Archive for the 'Crime' Category

Are You Willing to Kill?

Saya tak menyangka bahwa menaruh link [ini] di Facebook akan membuahkan komentar yang seru. Artikel ini bercerita tentang Nevin Yildirim, 26, seorang ibu di Turki yang setelah sering diperkosa oleh seseorang selama beberapa bulan, menembak pemerkosanya di alat kelaminnya, lantas setelah si pemerkosa mati, Mbak Nevin memenggal kepala pemerkosa dan membawanya ke tengah alun-alun desa. “Ini yang terjadi dengan orang yang mempermainkan harga diriku!”, katanya.

Ada beberapa komentar yang masuk. Silakan baca di sini. Saya capture yang penting-penting saja, jadi antara satu dan lainnya mungkin tidak langsung berkelanjutan. Klik untuk memperbesar.

Saya berada di belakang Mbak Nevin di sini. Tapi komentar Bang Alex membuat terhenyak juga. Di situ dia menuliskan bahwa memang sudah layak dan sepantasnya si pemerkosa itu dipenggal. Dia sendiri akan melakukan hal yang sama kalau  anggota keluarga dia mengalami hal yang sama (komentar #8). Hehe. Sejujurnya, saya ga kaget sih. Tapi, saya merefleksikan kasus ini ke diri saya sendiri. Kalau yang diperkosa istri saya, apakah saya akan membunuh pemerkosanya? Jujur saja saat ini saya bilang tidak tahu. Saya bukan orang sekeras Bang Alex. Kalau berdasar klasifikasi laki-laki [di sini], menurut saya, saya lebih dekat ke [magician], sedangkan dia ke tipe [warrior]. Warrior akan lebih siap menghadapi hal-hal seperti ini. Pun, di artikel warrior itu, ada dikatakan,

But in general, modern culture is not comfortable with Warrior energy. The advent of mechanized warfare during the first half of the 20th century dampened the romantic ideal of martial courage. Since the social and cultural revolutions of the 60s and 70s, we’ve generally taught boys and men to avoid confrontation and conflict and to instead nurture their “feminine side.” The result is the Nice Guy; the man who will avoid confrontation and aggression even when confrontation and aggression are justified.

Dan saya adalah salah satu produk nice guy itu, yang terlahir dari pengalaman keras generasi baby boomer, dan keinginan mereka agar anak mereka tidak mendapat pengalaman seperti mereka. Mindset saya jadi begini (maaf pake Bahasa Inggris, saya lebih bisa mengekspresikannya). Let’s say I kill a rapist who raped my wife. However morale and just my action can be, are you sure that I will not lose my job? Ya begitu mindset saya. Sementara sebenarnya saya setuju dengan komentar Bang Alex di gambar nomor 5, bahwa dalam perkembangan peradaban, ada kontribusi dari pertumpahan darah. Cuman ya itu. Saya yang sedang menjaga hubungan erat dengan pekerjaan ini, dikombinasikan dengan latar belakang kepribadian saya, membuat saya belum membuat keputusan soal ini. Yang saya pahami saat ini cuman bahwa dalam kasus seperti ini, fokus saya adalah memberi keamanan dan dukungan emosional ke istri saya, to the point that, when the need arises, I have to effin’ die to save her.

Bagaimana dengan Anda sendiri? Apakah Anda bersedia membunuh?

Jebakan Betmen

Jadi kemarin jam 5 pagi itu, saya yang belum lagi 2 jam tidur, dikagetkan oleh getaran handphone yang lupa dimatikan silentnya…errr maksud saya belum dinyalakan ringtonenya akibat lupa. Getaran pertama mati, karena telat diangkat. Getaran kedua, ada babe dari rumah. Masih serasa di limbo, saya jawab.

l(ambrtz): “Halo Pa”

P(apa): “Halo, lagi ngapain le?”

l: (Hah?) “Ya lagi tidur lah, kenapa Pa?”

P: “Ooo…takcritani le…”

Dan beliaupun bercerita, bahwa…

…barusan ada telepon, bilang kalau saya (lambrtz) lagi di kantor polisi kena masalah narkoba. Ada dua orang di seberang saluran itu. Yang pertama itu bilang kalau dia itu “N”, yang adalah bagian dari nama panjang saya, tapi bukan nama yang biasa dipakai untuk menyebut diri saya. “N” ini menangis mengharu biru, bilang kalau dia ada di “polda”. Papa tanya, di polda mana? Tapi “N” ini lama baru jawab “Jogja”. Di sambungan yang sama, ada orang lain yaitu “Pak Iptu”. Nah “Pak Iptu” ini bilang kalau dia bisa membantu orang tua saya untuk mengeluarkan “N”…

Nah begitu ceritanya…

Cuman dua tokoh kita di seberang saluran ini tidak tahu. Rumah saya menggunakan layanan caller ID yang bisa menampilkan nomor telepon penelepon. Dan nomor yang ditampilkan itu memakai kode area 061, yang tak lain tak bukan adalah kode area Binjai, Sumatera Utara.

Sampai sini mencurigakan bukan?

Terlebih lagi si penelepon menggunakan nama yang tidak pernah saya gunakan, dan kabarnya suaranya berbeda pula dari saya. Alhasil setelah telepon selesai, Papa langsung menelepon saya, dan ya…saya memang lagi tidur. Dan sedang di negara sebelah yang jaraknya, kalau dari Jogja, tidak lebih jauh daripada Binjai ini tentunya.

Saya heran beribu heran. Ini apa gerangan nama saya bisa sampai Binjai? Saya aja belom pernah menginjakkan kaki di Pulau Sumatera 😐

Binjai abad 19

Binjai abad 19

Ya walaupun saya tak menampik kemungkinan bahwa sindikat ini sudah redirect beberapa kali sih.

Anyway, mungkin ini ada berkaitan dengan kejadian beberapa bulan/tahun sebelumnya. Waktu itu ada orang yang mengaku dari supermarket di kampung halaman kami menghubungi orang tua saya bahwa saya, lambrtz ini, menang undian. Tapi setelah supermarket tersebut dikontak, tentunya tidak ada undian yang dimaksud. Pun saya waktu itu sudah ada di negara sebelah.

Dari dua kasus ini, kami jadi curiga kalau nama saya sudah tersebar di dunia hitam penjebakbetmenan(tm) Indonesia. 😐

Yah ini jadi bekal buat kami ke depannya agar bisa lebih berhati-hati.

Ada yang pernah mengalami?

Integrasi, Asimilasi, Sekat: Clash(?) of Civilisations

Warning: ngubek-ubek agama, budaya, dan ideologi. Continue reading ‘Integrasi, Asimilasi, Sekat: Clash(?) of Civilisations’

David

Bagus! Enak aja dibilang bunuh diri. Geram aku.

Saya heran.

Kenapa banyak beberapa (karena saya tidak tahu persentase pastinya) orang Indonesia lebih suka skenario David dibunuh? Menurut saya baik skenario David dibunuh maupun David berupaya membunuh sama-sama buruk, jadi tidak ada yang saya lebih sukai dari yang lain. David dibunuh, berarti ada pembunuhan, tidak baik. David berupaya membunuh, berarti ada niat tidak baik juga. David bunuh diri, itu tidak baik (setidaknya begitu menurut prinsip yang saya anut). David didorong hingga jatuh, itu tidak baik. Semua tidak baik, kenapa ada orang yang menyukai salah satu skenario dari yang saya sebut itu? Apakah mereka senang David dibunuh?

Apakah ini karena Nasionalisme™? Kalau iya, benarlah saya untuk tidak menyukai konsep ini 🙄 

Seandainya David terbukti, secara logis dengan argumen yang kuat, bersalah, apakah Anda, masyarakat Indonesia, masih akan membelanya?
Seandainya Cho Seung-Hui ataupun Jiverly Wong orang Indonesia, apakah Anda mau membela mereka?
Apakah kalau Anda dari Surabaya, Anda harus mendukung Persebaya?
Apakah kalau Anda dari Manchester, Anda harus mendukung Manchester City / Manchester United / klub lain dari kota tersebut?

Atau…ada alasan lain bagi orang Indonesia secara umum untuk lebih menyukai (note: menyukai, which is masalah selera, bukan mempercayai ataupun berpendapat) opini “David dibunuh”?

Saya tidak menolak kenyataan bahwa ada beberapa hal yang ganjil dari kasus ini, tapi sementara ini semua masih belum jelas. Hasil pengadilan koroner belum keluar, dan hasil otopsi yang diterima keluarga David belum dipublikasikan. Semua hanya opini dan spekulasi. Saya sendiri hanya berharap kejelasan, karena toh saya ikutan penasaran. Selain itu, kasihan keluarganya.

PS: tagline saya dapat dari komentar di Facebook adik kelas saya, yang saya edit dikit tanpa mengubah makna.


lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

May 2022
S M T W T F S
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  
Click to view my Personality Profile page