Renungan Martabak

fritz-martabak

Postingan ini adalah sebuah respon terhadap foto martabak yang diunggah [Fritz] di Facebook, seperti tergambar di atas.

  1. Tentang martabak: Ini baru martabak! Bukan “martabak” manis alias terang bulan itu!
  2. Tentang sepi jualan: di sebuah kantin di sini ada satu stall yang sepi, walaupun lokasinya di dekat pintu masuk. Jualannya katanya makanan Cina ala Taiwan. Yang jualan juga bapak ibu sekitar paruh baya. Kalo waktu makan siang sepiiiii begitu. Jarang sekali saya liat ada yang beli. Beberapa minggu/bulan lalu saya nyoba beli juga. Setelah dimakan, yaa…memang bisa dimengerti kenapa sepi. Ndak ada rasanya. Lama saya ndak beli lagi…kemarin kami ke kantin itu lagi, stallnya udah kosong. Bisnis makanan memang keras. Kalo kerja kantoran, ada kolega/bos yang marahin situ. Kalo jualan begini, ndak ada feedback dari siapa-siapa. Pembeli ndak kasih info apapun. :/
  3. Tentang lapak di pinggir jalan depan rumah: waktu di Jogja dulu, ada bapak-bapak jualan ayam mentah di perempatan dekat rumah, lagi motong-motong ayamnya. Itu sekitar 6-7 pagi. Mungkin bapak itu baru buka jualan, jadi belom ada yang beli. Kami–saya dan bapak saya–lewat naik mobil. Bapak saya nyapa, “laris Pak…” “Njih, matur nuwun,” jawab sang bapak penjual ayam. Buat saya menarik sih. Di Singapore ndak ada yang ngucapin begitu. Mungkin kalo di sini udah diteriakin, “laris laris, beli dong!”, setidaknya bingung. 😆
  4. Tentang martabak lagi: di Jogja kemarin saya nganterin beberapa temen orang asing + Indonesia jalan-jalan. Salah satunya ngidam(tm) martabak jalanan. Maka belilah kami martabak dari mas-mas yang jualan di dekat tempat mereka nginap. Belinya martabak spesial pake sosis dan jamur jumbo, pokoknya yang paling besar dan paling mahal buat mereka, beli dua! Bikinnya terasa lama, soalnya kami musti pergi ke tempat lain buat acara selanjutnya. Lalu setelah jadi satu, ebuset ternyata besar banget. Saya bingung, ini mereka (lima orang, plus saya plus teman bapak yang nyopirin) bisa habis ga. Elhadalah, beberapa jam kemudian dua martabak jumbo itu habis. Dan itu mereka masih pingin nambah martabak Italia aka pizza, jumbo dua juga. -_-
Advertisements

3 Responses to “Renungan Martabak”


  1. 1 jensen99 19/07/2014 at 3:00 AM

    Rasanya sudah beberapa bulan tidak makan martabak… 🙄
    #stopmartabakmanisasiterangbulan

  2. 2 itikkecil 19/07/2014 at 3:38 PM

    Dan jadi pengen martabak ini. *salahin maridjo*

  3. 3 lambrtz 20/07/2014 at 11:46 PM

    @jensen99
    Oh yeah! Stop martabakisasi terang bulan!

    @itikkecil
    Indak ikot-ikooooooot :-“


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

July 2014
S M T W T F S
« May   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
Click to view my Personality Profile page