Archive for the 'Age' Category

Kiki’s Delivery Service, and How I Can Relate to It

Kiki's Delivery Service

Kiki’s Delivery Service (click for the Wikipedia article)

A few months ago, I started a new hobby: to watch Ghibli’s movies while folding my clothes. Before starting this, I watched their movies randomly, but I decided to do it chronologically, and thus started from Kaze no Tani no Nausicaa (yes yes I know it’s not Ghibli’s but somehow there is a connection via Hayao Miyazaki), and just now I arrived at Kiki’s Delivery Service (KDS).

I give this movie 4/5. I have to admit that it’s not quite memorable to me, compared to, let’s say, Grave of the Fireflies which depressed me. Being a journey-kid story, I feel it lacks something, or rather, someone: a person who will take advantage of the protagonist’s naivety. Everybody in the movie seems to be a nice person, whereas just in the evening before I read about Grace Quek, previously and widely known as [Annabel Chong], at that time a girl studying in London and already experienced among the harshest thing you can find in the world: being raped. Even [Sans Famille], also known in Indonesia as Remi, teaches you more, about family rejection, grief from death, starvation, and other psychologically-challenging hardness one can find on the street. I can list some more “complaints”: Kiki doesn’t seem to travel far enough, and everybody in Koriko even speaks the same language as Kiki’s (it is Japanese, although apparently Koriko resembles a European city). But anyway, KDS might not aim for the same audience, so it might not be a good idea to compare it with those stories.

Despite my criticisms, I can relate to KDS. Depression is no stranger to me, and I believe Kiki’s experience dealing with new environment, insecurity, and personal “quarter life crisis” will help her becoming a great witch in the future. I also praise the tradition of “merantau” or, loosely translated, adventuring among the witch diaspora. I always appreciate the idea of migration, as it helps us understanding foreign cultures and related clashes with our own ideology. It also mentally shapes us, so it is amazing that a girl as young as 13, as in the case of Kiki, was so eager to take her own journey away from her hometown. Ha, even she was concerned that if she were to stay to long in her town, she might bump into love too early and could not leave at all! The younger me also wrote this poem back in 2008, on the now-dead blog, but nevertheless still accessible through the Wayback Machine: [Love can Wait]. It was so raw and amateurish, yet it was purely baked from the deepest part of my heart. Ha!

Kudos to Kiki. Wish her luck in her journey.

Final note. Kiki was lucky as she was not born on this Earth. [Earthlings might burn her alive for performing witchcraft].

Advertisements

Arah Hidup

Ini sebenarnya sudah terpikir sejak beberapa bulan yang lalu, walaupun secercah keinginan kecil untuk itu sudah ada sejak jauh di masa lampau bahkan sebelum saya mulai merantau. Hanya setelah nonton film pendek [Kony 2012] yang saya posting di Facebook, timbul niatan untuk nulis ini.

Postingan ini ada hubungannya dengan kegalauan hidup. Ya, galau. Galau dalam arti luas. Seluas langit atau samudera, entahlah. Yang jelas, berhubungan dengan [quarter-life crisis]. Lebih persisnya lagi, menurut penjelasan Erik Erikson [di sini], ini berkaitan dengan pertanyaan “What Can I Be?”

***

“Aku kan pergi jauh demi cita-citaku
Remi mohon doa restu darimu
Jangan bersedih teman-temanku
Hidup ini adalah perjuangan
[…] S’lamat berpisah semuanya
Aku ‘kan pergi untuk mengembara
Marilah kita mulai melangkah
Menuju cita-cita bahagia”

Opening “Remi” versi Indonesia

Dulu saya memutuskan untuk merantau dengan tujuan utama untuk membuat diri saya berguna. Adalah berkat yang luar biasa dari Tuhan buat saya lewat orang tua yang memotivasi untuk mengambil jalan hidup ilmu pengetahuan. Harapan saya pun besar untuk itu, bahwa saya bisa membuat kontribusi yang besar buat ilmu pengetahuan. Ternyata, dunia menampar beberapa kali, karena saya ternyata belum punya bekal kuat untuk sampai ke situ. Lebih jauhnya, silahkan liat postingan 3 tahun yang lalu [di sini]. Selain itu, lambat laun saya pun menyadari bahwa bidang saya pelajari ini nampaknya semacam “ilmu tersier”. Ya, siapa sih yang butuh Computer Graphics kalau bukan orang-orang yang sudah mampu beli game atau nonton kartun di bioskop. Pun itu tidak sebegitu megahnya bila dibandingkan Fisika murni dengan riset di CERN-nya, Biologi dengan teori evolusi dan kedokterannya, serta Astronomi dengan pencarian habitable planet-nya. Selain itu, riset saya juga melulu di lab, dari pagi siang sampai tengah malam. Tidak seperti [Apratz], misalnya, sesama murid PhD yang baru-baru ini ke Ethiopia dalam rangka riset plus makan makanan tradisional sana. Atau temen saya [labima] yang pekerjaan barunya membuatnya pergi ke pelosok-pelosok Indonesia, ke tempat-tempat yang memang membutuhkan perhatiannya. Pemikiran seperti ini juga yang membuat saya tempo hari [mensinisi Ilmu Murni]. Karena, buat saya yang sebenernya sudah berurusan dengan riset aplikatif ini, matematikawan murni nampak seperti anak-anak yang suka bermain-main saja dengan dunianya. Tapi yang ini sudah ditulis tempo hari. Yang jelas, saya kadang jadi merasa bahwa apa yang saya lakukan rasanya kurang berguna buat orang-orang.

Contohnya mudah saja, dan belum lama ini terjadi. Latar belakang ceritanya, saya ini lebih merasa sebagai “orang Jogja” ketimbang “orang Indonesia”. Setidaknya identitas pertama lebih kuat ke saya. Nah, teman-teman yang tinggal di Indonesia mestinya lebih familiar dengan berita [ini].  Intinya sih, seorang seniman Yogyakarta, Bramantyo Prijosusilo berencana membuat aksi teatrikal di depan markas Majelis Mujahiddin Indonesia, tapi batal karena konon kabarnya waktu masih di andong sudah ditarik-tarik sama anggota mereka. Pikir saya waktu itu, sementara kampung saya lagi bermasalah, apa yang saya lakukan di sini? Walaupun kalau saya ada di sana juga belum tentu bisa berbuat apa-apa.

Jadi ya begitulah. Sebenarnya ada terbersit sedikit keinginan di benak saya untuk melakukan kegiatan sosial yang benar-benar menyentuh orang yang memang perlu. Ndak perlu jauh-jauh pulang kampung ke Jogja, apalagi sampai ke Afrika. Di negara tempat saya tinggal ini, masih banyak juga orang kurang beruntung, seperti saya pernah ungkit di [blog lama saya].

Namun demikian, apapun yang saya tulis di sini, saya sadari bahwa keinginan ini masih emosional, dan tidak baik untuk mengambil keputusan yang dilandasi emosi belaka. Jadi saya melakukan sedikit pemikiran dan menemukan berbagai rintangan yang bisa ditemui. Pertama, dari saya sendiri, saya sedang stres. Hidup saya masih tak jelas, dengan waktu sebagian besar dihabiskan untuk bermain PS coding untuk riset. Kedua, masih dari saya sendiri, kendati ada rintangan pertama, saya menyadari bahwa semakin tua saya, kehidupan saya semakin stabil, dan mungkin suatu saat kelak [saya jadi dekaden dan cuma ingin menjaga kestabilan hidup]. Ketiga, dari luar, saya tidak tahu apakah orang tua dan pasangan saya kelak (jika ada) akan berkenan jika saya musti menghabiskan banyak waktu dengan “proyek tak jelas secara finansial”. Kalau menilik lagu di bawah ini

Aku dikudang mbesuk gedhe dadi dokter (Aku…dininabobokkan? Besok kalau besar jadi dokter)
[…] Hanacaraka datasawala (ABCDE-nya huruf Jawa)

Iki cerita jaman semana (ini cerita jaman dahulu)
Dijajah landa urip rekasa (dijajah Belanda, hidup sengsara)
Saiki merdika ya dha golek bandha (sekarang merdeka ya pada cari uang)

“Kuncung” – Didi Kempot

(Lirik dari [sini])

Adalah keinginan banyak orang tua generasi baby boomer *halah* di Indonesia bahwa anak-anaknya menjadi orang yang mapan dan sukses. Kalau dalam kasus saya agak mendingan, setidaknya sudah cukup untuk membuat saya bersyukur. Tokoh blogger Indonesia, Alex Hidayat *loh*, pernah menulis [di sini] bahwa di kampungnya, orang-orang tua menganggap bahwa bekerja itu antara pakai seragam (baca: jadi PNS) atau punya toko. Nah, yang saya takutkan yang macam ini. Bahwa orang-orang terdekat saya semata-mata menginginkan saya untuk hidup stabil. Apalagi kalau melihat banyak teman-teman di Facebook, yang menurut justifikasi bias dan sepihak saya, terlalu cepat hidup mapan, dan saya jadi sinis setengah hidup. Yah, kemungkinan ini datang dari lingkungan saya bisa jadi ada. Mari kita lihat saja.

***

Sudah cukup saya menulis panjang lebar. Jadi ya begitulah. Kesimpulannya, ada sedikit keinginan dari saya untuk bisa lebih berguna buat orang-orang. Mungkin suatu saat saya akan memulainya kecil-kecilan dulu dari sekitar saya, kalau beban hidup sudah berkurang.

…yang bahkan sebenarnya pun kurang tepat.

41 And Jesus sitting over against the treasury, beheld how the people cast money into the treasury. And many that were rich cast in much. 42 And there came a certain poor widow: and she cast in two mites, which make a farthing. 43 And calling his disciples together, he says to them: Amen I say to you, this poor widow has cast in more than all they who have cast into the treasury. 44 For all they did cast in of their abundance; but she of her want cast in all she had, even her whole living.

Mark 12:41–44

Sekian dan terima kasih.

After Life (1998)

…otherwise known as Wonderful Life in Japan. Continue reading ‘After Life (1998)’

Outing

Let’s make this interesting.

Find this bus stop

Find this bus stop, and I’ll be waiting there on 27th December 2010 at 7-8 PM. I will treat each of the first 20 persons coming there a plate of Indian murtabak at a nearby food court. Should the seller runs out of murtabak, it will be replaced by two pieces of any variant of prata, up to your preferrence.  One glass of drink is included. The murtabak and prata are halal-certified. Strictly no alcohol, teetotaller here. Only two requirements: you have to know me, and I have to know you. No dress code, wear anything as you like, as long as it adheres to social custom. Late comers are still welcome, but it will be Dutch treat to them.

Ciao, see you there. 🙂

Haruka na Juvenile

Sehabis baca ini, saya jadi mengingat-ingat kembali beberapa lagu dorama yang pernah saya dengar, dan salah satu yang teringat adalah ini.

Yamashita Tatsuro – Hitomi no Naka no Rainbow (OST Juvenile).

Film dibuat 2000, saya tonton di SCTV jam 1-3 pagi hari lupa bulan lupa tahun 2003 di Malang, waktu berlibur sebelum masuk kuliah S1. Dan sekarang tahun 2009 dan saya di Singapore gagal ke Jepang, bergelut dengan deadline dan deadline.

Dan kalau inget umur yang sudah 21 ini bawaannya mellow melulu. Waktu berjalan cepat sekali. Ga kerasa sudah 6 tahun sejak nonton film itu. Bintang filmnya yang dulu masih kecil-kecil, sekarang udah gedhe-gedhe. Seumuran aku sih.

Ah, kangen jaman dulu. Kayanya sebentar lagi umur 77 terus mati.

BTW, arti judul postingan adalah “masa muda yang jauh”, ga tahu maksudnya apa. Diambil dari lirik soundtrack film tersebut. Bang Ando bisa bantu? :mrgreen:


lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

May 2019
S M T W T F S
« Jan    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
Click to view my Personality Profile page

Advertisements