Jebakan Betmen

Jadi kemarin jam 5 pagi itu, saya yang belum lagi 2 jam tidur, dikagetkan oleh getaran handphone yang lupa dimatikan silentnya…errr maksud saya belum dinyalakan ringtonenya akibat lupa. Getaran pertama mati, karena telat diangkat. Getaran kedua, ada babe dari rumah. Masih serasa di limbo, saya jawab.

l(ambrtz): “Halo Pa”

P(apa): “Halo, lagi ngapain le?”

l: (Hah?) “Ya lagi tidur lah, kenapa Pa?”

P: “Ooo…takcritani le…”

Dan beliaupun bercerita, bahwa…

…barusan ada telepon, bilang kalau saya (lambrtz) lagi di kantor polisi kena masalah narkoba. Ada dua orang di seberang saluran itu. Yang pertama itu bilang kalau dia itu “N”, yang adalah bagian dari nama panjang saya, tapi bukan nama yang biasa dipakai untuk menyebut diri saya. “N” ini menangis mengharu biru, bilang kalau dia ada di “polda”. Papa tanya, di polda mana? Tapi “N” ini lama baru jawab “Jogja”. Di sambungan yang sama, ada orang lain yaitu “Pak Iptu”. Nah “Pak Iptu” ini bilang kalau dia bisa membantu orang tua saya untuk mengeluarkan “N”…

Nah begitu ceritanya…

Cuman dua tokoh kita di seberang saluran ini tidak tahu. Rumah saya menggunakan layanan caller ID yang bisa menampilkan nomor telepon penelepon. Dan nomor yang ditampilkan itu memakai kode area 061, yang tak lain tak bukan adalah kode area Binjai, Sumatera Utara.

Sampai sini mencurigakan bukan?

Terlebih lagi si penelepon menggunakan nama yang tidak pernah saya gunakan, dan kabarnya suaranya berbeda pula dari saya. Alhasil setelah telepon selesai, Papa langsung menelepon saya, dan ya…saya memang lagi tidur. Dan sedang di negara sebelah yang jaraknya, kalau dari Jogja, tidak lebih jauh daripada Binjai ini tentunya.

Saya heran beribu heran. Ini apa gerangan nama saya bisa sampai Binjai? Saya aja belom pernah menginjakkan kaki di Pulau Sumatera😐

Binjai abad 19

Binjai abad 19

Ya walaupun saya tak menampik kemungkinan bahwa sindikat ini sudah redirect beberapa kali sih.

Anyway, mungkin ini ada berkaitan dengan kejadian beberapa bulan/tahun sebelumnya. Waktu itu ada orang yang mengaku dari supermarket di kampung halaman kami menghubungi orang tua saya bahwa saya, lambrtz ini, menang undian. Tapi setelah supermarket tersebut dikontak, tentunya tidak ada undian yang dimaksud. Pun saya waktu itu sudah ada di negara sebelah.

Dari dua kasus ini, kami jadi curiga kalau nama saya sudah tersebar di dunia hitam penjebakbetmenan(tm) Indonesia.😐

Yah ini jadi bekal buat kami ke depannya agar bisa lebih berhati-hati.

Ada yang pernah mengalami?

25 Responses to “Jebakan Betmen”


  1. 1 AnDo 19/02/2012 at 4:30 AM

    Biasanya sih jebakan betmen ini buat calon korban yang mudah panik, kalau calkornya gak gampang panik sih malah ngecek sana sini dulu buat memastikan kebenaran berita. Tapi kalau panik, pikiran sehat gak jalan. taktik jebakan betmen secara psikologis😈

    Kalau soal kecelakaan atau kena tangkap polisi belum pernah sih. Tapi kalau menang undian sih pernah. Bapakku kalang kabut karena dikasih waktu bayar duit admnistrasi hanya sehari doang. Untungnya ibu dan kakakku lsg sadar.
    Pernah juga dapet sms a la mama minta pulsa😆

    btw, nama situ sih gampang di gugling. tapi nomer telpon segala koq bisa ketauan yah? Apa pernah nyebar2in no telp rumah di dunia maya?

  2. 2 Kimi 19/02/2012 at 7:34 AM

    Syukur Alhamdulillah keluarga saya tidak dapat telpon penipuan begitu. Paling dapatnya surat kalau saya menang undian ke Bali dan harus bayar sekian rupiah biar hadiahnya bisa saya ambil.😀

  3. 3 Grace 19/02/2012 at 9:52 AM

    Dulu istri saudara jauh saya pernah dapat telepon bgini. Penjahatnya lebih niat lagi malah. Jadi saudara saya itu wartawan, pagi sebelumnya dia ditelpon seseorang untuk menon aktifkan handphone dan telpon kantor selama 3jam dengan alasan keselamatan (karena katanya ada hubungannya dengan berita dan narasumber yang dia kejar), dia nurut. Nah, saat itulah istrinya ditelpon penjahat dan diberi tahu kalau suaminya kecelakaan dan butuh utk segera dioperasi. Butuh uang segera, lima belas juta kalau ga salah. Istrinya panik, telpon ke suaminya untuk konfirmasi pun ga bisa, kantor juga ga bisa dihubungi. Sudah mau transfer, tapi untungnya uangnya kurang, akhirnya ke rumah saya dan cerita ke ibu yg saat itu sedang di rumah. Ibu saya sudah tau banyak cerita spt ini, terlihat janggal, akhirnya minta istri saudara supaya tenang dulu, beliau yakin ini modus penipuan (walau was2 juga karena pasti akan disalahkan kalau sampe betul terjadi apa2 dgn saudara saya). Bapak saya yang diceritakan pun meyakinkan istri saudara saya. Akhirnya ditunggu sejam kemudian, dicoba telpon handphonenya suaminya lagi. Dan nyambung. Kebetulan si suami mau nelpon rumah untuk ngabari istrinya soal ancaman narasumber (yg tentu saja bohong).
    Dan akhir cerita, 15juta rupiah masih rejeki mereka. :p

  4. 4 fritzter 19/02/2012 at 10:34 AM

    Nah. Ini mengingatkan saya pada satu cerita hampir-sama, enam tahun lalu. Sang hampir-korban adalah mantan dosen saya.

    Alkisah Pak LS, mantan dosen dimaksud, bertugas ke luar kota – tepatnya ke Manokwari – selama beberapa hari dalam rangka mengikuti sebuah semiloka.
    Setiba di Manokwari, saat tengah beristirahat siang di kamar hotel, pak LS ditelpon seseorang yang mengaku dari Densus 88. Ia diminta mematikan HP selama 60 menit, demi “membantu tugas polisi yang sedang melacak sinyal seluler tersangka teroris yang disinyalir tengah berada dalam radius 100m dari posisi dirinya berada”.
    Zaman itu memang metode triangulasi sinyal seluler sedang menjadi mainan baru buat Mabes POLRI.
    Terpacu adrenalin dari prospek adanya teroris yang mungkin berada sehotel dengannya, ditambah getaran patriotisme dadakan sebagai warga yang sedang mendapat “panggilan tugas negara”; beliau pun menuruti permintaan si penelpon tanpa tanya2 lagi. Cuma matikan HP satu jam saja, apalah ruginya, pikir pak LS. Matilah HP.

    Detik yang sama, istri beliau di Jayapura mendapat telpon dari seorang yang mengaku sebagai penyelenggara semiloka di Manokwari. Pak LS, katanya, baru saja ditimpa musibah kecelakaan; dan kini sedang “dalam kondisi kritis di RSUD”. Bu LS dimintai “persetujuan lisan anggota keluarga untuk mengoperasi pasien”, dan diminta segera mentransfer dana sebesar 20 juta untuk biaya rumah sakit, ke nomor rekening yang di-sms kemudian. “Cepat,” pesan si penelpon; “waktu kita hanya satu jam”.
    Bu LS, penuh melodrama dan panik ekstrabiasa, sontak berusaha menghubungi nomor HP suaminya. Tidak aktif, tentu saja.
    Tanpa memberi peluang sedetikpun pada logika, beliau pun langsung melesat menuju bank.

    Adapun yang menjadi pahlawan dalam kisah epik ini, adalah pihak bank. Melihat gelagat bu LS yang gelisah, teller bank langsung bertanya ada apa sebenarnya. Begitu mendengar cerita bu LS yang dituturkan dengan panik dan tergesa-gesa, nona teller yang konon manis dan baik hati itu segera berusaha menenangkan beliau. Disampaikannya bahwa itu kemungkinan adalah upaya penipuan. Bu LS disarankan menghubungi kampus, karena seharusnya merekalah yang pertama kali dihubungi pihak penyelenggara semiloka. Saat dihubungi, pihak kampus terkejut dan mengaku tidak pernah dihubungi penyelenggara semiloka perihal “kecelakaan” dimaksud.
    Selama 40 menit berikutnya, nona teller beserta CS dan petugas keamanan bank terus berupaya menenangkan bu LS, menyarankan untuk terus berusaha mengontak nomor pak LS, menghubungi semua orang yang sekiranya tahu tentang kepergiannya ke Manokwari, sambil menunggu pihak kampus yang sedang menghubungi penyelenggara kegiatan.

    Saat akhirnya pak LS menyalakan kembali HP, dan akhirnya bisa mendengar suara panik istrinya di seberang, berakhirlah drama satu jam itu dengan “oooalaaah”, “syukurlah”, “lain kali harus lebih waspada”, dan “titip salam buat mbak teller yang manis itu ya…”.

  5. 5 lambrtz 19/02/2012 at 12:53 PM

    @AnDo

    Biasanya sih jebakan betmen ini buat calon korban yang mudah panik

    Ya, syukur saya punya orang tua yang tidak mudah panik. Sepanik-paniknya mereka, mereka musti cross-check dulu, makanya saya dapat telepon begitu #:-S

    Eh itu saya juga pernah lho dapat SMS mama minta pulsa. Itu belom sehari habis saya balik SG habis liburan di Jogja. Nomornya +62😆

    Kalau nama saya memang udah terlanjur kena publikasi lah. Tapi telepon rumah, saya ndak pernah tulis lho. Telepon HP aja kagak😐

    ***

    @Kimi
    Syukur kepada Allah keluarga Kimi ndak pernah dapat yang macam begini. Kalau yang hadiah itu rada umum kayanya ya😛

    ***

    @Grace, Fritzter

    Terima kasih buat sharing Mbak dan Mas Grace dan Fritzter di sini. Ternyata bukan cerita baru juga.😕 Dan syukurlah keluarga saudara/dosen Anda, selain kena panik temporer, tidak kenapa-kenapa.

    DI cerita-cerita sampeyan berdua, modus operandinya mirip ya. Penelepon meminta tertelepon pertama untuk mematikan HPnya. Kalau penelepon tahu nomor HP saya, apalagi kalau saya di Indonesia, mungkin mereka sudah nghubungi saya untuk mematikan HP. Malah jadi pelajaran buat saya untuk tidak mematikan HP.😆

    Tapi yang saya masih heran itu, kok mereka tahu saya, sodara Mbak Grace, dan dosen Mas Fritz ndak ada di rumah? Kebetulan aja atau gimana itu? Dan apakah di kasus yang Anda ceritakan, penelepon ngerti nama tertelepon juga?😕

  6. 6 yud1 19/02/2012 at 1:39 PM

    curiga soal ada data yang mungkin bocor dari 4444. kalau diperhatikan data apa saja yang di-submit di sana, kemungkinannya jadi terbuka.

    prerequisites-nya di sini informasi nama. nomor telepon genggam. alamat. semua bisa diperoleh dari situ. untuk gong-nya, bisa sms/telepon kaleng suruh matiin telepon.

    sisa poin yang masih bolong cuma nomor telepon rumah, tapi itu juga bukan hal yang susah. mapping alamat rumah-nomor telepon rumah harusnya bisa diperoleh, yah kalau vendor taksi di Indonesia bisa punya daftar ini, berarti kan bukan daftar sakral-rahasia juga. IMHO, sih.

  7. 7 lambrtz 19/02/2012 at 1:53 PM

    4444 itu apa ya Yud?😕 Udah lupa euy :-SS

    Takutnya sih kalau dulu saya secara ndak sengaja ngasih informasi pribadi ke pihak yang tak bertanggung jawab. Masalahnya, ini udah bertahun-tahun lalu mustinya, jadinya saya udah lupa juga. Kemungkinan lain ya ini dari pihak yang seharusnya bertanggung jawab jadi tak bertanggung jawab👿

  8. 8 itikkecil 19/02/2012 at 2:38 PM

    orang tua saya pernah digituin, katanya adik saya yang ditangkap polisi. tapi begitu ditanya nama bapak saya siapa, si ‘adik’ saya itu gak bisa jawab

  9. 9 lambrtz 19/02/2012 at 2:51 PM

    Penipu level kecoak😆

    Ya memang tanya macam begitu jadi teknik sederhana tapi ampuh buat klarifikasi diri ya mbak ya😉

  10. 10 fritzter 19/02/2012 at 4:04 PM

    Tapi yang saya masih heran itu, kok mereka tahu saya, sodara Mbak Grace, dan dosen Mas Fritz ndak ada di rumah? Kebetulan aja atau gimana itu?

    Itulah.😕
    Dalam kasus Pak LS, kebingungan itu akhirnya mengarah pada kecurigaan keterlibatan orang-orang terdekat; sehingga akhirnya tidak jadi dilaporkan ke polisi demi menghindari potensi konflik dengan kerabat/tetangga.🙄

    Selain memanfaatkan informasi dari orang dekat, kecurigaan saya searah dengan bung yud1 (hey mate, long time no read😛 ) di atas. Pelaku punya akses ke database operator seluler; atau minimal database landline Telkom.
    Kemungkinan kedua itu nampak pada satu modus penipuan lain di Jayapura : penipuan Indomega.

    Indomega ini scam-shop berkedok toko elektronika dan perkakas rumah tangga yang beroperasi di Jayapura sekitar tahun 2008.
    Modusnya, ratusan – mungkin juga ribuan – penduduk Jayapura tiba-tiba mendapat telepon (landline) yang mengaku dari Telkom, menyampaikan bahwa ybs memenangkan undian “pelanggan Telkom teladan bulan ini” – atau semacamnya. Undian itu diklaim sebagai kerjasama Telkom dengan Indomega, dan para “pemenang” harus mengambil hadiahnya di Indomega.
    Biasanya, setibanya di Indomega – yang berbentuk ruko ukuran 6 x 10m, “pemenang” disambut meriah oleh 5-6 staf Indomega, didudukkan, lalu disuguhi segala bentuk teknik sugesti paling murahan yang pernah ada.
    “Hadiah” undian untuk rata-rata “pemenang” adalah jam dinding. Atau kipas angin kuecil. Atau Dispenser kuecil. Tapi, alih-alih membawa pulang hadiah, pelanggan ditawari – atau lebih tepatnya di-ultimatum – untuk menukar hadiahnya dengan kupon undian baru yang berisi “kesempatan” MEMBELI barang2 lain dengan “harga super murah”.

    Adapun barang2 yang ditawarkan adalah perkakas2 elektronik a la home-shopping (alat pijat elektronik, sabuk magnetik, dsb.) dengan merek knock off tingkat tiga.

    Yang punya cukup akal sehat untuk menampik “tawaran” itu, dan memilih hadiah gratis yang menjadi haknya, biasanya diberi tahu bahwa stok hadiah “untuk sementara habis”; dan mereka harus datang lagi keesokan harinya, atau esoknya lagi, atau esoknya lagi, untuk mengecek ketersediaan hadiah dimaksud.

    Walaupun tidak sedikit anggota kepolisian di Jayapura yang sempat juga menjadi korban maupun hampir-korban Indomega ini, anehnya tidak pernah ada proses hukum terhadap toko itu. Pelanggan yang meminta konfirmasi ke Telkom biasanya mendapat penjelasan model disklaimer yang menyangkal segala keterlibatan Telkom dan menghimbau pelanggan untuk “lebih berhati-hati”. Tapi itu disampaikan hanya kepada pelanggan yang datang ke Telkom. Tidak ada release khusus dari Telkom tentang hal itu.
    Toko Indomega di Jayapura tutup sebulan kemudian. Tidak ada penangkapan. Tidak ada proses hukum.

    Seperti biasa, dalamnya kebodohan™. 🙄

  11. 11 fritzter 19/02/2012 at 4:05 PM

    Tulung hapus duplikat komen yang pertama, Mbe.:mrgreen:

  12. 12 fritzter 19/02/2012 at 4:09 PM

    4444 itu registrasi pengguna seluler di Indonesia, btw.:mrgreen:

  13. 13 yud1 19/02/2012 at 5:49 PM

    n saya searah dengan bung yud1 (hey mate, long time no read😛 ) di atas.

    😯 euh… *tersapu-sapu, kelamaan gak nulis* xD

    re: scam Indomega, kayaknya bisa jadi juga tuh ada kemungkinan kasus penipuan seperti ini asalnya dari scam model kayak begitu. walaupun praktek scam-nya tutup, orang-orangnya kan masih ada. gak mungkin juga datanya dimusnahkan, toh?😕

  14. 14 Felicia 19/02/2012 at 11:14 PM

    kalo saya akhir2 ini sering dapat sms yang minta transfer ke rekening abcdefgh….. biasanya langsung dilaporin no rekeningnya, biar ditutup sama pihak bank >:)
    ada juga sms yang menawarkan bisnis pulsa atau jual handphone… kalau ini saya curiga mereka dapat nomor hp saya dari tukang jualan pulsa elektrik… jadi sekarang ini saya kalau isi pulsa lewat ebanking aja supaya no hp ngga menyebar…

  15. 15 lambrtz 20/02/2012 at 12:49 AM

    @fritzter😯 Wah menarik juga bisnis model Indomega itu *eh*
    Makasih lagi sharingnya dan info soal 4444😀

    @fritzter, yud1
    Nah itu! Takutnya kalau udah nyanthol ke satu orang, tersebar ke pihak lain di dunia hitam sana! :-S

    @Felicia
    Waduh :-S
    Kalo di sini sih, saya lebih memilih beli pulsa di pasar. Harapan saya, mbantu pedagang kecil non korporat. Tapi kalau di Indonesia kayanya ndak mudah ya :-S

  16. 16 Alex© 20/02/2012 at 1:22 AM

    Masih beruntunglah kau orang tuamu ndak panik dan ada sakit jantung macam kawan satu ini.

    Ini modus lama benarnya, gayanya saja berubah. Orang dalam di operator telekomunikasi ada main kok ini. Baik itu seluler atau bukan. Banyak pihak juga bisa terlibat, termasuk penjual pulsa (kalau untuk kasus seluler), layanan 4444 yang bocor itu, dan tentunya peranan internet dan buku telpon (semacam data minning gitu untuk nyari data calon korban). Banyak sumbernya itu. Para pelaku tidak selalu sama. Adik perempuanku pernah kena. Bapakku juga.

    Bapakku dulu dihubungi oleh seseorang yang mengaku pihak dari PT Baterai ABC. Konon beliau akan dapat 1 unit Lexus IS 250 keluaran tahun itu (2008). Cuma terkendala dengan pembuatan BPKB, karena mesti si pemilik mengurus langsung dalam tempo 2 hari. Itu telpon ke toko langsung. Dan, tentu, “sang humas PT Baterai ABC”, sangat pemurah hati untuk menolong menguruskan, agar “Lexus IS 250” itu dapat segera dikirimkan agar pantat keluarga kami bisa duduk segera di joknya.

    Bapakku terpancing juga. Bukan apa-apa: bersebab sangat meyakinkan gaya bicara “sang humas PT Baterai ABC”. Beliau -“sang humas PT Baterai ABC” yang pemurah hati itu- bahkan tahu kalau usaha dagang kami sering dapat undangan untuk penarikan undian ABC di Medan, di Padang, dan di Jakarta. Beliau -“sang humas PT Baterai ABC” nan pemurah itu- juga tahu bahwa kami memiliki tabungan di 2-3 bank. Cuma kirim 10-15 juta saja demi Lexus gratis? Oh. Siapa tak akan tertarik… jika memang benar?

    Jadi bapakku pun segera panggil itu karyawan toko. Suruh ke bank. Nah, si karyawan toko itu, jeli juga. Sebab biasanya, apabila ada undangan, bonus, atau promo begitu, biasanya pihak distributor langsung ke toko. Dia telpon aku yang masih ganteng jadi mahasiswa di Banda Aceh waktu itu. Curiga. Telponlah ke perwakilan di Medan. Rupanya hoax.

    Jadi, selamatlah itu uang 10 jutaan.

    Dan si penipu? Pas nelpon balik, bapak ngasih nomor aku. Katanya suruh telpon itu, sudah diambil-alih urusan sama anak, katanya. Begitu dia nelpon, ulur-ulurlah waktu. Nomor 021, Jakarta punya kode area, muncul di hape. Kukira, kasih pelajaran sajalah. Bak punah rekening telponnya itu. Sudah ngomong panjang lebar, pura-pura bodoh, akhirnya kubilang, “Sebenarnya kami sudah banyak mobil. Dari jaman mobil Jerman sampai mobil Si Tommy Soeharto ada di garasi. Sudah capek kami naik mobil. Sesekali kasihlah helikopter atau pesawat kecil. Cuma… karena anda sudah capek-capek, mahal-mahal nelpon, kirim sajalah itu empat biji bannya ke banda aceh. Mobil ambil untuk anda. Kami ban saja, Kapan-kapan anda kemari, biar kami kasih makan itu ban untuk anda…”

    Diputusin langsung.😆
    😆

  17. 17 Alex© 20/02/2012 at 1:25 AM

    Erata:

    Masih beruntunglah kau orang tuamu ndak panik dan ada sakit jantung

    Maksudnya […]dan takada sakit jantung[…]

  18. 18 lambrtz 20/02/2012 at 1:43 AM

    Teman lab saya Koh Eon bilang kalau 061 adalah kode daerah Medan dan sekitarnya. Jadi ndak cuma Binjai. Makasih Koh.😀

    @Alex©
    Memang benar itu keputusan bapakmu kasih ke Abang. Biar tau rasa itu penipu kena sarkasme ala Bang Alex😆
    Yah untunglah keluargamu tak apa Bang u_u
    Cuman itu mereka bisa tahu dari mana kalau toko Abang ada relasi dekat dengan ABC? Aku bener2 takut kalau itu bocor dari tangan pihak yang seharusnya bertanggung jawab tapi ga bertanggung jawab itu e Bang. Apalagi orang tua jauh dariku, bingung pula ntar kalau ada apa-apa.😐

  19. 19 Nando 20/02/2012 at 10:12 AM

    Wahh… ada yang disuruh mematikan ponsel segala, ya? Cerdik sekali.
    Tapi memang sungguh aneh karena mereka bisa mengetahui nama kita, no. ponsel dan no. telp. rumah, sehingga akhirnya kita mencurigai keluarga sendiri dan teman-teman kita. Tapi saya yakin kalau orang-orang yang kita kenal itu tidak terlibat. Ini pasti kerjaan oknum operator seluler, kartu kredit atau asuransi di mana kita jadi kustomernya.

  20. 20 lambrtz 20/02/2012 at 10:25 AM

    Selamat datang Bang Nando😀

    Iya Bang, saya juga kaget mbaca komentar teman-teman di sini kalau trik-triknya bisa lebih heboh daripada apa yang keluarga saya terima. Karena kejadian sejenis ini, dengan nama saya yang cukup mendetil walaupun saya sudah beberapa tahun meninggalkan kampung halaman, bukan yang pertama, kami sekeluarga jadi heran juga itu nama saya bisa menyebar segitunya dari mana. Yang saya takutkan itu kalau, seperti Bang Nando bilang, orang2 macam di operator seluler yang terlibat. Padahal orang-orang di kampung halaman mau tidak mau musti berurusan dengan mereka.😐

  21. 21 Alex© 21/02/2012 at 7:06 PM

    Cuman itu mereka bisa tahu dari mana kalau toko Abang ada relasi dekat dengan ABC?

    Itu juga kami bingung. Curiga sama orang distributor? Mungkin juga, tapi masih agak susah diterima. Sebab sudah kenal-mengenal. Pun raut wajah 2 orang distributor itu kagetnya kayak beneran -entah kalau itu cuma drama- waktu dikasih tahu. Meyakinkanlah waktu minta nomor telpon yang coba nipu itu dan bilang nanti kalau dihubungi yang semacam itu, suruh hubungi nomor hapenya saja.

    Ujung-ujungnya gara-gara penipu itu, sama orang sekitar jadi nggak enak. Padahal mereka jauh, lha nomornya saja Jakarta. Ditanya sama orang Telkom, bukan pula nomor Flexy katanya.

  22. 22 lambrtz 21/02/2012 at 11:16 PM

    …😐 jadi ngrasa serem ga sih Bang. Semacam ngrasa kalau kehidupan kita diamati, dibuntuti, di-stalk orang sekampung, tapi ndak tahu orang-orang itu yang mana😐

  23. 23 Suluh 03/03/2012 at 6:53 AM

    @fritzte: Eh soal indomega, itu ada nama kerennya yang populer dikalangan Salesman, namanya HypnoSelling. Walau kalau aku sih lebih suka menamakan cara ini Gendam Terang terangan😀. di Jogja juga masih marak, di Mall malahan😉

  24. 24 lambrtz 08/03/2012 at 1:33 AM

    ^ Yang di Galer*ia ya? :-“


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

February 2012
S M T W T F S
« Jan   Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
26272829  
Click to view my Personality Profile page