Melangkah Masuk Bagian II

“τθέλετενακάνετεεδώοαδελφός;”

Aku tidak mengerti apa yang tentara itu ucapkan.
“Maaf aku tidak mengerti apa yang kamu ucapkan.”

Para tentara berdiskusi satu sama lain dan satu, lain dari yang tadi, bertanya padaku.

“Apa yang Saudara mau lakukan di sini?”

Ah, akhirnya, bahasa yang kumengerti.

“Aku ingin jadi raja di sini.”

Tentara itu terpingkal-pingkal dan terguling. Ada barang tiga menit dia di tanah terguling kiri-kanan sembari yang lain kebingungan, sebelum dia berujar lagi kepadaku.

“Saudaraku datang dari negeri yang jauh ingin menjadi raja di sini? Hahahahaha! Saudara bahkan tak mengerti bahasa kami.”

Keringat bercucuran. Tentara itu mendekatiku dan berkata lagi.

“Saudaraku, tak ada raja di sini. Ada lima jenderal konsul yang memimpin kota ini, langsung di bawah Kaisar Bizantiya. Kalau Saudaraku ingin jadi jenderal konsul, Saudaraku harus bisa berbahasa Yunani dan lahir di sini, atau Saudara mendapat rekomendasi langsung dari Kaisar. Jadi sebaiknya Saudara tidak bermimpi yang aneh-aneh. Tentu saja, kami mempersilakan Saudara bertamu ke kota kami. Tapi gerbang ini hanya untuk saudagar-saudagar dengan izin resmi dari Kaisar. Saudara harus lewat gerbang yang lain, 40 stadia barat daya gerbang ini. ”

“…baiklah, terima kasih.”

Langit hampir gelap, jadi aku berjalan sedikit agak cepat mengikuti dinding kota ke barat. Dari belakang terdengar ramai tawa tentara-tentara. Mungkin mereka saling menceritakan kejadian barusan. Lebih dari empat, pasti. Mungkin ada barak di dekat gerbang itu…

.

.

.

.

.

.

.

.

Tapi tentu yang tadi cuma ada di pikiranku saja. Aku tidak segila itu untuk mengatakan niatku yang sebenarnya.

“…Tuan, aku datang dari desa di tengah Gurun Al-Jafr, dan aku ingin mencari peruntungan di sini.”

“Maaf Saudaraku, gerbang ini hanya untuk saudagar-saudagar dengan izin resmi dari Kaisar. Saudaraku harus lewat gerbang yang lain, 40 stadia barat daya gerbang ini. Akan ada petugas yang mengurusi pendatang-pendatang. Harap sedikit cepat karena sebentar lagi malam, dan kami akan menutup semua gerbang.”

“…terima kasih.”

Aku tak tahu 40 stadia itu berapa jauh, jadi cuma kukira-kira saja, sepertinya cukup jauh. Aku berjalan sedikit agak cepat mengikuti dinding kota ke barat. Ada sedikit kegembiraan di hatiku, karena setelah berapa lama, akhirnya aku memberanikan diri mendekati kota ini. Ada secercah harapan. Tapi masa depan tiada yang pasti, dan aku tak tahu apa yang menghadapiku, ataupun kesempatan macam apa yang ada di dalam kota ini.

Angin sore ini kering dan dingin. Entah kenapa sepertinya lebih kering dan dingin dari beberapa hari belakangan.

1 Response to “Melangkah Masuk Bagian II”


  1. 1 lambrtz 13/01/2014 at 10:08 PM

    Idealnya, bikin cerita dengan setting jaman dulu musti riset banyak. Lha tapi where got time. -_-


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

January 2014
S M T W T F S
« Dec   Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
Click to view my Personality Profile page