Archive for February, 2012

Lengan Beribu

Jadi baru-baru ini saya ngulangin lagi main Lengan Beribu, yang di Argentina, tepatnya di Rosario dan Falkland Island, terkenal dengan nama Thousand Arms. Saya pingin menulis dua tiga (kok ga ada yang koreksi sih!?) poin tentang perenungan hidup yang saya petik setelah bermain game ini selama beberapa jam (di bawah 10).

Ini duluuu waktu neng Ayumi masih muda dan polos; sekarang udah jadi kaya bule celup

Ini duluuu waktu neng Ayumi masih muda dan polos; sekarang udah jadi kaya bule celup

  1. Pertama kali saya main game tersebut kira-kira 10 tahun yang lalu HUANJRIT 10 TAHUN YANG LALU LAMA BANGET WTFLOLBBQ. Saya pinjam cd bajakan game tersebut dari seorang teman weeaboo yang memang maniak sama Jejepangan. Memang waktu itu SMA kami dilanda demam Jejepangan, tapi dia termasuk yang heboh maniaknya. Anyway, itu adalah masa-masa ketika saya jatuh cinta untuk pertama kalinya, tapi betul-betul blank soal kewanitaan. Jadi waktu saya main game ini, saya bener-bener ndak ngerti pilihan jawaban yang tepat waktu ngedate. Sekarang, saya *uhuk* udah lebih ngerti dikit soal perempuan, jadinya bukan masalah besar untuk memilih jawaban. Cuman ya itu…
  2. …saya pun jadi merasa bahwa game-game simulasi kencan macam begini rada menipu pria-pria yang culun hati dan pikirannya, karena mereka jadi berpikiran bahwa ketika kencan, mereka harus memberi jawaban seperti apa yang si cewek inginkan. Padahal IMO ini ndak bagus. Bagaimanapun juga pendapat diri sendiri musti dipertimbangkan, terutama ketika kita ada pendapat atau pendirian yang berbeda dengan mereka. Misalnya, saya langsung ilfil ketika salah seorang karakternya punya impian hidup “ingin menikah”. Bleh. Ya silakan-silakan aja sih. Tapi kalau mau jadi pacar saya ya you must do better. Terserah aja kalau si cewek marah-marah. Ya berarti ndak cocok. Sayangnya di game ndak ada pilihan untuk protes. Namun demikian, apapun komplen saya di sini, saya ya ndak bisa menyalahkan karena tujuan game ini adalah menjadi pandai besi sejati, yang untuk mencapainya kita musti mampu menjalin hubungan dengan berbagai macam wanita. Terakhir…
  3. …karena saya sudah agak pintar menebak, lama-lama dating ini jadi membosankan juga *hoahem*

Sebagai penutup postingan ini, saya persembahkan lagu pengantar galau, yang tak lain tak bukan adalah ending dari Lengan Beribu ini. Judulnya Two of Us, dinyanyikan oleh Meffrouw Ayumi Hamasaki. Selamat menikmati!

Kata laman ini, alihbahasa salah satu baitnya macam begini:

I wanted to be loved, it’s not that you loved me  
I knew it, I could have slept alone, but  
The song we both loved, the movie we saw together  
I couldn’t forget, somewhere  
I hoped for tomorrow 

Advertisements

Komodo, Kasuari, dan Badak Bercula Satu

“Mbak
Situ cantik
Senyummu manis menawan
Lakumu jalan tengah masa lalu dan masa depan
Dan polah tingkahmu giat bak merpati

Tapi kumerasa aku tidak (belum?) bisa menyukaimu Mbak
Kendati Mbak mengalami juga apa yang kualami (ya kurang lebih)
Ini hati tertutup tebal pasir, sudah keras jadi batu
Terjatuh dari langit, terhunjam keras
ke bumi, meratapi bahwa
di samping sawah ladang nan menghijau, masih
luas gurun pasir nan gersang dan
padang es nan menusuk tulang dan
rumah kumuh di balik apartemen mewah Greenville
terbatasi uang, keangkuhan religi, ambisi membabi dan segala dekadensi kehidupan.

Mbak
Jikalau Mbak memang untukku
Adakah di Mbak suatu tetesan larutan
yang bisa melelehkan hatiku?
Kalau Mbak punya, bolehlah
aku dibagi sedikit
saja?

Karena aku ingin kembali menjadi manusia
kanak-kanak nan polos seperti aku zaman dahulu kala
yang menyanyikan lagu perdamaian
daripada menyesali borok dunia
dan aku rasa ada penglihatan bahwa
ada di mata dan ketiakmu sedikit tetes untuk
melunakkan hati”

Maka Mbak pun berkata
“Ih jadi laki melas amat, yang aktif dikit kek!”

Lanjutku “Dafuq : |
Maka dari itu izinkan kuselesaikan dulu ucapku, Mbak yang manis
Karena aku, lewat pembelajaran merah-hijau-biru dan langit kelabu
sedikit punya intuisi soal jalan menuju—bukan, bukan jalan menuju surga
Karena biar orang bilang ada satu jalan ke surga, tak tahu satu itu yang mana
Tapi sedikit lebih realistis saja
Bahwa aku dari jatuhku punya
sedikit harapan akan perlindungan diri yang
bisa kubagi bersama denganmu dan
jika nanti Allah mengizinkan
agar kita mencapai titik Shangrila di puncak Himalaya

Itu, jika mau Mbak membagi sedikit ramuan peleleh
hati”

Jebakan Betmen

Jadi kemarin jam 5 pagi itu, saya yang belum lagi 2 jam tidur, dikagetkan oleh getaran handphone yang lupa dimatikan silentnya…errr maksud saya belum dinyalakan ringtonenya akibat lupa. Getaran pertama mati, karena telat diangkat. Getaran kedua, ada babe dari rumah. Masih serasa di limbo, saya jawab.

l(ambrtz): “Halo Pa”

P(apa): “Halo, lagi ngapain le?”

l: (Hah?) “Ya lagi tidur lah, kenapa Pa?”

P: “Ooo…takcritani le…”

Dan beliaupun bercerita, bahwa…

…barusan ada telepon, bilang kalau saya (lambrtz) lagi di kantor polisi kena masalah narkoba. Ada dua orang di seberang saluran itu. Yang pertama itu bilang kalau dia itu “N”, yang adalah bagian dari nama panjang saya, tapi bukan nama yang biasa dipakai untuk menyebut diri saya. “N” ini menangis mengharu biru, bilang kalau dia ada di “polda”. Papa tanya, di polda mana? Tapi “N” ini lama baru jawab “Jogja”. Di sambungan yang sama, ada orang lain yaitu “Pak Iptu”. Nah “Pak Iptu” ini bilang kalau dia bisa membantu orang tua saya untuk mengeluarkan “N”…

Nah begitu ceritanya…

Cuman dua tokoh kita di seberang saluran ini tidak tahu. Rumah saya menggunakan layanan caller ID yang bisa menampilkan nomor telepon penelepon. Dan nomor yang ditampilkan itu memakai kode area 061, yang tak lain tak bukan adalah kode area Binjai, Sumatera Utara.

Sampai sini mencurigakan bukan?

Terlebih lagi si penelepon menggunakan nama yang tidak pernah saya gunakan, dan kabarnya suaranya berbeda pula dari saya. Alhasil setelah telepon selesai, Papa langsung menelepon saya, dan ya…saya memang lagi tidur. Dan sedang di negara sebelah yang jaraknya, kalau dari Jogja, tidak lebih jauh daripada Binjai ini tentunya.

Saya heran beribu heran. Ini apa gerangan nama saya bisa sampai Binjai? Saya aja belom pernah menginjakkan kaki di Pulau Sumatera 😐

Binjai abad 19

Binjai abad 19

Ya walaupun saya tak menampik kemungkinan bahwa sindikat ini sudah redirect beberapa kali sih.

Anyway, mungkin ini ada berkaitan dengan kejadian beberapa bulan/tahun sebelumnya. Waktu itu ada orang yang mengaku dari supermarket di kampung halaman kami menghubungi orang tua saya bahwa saya, lambrtz ini, menang undian. Tapi setelah supermarket tersebut dikontak, tentunya tidak ada undian yang dimaksud. Pun saya waktu itu sudah ada di negara sebelah.

Dari dua kasus ini, kami jadi curiga kalau nama saya sudah tersebar di dunia hitam penjebakbetmenan(tm) Indonesia. 😐

Yah ini jadi bekal buat kami ke depannya agar bisa lebih berhati-hati.

Ada yang pernah mengalami?

Jika

Jika nanti aku lebih memilih bicara tentang merk mobil ketimbang topologi
Jika nanti aku lebih suka mengunggah foto bayi kita ketimbang menaruh berita Daily Mail
Jika nanti aku tidak lagi haus pengetahuan dan  lebih mencari kemapanan

Masihkah kamu  akan tetap mencintaiku?

Bah

Ketika matahari bersembunyi
Kelinci di dalam liang
Dan burung hantu berburu

Ketopong tertidur
menyisakanku dan langit biru gelap

Sampai kita menguap
Menghilang
Dan terlahir kembali


lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

February 2012
S M T W T F S
« Jan   Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
26272829  
Click to view my Personality Profile page

Advertisements