Archive for July, 2012

Bliss

And thus spoke the holy snake,

“It is yet, I have, that I comprehend how tranquility is known within the river of absolute awareness,
so on from this dawn, let this forest be concealed with a shroud
woven with yarn from the land of the east
cursed with the ancient spell of exclusory spirit,
that those from the valley of the black flame shall not see us.

May the white light guide our life.”

Advertisements

Ingatan Terdalam

Mumpung ngomong soal nostalgia, saya juga sekalian pingin menulis soal ingatan-ingatan terdalam yang saya punya. Saking dalamnya, saya sendiri tidak yakin apakah saya betul-betul mengalaminya atau itu cuma imajinasi saya. Tapi beberapa darinya saya ingat betul pernah mengalami.

  • Ngejar kucing di halaman belakang rumah di Ponorogo. Waktu itu bagian belakang rumah kami belum disemen, masih tanah. Ini secara formal saya jadikan ingatan pertama saya.
  • Mengunjungi susteran tempat adiknya simbah dari pihak ibu saya berkarya. Saya menyebut tempat itu mirip benteng.
  • Bertamu ke rumah super remang-remang, entah punya siapa, bersama orang tua saya. Di halamannya ada kucing hitam. Saya menyebut tempat itu mirip rumah penyihir.
  • Bonus: yang ini bukan ingatan terdalam, tapi terjadi sekitar pertengahan 90an. Di MTV waktu itu ada video boy band, yang menunjukkan anggota-anggotanya menari di depan cewek-cewek yang lagi nyantai di pantai. Selain itu, ada adegan salah satu anggota boy band naik kuda bersama cewek. Saya menyebut adegan ini “bercinta di tempat terbuka”. Tentu saja definisi “bercinta”-nya definisi anak-anak, jadi jangan berpikir yang bukan-bukan. Saya masih ingat sedikit nada lagu itu. Sayangnya, saya sampai sekarang tidak tahu itu lagu apa/siapa. Barangkali ada yang bisa bantu?

Nostalgia: Studi Kasus tentang Ingatan, Pertumbuhan, dan Perasaan pada saat Menonton Kembali Saint Seiya

Beberapa hari ini saya menonton kembali Saint Seiya, salah satu anime favorit saya ketika kecil. Anime yang lagunya saya nyanyikan terus walaupun dengan lirik kacau balau (wong waktu itu ga ngerti Bahasa Jepang sama sekali), dan gerakan tokoh-tokohnya, terutama Aurora Thunder Attack-nya Hyouga, dengan tekun saya tiru, sampai-sampai saya selalu disindir Babe plus anggota-anggota keluarga besar saya setiap kali kami mengunjungi mereka. Sampai sekarang.

Sejujurnya, tidak banyak yang saya ingat dari plot anime ini, selain jalan cerita utama Sanctuary Arc ketika mereka mendaki bukit menghadapi 12 Ksatria Emas untuk pada akhirnya melawan Paus Arles. Itupun detilnya tidak banyak saya ingat. Sebetulnya ya wajar ya, wong sudah sekitar 20 tahun berlalu, dan waktu itupun saya masih kecil. Makanya saya menonton kembali anime ini.

Menonton kembali anime ini memunculkan kembali ingatan soal perasaan-perasaan yang sudah lama hilang. Perasaan kagum dan…entah apalah namanya, ketika para ksatria mengenakan baju zirah mereka, dengan animasi yang menampilkan satu per satu bagian baju zirah mereka, dari pelindung kaki, lutut, badan, tangan, lalu kepala mereka, melayang dan menempel ke badan. Ya, saya yang sekarang memang sudah besar, dan sudah bisa banyak protes kalau ada bagian-bagian dari anime ini yang tidak rasional (misalnya soal betapa mudahnya para ksatria itu berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain dalam waktu beberapa hari saja, sementara teman saya [Koh Eon] butuh waktu dan perjuangan luar biasa untuk bisa mendapatkan visa demi berjalan-jalan di Eropa). Namun, saya ingat betul bahwa pada saat itu saya pernah merasakan kagum pada adegan-adegan pemasangan baju zirah ini.

Kendati demikian, saya baru saja tertegun ketika melihat adegan datangnya [Steel Saints] (ksatria baja?).

(karena saya tidak menemukan potongan animenya, ini video review action figure Steel Saints)

Walaupun saya masih ada sedikit ingat-ingat soal ksatria non tokoh utama, macam Shaina, Marin (bahkan masih ingat samar-samar bahwa Marin ini <SPOILER>diduga saudara perempuan Seiya, walaupun sebetulnya bukan</SPOILER>), serta beberapa ksatria lain pasca Sanctuary Arc, saya tidak ingat sama sekali soal Steel Saints ini. Padahal, mereka ini unik, karena berbeda dari ksatria-ksatria lain, zirah mereka berasal dari kendaraan yang dibongkar, dan ini mengingatkan saya pada serial-serial super sentai atau super robot. Namun, herannya, ketika menonton adegan kemunculan pertama mereka di anime, badan saya serasa bergetar. Ada perasaan tertentu yang, walaupun saya tidak ingat sama sekali, muncul lagi, dan baru saya ingat kembali. Saya sempat tidak yakin, apakah perasaan ini dulu muncul ketika menonton Saint Seiya juga. Tapi ya, memang dari Saint Seiya. Perasaan ini berbeda dari perasaan menonton animasi baju zirah ksatria lain. Sebuah perasaan khusus yang muncul hanya ketika ksatria-ksatria ini tampil.

Otak saya tidak mengingat mereka, tapi badan saya ingat. Kosmo saya menggelegak, mendesak seakan ingin meledak.

Luar biasa.

T_T

Nikmat di Balik Kelambu

Bukalah kelambu hitam itu, Tuan,
dengan tangan Tuan sendiri

Di baliknya ‘kan Tuan jumpai
sutera warna violet terkulum
berhiaskan mirah dan safir dari negeri nun jauh di barat
bermandikan mur menggoda martabat
dan sejumput botulinum

Departures

Departures

Departures. Klik untuk masuk ke halaman Wikipedianya.

Tiga tahun lalu, Bang Ando menulis review film ini dengan membahas aspek budaya [di sini]. Postingan ini hanya memuat pendapat subjektif dan refleksi pribadi dari saya.

Saya kasih film ini skor 4.5/5. Menurut saya sih, film ini tipikal drama Jepang dengan tempo lambat dan setting yang alami nan aduhai. Cuman penggambaran emosi agak terlalu eksplisit di sini, misalnya bila dibandingkan sama [Tokyo Story] (apa bisa membandingkan dengan film jadul ya?) atau [After Life] (review [di sini]). Selain itu, endingnya terlalu indah, kurang cocok buat saya yang cenderung mengapresiasi film pahit atau pahit manis(tm). Tapi ya gimana lagi. Saya bias sama film Jepang. Makanya saya kasih 4.5/5.

Walaupun fokus film ini, baik dalam hasil akhir filmnya maupun kisah-kisah behind the scene-nya, adalah tentang filosofi kematian, saya malah lebih memerhatikan hal lain di film tersebut, mungkin karena hal itu lebih menjadi concern saya beberapa bulan—atau malah tahun—terakhir, yaitu karir, keluarga, dan pernikahan. Ini dimulai sejak Daigo, si tokoh utama, mengaku kepada istrinya, Mika, bahwa dia membeli cello super mahal, tapi tanpa berdiskusi dengan Mika terlebih dahulu, karena yakin bahwa Mika tidak akan setuju. Hal ini berulang berkali-kali, misalnya tentang pekerjaan baru Daigo sebagai perias jenazah, yang menjadi tulang punggung cerita ini. Memang pada tengah-tengah film dijelaskan bahwa ini sudah jadi sifat Daigo sejak kecil, tapi saya sejujurnya tidak suka dengan sifat macam ini. Pendapat saya, rahasia macam begini hanya akan membawa masalah esok harinya. Lebih baik ribut sekarang, mumpung belum terjadi/baru pada tahap awal, daripada ribut belakangan ketika sudah basah kuyup. Dan mengejutkan buat saya bahwa sifat ini tetap terbawa sampai ketika dia menikah.

Kenapa sih kok saya ribut sekali soal ini? Ya karena saya dulunya juga seperti itu, tentu saja. Jadinya ya banyak masalah yang datang kemudian, dan I’ve learnt my lesson itu Bahasa Indonesianya gimana ya. Ya pokoknya begitulah.

Persoalan lain adalah soal, seperti biasa, karir vs pernikahan/keluarga. Bang Ando sudah menjelaskan di blognya bahwa pekerjaan perias jenazah ini mendapat stigma negatif di Jepang, makanya Maki awalnya menentang keputusan Daigo untuk mengambil pekerjaan tersebut. Saya harus pake Bahasa Jawa untuk mengekspresikan perasaan saya dengan lebih akurat. Atiku mak-deg nonton adegan kuwi. Hati saya mak-deg menonton adegan itu. Bagaimana kalau itu terjadi pada kehidupan saya? Katakan saja saya sudah menikah ketika karir saya berantakan, lantas saya musti mengambil pekerjaan baru yang sebenarnya saya sukai, nikmati, dan pahami betul filosofinya, tapi ada penentangan dari istri saya. Kalau saya tetap teguh dengan pekerjaan itu, istri tidak suka dan pulang ke rumah orang tuanya. Yang macam begini ini menjadi kekhawatiran saya, karena sudah sejak beberapa tahun lalu saya memutuskan untuk menjalani pola hidup Katholik dengan lebih kuat kendati dengan pola pikir yang aneh-aneh, dan menurut pemahaman saya, kecuali pada beberapa kasus khusus, [perceraian adalah haram] buat agama yang saya anut. Kalau saya keluar dari pekerjaan, I’m not tough and I’m not a man (lagipula ini toh bukannya saya jadi (nuwun sewu) gigolo atau bagaimana). Kalau saya tetap pada pekerjaan ini, istri minta cerai, saya masuk neraka(tm). Entahlah. I need to sort these things out before entering this stage. Bahwa Maki kembali ke rumah Daigo setelah beberapa bulan pulang di orang tuanya, bersama dengan beberapa adegan lain, adalah elemen plot yang terlalu bagus buat saya, yang membuat saya tidak bisa memberi poin 0.5 tambahan dan menjadikan skor total 5/5.

Sekian dan terima kasih.

Shame

I just finished [Hadashi no Gen 2], which is the sequel of the anime I watched yesterday and wrote about here. I really adore this kid Gen (who turns out to be the reflection of the author himself), who at his early age is able to act bravely and independently, often crossing morale boundary, to help his mother and adopted brother. In fact, I really adore the Nakaoka family. Daikichi (such a manly name), a father with a “traitorous” but enlightened mind, yet still being able to provide protection, safety, financial support, and care during a dark period in Japan’s history. Kimie, probably the portrayal of an ideal yamato nadeshiko, a caring, kind woman who is willing to sacrifice and provides love even when she is ill and suffers from malnutrition. But in this post, I want to write about how I can somehow relate my life with this movie. Although not in a good way.

Our family had the “privilege” to experience one natural disaster, [the 2006 Yogyakarta earthquake], among the biggest and devastating we ever see in our entire life. Even our relative, the sibling of one of my paternal grandparents (I can’t remember precisely her relation to us), said that she had seen no bigger earthquake in Yogyakarta in the last 1 century. Because the back of our home was deemed too unsafe, it was destroyed, and we had to sleep in a small building my late uncle (he died several years before that) built. All I remember now is how I always complaint about how hot it was there when taking a nap, and how sickness was always transmitted from one person to another because we all had to sleep there in one room. Hell, that disaster was big, but it was not as big as the Hiroshima atomic bomb, yet I cannot remember any good thing I did at that time. And I was the oldest son, and I was almost 20. And many friends suffered more than me: a friend’s house was totally wrecked, and another friend lost his grandma. Yet I always complaint. Even I didn’t help much in the house reconstruction, and my final year project was also delayed, because I got frustrated easily (well I admit it was tough to do a project on a topic with not many experts available around) and seemed to waste much time in playing PES and Dota, although fortunately I could still graduate on time.

In the last few years, I have learnt my lesson that it is life challenges and hardness like this which shape people’s mentality. That’s why I believe Gen will grow up to be a tough man. In my case, however, even though I don’t come from a rich family, I grow up in a somehow more comfortable environment. Yes there are shits here and there, but compared to other people’s lives (even maybe compared to those of my parents’ when they were young), I think I can consider myself lucky. This is indeed a privilege, but on the other hand I feel that I am not challenged enough to grow a mature mentality, a mentality which can help me endure every darkest possibility human civilisation ever experiences. I feel ashamed due to this.

Well, what happened in the past has passed, I made terrible mistakes in the past, and there is no way I can fix it as it seems to me people already forget it. So I can only learn from this and do better and be tougher from now on.

To close this post, I am surprised to see how I can write a post containing such thought, a real far cry from what I wrote about 3 years ago [link, no 1]. [emo]This lambrtz phase 2-thingy seems to make me darker than ever deep inside[/emo], but at least I am better-informed.

Short Review: Hadashi no Gen (1983)

Hadashi no Gen

Hadashi no Gen (click for Wikipedia article and image source)

I never thought that this anime will be one I will praise. I was looking for light anime I could enjoy while folding my clothes, but this turned out to be one which caused my jaw to drop for a quite long time. I didn’t expect this to have some gory portrayal of melting, half- to fully rotten bodies. Nevertheless, this anime is emotionally touching. This is a manly movie. This boy Gen, six year of age, has to personally take care of his mother while he himself is haunted by the fresh memory of seeing some family members burnt alive and died. Some successes, some failures, but I believe when he grows up he will become a tough man.

But there are certain elements which I humbly feel lack. It’s too good to be true that Gen was safe and sound, only suffering from hair loss due to the radioactive element (?) he got from the dying soldier, while a person standing next to him during the bomb explosion was half-burnt and died. It sounds miraculous too for her mother to be safe, being able to deliver her baby.

I give this anime 5/5. The maximum point I’ve ever given was 6/5, so in fact I feel sinful not to give it 6/5. But that’s how it is. 5/5

I was about to write the afore-struck-through paragraphs, before I found out that the manga and the anime was actually based on [the author’s real life]. I think he saw and experienced many elements of this work himself. I give it 6/5.


lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

July 2012
S M T W T F S
« Jun   Aug »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  
Click to view my Personality Profile page

Advertisements