Archive for the 'Fiction' Category

Fire of Joy and [???]

Fire set up in the city of happiness!
Its citizens indulged on the mass-feast to celebrate the reign of the new sultan.

Hoorah, long live to our blessed sultan!

I was just a guest to the small city-kingdom, but I was overjoyed
as the citizens were warm and welcoming
and all from every walk of life, native or foreign, were invited to the feast.

And all my worries in the past seemed unfounded.

As I called it a night,
my heart was filled with two contradictoru feelings,
one of joy, one of which I cannot recognise.

It was the feeling that one feeling was supposed to be there, was expected to be there, but it was not there.

The journey is still long.

Advertisements

Melangkah Masuk Bagian III

Angin misteri membawaku terbang menuju dekat Al-Sa’ada
Kota penuh tanda tanya yang dulu membuat berpikir delapan, delapan juta kali
Dan yang dulu kuputuskan untuk kutinggalkan untuk sementara

Barangkali besok aku sudah bisa sampai di gerbangnya

Menuju Sina

Aku baru saja bangun tidur. Kepalaku pusing, sepertinya karena tiga pekan terakhir ini matahari bersinar sangat terik, tak seperti bulan-bulan sebelumnya.

Tak terasa sudah dua bulan lewat sejak aku terakhir menulis di catatan perjalananku. Kota yang dulu lama kutimbang-timbang untuk kusinggahi, telah jauh kulewati. Entah karena apa. Mungkin karena mengurus izin masuknya sangat rumit. Mungkin karena impianku untuk ke Murrakus mengalahkan niatku masuk al-Sa’ada. Yang jelas adalah aku sudah jauh dari sana. Mungkin tidak tergariskan untuk kudatangi kali ini. Mungkin memang tak tergariskan sama sekali. Tapi kalau memang ada tergariskan, aku akan megunjunginya kembali.

Kalau petaku tak salah, dan kalau saudagar-saudagar yang kupapasi benar, aku sebentar lagi masuk Sina. Aku ingin mengunjungi Jabal Musa, sebelum singgah di…aku tak tahu, al-Qahirah atau al-Iskandariyya. Aku punya perasaan yang kuat tak lama lagi, dalam beberapa bulan saja, aku akan sampai di sana.

Dengan mengucap Bismillah, aku melanjutkan perjalanan.

.

Menuju Sina, tahun 521 bulan 10

Melangkah Masuk Bagian II

“τθέλετενακάνετεεδώοαδελφός;”

Aku tidak mengerti apa yang tentara itu ucapkan.
“Maaf aku tidak mengerti apa yang kamu ucapkan.”

Para tentara berdiskusi satu sama lain dan satu, lain dari yang tadi, bertanya padaku.

“Apa yang Saudara mau lakukan di sini?”

Ah, akhirnya, bahasa yang kumengerti.

“Aku ingin jadi raja di sini.”

Tentara itu terpingkal-pingkal dan terguling. Ada barang tiga menit dia di tanah terguling kiri-kanan sembari yang lain kebingungan, sebelum dia berujar lagi kepadaku.

“Saudaraku datang dari negeri yang jauh ingin menjadi raja di sini? Hahahahaha! Saudara bahkan tak mengerti bahasa kami.”

Keringat bercucuran. Tentara itu mendekatiku dan berkata lagi.

“Saudaraku, tak ada raja di sini. Ada lima jenderal konsul yang memimpin kota ini, langsung di bawah Kaisar Bizantiya. Kalau Saudaraku ingin jadi jenderal konsul, Saudaraku harus bisa berbahasa Yunani dan lahir di sini, atau Saudara mendapat rekomendasi langsung dari Kaisar. Jadi sebaiknya Saudara tidak bermimpi yang aneh-aneh. Tentu saja, kami mempersilakan Saudara bertamu ke kota kami. Tapi gerbang ini hanya untuk saudagar-saudagar dengan izin resmi dari Kaisar. Saudara harus lewat gerbang yang lain, 40 stadia barat daya gerbang ini. ”

“…baiklah, terima kasih.”

Langit hampir gelap, jadi aku berjalan sedikit agak cepat mengikuti dinding kota ke barat. Dari belakang terdengar ramai tawa tentara-tentara. Mungkin mereka saling menceritakan kejadian barusan. Lebih dari empat, pasti. Mungkin ada barak di dekat gerbang itu…

.

.

.

.

.

.

.

.

Tapi tentu yang tadi cuma ada di pikiranku saja. Aku tidak segila itu untuk mengatakan niatku yang sebenarnya.

“…Tuan, aku datang dari desa di tengah Gurun Al-Jafr, dan aku ingin mencari peruntungan di sini.”

“Maaf Saudaraku, gerbang ini hanya untuk saudagar-saudagar dengan izin resmi dari Kaisar. Saudaraku harus lewat gerbang yang lain, 40 stadia barat daya gerbang ini. Akan ada petugas yang mengurusi pendatang-pendatang. Harap sedikit cepat karena sebentar lagi malam, dan kami akan menutup semua gerbang.”

“…terima kasih.”

Aku tak tahu 40 stadia itu berapa jauh, jadi cuma kukira-kira saja, sepertinya cukup jauh. Aku berjalan sedikit agak cepat mengikuti dinding kota ke barat. Ada sedikit kegembiraan di hatiku, karena setelah berapa lama, akhirnya aku memberanikan diri mendekati kota ini. Ada secercah harapan. Tapi masa depan tiada yang pasti, dan aku tak tahu apa yang menghadapiku, ataupun kesempatan macam apa yang ada di dalam kota ini.

Angin sore ini kering dan dingin. Entah kenapa sepertinya lebih kering dan dingin dari beberapa hari belakangan.

Melangkah Masuk

=== al-Sa’ada ===

Tertulis di papan di atas gerbang kota itu.
Empat tentara berdiri menjaga gerbang.

Aku tertegun.
Nama kota Bahasa Arab.
Saudagar keluar masuk bicara Bahasa Arab.
Beberapa bicara Ibrani.
Beberapa bicara Persia.
Beberapa bicara aku tak tahu bahasa apa, nampaknya dari negeri jauh di Timur.
Dan seragam tentara ini jelas seragam Qustantiniyah.

Ini kota kota makmur.
Tempat pedagang bertukar dagangan.

Aku melangkah masuk…

Gerbang Kota al-Sa’ada, di tengah Gurun al-Naqab
Tahun 521, barangkali bulan 8

Rambling

Before I started my journey,
when I was much younger,
I ran away from home
leaving for a wadi in the middle of desert
rumoured to be a gold deposit
abandoned by people of the past

Well I was young
so I prepared not much
and bandits did roam the place
where the gold deposit was actually non-existent
and the lore was all a lie.
Enough to say that I was once beaten and abducted
And my whole village people had to attack the bandit’s lair and rescue me

Once home, I cried
But Father and Mother didn’t scold me
They were happy that I reached home safely

***

It is a scar I still carry even today
I am scared
What if Murrakus is not like what I thought?
What if it is actually a filthy place?
What if all the promises are all lies?
My journey will be a waste!

***

So I opened a letter my Father wrote to me
shortly before he passed away.

“The reason why I named you Akbar
is so that you become a great person.
Go to every corner of the Earth,
and conquer prosperous territories Iskandar never had.”

I smiled.

The night is late
I should sleep soon.

Nearing the misterious city in al-Naqab
Year 521, probably the seventh moon

Step by Step II

In this scorchingly sunny day,
I find myself in an unfamiliar place
But there is a growing dot in my sight
A big city with towering structures

Some people passed me by
Wealthy merchants, they seem to be,
Whose language I have never known before
Carrying quality gold and silk
They, men and women, are travelling to foreign lands

Cold air I feel on my spine
If I go there, I may find some help to continue my journey
But honestly, I have little courage of approaching it,
a city whose language I don’t speak
and I, coming from an impoverished village,
am meeting them is like a donkey meeting a tiger.

But more truthfully, weeks have passed since I started encircling that very city,
and I am tired of wandering around.

So I begin to walk, step by step, towards it…

(Hopefully) at the other end of al-Naqab
Year 521, probably the seventh moon, after a deadly sandstorm


lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

August 2019
S M T W T F S
« Jan    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
Click to view my Personality Profile page

Advertisements