Agnes Chan – Hinageshi no Hana, dan Mid-life Crisis (?) pada Usia 20an

Ini lagu pertama kali saya dengar di sebuah radio streaming online, channel tembang kenangan Jejepangan. Judulnya Hinageshi no Hana. Bunga something something. Penyanyinya [Agnes Chan]. Minoritas etnis Cina di Jepang. Saya pertama kali dengar namanya barangkali tahun kemarin di Sankaku Complex, ketika beberapa artikel di sana memuat protes Agnes Chan terhadap manga-anime yang (seingat saya, maklum sudah lama sekali saya tak membuka situs itu) menggambarkan anak-anak kecil secara “provokatif”. Namun demikian, baru beberapa bulan lalu saya tahu bahwa dia dulunya adalah penyanyi cilik/remaja. Hinageshi no Hana ini salah satu lagu terkenalnya. Diterbitkan pada tahun 1972 pada waktu Agnes Chan masih berusia sekitar 17 tahun, tapi saya merasa dia tampak masih anak-anak di video klip ini. Buat saya, tampak seperti masih 12 tahun. [Gigi gingsulnya tentu tidak membantu saya menyadari usianya]. Anyway, saya tak tahu judul lagu itu artinya apa, saya tak tahu lagu itu bercerita tentang apa (malah ada sedikit kesan bahwa lagu ini lagu ababil; “aishiteru aishitenai anata”? I love you I don’t love you?), tapi mendengar suara Agnes Chan muda yang merdu halus nan imut-imut ini serasa membangkitkan perasaan-perasaan yang sudah lama mati. Perasaan riang gembira, polos, bebas, dan kemampuan jantung untuk berdebar-debar memompa darah lebih kencang ketika melihat lawan jenis yang terlihat begitu menarik, seperti muncul kembali. Perasaan-perasaan yang konon kabarnya hanya dimiliki anak-anak dan remaja, karena setelah melewati fase-fase tertentu, orang [tidak bisa tidak memikirkan konsekuensi-konsekuensi yang akan terjadi setelah sebuah keputusan diambil], yang mengakibatkan pilihan hidup menjadi lebih terbatas dan kita tidak bisa berbuat sesuka hati lagi.

Ah, ya, menuliskan hal-hal ini membuat saya teringat sama artikel-artikel di koran atau film-film yang memuat kisah bapak-bapak paruh baya yang menemukan kembali tujuan hidup ketika bertemu perempuan muda yang riang gembira. Pernah nonton [Ikiru]? Tokoh utama, Kanji, seorang PNS paruh baya dengan kehidupan biasa-biasa saja, didiagnosis terkena penyakit parah dan akan mati dalam beberapa bulan. Jatuh depresi lah dia. Tapi semuanya berubah(tm) ketika dia bertemu Toyo, (mantan) bawahannya di kantor, perempuan yang ceria, baru sedikit di atas 20. Tidak, mereka tidak sampai kawin, tapi  yang jelas Kanji menemukan kembali gairah hidupnya, dan pada tengah cerita digambarkan mati bahagia (yup, tokoh utama mati di tengah cerita) setelah melakukan sesuatu yang sangat berharga. Detilnya bisa ditonton sendiri. Yang ingin saya sampaikan di sini, konon kabarnya, yang macam ini adalah salah satu elemen [krisis paruh baya]. “Entering relationships with younger people”. Relationship with younger people? Saya sejauh ini belum sih, kalo maksudnya young berarti di bawah 20 gitu. Tapi ada rasa ketertarikan sendiri terhadap video klip Agnes Chan di atas. Lalu, ada beberapa karakteristik lain lagi di sana. Realization of “their own mortality and how much time is left in their life”. “Search of an undefined dream or goal”. “A fear of humiliation among more successful colleagues”. “Desire to achieve a feeling of youthfulness”. “Depression”. “Fear of impending death”.

Lha kok banyak sekali yang sudah saya rasakan?

Apakah saya sudah menunjukkan elemen-elemen krisis paruh baya?

Padahal saya belum lagi 25! Semestinya yang saya alami [krisis perempat baya]!

OK OK. Mari dicek lagi.

Kehilangan kemampuan jatuh cinta dengan bebas? [Check]. Nostalgia? [Check] [Check]. Penyesalan? [Check]. Pencarian kebebasan? [Check]. Mempertanyakan ulang (ulang lho, bukan menentukan) arah hidup? [Check]. Kesepian? [Check]. Belum lagi ada semacam kehilangan proporsi waktu di sini: rasanya dua puluh sekian tahu pertama saya yang sudah lewat itu panjaaaaang sekali, tapi untuk mencapai usia 70 tidaklah selama itu. Jadi semacam sebagian besar hidup saya sudah lewat, sekarang di belakang saya. Belum lagi beberapa bulan terakhir saya merasa bahwa saya bisa mati sewaktu-waktu karena alasan apapun. Jaman dulu mana saya pikirkan yang macam ini.

Ah, ya. Mungkin memang saya sudah tua. Apa tidak ironis ini. Belum lagi 25, tapi kalau ditanya apakah saya apakah saya masih muda atau sudah dewasa tua, saya akan jawab saya sudah tua. Hell, bahkan beberapa minggu lalu ketika menonton [The Amazing Spiderman], saya facepalm berkali-kali, dan ketika ditanyai teman tentang pendapat saya akan film tersebut, saya jawab sepertinya film itu dibuat untuk anak muda!

Lha terus gimana? Ya sudah, lanjutkan saja hidup apa adanya.😛

Sebagai penutup, ini lagu yang sama, dinyanyikan orang yang sama ketika sudah tua senior.

4 Responses to “Agnes Chan – Hinageshi no Hana, dan Mid-life Crisis (?) pada Usia 20an”


  1. 1 AnDo 04/08/2012 at 1:42 PM

    Gara-gara situ nyinggung Ikiru, saya malah ingat sama Gondola no Uta.
    “Hidup itu pendek. Karena itu jatuh cintalah wahai anak muda”😀

    ketika ditanyai teman tentang pendapat saya akan film tersebut, saya jawab sepertinya film itu dibuat untuk anak muda!

    Astagaaa….. saya bisa membayangkan betapa teman anda itu facepalm dengan kusyuk setelah mendengar jawaban anda😛

  2. 2 lambrtz 05/08/2012 at 5:15 AM

    Gondola no Uta

    Hahahaha, lagu itu. Memang adegan Kanji menyanyikan lagu itu menyayat hati. Ekspresinya itu. Terawangannya itu.
    Yah, I wish.😛

    betapa teman anda itu facepalm dengan kusyuk setelah mendengar jawaban anda

    BTW teman itu Koh Eon, yang notabene lebih tua namun lebih berjiwa muda dari saya.😆

  3. 3 lambrtz 05/08/2012 at 5:28 AM

    Eh salah ding. Teman yang tanya itu yang orang Perancis. Koh Eon tertawa melihat saya facepalm berkali-kali.😆

  4. 4 Zeph 06/08/2012 at 12:07 PM

    ah ya, berharap itu masuk indikasi krisis paruh baya, khawatirnya malah masuk ke depresi.🙄 sepertinya kau mesti lebih sering terpapar sinar matahari.

    anyway, mau ikut nyumbang lagu😎

    yang lost in echo juga asyik (Fans LP)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

August 2012
S M T W T F S
« Jul   Sep »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
Click to view my Personality Profile page