Passion and Relation

Baru saja malam kemarin berita itu saya terima. Mana saya bakal tahu kalau [orang yang pernah saya salami tiga tahun lalu itu] akan mati. Matinya pun mati dibunuh. [Dibunuhnya pun dibunuh yang pakai disiksa dahulu].

Kabar dari kawan, beliau orang kritis terhadap pemerintahnya dan kaum ekstrimis. Memang belum ketahuan siapa penyiksanya. Tapi menjadi kritis tentu saja berarti cari musuh, karena bakal banyak orang yang tidak suka. Belum lagi isu bahwa karena beliau secara religius orang “mayoritas tapi minoritas”.

Beliau padam meninggalkan istri dan tiga anak. Saya jadi merefleksikannya ke diri saya yang masih sok nggalau secara ngeksistensialis ini. Konon kabarnya kalau sampeyan kawin dan beranak, fokus sampeyan harus kepada mereka? Bagaimana kalau passion kita membuat diri kita selalu dalam bahaya? Pikiran saya melayang ke beberapa orang. [Norbert Vollertsen], misalnya, seorang aktivis anti Korea Utara, diceraikan istrinya karena menurutnya anak mereka masih jauh lebih beruntung daripada jutaan anak di Korea Utara, dengan atau tanpa dia yang mendidiknya [link]. Dan siapa lagi contoh yang lebih familiar buat orang Indonesia ketimbang Almarhum [Munir Said Thalib]. Suka atau tidak suka dengannya, menurut saya beliau orang berpassion tinggi terhadap apa yang dipercayainya. Dan eh beneran, beliau pun mati diracun. Yang patut disyukuri adalah istri beliau, Suciwati, orang yang (tampaknya) tangguh dan pantang menyerah juga, melanjutkan (atau memang dari awalnya juga aktivis? Saya kurang paham) apa yang dilakukan Alm Munir.

Sarkasme: Jadi, pilih™ satu™: hasratmu™ atau keluargamu™.

Advertisements

3 Responses to “Passion and Relation”


  1. 1 itikkecil 21/04/2012 at 5:34 PM

    Pilihan yang sulit. tapi satu pertanyaan saya, memangnya tega membiarkan keluarga hidup menderita?

  2. 2 lambrtz 21/04/2012 at 5:49 PM

    Nah ya itu dia pertanyaannya, Mbak Itik. 😀 Orang-orang macam polisi dan penegak hukum lainnya, kalau bersih, kan dilemanya macam begini juga. Yang terpikir sih dua:

    > Kalau mau hidup super aman ya hidup konformis aja. Ndak perlu bersuara yang aneh-aneh. 😆

    > Extraordinary man/woman deserves extraordinary woman/man. Istilahnya, “situ kawin sama sini situ siap hidup sengsara dan di bawah ancaman terus ga”. Tentu saja planningnya harus matang. Noam Chomsky sampai menyuruh istrinya Almh Carol Chomsky (née Schatz) untuk sekolah doktoral kalau-kalau Mbah Noam ini dipenjara. [link] 😛

  3. 3 Gentole 22/04/2012 at 6:30 PM

    http://pkpolitics.com/discuss/topic/bravo-murtaza-razavi

    mungkin mau baca artikel itu. menyentuh juga. sampai sekarang masih belum jelas siapa pembunuh dia dan apa motifnya. hanya ada amarah dan kesedihan buat yang kenal sama dia.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

April 2012
S M T W T F S
« Mar   May »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
Click to view my Personality Profile page