesedihan membuat saya kagum. Hanya orang tangguh yang bisa melewati cobaan hidup begini. 😀

***

2) Keith Moon (The Who)

Nah ini baru yang bener-bener. 😀 Soalnya saya suka gaya main dia yang amburadul, sangat bersemangat, dan rada kacau, hahahaha. Entah kenapa saya suka sama yang frantic-frantic model begini. Hobinya pun aneh: meledakkan toilet. *garuk-garuk kepala*

***

3) Stewart Copeland (The Police)

Drummer kacau lainnya. 😆 Saya bukan penggemar berat The Police, pun jarang mendengarkan lagu mereka. Tapi gebukan drum ala Copeland memang menyenangkan hati. Ndak berat kaya Neil Peart. Kesannya sangat ringan. Dan ya itu tadi, enak didengarkan.

***

4) Yoshiki (X Japan)

Ini entry terbaru di list saya, karena saya juga baru akhir-akhir ini dengerin X Japan. Pertama-tama, dia bishounen ganteng kalo ngedrum suka heboh. Tangan terangkat tinggi-tinggi sebelum menabuh drum. Terus, dengan badan kering kerontang begitu, dia tahan main lagu tempo tinggi dengan double bass secara bersemangat dan stabil. Tentu saja, skill main piano adalah bonus. Lirik melodramatik membuat saya mau muntah memang, tapi Yoshiki sumber ketertarikan utama saya terhadap X Japan.

***

Ampun saya buta dunia perdrummingan, jadinya pembahasannya ndak teknis 😳

Anu…

Sebenarnya saya ada beberapa ide di otak, dan ada keinginan untuk menuangkan ide-ide ini menjadi tulisan-tulisan di blog. Tentang pertambahan penduduk dunia yang sangat pesat. Tentang nyelamatin orang. Tentang pertemanan. Tentang wolak-waliking jaman.

…tapi kok sayanya ndak ada waktu ya? Udah jadi orang sibuk kayanya nih. :mrgreen: *dilempar sandal*


lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

December 2011
S M T W T F S
« Nov   Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
Click to view my Personality Profile page

Advertisements