Departures

Departures

Departures. Klik untuk masuk ke halaman Wikipedianya.

Tiga tahun lalu, Bang Ando menulis review film ini dengan membahas aspek budaya [di sini]. Postingan ini hanya memuat pendapat subjektif dan refleksi pribadi dari saya.

Saya kasih film ini skor 4.5/5. Menurut saya sih, film ini tipikal drama Jepang dengan tempo lambat dan setting yang alami nan aduhai. Cuman penggambaran emosi agak terlalu eksplisit di sini, misalnya bila dibandingkan sama [Tokyo Story] (apa bisa membandingkan dengan film jadul ya?) atau [After Life] (review [di sini]). Selain itu, endingnya terlalu indah, kurang cocok buat saya yang cenderung mengapresiasi film pahit atau pahit manis(tm). Tapi ya gimana lagi. Saya bias sama film Jepang. Makanya saya kasih 4.5/5.

Walaupun fokus film ini, baik dalam hasil akhir filmnya maupun kisah-kisah behind the scene-nya, adalah tentang filosofi kematian, saya malah lebih memerhatikan hal lain di film tersebut, mungkin karena hal itu lebih menjadi concern saya beberapa bulan—atau malah tahun—terakhir, yaitu karir, keluarga, dan pernikahan. Ini dimulai sejak Daigo, si tokoh utama, mengaku kepada istrinya, Mika, bahwa dia membeli cello super mahal, tapi tanpa berdiskusi dengan Mika terlebih dahulu, karena yakin bahwa Mika tidak akan setuju. Hal ini berulang berkali-kali, misalnya tentang pekerjaan baru Daigo sebagai perias jenazah, yang menjadi tulang punggung cerita ini. Memang pada tengah-tengah film dijelaskan bahwa ini sudah jadi sifat Daigo sejak kecil, tapi saya sejujurnya tidak suka dengan sifat macam ini. Pendapat saya, rahasia macam begini hanya akan membawa masalah esok harinya. Lebih baik ribut sekarang, mumpung belum terjadi/baru pada tahap awal, daripada ribut belakangan ketika sudah basah kuyup. Dan mengejutkan buat saya bahwa sifat ini tetap terbawa sampai ketika dia menikah.

Kenapa sih kok saya ribut sekali soal ini? Ya karena saya dulunya juga seperti itu, tentu saja. Jadinya ya banyak masalah yang datang kemudian, dan I’ve learnt my lesson itu Bahasa Indonesianya gimana ya. Ya pokoknya begitulah.

Persoalan lain adalah soal, seperti biasa, karir vs pernikahan/keluarga. Bang Ando sudah menjelaskan di blognya bahwa pekerjaan perias jenazah ini mendapat stigma negatif di Jepang, makanya Maki awalnya menentang keputusan Daigo untuk mengambil pekerjaan tersebut. Saya harus pake Bahasa Jawa untuk mengekspresikan perasaan saya dengan lebih akurat. Atiku mak-deg nonton adegan kuwi. Hati saya mak-deg menonton adegan itu. Bagaimana kalau itu terjadi pada kehidupan saya? Katakan saja saya sudah menikah ketika karir saya berantakan, lantas saya musti mengambil pekerjaan baru yang sebenarnya saya sukai, nikmati, dan pahami betul filosofinya, tapi ada penentangan dari istri saya. Kalau saya tetap teguh dengan pekerjaan itu, istri tidak suka dan pulang ke rumah orang tuanya. Yang macam begini ini menjadi kekhawatiran saya, karena sudah sejak beberapa tahun lalu saya memutuskan untuk menjalani pola hidup Katholik dengan lebih kuat kendati dengan pola pikir yang aneh-aneh, dan menurut pemahaman saya, kecuali pada beberapa kasus khusus, [perceraian adalah haram] buat agama yang saya anut. Kalau saya keluar dari pekerjaan, I’m not tough and I’m not a man (lagipula ini toh bukannya saya jadi (nuwun sewu) gigolo atau bagaimana). Kalau saya tetap pada pekerjaan ini, istri minta cerai, saya masuk neraka(tm). Entahlah. I need to sort these things out before entering this stage. Bahwa Maki kembali ke rumah Daigo setelah beberapa bulan pulang di orang tuanya, bersama dengan beberapa adegan lain, adalah elemen plot yang terlalu bagus buat saya, yang membuat saya tidak bisa memberi poin 0.5 tambahan dan menjadikan skor total 5/5.

Sekian dan terima kasih.

7 Responses to “Departures”


  1. 1 AnDo 08/07/2012 at 6:28 PM

    Wah… udah nonton Tokyo Story yah Itu salah satu dari sedikit film yang kukasih nilai 5/5, sayang belum ku tulis reviewnya.

    tipikal drama Jepang dengan tempo lambat

    Mau gimana lagi, emang film drama Jepang mayoritas bertempo lambat. bahkan film thriller juga sering kali slow pace. udah ciri khasnya kali.
    khusus film drama, sering kali adegan dramanya terlampau ekspresif dan itu juga terjadi di drama korea.
    Tapi untuk film Departures, saya nggak terlalu merasa terganggu koq.

    Saya bias sama film Jepang.

    kayaknya situ selalu bisa sama film apapun, gak perduli dari negara mana. apalagi film mainstream

    karena saya dulunya juga seperti itu, tentu saja. Jadinya ya banyak masalah yang datang kemudian, dan I’ve learnt my lesson

    Oh… ternyata sudah berubah ya.
    syukurlah😀

  2. 2 lambrtz 08/07/2012 at 6:38 PM

    Saya ga bilang tempo lambat mengganggu saya lho. Malah sebenernya saya suka sama film tempo lambat dengan lagu mengalun halus ditemani pemandangan desa yang kucinta. Makanya saya suka pilem Jepang.😛 (atau kebalik ya, suka Jejepangan dulu baru suka film tempo lambat?😆 )

    Dan bias di artikel ini bias positif. Jangan khawatir.:mrgreen:

    Oh… ternyata sudah berubah ya.
    syukurlah😀

    …syukurlah?:mrgreen:

  3. 3 Felicia 10/07/2012 at 7:19 PM

    I just wanna say two things:
    1. pre-marital agreement
    2. compromise

  4. 4 lambrtz 10/07/2012 at 10:29 PM

    Yang nomor 2 dulu. Jadi menurut Feli, gimanakah itu Daigo musti berkompromi? Kalo dia keluar dari pekerjaannya, ndak jadi film dong.:mrgreen: *eh*

  5. 5 Akiko 15/07/2012 at 6:47 PM

    Can’t resist but… pengen nonton filmnya..

  6. 6 lambrtz 16/07/2012 at 11:07 PM

    Tonton tonton. Bagus ini.:mrgreen:

  7. 7 Felicia 19/07/2012 at 1:56 PM

    Jadi menurut Feli, gimanakah itu Daigo musti berkompromi?

    Ya tergantung seberapa besar kerelaan dia donk😛
    Aku blom pernah nonton filmnya btw…

    Kalo dia keluar dari pekerjaannya, ndak jadi film dong.

    Mungkin jadinya real life:mrgreen:


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

July 2012
S M T W T F S
« Jun   Aug »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  
Click to view my Personality Profile page