Renungan Paskah

Baptism of Jesus

Baptism of Jesus (via Wikipedia)

Singkat aja.

Hari Sabtu kemarin adalah pertama kalinya saya lihat sadar sepenuhnya sakramen pembaptisan orang lain, bertepatan dengan perayaan Paskah tahun ini. Tentu saja itu bukan benar-benar pertama kali, tapi toh tidak ada yang saya ingat dari pembaptisan saya lebih dari dua puluh tahun lalu. Anyway, ada sekitar 10an orang yang dibaptis. Semua orang dewasa: ada yang terlihat seumuran saya, ada yang sudah kakek-kakek. Setelah pembaptisan mereka, kami menyanyikan lagu penyambutan, semacam “welcome to the family”, dan bertepuk tangan, sementara para baptisan baru berpelukan dengan anggota keluarga mereka. Semua tampak riang gembira, karena mustinya ini momen penting dalam hidup mereka. Namun saya malah terpikir ini.

Mengapa mereka menjadi Katholik?

Tentu saja pemikiran ini tak terhindarkan, mengingat mereka sudah dewasa. Buat saya, agama dan elemen ideologi lain itu macam sistem operasi komputer. Orang-orang yang dibaptis bayi (seperti saya) bisa diumpamakan fresh installation: masih kosong, belum ada sistem operasi lain. Sementara mereka yang dibaptis dewasa mustinya sudah pernah punya sistem operasi. Lalu apa yang membuat mereka menginstal sistem operasi baru ini? Apa yang terjadi dengan yang lama? Apa dulu cuma pakai versi trial (dalam artian Katholik yang belum dibaptis)? Atau mereka dulu punya sistem operasi yang berbeda? Kalau yang kedua, apakah karena mereka tidak cocok dengan yang lama? Atau ada kekecewaan? Bagaimana reaksi orang sekitar mereka? Apa mendukung (melihat perayaan pasca pembaptisan, mestinya ada yang mendukung)? Atau ada yang mengecam?

Jadi ya seperti begitu yang ada di pikiran saya.

Sekian. Selamat Paskah buat teman-teman sesama Kristiani.

Advertisements

4 Responses to “Renungan Paskah”


  1. 1 Alex© 09/04/2012 at 10:33 PM

    Aku pernah juga melihat orang masuk agamaku, dan berpikiran sama sepertimu: tentang analogi segala OS begitu. Kita memang sebenarnya sudah “diinstal” sejak kecil dengan keimanan tertentu. Mungkin jika aku lahir di Papua dan Jensen di Aceh, kami akan jadi karakter berbeda dengan keimanan berbeda.

    Hanya saja soal qiyas dengan OS ini, jauh lebih spektakuler agama menurutku. Jika di OS tiap OS mengklaim diri terbaik dan sedapat mungkin berikhtiar agar ramai penggunanya, dalam soal agama lebih hebat: semua OS jadi satu. Eksklusifnya OS dari Apple, dinamisnya OS dari Microsoft dan pluralnya OS Linux. Apa yang tak mungkin dalam sekte-sekte dan distro OS dengan menakjubkannya numplek jadi satu dalam satu agama, apapun agama itu. Tak ada penyelamatan/surga selain dengan masuk jadi user OS agama anu. Tapi juga tak ada yang lebih dinamis selain OS agama anu itu. Memang aneh agama itu. Di luar logika keseharian kita 😆

  2. 2 Alex© 09/04/2012 at 10:33 PM

    BTW: selamat Paskah 😀

  3. 3 lambrtz 21/04/2012 at 11:41 AM

    ^ Makasih banyak Bang 😀 Maaf baru balas komentarmu, habis masa prihatin(tm) hahahaha

    Kita memang sebenarnya sudah “diinstal” sejak kecil dengan keimanan tertentu. Mungkin jika aku lahir di Papua dan Jensen di Aceh, kami akan jadi karakter berbeda dengan keimanan berbeda.

    Ini juga yang kupikir. Bagaimana ideologimu berkembang, asal mulanya dari orang tua yang mendidikmu. Bahkan dalam kasus anak angkat juga macam begitu toh. 😛

    Hanya saja soal qiyas dengan OS ini, jauh lebih spektakuler agama menurutku. […] Memang aneh agama itu. Di luar logika keseharian kita

    Ya memang sih. Analoginya kalau dirunut lebih detil ya jadi kacau juga 😆
    Cuma ya karena menurutku agama sebagai bagian dari ideologi pribadi kita, menurutku cukup fundamental untuk bisa dianalogikan dengan OS…dari beberapa segi aja tentunya. 😆
    Tapi ya…aneh memang agama itu. 😆


  1. 1 A Part | lambrtz's Blog Trackback on 31/03/2013 at 1:21 AM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

April 2012
S M T W T F S
« Mar   May »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
Click to view my Personality Profile page