Archive for May, 2012

Pisces

Almost one-third way upon the journey of our life™
I found myself lost in a forest so dim
Evening was it, when sun shone quite lazily
as he was about to leave for home.

And I sensed something extraordinary
happening near my leg,
being wet from the splashed water
from a water flow, a river, a shallow river
in which I saw a golden fish, no, two gold fishes,
and a quarrel.

Unusual for me, as a focused person
as I am accustomed to passing by with no attention
but that evening I took an extra effort
to stop, kneel down on one knee,
and see how the quarrel went.

So that was me at that time: an observer.

One was, admittedly, of a familiar variant,
which had been a routine subject of my study,
so that was it towards which I firstly put under scrutiny.
I knew not exactly what enraged it,
but I knew that it was enraged,
in a very unstable state of being enraged.
(How do I know, you ask?
Because as aforementioned, its kind had been my subject of study,
of which I had become very familiar,
although I have no desire to tell you further here,
lest it be too technical.)
Its motion, I monitored
Every single flap it made
Every silent shout it released
Every single movement of its joints
And its furs
And its behaviours
Mining information as much as I could

It was depressed

Sun was only partial now
hours had seem to pass
flinches were flying off
and realising that I had enough observing the first fish
to the other I put my sight

But of the other fish, I knew only very little
Because, although to tell you the truth, my Readers,
Obsession was actually it in the days of my childhood
Fear had it become in my university years
The topic I avoided the most
Due to my difficulty of comprehension

I am not a prolific researcher-fisherman
although I—I did, once, captured a fish identical
which had indeed expanded my world understanding
very brief though it was
as I eventually had to release due to it not being the exact type
which can live in my workshop pond
yet I was able to relate to all that ruckus I was witnessing
on the darker side of the forest

I was fascinated at it
which apparently exhibited a behaviour
of being aggressive towards the other
And tried closer to at it look
But only one blink of unconsciousness
and the fish, the second fish, was nowhere in front.
Looked I to my right,
far away to the direction of a dark cave
at which I found the missing fish
yet rocks, slippery rocks, decorated the bank of that part of the river,
which I, not with much aids, was not able to explore.
It seemed as the fish had found its prey.

The first fish stayed idle near my leg.

But jealousy in my heart I confess rose
As rapid it had been for the second fish to find a pellet
And as for me
whom life had brought to such eerie place
Not the slightest idea I had
To get even a tiny slice of bread

Dark it was and risen has no moon
Enough with the observation, I thought,
I left
with great hunger
without much light and particular knowledge
on how I could get out of the maze.

Advertisements

Bedanya Berbagi di Google Plus dan di Facebook

Google Plus

Google Plus

Facebook

Facebook

Too Much Information

“Welcome to the information era
No more sweat and blood for information
We will provide you with information
And connect you with people around the world”

And in this era
Everybody is smart (God forbid)
Everybody is true (God forbid)
Everybody is loud
Everybody wants to be heard

They say under the sun nothing is new
I say, partially true
The same news being repeated, echoed,
Transmitted and amplified
Intertwined with stories on
Horrendous slices of life
Beyond limit overflowing
To continue on the next day

So then there was I
Little by little, one by one
With duct tape sealing noisy mouths
Murdering people’s voices
And shutting my bleeding ears

When truth matters no more
One more note don’t add nothing
Silencing my desire
Keeping thunder in me

Shattered and scattered
I go forward

Ini Curhat

Dan ketika saya memandang tab-tab Facebook dan Kompas di monitor lab, pikiran saya terbang ke negara asal, yang sudah jarang saya kunjungi beberapa tahun belakangan. Berita-berita buruk terus menghantui pikiran. Bahwa rasanya negara asal ini tambah kacau, lalu lintas semakin semrawut, orang-orang semakin mudah marah terhadap masalah-masalah sepele (apalagi yang ga sepele), dan ya, makin hari makin saya sadar bahwa buat saya, banyak orang terlalu kanan buat saya, yang karena merasa bahwa Tuhan berada di belakangnya, lantas ngobrak-abrik yang tidak sesuai sama pikirannya. Sementara kalau Saudara sudah kenal saya cukup lama, saya mengklaim diri sebagai orang kiri tapi kanan, kanan tapi kiri, berpikiran liberal berperilaku konservatif, dan akibatnya saya seringkali merasa bahwa tidak cocok sama banyak orang. Prasangka buruk saya bilang, orang konservatif bilang saya ini infidel, orang liberal bilang saya ini dinosaurus. Gara-gara ini, perasaan saya jadi penuh kebencian, pikiran saya jadi penuh sarkasme dan sinisisme. Kalimat-kalimat seperti “iya-iya Mas, saya ngerti agama sampeyan paling benar, orang yang ga ngikuti agama sampeyan bakal masuk neraka” itu menjadi seringkali muncul di pikiran. Walaupun bisa jadi orang tersebut tidak berpikiran demikian. Jadi ada konflik dalam diri saya. Saking sebalnya, hasrat untuk menjadi konfrontatif menjadi lebih tinggi. Tapi di sisi lain, ada usaha untuk meredamnya, karena menuliskan hal-hal konfrontatif di Facebook berarti memperbanyak urusan di luar pekerjaan saya. Bagaikan bersama buah simalakama. Kalau diekspresikan, saya dipukul kanan kiri dan musti menangkis. Kalau tidak diekspresikan, saya menyimpan petir hasil pertemuan awan panas dan awan dingin di dalam diri saya.

Tapi, mari berhenti di situ. Kalau saya mengubah sedikit sudut pandang, jangan-jangan sebenarnya saya yang sebagai manusia terlalu rumit? Tidak seperti orang-orang yang saya kritik itu, yang kalau mau marah ya marah aja, tidak perlu pikir panjang? Kalau sudah jadi rumit begini, jangan-jangan saya yang jadi buruk? Bukannya orang-orang suci dalam berbagai agama itu rata-rata orang-orang sederhana? Saya dong yang ga bener?

Kalau begini caranya, rasa-rasanya orang yang bisa fokus pada pekerjaan itu benar-benar memiliki kemampuan yang luar biasa dan kemewahan yang benar-benar wah. Lha coba, misalkan saja, bagaimana bisa otak bisa konsentrasi sama soal Matematika murni, yang sangkut pautnya sejauh itu kecil sama masalah-masalah di dunia nyata?

Lalu bagaimana? Saya pun ga tahu apa yang musti saya lakukan. Ini pun saya sudah tidak berada di sana, plus negara yang saya tinggali super damai, setidaknya berdasar yang tampak di permukaan. Tapi walaupun saya ga mengalami hal-hal yang saya khawatirkan, kenapa saya jadi depresi begini? Bahkan seandainya saya besok benar-benar tidak bekerja di kampung halaman, bahkan seandainya saya besok berganti kewarganegaraan, mindset bahwa saya pernah berada/jadi orang di sana itu akan selalu tetap ada, dan saya masih akan sering ngecek Kompas dan berteman dengan orang-orang yang saya sebut di paragraf 1, dan akhirnya depresi sendiri. Apa iya saya musti memutus hubungan terhadap orang-orang tersebut?

Omong-omong, ini saya ngetik dengan leher menjadi kaku.

Hilangkan!

Saya ingat sebuah komik Doraemon, tentang alat diktator untuk menghilangkan orang yang tidak kita suka. Nobita (seperti biasa) menyalahgunakannya untuk menghilangkan orang-orang yang tidak disukainya, mulai dari Giant, Suneo, dan lalu pada suatu ketika dia tidur, tombol di alat tersebut tertekan dan Nobita menghilangkan semua orang di dunia, termasuk ibu Nobita, Doraemon, Shizuka, dll. Sedih datang, lalu senang tiba, karena tak ada orang yang mengganggu. Itu tak lama, karena dia jadi susah sendiri ketika lampu di rumahnya mati: tidak ada orang di PLN yang mengoperasikan listrik. Ternyata penghilangan orang-orang itu sementara saja. Doraemon muncul kembali, dan berkata bahwa sesungguhnya alat itu diciptakan untuk menghukum diktator, untuk membuatnya merasakan kesepian.

Sekarang, menghilangkan orang yang tidak kita sukai agak lebih mudah. Tinggal hide story, atau unsubscribe saja di Facebook. Sama sekali tidak repot. Yang jadi pertanyaan adalah…

…dengan melenyapkan update status dari orang-orang tersebut, apakah kesepian akan datang melanda? :v

…apakah akan ada karma dari tindakan tersebut? :v


lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

May 2012
S M T W T F S
« Apr   Jun »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
Click to view my Personality Profile page

Advertisements