Christmas Gibberish

Akhir-akhir ini saya jadi produktif ngeblog. Maklum, dekat deadline.😆

***

You have heard that it has been said: An eye for an eye, and a tooth for a tooth. But I say to you not to resist evil: but if one strike you on your right cheek, turn to him also the other: And if a man will contend with you in judgment, and take away your coat, let go your cloak also unto him. And whosoever will force you one mile, go with him other two. Give to him that asks of you, and from him that would borrow of you turn not away.

Mat 5:38-42

Dulu sekali, waktu pertama kali saya diajarkan tentang ayat-ayat ini di pelajaran agama, yang terbayang di benak saya adalah bahwa dalam meneladani Yesus, orang Kristen harus menghancurkan ego ketika ditindas, ketika didzolimi. Tidak boleh membalas. Beberapa orang juga menganggapnya sebagai ajakan untuk menjadi pasifis, untuk menolak kekerasan. Namun, sewaktu SMA, ada teman saya yang berpendapat lain, bahwa itu ajakan untuk melawan penindasan. Katanya, latar belakangnya begini. Pada zaman Romawi dulu, orang menampar dengan punggung tangan sebagai bentuk penghinaan, dan kalau menampar dengan posisi begini, yang kena duluan pipi kanan bukan? Nah, menurut kawan saya ini, Yesus menyuruh pengikutNya untuk menyodorkan pipi kiri, sebagai bentuk ketidakpatuhan, sebagai bentuk resistansi, bahwa kita harus fight ketika ditindas. Sepertinya ada beberapa pendapat lagi tentang ayat-ayat ini (misalnya bisa baca artikel Wikipedia ini), tapi buat saya keduanya cukup dan sama bagusnya. Saya pribadi mencoba menyeimbangkan keduanya, dengan memahami teks ini sebagai himbauan untuk melawan penindasan tanpa jalan kekerasan.

Kenapa saya nulis tentang ini? Kan khotbah di gereja bukan tentang ini?

Kalau melihat ke belakang, Kristen, khususnya Katholik Roma (karena saya ga kapabel bicara tentang denominasi lain), sudah mengalami fase-fase ditindas dan menindas. Pemahaman saya tentang tradisi Kristen adalah bahwasanya Yesus ditindas dengan disalib. Selanjutnya, pengikut-pengikut awal Kristus yang gantian ditindas. Konon kabarnya, 10 dari 12 rasul menjadi martir, mati dibunuh karena kepercayaannya. Namun, ajaibnya, beberapa ratus tahun kemudian, gantian orang Kristen yang menindas orang Pagan. Siklus ini berulang terus. Di satu sisi abad pertengahan ada Perang Salib, pengadilan Galileo Galilei, dan Spanish Inquisition, tapi di sisi lain dunia ada pengadilan Galileo Galilei (dia kan Katholik juga), dan penindasan terhadap Kirishitan. Pada zaman Modern, ada Kristen penindas dan Kristen tertindas. Perhatian saya belakangan ini terarah kepada para Kristen Arab (Chaldean, Orthodox, Koptik, dll) yang sering terlupakan oleh dunia internasional. Di Iran, Afghanistan, dan Irak mereka terdiskriminasi, sementara di Palestina dan Mesir mereka terdesak penguasa. Mereka orang native, sesama orang Kristen yang tidak terlihat oleh sesama umat Kristen di Barat yang powernya relatif dominan.

Itu di luar sana, dan sekarang saya mau kembali ke lingkungan saya.

Saya nulis ini habis selesai pulang Misa Natal. Saya senang bahwa di Singapore, walaupun kami juga minoritas, saya tidak melihat polisi berjaga-jaga di sekitar kami. Ini kontras dengan di Indonesia, mengingat sudah belasan tahun ini kalau saya Natalan di gereja, saya selalu melihat polisi dan anggota Banser-nya GP Ansor di luar gereja. Saya berterima kasih sangat  kepada mereka karena kepeduliannya terhadap kami kaum minoritas. Bahkan beberapa tahun lalu ada anggota Banser, namanya Riyanto, menemukan bom di gereja di Mojokerto dan membawanya lari, tapi bomnya meledak dan dia meninggal. Buat kami, dialah martir, yang berjihad sebenar-benarnya. Kalau bisa malah saya pingin usulkan beliau jadi Santo hahahaha. Yah begitu. Tapi, di sisi lain, adanya mereka yang menjaga ini malah penanda bahwa beribadah secara Kristiani tidak terlalu aman di Indonesia, bahwa bom bisa saja datang sewaktu-waktu. Itu yang ada di benak saya.

Ini memang kasus ekstrim, yang walaupun tidak banyak, sekali ada menghentak. Namun kenyataannya, beberapa praktek berkehidupan sehari-hari kurang menyenangkan buat saya. Misalnya, saya melihat reluktansi beberapa teman Muslim untuk mengucapkan selamat ketika kami merayakan hari besar, sementara kami, setidaknya saya, selalu menyelamati kalau teman-teman yang berbeda keyakinan, apapun keyakinannya, sedang ada perayaan. Jujur saja, saya kurang sreg dengan ini. Hubungan yang baik adalah hubungan dua arah, dan kalau cuma satu yang aktif, timpang. Beberapa bilang itu “cuma” ucapan selamat, tapi buat kami itu fundamental buat melihat seberapa diterimanya saya di pandangannya, dan apakah hubungan tersebut mutual.

Yah, suka dukanya jadi minoritas. Namun demikian, kembali ke ayat yang saya kutip di atas, ketimpangan, perlakuan kurang menyenangkan, apapun namanya, tidak baik untuk dibalas sedemikian rupa. Setidaknya secara umum, kami dianggap bagian dari masyarakat juga. Saya ingat ketika ada kelompok radikal Islam menyerang beberapa gereja di Temanggung, Jawa Tengah, beberapa bulan lalu, masyarakat sekitar menyelundupkan dan menyelamatkan para warga gereja lewat belakang gereja [link]. Contoh simpel lagi, saat ini orang tua dan adik saya sedang Natalan bersama-sama anggota keluarga besar kami yang lain di Malang, di rumah om kami yang seorang Muslim. Coba di Korea Utara. Mungkin kami sudah masuk kamp 22 dari dulu.

***

Kalau boleh mengaku, saya cukup bangga menjadi orang Katholik. Walaupun saya terlahir sebagai Katholik dari orang tua  Katholik dan dididik secara Katholik, kebanggaan ini boleh dibilang masih belum lama, karena saya baru menyadari hal-hal yang, walaupun saya ga berani bilang unik di komunitas kami, membuat saya bangga berikut ini. Pertama, sebagai komunitas kami sudah mengalami masa kegelapan, baik dalam soal fundamentalisme, penolakan sains, dan penindasan. Kami belajar banyak dari masa itu dan dengan berkaca kepadanya, mencoba menjadi lebih baik. Paus Yohanes Paulus II dulu meminta maaf atas dosa umat Kristen pada masa lalu. Kedua, tidak seperti pada zaman dulu, pada zaman modern ini, orang Katholik cukup terbuka terhadap sains. Berdasar Catechism of the Catholic Church, pendapat resmi Vatikan adalah bahwa teori evolusi adalah bagian dari sejarah dan menjadi sarana bagi kita untuk mengagumi ciptaan maupun kuasa Allah. Sepanjang pengalaman saya belajar di sekolah Katholik, kami pun mendapat pelajaran tentang teori ini tanpa embel-embel “cuma teori” (tahu maksudnya kan?). Selain itu, pencetus teori Big Bang, Georges Lemaître, pun seorang biarawan Katholik. Ketiga, setidaknya di sekitar saya, orang Katholik biasanya moderat, baik tentang pemahaman agama maupun perilaku sehari-hari. Beberapa lebih konservatif, beberapa lebih liberal, tapi mereka low profile dalam beragama, dan tidak ketat dalam menjalankan aturan-aturan yang kadang, saya pikir, cukup trivial. Buat saya, beragama tidak boleh membuat orang lain sakit hati. Keempat, terutama sebagai orang Katholik Jawa Indonesia yang tinggal di Singapura, menjadi minoritas membuat kami lebih toleran terhadap budaya dan kepercayaan lain. Dalam upacara-upacaranya, umat Katholik memasukkan unsur-unsur tradisi dan kearifan lokal, alih-alih menganggapnya “budaya lama” yang tidak sesuai dengan kaidah agama. Contohnya, dalam tradisi Jawa ada upacara 1 hari, 1 minggu, 40 hari pasca kematian seseorang, dan kami pun mengadakan ibadat pada hari-hari tersebut. Secara eksternal pun kami bisa toleran jika seseorang tidak mempercayai apa yang kami percayai.

Tapi yah ini manifesto doang. Pada kenyataannya, saya jauh dari orang Katholik yang baik. Ke gereja aja bolong-bolong, dan tentunya masih banyak hal lagi. Selain itu, menjadi minoritas berarti peluang menemukan jodoh adalah kecil. *eaaa curhat*

Sekian racauan saya. Eid Milad Majid buat semua pembaca yang merayakannya, dan selamat berlibur buat yang tidak merayakannya.

15 Responses to “Christmas Gibberish”


  1. 1 biba 25/12/2011 at 6:50 PM

    “Selain itu, menjadi minoritas berarti peluang menemukan jodoh adalah kecil.”

    emangnya jodoh itu mesti yang satu kelompok bro? :-j

  2. 2 lambrtz 25/12/2011 at 7:42 PM

    Secara pragmatis, kalau dia terlahir dengan latar belakang yang serupa dengan kita, kemungkinan buat dia untuk memahami kita juga lebih besar. Dia akan lebih mudah memahami kegundahanhatimu, karena dia juga mengalaminya😛

    IMO sih.

  3. 3 Fishbone 28/12/2011 at 1:53 PM

    Selain itu, menjadi minoritas berarti peluang menemukan jodoh adalah kecil

    😆
    Kalau cinta sudah melekat, odong-odong jadi mengkilat. Alesyan banget deh. Haha.

  4. 4 Alex© 28/12/2011 at 2:04 PM

    Misalnya, saya melihat reluktansi beberapa teman Muslim untuk mengucapkan selamat ketika kami merayakan hari besar, sementara kami, setidaknya saya, selalu menyelamati kalau teman-teman yang berbeda keyakinan, apapun keyakinannya, sedang ada perayaan. Jujur saja, saya kurang sreg dengan ini.

    Sama. Ini logika naif. Mengucapkan selamat tidak akan merapuhkan iman, tidak juga membuat salib pindah ke kubah mesjid. Sebaliknya, mengucapkan selamat puasa dan idul fitri, atau bahkan maulid Muhammad juga tidak bikin pastor/pendeta akan ganti pakai peci dan jemaat akan membawakan tahlilan di gereja.

  5. 5 Ceritaeka 29/12/2011 at 11:52 AM

    Soal reluktansi pengucapan selamat Natal dari kawan2.. daku juga mengalaminya… Teman2 online sih lebih terbuka dan gak reluctant ya tapi teman2 di kehidupan nyata.. Beuh..😀 Bikin sakit hati kadang:mrgreen: Pernah aku tulis disini http://ceritaeka.com/2009/12/28/24-desember-2009/

    Ohya soal melawan penindasan tanpa jalan kekerasan aku rada kurang setuju, karena ada ayat lain menyebutkan bahwa kita harus menghormati pemerintah kita (bagaimanapun baik atau buruknya itu) karena ia telah ditempatkan Tuhan sbg otoritas kita. Walau ada juga ayat lain menyebutkan bahwa kita harus cerdik seperti ular namun tulus seperti merpati ya bow😀 *halah muter2 wae, iki*

    Pd dasarnya tiap orang memiliki interpretasi sendiri2 terhadap setiap ayat ^_^

  6. 6 Alex© 29/12/2011 at 1:14 PM

    Ah, jangankan kalian yang berbeda iman dengan orang-orang seagamaku, aku saja pernah ribut dengan seorang penulis muslim yang cukup tenar di negara ini (dan ironisnya, dia malah mualaf). Bilanglah namanya Pipiet Petang (bukan nama sebenarnya, cuma rada mirip, -red). Dan masalahnya sepele saja menurut: cuma karena bikin postingan selamat natal plus kenang-kenangan hari natal di masa kecil yang tentu saja tidak lebih dari kesukaan kanak-kanak sebayaku dulu menikmati film-film kartun bagus di TVRI. Dan salah satu film itu adalah kartun Gadis Kecil Penjual Korek Api. Pun jelas-jelas kutulis di postinganku, bahwa sebagai muslim pun, awak bisa mengambil hikmah juga dari cerita itu: bahwa ada gadis kecil mampus kedinginan di suatu pagi natal ketika orang-orang bersuka, yang membuat penduduk kota menangis menyesali diri mereka yang egois, bisa terjadi di agama manapun.
    Dan aku diusir dari milis agamis dimana penulis-penulis islami berada. Haha.

    Ini memang masalah klasik dari dulu. Dan anehnya, justru paling dibesarkan dalam kalangan muslim modern (bukan modert, melainkan muslim kota). Misal saja, kami muslim di Aceh, di pelosok, kalau ada warga Tionghoa meninggal dunia, warga masih mau bantu bangun teratak, bahkan bantu bikin peti mati kalau yang game over itu memang bukan kelompok Cina Kaya. Dan bagi keluarga pedagang, rata-rata toke di Medan pun adalah orang-orang beda agama yang kalau lebaran sering mengirim parsel, dan sebaliknya kalau mereka natal atau merayakan imlek, dikirimi makanan buatan kampung. Memang tak ada gereja di kampung kami, tapi toleransinya lumayan lebih elok daripada komunitas-komunitas modern di perkotaan yang justru sering lebih eksklusif. Katakan saja macam kelompok di bawah partai anu yang petingginya jadi menteri urusan blokir. Bandingkan saja dengan perilaku kaum sarungan ala NU di Jawa Timur yang justru tradisional namun toleran.

    Tapi entahlah. Susah juga mendebat hal-hal begitu dengan mereka. Hehe. Biar sajalah. Toh mengucapkan atau tidak itu juga soal keikhlasan. Pokoknya kalian nikmati saja Natal dan Tahun Baru. God Bless You! \m/

  7. 7 AnDo 30/12/2011 at 12:32 AM

    Saya setuju dengan buya Alex diatas, memang mengucapkan selamat hari raya atau tidak itu urusan ikhlas atau nggak, tak perlu sakit hati lah. Toh kalau ada yg mengucapkan gak ikhlas, malah sambil mencibir dibelakang punggung justru jauh lebih menyebalkan.

    Kebanyakan memang yang tak mengucapkan bersandar dari ketetapan masing2 pembimbing spiritiual yang bersangkutan, yang menetapkan kalau mengucapkan selamat berarti setuju dengan nabi Isa al-Masih aka Yesus lahir pada tanggal 25 Desember…. dus juga mengakui Trinitas Kristen. Tentu saja dengan sodoran untuk memperkuat dalil dengan seabreg ayat2 yang saya hapal tapi tak bisa menerjemahkan langsung krn tak bisa berbahasa Arab.

    Lain kali, jika ada orang yang enggan mengucapkan selamat hari raya, jangan ucapkan selamat hari raya pada yg bersangkutan jika beliau merayakannya. Karena yang bersangkutan bisa jadi malah bersikap sinis. Mendingan ucapkan saja sesama yang merayakannya, toh tak akan mengurangi kegembiraan dan kekusyu’an.

    Selamat merayakan Natal untuk anda yang merayakan. Allah SWT selalu bersama orang yang sabar dan teraniaya.

  8. 8 lambrtz 30/12/2011 at 1:42 AM

    Pertama-tama ijinkan saya mengucapkan terima kasih buat Uda-Teteh-Abang yang komen di sini. If celebrate Christmas then Merry Christmas, else thank you very much and enjoy your holiday, Allah bless you. ^:)^

    Satu-satu komennya ya biar mudah dibaca.😀

    @Fishbone
    Wah ada Bang Fishbone, lama kali tak jumpa Bang?😆
    Soal itu mencolok banget ya Bang. Tapi gimana lagi yah😆 hahahahahaha😆

  9. 9 lambrtz 30/12/2011 at 1:46 AM

    @Alex©
    Habis balik dari postingan Mbak Eka. Dari salah satu komen yang aku baca di sana, ada pemahaman yang sering aku temui bahwa menyelamati = mempercayai. Oh well, kalo begini caranya, mungkin saya sinkretis sekarang. Saya teis + ateis. Saya Kristen, Muslim, Hindu, dan Buddhist. Saya orang Indonesia, Singapura, Malaysia, Vietnam, India, dll. Oh saya mengakui banyak hal. Jaminan surga buat saya besar.😆

    Tentang desa vs kota, aku pun memahaminya. Dulu aku kecil di Ponorogo, persisnya Jawa Timur. Oh kami minoritas banget di desa kami. Pendatang pula, walaupun Mami lahir di kota tersebut. Kayanya damai-damai saja. Baru setelah kami balik ke Jogja dan aku masuk universitas negeri (sebelumnya selalu ke sekolah Katholik), baru aku ngrasain. Fundamentalisme lebih kencang di kota daripada di desa.😆
    BTW kalau temanku si biba di atas itu mau komen lagi, bisa tunggu tentang pengalaman dia di kampung dia😛

    Turut bersedih melihatmu diusir dari milis😦 Tapi senang melihat toleransi Melayu-Cina di sana. Kalau boleh kubilang, orang Cina sangat tabah. Ndak diakui warga negara Indonesia tanpa surat apa tuh namanya dulu, masih setia dengan Indonesia. Ya bukan tak ada yang bisa kukritisi sih, tapi guruku bilang orang Cina dibenci di mana-mana, dan mereka bisa tetap jadi kaya.😆

    Makasih banyak atas ucapanmu Bang, semoga Allah memberimu dan keluargamu berkah yang berlimpah. ^:)^

  10. 10 lambrtz 30/12/2011 at 2:00 AM

    @Ceritaeka
    Seingatku, kayanya aku udah baca itu dulu, tapi aku masuk lagi ke sana lagi. Aku merasakanmu Mbak. Yah kita beruntung teman online banyak yang lebih terbuka. Bersabar aja ya Mbak. Kata Bang Ando, “Allah SWT selalu bersama orang yang sabar dan teraniaya.”😀

    Tentang ayat, itu yang tentang menghormati pemerintah itu yang ayat soal pajak untuk Kaisar itu bukan?😕 Tapi kalau boleh tahu, gimana dirimu memahami ayat tampar menampar itu?

    Selamat Natal (lagi) buatmu Mbak. Buatmu dan suamimu, damai di bumi, damdibum gedibam gedibum ^:)^

  11. 11 lambrtz 30/12/2011 at 2:43 AM

    @AnDo
    Pertama-tama…

    nabi Isa al-Masih aka Yesus lahir pada tanggal 25 Desember

    Sebenernya aku juga ga percaya kalao beliau lahir tanggal segitu.😆 Kabarnya sih beliau lahir pada musim panas, yang berarti tengah tahun. Kabarnya lagi, tanggal segitu toh asliny hari raya Pagan yang di-Kristenkan. Lha terus kenapa ngrayain tanggal segitu? Lha udah terlanjur begitu, ya ikut aja.😆 Lagian toh yang penting esensi™nya.

    BTT. Masalah ikhlas tak ikhlas, aku paham sih. Lagian kalau tidak mau ngucapin, aku juga ndak maksa. Buat apa.😆

    Lain kali, jika ada orang yang enggan mengucapkan selamat hari raya, jangan ucapkan selamat hari raya pada yg bersangkutan jika beliau merayakannya. Karena yang bersangkutan bisa jadi malah bersikap sinis. Mendingan ucapkan saja sesama yang merayakannya, toh tak akan mengurangi kegembiraan dan kekusyu’an.

    Nah ini yang aku masih keberatan.😐 Seperti aku tulis di postingan, aku ndak pingin membalas begini. Bagaikan melawan api dengan api, pada akhirnya semua akan menjadi abu. Selain itu, aku percaya bahwa fleksibilitas akan menyelamatkanku, karena kemudahan beradaptasi dan berkomunikasi dengan budaya lain akan memperkaya pengetahuan dan memperluas pertemanan. Jadinya aku selalu ngucapin selamat ke siapa saja, bahkan kalau mereka merasa ga nyaman dengan ucapanku. Ya itu sindiran juga sih.😆 Ya kalau mereka ngrasa itu sindiran…

    Cuman takutnya begini. Kalau dulu aku selalu bernyanyi “Imagine there’s no countries […] and no religion too”, sekarang aku menyadari kalau akhir-akhir ini sedikit lebih ke kanan, setidaknya lebih banyak memasukkan elemen-elemen konservatif ke ideologi yang aku desain sendiri, dan mendekatkan diri ke identitas etnis-religiusku, Jawa Katholik. Juga, termasuk karena dipengaruhi Ilmu Komputer yang kupelajari, semakin kemari, aku merasa semakin bisa mendeteksi kepribadian orang, dan melabeli mereka dengan kepribadian itu. Label ini dinamis memang sih, tapi dengan persyaratan kedekatan yang mencakup interoperabilitas antar budaya, aku jadi semakin jauh dari banyak teman😦

    Terima kasih banyak Bang atas ucapannya, selamat berlibur dan selamat mudik buatmu. Semoga keluarga Bang Ando selalu sehat walafiat, dan proyek itu-mu lancar ^:)^ *eh*

  12. 12 Alex© 30/12/2011 at 9:17 AM

    Habis balik dari postingan Mbak Eka. Dari salah satu komen yang aku baca di sana, ada pemahaman yang sering aku temui bahwa menyelamati = mempercayai. Oh well, kalo begini caranya, mungkin saya sinkretis sekarang. Saya teis + ateis. Saya Kristen, Muslim, Hindu, dan Buddhist. Saya orang Indonesia, Singapura, Malaysia, Vietnam, India, dll. Oh saya mengakui banyak hal. Jaminan surga buat saya besar.😆

    Lha, sama dong! Secara Buddhisme, aku bisa masuk nirwana dan bebas dari samsara, cuma karena mengucapkan selamat waisak pada Ce Ye atau lebih ekstrim lagi karena belajar Buddhisme dan percaya bahwa ajaran Gautama itu baik. Atau kalau nirwana versi Buddha tak ada, aku juga bisa jingkat-jingat masuk Kahyangan, karena mengucapkan selamat Nyepi pada kawan di Bali. Ini memang logika dodol: Tahu lah dodol. Lunak. Lembek. Jadi kalau iman sudah lembek, yang disalahkan jika ada yang nekan dodol itu, bukan lembeknya dodol itu sendiri.😆

    Fundamentalisme lebih kencang di kota daripada di desa.😆

    Memang begitu. Jangankan di kota lain lah. Di Aceh itu, yang sudah kadung dikenal syariat Islam, itu yang paling gede angin fundamentalismenya di Banda Aceh, sementara di kampung-kampung, kabupaten, umat nggak terlalu peduli. Mereka sudah merasa bersyariat dengan adanya hukum adat kok. Yang ribut-ribut itu kan tempat dimana segala adat dan kehidupan sosial masyarakatnya rapuh: KOTA. (no opens lah utk yang tinggal di kota, ini memang kenyataan kok.)
    Tak mengherankan dengan kemajemukan dan kebisingan serta perlombaan status sosial, timbulnya fundamentalisme, organisasi dan kelompok yang berlomba mengeksklusifkan keberadaan mereka -terutama dengan selubung agama dan seolah kembali kepada kemurnian- sebenarnya pertanda dari krisisnya identitas mereka sendiri di tengah kepungan kemodernan. Ini yang menyebabkan seringnya membelah kelompok: kami vs kalian. Aku kenal kok organisasi dan orang-orang macam ini, yang rajin pengajian dan nelan mentah-mentah apa kata sang pembimbing spiritualnya. Tapi ya itu hak mereka sih. Susah memang😆

    Soal orang Tionghoa, wah nggak usah ditanya deh. Suka tak suka pun dengan sekelompok-dua dari mereka, mereka itu cukup tabah untuk didiskriminasi di republik ini sejak dulu. Di semua bidang: idepoleksosbudhankam sekalian.😀

    Btw, soal ayat tampar-menampar itu; aku cenderung setuju dengan temanmu yang bilang bahwa itu bukan soal pasrah dan pasifis. Bukankah dalam Katolik -aku tak begitu tahu katolik memang, karena aku muslim- ada juga gerakan pembaharuan semacam Teologi Pembebasan-nya Anthony de Mello? Kesadaran Katolik untuk “melawan” ini yang -CMIIW- menjadi dasar dari kebangkitan di Amerika Latin selama abad 21 belakangan ini. Dan kurasa itu gagasan menarik. Karena agama -apapun agama itu- mestinya memang menajdi medium pembebasan manusia, bukan pemenjaraan. Kukira dengan alasan yang samalah dulu biksu di Vietnam dan di Birma mau menentang rezim.🙂

  13. 13 Ceritaeka 31/12/2011 at 1:08 PM

    Pemahamanku tentang ayat tampar menampar itu?
    Masih seperti kebanyakan, aku memahaminya sebagai mengalah, membalas kejahatan dan kebaikan, memberikan lebih daripada yang diminta. Kebaikan itu kan semacam menaruh bara diatas kepala musuh kita.

    Aku tau ada pemahaman2 lain tentang ayat itu tapi aku nyaman dengan pemahaman yang aku pegang sekarang. Entah nantinya jika waktu dan situasi membuatku beralih pemahaman ya. Semua butuh proses.

    Btw tentang postinganku itu, komen2 di awal memang dalam. Seperti komentarnya Uda Vizon http://ceritaeka.com/2009/12/28/24-desember-2009/comment-page-1/#comments

    Uda Vizon ini S3 dari IAIN, dosen Agama pula tapi yang aku teladani dari beliau adalah sikap dan cara hidupnya.

  14. 14 Alex© 31/12/2011 at 3:32 PM

    @ Eka

    Ah, aku sependapat dengan Uda Vizon di kolom komentarmu itu. Sama macam itu pula yang kupikirkan. Memangnya kalau aku ucapkan selamat Hari Waisak, aku menjadi umat Gautama? Atau saat mengucapkan selamat Natal, lalu besok aku akan dibaptis sekalian? Mana ada. Prinsip “bagimu agamamu dan bagiku negaraku” sebagai muslim yang kufahami, macam “bagimu negaramu. bagiku negaraku”. Jadi umpama kita orang Indonesia mengucapkan selamat HUT Kemerdekaan Jepang, tidak lantas kita jadi orang Jepang.😆

    Soal pemahaman mana pun, aku memandang keduanya baik. Selalu ada dua sisi dalam pemahaman agama. Macam kami juga: orang macamku akan blak-blakan tapi ada kawanku kalem. Ada waktunya masing-masing suatu sifat dan sikap itu bermakna baik.😉

  15. 15 Alex© 31/12/2011 at 3:41 PM

    Lha.. jadi salah ketik di atas itu😆
    mestinya: Prinsip “bagimu agamamu dan bagiku agamaku” sebagai muslim yang kufahami, macam “bagimu negaramu. bagiku negaraku”. :malu:
    #typo


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

December 2011
S M T W T F S
« Nov   Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
Click to view my Personality Profile page