Arah Hidup

Ini sebenarnya sudah terpikir sejak beberapa bulan yang lalu, walaupun secercah keinginan kecil untuk itu sudah ada sejak jauh di masa lampau bahkan sebelum saya mulai merantau. Hanya setelah nonton film pendek [Kony 2012] yang saya posting di Facebook, timbul niatan untuk nulis ini.

Postingan ini ada hubungannya dengan kegalauan hidup. Ya, galau. Galau dalam arti luas. Seluas langit atau samudera, entahlah. Yang jelas, berhubungan dengan [quarter-life crisis]. Lebih persisnya lagi, menurut penjelasan Erik Erikson [di sini], ini berkaitan dengan pertanyaan “What Can I Be?”

***

“Aku kan pergi jauh demi cita-citaku
Remi mohon doa restu darimu
Jangan bersedih teman-temanku
Hidup ini adalah perjuangan
[…] S’lamat berpisah semuanya
Aku ‘kan pergi untuk mengembara
Marilah kita mulai melangkah
Menuju cita-cita bahagia”

Opening “Remi” versi Indonesia

Dulu saya memutuskan untuk merantau dengan tujuan utama untuk membuat diri saya berguna. Adalah berkat yang luar biasa dari Tuhan buat saya lewat orang tua yang memotivasi untuk mengambil jalan hidup ilmu pengetahuan. Harapan saya pun besar untuk itu, bahwa saya bisa membuat kontribusi yang besar buat ilmu pengetahuan. Ternyata, dunia menampar beberapa kali, karena saya ternyata belum punya bekal kuat untuk sampai ke situ. Lebih jauhnya, silahkan liat postingan 3 tahun yang lalu [di sini]. Selain itu, lambat laun saya pun menyadari bahwa bidang saya pelajari ini nampaknya semacam “ilmu tersier”. Ya, siapa sih yang butuh Computer Graphics kalau bukan orang-orang yang sudah mampu beli game atau nonton kartun di bioskop. Pun itu tidak sebegitu megahnya bila dibandingkan Fisika murni dengan riset di CERN-nya, Biologi dengan teori evolusi dan kedokterannya, serta Astronomi dengan pencarian habitable planet-nya. Selain itu, riset saya juga melulu di lab, dari pagi siang sampai tengah malam. Tidak seperti [Apratz], misalnya, sesama murid PhD yang baru-baru ini ke Ethiopia dalam rangka riset plus makan makanan tradisional sana. Atau temen saya [labima] yang pekerjaan barunya membuatnya pergi ke pelosok-pelosok Indonesia, ke tempat-tempat yang memang membutuhkan perhatiannya. Pemikiran seperti ini juga yang membuat saya tempo hari [mensinisi Ilmu Murni]. Karena, buat saya yang sebenernya sudah berurusan dengan riset aplikatif ini, matematikawan murni nampak seperti anak-anak yang suka bermain-main saja dengan dunianya. Tapi yang ini sudah ditulis tempo hari. Yang jelas, saya kadang jadi merasa bahwa apa yang saya lakukan rasanya kurang berguna buat orang-orang.

Contohnya mudah saja, dan belum lama ini terjadi. Latar belakang ceritanya, saya ini lebih merasa sebagai “orang Jogja” ketimbang “orang Indonesia”. Setidaknya identitas pertama lebih kuat ke saya. Nah, teman-teman yang tinggal di Indonesia mestinya lebih familiar dengan berita [ini].  Intinya sih, seorang seniman Yogyakarta, Bramantyo Prijosusilo berencana membuat aksi teatrikal di depan markas Majelis Mujahiddin Indonesia, tapi batal karena konon kabarnya waktu masih di andong sudah ditarik-tarik sama anggota mereka. Pikir saya waktu itu, sementara kampung saya lagi bermasalah, apa yang saya lakukan di sini? Walaupun kalau saya ada di sana juga belum tentu bisa berbuat apa-apa.

Jadi ya begitulah. Sebenarnya ada terbersit sedikit keinginan di benak saya untuk melakukan kegiatan sosial yang benar-benar menyentuh orang yang memang perlu. Ndak perlu jauh-jauh pulang kampung ke Jogja, apalagi sampai ke Afrika. Di negara tempat saya tinggal ini, masih banyak juga orang kurang beruntung, seperti saya pernah ungkit di [blog lama saya].

Namun demikian, apapun yang saya tulis di sini, saya sadari bahwa keinginan ini masih emosional, dan tidak baik untuk mengambil keputusan yang dilandasi emosi belaka. Jadi saya melakukan sedikit pemikiran dan menemukan berbagai rintangan yang bisa ditemui. Pertama, dari saya sendiri, saya sedang stres. Hidup saya masih tak jelas, dengan waktu sebagian besar dihabiskan untuk bermain PS coding untuk riset. Kedua, masih dari saya sendiri, kendati ada rintangan pertama, saya menyadari bahwa semakin tua saya, kehidupan saya semakin stabil, dan mungkin suatu saat kelak [saya jadi dekaden dan cuma ingin menjaga kestabilan hidup]. Ketiga, dari luar, saya tidak tahu apakah orang tua dan pasangan saya kelak (jika ada) akan berkenan jika saya musti menghabiskan banyak waktu dengan “proyek tak jelas secara finansial”. Kalau menilik lagu di bawah ini

Aku dikudang mbesuk gedhe dadi dokter (Aku…dininabobokkan? Besok kalau besar jadi dokter)
[…] Hanacaraka datasawala (ABCDE-nya huruf Jawa)

Iki cerita jaman semana (ini cerita jaman dahulu)
Dijajah landa urip rekasa (dijajah Belanda, hidup sengsara)
Saiki merdika ya dha golek bandha (sekarang merdeka ya pada cari uang)

“Kuncung” – Didi Kempot

(Lirik dari [sini])

Adalah keinginan banyak orang tua generasi baby boomer *halah* di Indonesia bahwa anak-anaknya menjadi orang yang mapan dan sukses. Kalau dalam kasus saya agak mendingan, setidaknya sudah cukup untuk membuat saya bersyukur. Tokoh blogger Indonesia, Alex Hidayat *loh*, pernah menulis [di sini] bahwa di kampungnya, orang-orang tua menganggap bahwa bekerja itu antara pakai seragam (baca: jadi PNS) atau punya toko. Nah, yang saya takutkan yang macam ini. Bahwa orang-orang terdekat saya semata-mata menginginkan saya untuk hidup stabil. Apalagi kalau melihat banyak teman-teman di Facebook, yang menurut justifikasi bias dan sepihak saya, terlalu cepat hidup mapan, dan saya jadi sinis setengah hidup. Yah, kemungkinan ini datang dari lingkungan saya bisa jadi ada. Mari kita lihat saja.

***

Sudah cukup saya menulis panjang lebar. Jadi ya begitulah. Kesimpulannya, ada sedikit keinginan dari saya untuk bisa lebih berguna buat orang-orang. Mungkin suatu saat saya akan memulainya kecil-kecilan dulu dari sekitar saya, kalau beban hidup sudah berkurang.

…yang bahkan sebenarnya pun kurang tepat.

41 And Jesus sitting over against the treasury, beheld how the people cast money into the treasury. And many that were rich cast in much. 42 And there came a certain poor widow: and she cast in two mites, which make a farthing. 43 And calling his disciples together, he says to them: Amen I say to you, this poor widow has cast in more than all they who have cast into the treasury. 44 For all they did cast in of their abundance; but she of her want cast in all she had, even her whole living.

Mark 12:41–44

Sekian dan terima kasih.

15 Responses to “Arah Hidup”


  1. 1 AnDo 08/03/2012 at 1:11 AM

    Hidup Blogger!!! \m/

  2. 2 lambrtz 08/03/2012 at 1:31 AM

    hidup blogger!™

  3. 3 S™J 08/03/2012 at 1:42 AM

    wah sayang gak ada banner iklannya😎

  4. 4 Alex© 08/03/2012 at 2:31 AM

    Postingan ini ada hubungannya dengan kegalauan hidup. Ya, galau. Galau dalam arti luas. Seluas langit atau samudera, entahlah.

    Galau itu tak seluas langit atau samudra, tak juga sekecil parit atau lubang telinga. Karena dia, galau itu, adalah kata terakhir di kalimatmu: entahlah:mrgreen:

    Yang jelas, berhubungan dengan [quarter-life crisis]. Lebih persisnya lagi, menurut penjelasan Erik Erikson [di sini], ini berkaitan dengan pertanyaan “What Can I Be?”

    Krisis seperempat abad itu memang keparat. Manusia seperti sudah diprogram massal untuk menganggap diri mereka akan berusia 100 tahun, lalu membagi empat usia itu sebagai patok-patok transit kehidupan. Sebuah hal yang sebenarnya naif belaka, ketika rata-rata hidup di zaman ini berkisar 60 tahun-an saja.

    “Aku kan pergi jauh demi cita-citaku
    Remi mohon doa restu darimu
    Jangan bersedih teman-temanku
    Hidup ini adalah perjuangan
    […] S’lamat berpisah semuanya
    Aku ‘kan pergi untuk mengembara
    Marilah kita mulai melangkah
    Menuju cita-cita bahagia”

    Opening “Remi” versi Indonesia

    😆
    Serial Remi dari cerita Nobody’s Boy itu memang entahlah-nian. Bocah seperti dia sudah krisis duluan soal krisis hidup, tapi menang satu: tak krisis jiwa kebocahannya. Ini yang tak dimiliki atau makin berkurang dari mereka yang sudah (merasa) dewasa, sehingga susah untuk riang kala menghadapi hidup😀

    Harapan saya pun besar untuk itu, bahwa saya bisa membuat kontribusi yang besar baut ilmu pengetahuan.

    Baut sudah ditemukan….:mrgreen:

    Ternyata, dunia menampar beberapa kali, karena saya ternyata belum punya bekal kuat untuk sampai ke situ.

    Bekal seperti apa?😀

    Kalau memang bertualang, merantau, maka bekal itu kukira adalah si perantau itu sendiri. Jika kau sudah membawa cukup bekal, dan akan nyaman dalam petualangan/perantauanmu, itu bukan merantau sama sekali. Itu darmawisata namanya.

    Apa yang kurang akan dia dapatkan di jalan, apa yang masih kurang dia mesti cukupkan. Ini sama macam Muhammad hijrah ke Madinah dan Yesus mengembara sebelum kembali menjadi Anak Manusia.

    *aku suka dengan kata Anak Manusia ini. Ada makna lain terasa, lebih luhur dari sekedar manusia (dari sudut pandangku seorang muslim, tapi itu perkara lain yang mungkin akan kutulis sekali waktu nanti)*

    Selain itu, lambat laun saya pun menyadari bahwa bidang saya pelajari ini nampaknya semacam “ilmu tersier”. Ya, siapa sih yang butuh Computer Graphics kalau bukan orang-orang yang sudah mampu beli game atau nonton kartun di bioskop. Pun itu tidak sebegitu megahnya bila dibandingkan Fisika murni dengan riset di CERN-nya, Biologi dengan teori evolusi dan kedokterannya, serta Astronomi dengan pencarian habitable planet-nya.

    😆

    Akan sedikit panjang cerita ini. Tapi ‘gini:

    Aku belum kenal lama dengan saudara-saudari istriku, akrab dengan adik ipar juga baru sesudah menikah saja. Tapi… tahun lalu dia tamat SMP dan memutuskan pengen masuk SMK. Keluarga istriku cukup religius, keluarga besar Muhammadiyah. Dan rata-rata masuk pesantren. Aku lancang mendukung niatannya untuk masuk SMK, untuk minatnya pada desain grafis. Dan memberinya bacaan-bacaan serta sedikit pengalaman bergaul dengan kawan-kawan di bidang ini.

    Entah kenapa, mungkin karena cakapku sudah macam orang jual obat di pasar, dengan sedikit sulap mampu meyakinkan orang bahwa olesan salepku bisa membinasakan segala kurap bahkan kurap menahun sejak zaman Nabi Musa; ibu mertua jadi setuju (dan seperti rata-rata para ratu rumah tangga, kalau sang ratu sudah setuju, raja pun mati langkah). Aku yang mengantarnya mengantar ke salah satu SMK favorit di Bogor, aku yang mewakili jadi walinya.

    Aku bilang yang sama pada adik iparku, pada istriku, pada ibu mertuaku: perkaranya bukanlah apakah ilmu itu umum atau tidak. Tapi bahwa minat dan bakatnya yang kita perhitungkan. Mendidiknya masuk pesantren, lalu “berbuat kebajikan” dengan mungkin jadi guru agama atau ustadzah, memang baik. Tapi menyia-nyiakan bakat yang diberikan Tuhan, yang mungkin akan lebih berguna nanti, sepertinya tidak baik.

    Aku juga tahu dan bilang padanya bahwa ilmu semacam itu adalah ilmu yang tak “berkelas” benar dalam masyarakat luas. Tak usah jauh, aku sendiri di Aceh jika iseng mengaku “pemrograman jaringan” sebagai salah satu kerjaan sampingan, orang akan menganggap itu semacam, “bisa suntik orang sakit? tidak? bisa bangun sekolah? tidak? bisa bangun jalan? tidak? ah, ilmu apa itu?”

    Tidak itu saja. Termasuk hobi menulis jurnal lokal. Tak ada pengaruh secara umum. Tak akan tulisan soal rentannya korupsi di kabupaten akan merubuhkan pemerintahan hari ini.

    Tapi, kegunaan itu sangat-sangat bervariasi. Dalam hal aku mendukung adik iparku masuk SMK dan mengambil langkah awal di kelas multimedia, bukan untuk menjegal kemungkinan bahwa dia akan sukses dalam bidang lain. Tapi, seperti evolusi, kehidupan akan menemukan jalannya sendiri. Berguna atau tidak nanti, tak ada yang pasti nian. Berapa banyak dokter bertebaran hari ini, ada yang dari mereka sekolah demi gengsi, dan tak tahu apa-apa soal bagaimana meringankan beban orang miskin berobat dengan suplai obat generik, bukan dengan resep mahal dimana ada tulisangan ceker mereka berbagi komisi dengan apotik para kroni.

    Selain itu, riset saya juga melulu di lab, dari pagi siang sampai tengah malam.

    😆
    Aku merindukan masa di laboratorium komputer begitu😆

    Yang jelas, saya kadang jadi merasa bahwa apa yang saya lakukan rasanya kurang berguna buat orang-orang.

    – To be is to perceived (kata Berkeley)
    – To be or not to be (sabda Hamlet)
    – To be do be do be dam dam (nyanyian Arie Kusmiran, tak ada makna cuma kata-kata pengisi laguan saja, tapi berguna memperkuat nada)
    :mrgreen:

    Intinya sih, seorang seniman Yogyakarta, Bramantyo Prijosusilo berencana membuat aksi teatrikal di depan markas Majelis Mujahiddin Indonesia, tapi batal karena konon kabarnya waktu masih di andong sudah ditarik-tarik sama anggota mereka. Pikir saya waktu itu, sementara kampung saya lagi bermasalah, apa yang saya lakukan di sini? Walaupun kalau saya ada di sana juga belum tentu bisa berbuat apa-apa.

    Turun seperti dia, maksudmu?

    Meski aku memang kadang-kadang sinis dengan aktivisme ala social-media, bersebab memang aku sering di jalanan dan eneg kadang-kadang melihat beragam teori dan arus kritik mainstream tapi tak merubah situasi apapun; tapi kesinisanku itu juga sebentuk elitisme “merasa sudah berbuat” juga. Pada hakikatnya, ada guna masing-masing. Ada orang yang menulis buku, dan ada yang menerjemahkan buku itu sebagai manual di lapangan. Itu tak jadi masalah benar semestinya. Percayalah, terkadang ada orang-orang yang (merasa) sudah berbuat, baik skala Bramantyo di Jogja atau skala kabupaten sepertiku, tetap ada merasa tak berdaya juga. Tak semua orang harus menjadi Sondang.

    Namun demikian, apapun yang saya tulis di sini, saya sadari bahwa keinginan ini masih emosional, dan tidak baik untuk mengambil keputusan yang dilandasi emosi belaka.

    Tidak. Sangat tidak baik.😀

    Pertama, dari saya sendiri, saya sedang stres. Hidup saya masih tak jelas, dengan waktu sebagian besar dihabiskan untuk bermain PS coding untuk riset.

    Berbahagialah orang-orang yang stress di kala sedang belajar. Ada rasa nikmat akan terkenang nanti. Sedap umpama indomie instan yang biasa diseduh dan akan kau rindukan suatu hari nanti😛

    Kedua, masih dari saya sendiri, kendati ada rintangan pertama, saya menyadari bahwa semakin tua saya, kehidupan saya semakin stabil, dan mungkin suatu saat kelak [saya jadi dekaden dan cuma ingin menjaga kestabilan hidup].

    😆

    Dalam diri orang yang paling zuhud pun ada keinginan menjaga kestabilan hidup, meski cuma makan angin saja seperti para pertapa. Mereka juga menolak mati begitu saja kok. Haha.

    Ketiga, dari luar, saya tidak tahu apakah orang tua dan pasangan saya kelak (jika ada) akan berkenan jika saya musti menghabiskan banyak waktu dengan “proyek tak jelas secara finansial”.

    Semoga saja berkenan. Karena menjadi seperti kehendak diri itu mewah dan mahal harganya.

    Adalah keinginan banyak orang tua generasi baby boomer *halah* di Indonesia bahwa anak-anaknya menjadi orang yang mapan dan sukses.

    Dalam skala tertentu, masih wajarlah ini. Orang tua mungkin karena pengaruh bawah sadarnya untuk memastikan anak tak kelaparaan saat kecil, juga berkehendak anak tak kelaparan saat dewasa nanti.

    Kalau dalam kasus saya agak mendingan, setidaknya sudah cukup untuk membuat saya bersyukur. Tokoh blogger Indonesia, Alex Hidayat *loh*, pernah menulis [di sini] bahwa di kampungnya, orang-orang tua menganggap bahwa bekerja itu antara pakai seragam (baca: jadi PNS) atau punya toko.

    Njrit! Tokoh?😆😆

    Tokoh blogger nomaden maksudmu?😆😆

    *iri melihat blogsome lama di sana itu masih terpampang setia, bukan seperti blog-blog blogger nomaden yang patah-tumbuh-hilang-bikin-lagi*:mrgreen:

    Ya itu memang sudah macam kultur. Bukan di sini saja, tapi sepertinya juga di banyak tempat di Indonesia. Ada rasa persaingan dan perlombaan soal kemapanan ini, yang bisa kau lihat terbersit dalam mata para warga negara kala melihat iring-iringan mobil orang terhormat lewat, atau melihat mobil mahal melintas di depan mata. Susah memang menerabas dogma warisan semacam standar kemapanan ini:mrgreen:

    Nah, yang saya takutkan yang macam ini. Bahwa orang-orang terdekat saya semata-mata menginginkan saya untuk hidup stabil.

    Kukira untuk membuat mereka terbantahkan, tanpa harus menyingkirkan mereka dari status sebagai orang terdekat, adalah sedapat mungkin tidak merepotkan mereka, tidak menadah pinta. Ini bukan perkara sombong, tapi bahwa sekali waktu memang mesti berkata, “Kalau menurut saudara hidupku tak stabil, coba ingat adakah aku pernah berhutang kepada kalian?”. Jawaban macam ini perlu dipersiapkan. Stabil mestilah dikembalikan pada makna dasar: stabil, bukan berlebih bukan berkurang.

    Kesimpulannya, ada sedikit keinginan dari saya untuk bisa lebih berguna buat orang-orang. Mungkin suatu saat saya akan memulainya kecil-kecilan dulu dari sekitar saya, kalau beban hidup sudah berkurang.

    Ya mulailah dari kecil-kecilan hasratmu itu. Mungkin dengan memberikan dasar-dasar dari ilmu yang kau pelajari. Di blog, atau dimana pun juga. atau kalau senggang menulis tentang negeri asalmu, tentang kesusahan mereka, dengan bahasa Inggris agar orang luar baca, kau juga bisa berguna. Tidak semua orang bisa dan ditakdirkan jadi Hercules, itu sebab ada Hermes. Penyampai pesan adalah bagian penting dari “peperangan”. Apapun perang itu.
    Atau mungkin ada hal berguna lain menurutmu, rintiskan saja.

    Selama keinginan untuk berguna, untuk menyetir arah hidup itu, tidak menjadi sumber penderitaan. Apapun akhirnya nanti, kau puas sudah melakukan barang sedikit, meski tujuan mungkin tak maksimal tercapai. Karena tujuan bukan utama, yang utama adalah prosesnya.

  5. 5 Alex© 08/03/2012 at 2:39 AM

    >> mengantarnya mengantar ke salah satu SMK favorit = mengantarnya mengantar ke salah satu SMK favorit

    >> dimana ada tulisangan ceker mereka berbagi komisi dengan apotik para kroni = dimana ada tulisangan tulisan ceker mereka berbagi komisi dengan apotik para kroni

    #erata
    #esalah
    #etypo

  6. 6 Ando-kun 08/03/2012 at 3:10 AM

    @Alex
    hidup komentator blogger!™
    ^:)^

  7. 7 Alex© 08/03/2012 at 3:45 AM

    ^ hidup komentator blogger!™
    😆😆😆

  8. 8 lambrtz 08/03/2012 at 9:44 PM

    @Alex©
    A–aku sungguh terkesima dan terpana dan terharu membaca komentarmu, Bang Alex.😥 Makasih banyak atas komentarmu😥

    Galau itu tak seluas langit atau samudra, tak juga sekecil parit atau lubang telinga. Karena dia, galau itu, adalah kata terakhir di kalimatmu: entahlah:mrgreen:

    Baik, entahlah.😆

    Manusia seperti sudah diprogram massal untuk menganggap diri mereka akan berusia 100 tahun, lalu membagi empat usia itu sebagai patok-patok transit kehidupan. Sebuah hal yang sebenarnya naif belaka, ketika rata-rata hidup di zaman ini berkisar 60 tahun-an saja.

    😆
    Itu maksudnya biar mudah hitungnya kali ya:mrgreen:
    Aku sendiri menarget hidup sampai 75 tapi yaaa mari kita lihat saja😛

    Serial Remi dari cerita Nobody’s Boy itu memang entahlah-nian. Bocah seperti dia sudah krisis duluan soal krisis hidup, tapi menang satu: tak krisis jiwa kebocahannya. Ini yang tak dimiliki atau makin berkurang dari mereka yang sudah (merasa) dewasa, sehingga susah untuk riang kala menghadapi hidup

    *jlebjlebjleb*😆
    Sudah beberapa tahun ini aku merasa demikian. Kehilangan jiwa anak-anak, dan jadi susah riang. Isinya galau sama depresi doang😆
    Ah mungkin ini kapan-kapan(tm) bisa dituliskan.

    Baut sudah ditemukan…

    Baut mana baut? :-”
    Sudah dibereskan sebelum situ komen :-“

    Kalau memang bertualang, merantau, maka bekal itu kukira adalah si perantau itu sendiri. Jika kau sudah membawa cukup bekal, dan akan nyaman dalam petualangan/perantauanmu, itu bukan merantau sama sekali. Itu darmawisata namanya.

    Yang jadi masalah waktu itu adalah harapanku yang ketinggian. Ibaratnya orang mau mendaki gunung tinggi yang lebih tinggi dari gunung yang biasanya didaki, tapi kurang tahu medan. Alhasil ketika kenyataan datang, terbantinglah si pendaki.😛
    Tapi ya tak apa. “Aku dari jatuhku ada sedikit punya sedikit harapan akan perlindungan diri”😎 *hoek*

    Akan sedikit panjang cerita ini. Tapi ‘gini:

    Ah, makasih sharingnya Bang.😀

    Turun seperti dia, maksudmu?

    Ndak musti turun ke lapangan langsung. Aku bukan orang konfrontatif, kalau ikut paling jadi mastermind *halah*😆 Tapi kalau bisa menemukan tindakan yang menyangkut hasrat hidup orang banyak rasanya ada kepuasan tersendiri…

    Berbahagialah orang-orang yang stress di kala sedang belajar. Ada rasa nikmat akan terkenang nanti. Sedap umpama indomie instan yang biasa diseduh dan akan kau rindukan suatu hari nanti

    Amiiiin😥 Yah itu aja harapanku sebenarnya sih. Semoga di kelak kemudian hari kalau melihat ke belakang, stresku jaman sekarang bisa kutertawakan😆 BTW Indomie instan aja udah susah aku cari di sini. Yang jelas ada di toko di Orchard Road sana, tapi udah jauh, harganya mahal pula (ya iyalah). Makanya setiap kali aku pulang atau teman pulang atau kalau aku ke Batam, aku beli Indomie😆 Yah lumayan sekarang masih ada 4 bungkus😆

    tanpa harus menyingkirkan mereka dari status sebagai orang terdekat, adalah sedapat mungkin tidak merepotkan mereka, tidak menadah pinta

    Yup, ini yang aku sebenarnya ingin kulakukan. Kaya aku tulis di blogmu, aku jaman dulu dididik terlalu protektif. Orang bilang dulu aku tergantung banget sama orang tuaku. Makanya sekarang aku ingin bisa berdiri di atas kakiku sendiri tanpa bantuan orang lain.😀

    Kukira untuk membuat mereka terbantahkan, tanpa harus menyingkirkan mereka dari status sebagai orang terdekat, adalah sedapat mungkin tidak merepotkan mereka, tidak menadah pinta.

    Sebenarnya pikiran ini muncul tempo hari ketika ada teman berkata bahwa kalau kita menikah, orang tua pun akan aman dan tenteram. Ini yang aku takutkan. Aku sudah pernah bikin orang tua kecewa berat, makanya aku ga mau mengecewakan mereka lagi. Cuman masalahnya nanti kalau keinginan mereka dan aku yang berlawanan. Yah ini aku belum komunikasikan sama orang tua sih…

    Sebenarnya, tentang masalah ini, aku ada impian juga. Untuk membuka cabang keluarga di luar negeri😆
    Makanya aku rada kerepotan juga ini. Jangan sampai dapat pasangan yang suka homesick. Aku pun homesick sering juga, tapi musti kutahan-tahan.😆

    Ya mulailah dari kecil-kecilan hasratmu itu. Mungkin dengan memberikan dasar-dasar dari ilmu yang kau pelajari.

    Sebenarnya dari cabang ilmuku itu, ada celah yang bisa kumanfaatkan untuk kemanusiaan. Motion planning, banyak dipakai orang-orang di robotika untuk membuat (misalnya) robot penyelamat buat bencana. Sayangnya ini belum kesampaian. Computer Graphics, membantu dokter dalam menganalisis pasien yang kena penyakit dalam. Tapi yah mudah-mudahan nanti aku bisa mengarahkan riset ke sana…
    Aku juga kepikiran bikin artikel tentang dasar ilmu yang aku pelajari…tapi ya itu, stres menghalangiku:mrgreen: *alesan*

    Makasih banyak lagu Iwan Fals nya…jadi terharu😳

  9. 9 lambrtz 08/03/2012 at 9:46 PM

    @S™J
    Ah saya ngeblog demi kepuasan pribadi aja Mas, ndak pingin saya komersilkan😎

    @Ando-kun
    hidup komentator blogger!™ \m/

  10. 10 Zukko 10/03/2012 at 12:19 PM

    keadaan diatas kurang lebih same with me lah ini,

    dan tentang lambtrz, bisa juga itu menjadi akedemisi, ikut menyukseskan program mencerdaskan bangsa 🙂

  11. 11 Zukko 10/03/2012 at 12:20 PM

    typo : Akademisi.

  12. 12 abanxc 10/03/2012 at 6:47 PM

    Salam silaturahmi saja buat yang punya blog, sudah sangat lengkap melengkapi ini tulisan, takda hal lagi yang ingin ku koment,

    Bung Alex blogger on the blog writer😀

  13. 13 Suluh 11/03/2012 at 9:50 PM

    Tersihir. Jangan jangan daku gak punya sumbangsih; gak punya arah hidup juga.😦


  1. 1 On Research in Media Technology, Whether It Should Adhere to Public Demand or Fundamental « lambrtz's Blog Trackback on 15/03/2012 at 8:43 PM
  2. 2 Agnes Chan – Hinageshi no Hana, dan Mid-life Crisis pada Usia 20an (?) « lambrtz's Blog Trackback on 04/08/2012 at 2:42 AM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

March 2012
S M T W T F S
« Feb   Apr »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
Click to view my Personality Profile page