Archive for September, 2014

’04-’05

Saya lupa gimana caranya beberapa minggu lalu saya menemukan lagu ini. Kayanya cuman related video di salah satu video yang saya tonton. Sebelumnya saya ga pernah dengar tentang lagu ini ataupun bandnya. Lagunya sendiri nomor dua. Yang menarik perhatian saya terutama adalah videonya. Teman-teman mereka (para personil band) semasa SMA, 20 tahun sebelum membuat video itu, ditunjukkan beserta foto mereka di buku tahunan. Yang dulu wagu jadi gagah. Yang ganteng tetep ganteng. Yang cantik tetep cantik. Beberapa dengan anggota keluarga/anak-anaknya. Menyentuh sekali buat saya. Saya sejak SD selalu berpindah. SD saya di Ponorogo. Tahun 1997 saya balik ke Jogja, dan sejak itu belum pernah ke Ponorogo lagi. SMP, SMA, universitas saya semua di Jogja. Setelah itu teman-teman pada merantau. Saya juga. Makanya itu saya jarang kontak dengan teman-teman saya. Terlebih saya sekarang di luar negeri, walaupun ada bagian lain Indonesia yang lebih jauh dari kampung halaman. Menonton klip ini mengingatkan saya akan masa lalu yang saya tinggalkan. Ya teman-teman saya. Ya cewek-cewek yang saya taksir dulu. Sekolah-sekolah saya. Kampung halaman saya. Terpenting, masa remaja saya. Ndak terasa, lulus SMA itu sudah 10 tahun lalu. Saya masih ingat sekali dulu waktu masih kecil, kira-kira 10 tahun, rasanya lama sekali proses untuk menjadi 18 itu. Tiba-tiba sekarang saya 26. Ndak tua, tentu; orang tua saya selalu tertawa kalau saya bilang saya tua (anyway saya agak disorientasi soal umur: teman-teman saya selalu lebih tua, tapi tampang saya sendiri tampang tua; tapi itu soal lain). Nah, di seperti saya tulis di [postingan lalu], tempat tinggal sekarang yang dulu saya rasa membosankan ternyata juga bisa ditinggali dengan nyaman. Tapi yah, saya pingin pergi juga, dan teman-teman saya sekarang juga suatu saat akan menjadi foto-foto di buku tahunan di video klip ini: hitam putih, kabur, samar, dan dimakan waktu. Besok-besok, ketika saya bertemu mereka kembali, yang muda akan jadi tua, yang tua mungkin juga mungkin akan sudah ga ada. Yang dulu sendirian sudah berkeluarga, dan yang dulu sudah berkeluarga sudah ditinggal anak cucunya merantau lagi. Saya sendiri ndak ada bayangan 20-30 tahun lagi akan jadi seperti apa. Mudah-mudahan masih hidup dan sehat. Dan mudah-mudahan ada yang bisa dan mau saya gondol™.

Advertisements

**k Tetangga Selalu Terlihat Lebih Hijau: Impian, Perjalanan, Cinta Kasih, dan Tagline

Kalo diminta nggambarken potret versi romantisasi/idealisasi dari dirimu, apa yang kamu bayangkan? Bagaimana ekspresi wajahmu? Bagaimana posturmu? Pakaian apa yang kamu kenakan? Di mana kamu berada? Sedang apa dirimu?

Ndak tau kenapa, beberapa hari belakangan ini yang terpikir di otak saya adalah gambaran saya yang sedang berdiri tegak, membelakangi kamera/penggambar. Saya pakai pakaian lengkap, jaket, celana jins, sepatu tracking (saya sebetulnya ga punya), dan tas ransel, yang terlihat berat, banyak isinya…walaupun yang nampak di gambar cuman dari paha ke atas. Karena membelakangi, muka saya dan ekspresi muka saya ga kelihatan. Jadi ada kesan agak emotionless. Ada beberapa orang berseliweran di kanan kiri jauh dekat, tapi itu bukan keramaian. Latar belakangnya kabur agak berkabut, tapi saya membayangkan di balik kabut ada tampak samar-samar bangunan-bangunan residensial dan ruko-ruko yang agak tua, mungkin macam di Eropa.

Entah kenapa bayangannya seperti ini. Saya mengartikannya sebagai saya yang selalu siap pergi ke mana impian berada. Impian apa? Ya salah satunya impian mengelilingi dunia. Barangkali saya sudah berkali-kali nulis soal ini. Kalau ditelisik ke belakang, barangkali asal mulanya adalah motivasi orang tua. Orang tua yang selalu mendorong saya untuk menjelalah negeri lain, untuk bisa berbakti di manapun saya berada. Dan alasan lainnya ya alasan praktis. Bahwa buat keluarga kami yang jelas-tidak-kaya-walaupun-kalau-ngaku-miskin-pasti-ditertawakan, sampai beberapa tahun lalu, ke luar negeri adalah kemewahan yang hanya bisa berada di awang-awang. Jadi, ketika saya akhirnya punya kesempatan, saya ndak mau menyia-nyiakan lagi, setelah sebelumnya saya sejujurnya agak menyia-nyiakan juga. Saya senang tahun 2012 lalu saya bisa [ke Jerman], tapi itu cuman 10 hari, dan sekarang saya masih stuck, ndak terlalu jauh dari kampung halaman saya. Biar gitu, saya pingin pergi lebih jauh lagi.

Namun, sejujurnya, saya agak takut dengan hal itu. Barangkali ini efek menyebalkan media sosial juga: suka membanding-bandingkan dengan teman. Kalau saya melihat beberapa teman saya, baik di dunia maya maupun nyata, yang sudah berkeluarga dan menetap, kadang ada terbersit keirian dalam hati saya. Bahwa saya pingin juga punya juga yang begitu itu. Bahwa ada yang lebih muda dari saya dan baru saja punya anak, saya pingin juga seperti itu. Bahwa ada yang sedang merantau dan setiap hari kangen anaknya, saya pingin juga punya seseorang yang bisa dikangeni seperti dalam konteks ini. Lha lak itu tamak namanya. Tapi ya kenyataannya begitulah. Ditambah lagi, dengan kondisi saya yang sekarang ini, sepertinya membangun keluarga menjadi sedikit lebih susah. Apalagi kalau bukan [tentang] [kolam].

Kembali ke perjalanan. Saya punya keyakinan bahwa masa-masa saya di Singapore akan berhenti tidak lama lagi. Saya berharap setahun lagi saya sudah tidak di sini lagi. Saya mulai mendramatisasi kondisi ini. Tempat yang dulu saya anggap membosankan, ternyata lambat laun bisa juga jadi menyenangkan dan menenangkan, kalau cara hidupnya pas juga. Pada saat yang bersamaan, saya juga mencoba mewujudkan yang saya tulis di paragraf sebelumnya. Tapi, sejauh ini hasilnya belom bagus. Saya masih punya harapan, saya yakin. Tapi kalau sampai saat saya pergi saya masih belom dapat progres yang bagus, saya ndak tau lagi kapan yang di atas itu bisa terpenuhi.

Dan seperti ada tertulis di sesi favourite quotes di halaman about Facebook saya,

“A rolling stone gathers no moss.”

***

Sekian dulu postingan saya. Tadinya cuman pingin menjelaskan visualisasi romantisasi diri saya. Ternyata akhirnya secara tak sadar saya juga sedang menjelaskan tagline blog ini.


lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

September 2014
S M T W T F S
« Jul   Dec »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
Click to view my Personality Profile page

Advertisements