Archive for May 9th, 2012

Ini Curhat

Dan ketika saya memandang tab-tab Facebook dan Kompas di monitor lab, pikiran saya terbang ke negara asal, yang sudah jarang saya kunjungi beberapa tahun belakangan. Berita-berita buruk terus menghantui pikiran. Bahwa rasanya negara asal ini tambah kacau, lalu lintas semakin semrawut, orang-orang semakin mudah marah terhadap masalah-masalah sepele (apalagi yang ga sepele), dan ya, makin hari makin saya sadar bahwa buat saya, banyak orang terlalu kanan buat saya, yang karena merasa bahwa Tuhan berada di belakangnya, lantas ngobrak-abrik yang tidak sesuai sama pikirannya. Sementara kalau Saudara sudah kenal saya cukup lama, saya mengklaim diri sebagai orang kiri tapi kanan, kanan tapi kiri, berpikiran liberal berperilaku konservatif, dan akibatnya saya seringkali merasa bahwa tidak cocok sama banyak orang. Prasangka buruk saya bilang, orang konservatif bilang saya ini infidel, orang liberal bilang saya ini dinosaurus. Gara-gara ini, perasaan saya jadi penuh kebencian, pikiran saya jadi penuh sarkasme dan sinisisme. Kalimat-kalimat seperti “iya-iya Mas, saya ngerti agama sampeyan paling benar, orang yang ga ngikuti agama sampeyan bakal masuk neraka” itu menjadi seringkali muncul di pikiran. Walaupun bisa jadi orang tersebut tidak berpikiran demikian. Jadi ada konflik dalam diri saya. Saking sebalnya, hasrat untuk menjadi konfrontatif menjadi lebih tinggi. Tapi di sisi lain, ada usaha untuk meredamnya, karena menuliskan hal-hal konfrontatif di Facebook berarti memperbanyak urusan di luar pekerjaan saya. Bagaikan bersama buah simalakama. Kalau diekspresikan, saya dipukul kanan kiri dan musti menangkis. Kalau tidak diekspresikan, saya menyimpan petir hasil pertemuan awan panas dan awan dingin di dalam diri saya.

Tapi, mari berhenti di situ. Kalau saya mengubah sedikit sudut pandang, jangan-jangan sebenarnya saya yang sebagai manusia terlalu rumit? Tidak seperti orang-orang yang saya kritik itu, yang kalau mau marah ya marah aja, tidak perlu pikir panjang? Kalau sudah jadi rumit begini, jangan-jangan saya yang jadi buruk? Bukannya orang-orang suci dalam berbagai agama itu rata-rata orang-orang sederhana? Saya dong yang ga bener?

Kalau begini caranya, rasa-rasanya orang yang bisa fokus pada pekerjaan itu benar-benar memiliki kemampuan yang luar biasa dan kemewahan yang benar-benar wah. Lha coba, misalkan saja, bagaimana bisa otak bisa konsentrasi sama soal Matematika murni, yang sangkut pautnya sejauh itu kecil sama masalah-masalah di dunia nyata?

Lalu bagaimana? Saya pun ga tahu apa yang musti saya lakukan. Ini pun saya sudah tidak berada di sana, plus negara yang saya tinggali super damai, setidaknya berdasar yang tampak di permukaan. Tapi walaupun saya ga mengalami hal-hal yang saya khawatirkan, kenapa saya jadi depresi begini? Bahkan seandainya saya besok benar-benar tidak bekerja di kampung halaman, bahkan seandainya saya besok berganti kewarganegaraan, mindset bahwa saya pernah berada/jadi orang di sana itu akan selalu tetap ada, dan saya masih akan sering ngecek Kompas dan berteman dengan orang-orang yang saya sebut di paragraf 1, dan akhirnya depresi sendiri. Apa iya saya musti memutus hubungan terhadap orang-orang tersebut?

Omong-omong, ini saya ngetik dengan leher menjadi kaku.

Advertisements

lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

May 2012
S M T W T F S
« Apr   Jun »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
Click to view my Personality Profile page

Advertisements