Archive for the 'Friendship' Category

’04-’05

Saya lupa gimana caranya beberapa minggu lalu saya menemukan lagu ini. Kayanya cuman related video di salah satu video yang saya tonton. Sebelumnya saya ga pernah dengar tentang lagu ini ataupun bandnya. Lagunya sendiri nomor dua. Yang menarik perhatian saya terutama adalah videonya. Teman-teman mereka (para personil band) semasa SMA, 20 tahun sebelum membuat video itu, ditunjukkan beserta foto mereka di buku tahunan. Yang dulu wagu jadi gagah. Yang ganteng tetep ganteng. Yang cantik tetep cantik. Beberapa dengan anggota keluarga/anak-anaknya. Menyentuh sekali buat saya. Saya sejak SD selalu berpindah. SD saya di Ponorogo. Tahun 1997 saya balik ke Jogja, dan sejak itu belum pernah ke Ponorogo lagi. SMP, SMA, universitas saya semua di Jogja. Setelah itu teman-teman pada merantau. Saya juga. Makanya itu saya jarang kontak dengan teman-teman saya. Terlebih saya sekarang di luar negeri, walaupun ada bagian lain Indonesia yang lebih jauh dari kampung halaman. Menonton klip ini mengingatkan saya akan masa lalu yang saya tinggalkan. Ya teman-teman saya. Ya cewek-cewek yang saya taksir dulu. Sekolah-sekolah saya. Kampung halaman saya. Terpenting, masa remaja saya. Ndak terasa, lulus SMA itu sudah 10 tahun lalu. Saya masih ingat sekali dulu waktu masih kecil, kira-kira 10 tahun, rasanya lama sekali proses untuk menjadi 18 itu. Tiba-tiba sekarang saya 26. Ndak tua, tentu; orang tua saya selalu tertawa kalau saya bilang saya tua (anyway saya agak disorientasi soal umur: teman-teman saya selalu lebih tua, tapi tampang saya sendiri tampang tua; tapi itu soal lain). Nah, di seperti saya tulis di [postingan lalu], tempat tinggal sekarang yang dulu saya rasa membosankan ternyata juga bisa ditinggali dengan nyaman. Tapi yah, saya pingin pergi juga, dan teman-teman saya sekarang juga suatu saat akan menjadi foto-foto di buku tahunan di video klip ini: hitam putih, kabur, samar, dan dimakan waktu. Besok-besok, ketika saya bertemu mereka kembali, yang muda akan jadi tua, yang tua mungkin juga mungkin akan sudah ga ada. Yang dulu sendirian sudah berkeluarga, dan yang dulu sudah berkeluarga sudah ditinggal anak cucunya merantau lagi. Saya sendiri ndak ada bayangan 20-30 tahun lagi akan jadi seperti apa. Mudah-mudahan masih hidup dan sehat. Dan mudah-mudahan ada yang bisa dan mau saya gondol™.

Advertisements

Seberang Lautan

Baru saja menemukan account Facebook seorang legenda semasa SMA. Bukan guru bukan siswa. Jaman dulu saja sudah sepuh. Apalagi sekarang. Kalau tidak salah sudah pensiun. Seorang Cina yang secara resmi tercatat dengan nama Jawanya, tapi biasa dipanggil dengan nama Cinanya. Seorang Cina yang lebih Jawa daripada orang Jawa sendiri. Sosok yang di sekolah yang (menurutku cenderung) egaliter ini dipandang setara, ketika murid-murid bisa bercengkerama dengannya dengan bahasa Jawa kasar/ngoko sarat pisuh-pisuhan. Harus kuakui bahwa waktu itu aku tidak banyak srawung dengannya, dan barangkali dia lebih kenal aku karena aku anaknya bapakku, yang pada waktu itu, tiga puluhan tahun lalu, sepertinya lebih banyak dikenal di sekolah. Tapi melihat alumni sekolahku, senior-senior yang tidak pernah kujumpai (karena sepertinya sudah lulus duluan sebelum aku masuk) jagongan di rumahnya, aku tak pelak jadi merindukan atmosfir SMA secara khusus dan kota Jogja secara umum yang (dalam sudut pandangku) laidback, dengan aktivitas sosialisasi yang murah meriah, bahwa dengan tiga piring gorengan (pisang goreng, tempe, mendoan, telo*, sukun), lalu kacang rebus (walaupun saya sebenernya ga suka), serta teh nasgithel**, asbak buat yang ngrokok plus kartu dan papan catur dan sengsu***, total seharga beberapa puluh ribu rupiah saja untuk memberi makan lima ribu beberapa orang, sudah tercipta rasa gayeng alias keakraban. Tidak seperti di sini, ketika saya melihat kawan-kawan entah orang asli sini atau imigran(tm) macam saya demi kegayengan pergi ke restoran kelas menengah lalu mengambil potret diri nan narsis lalu dimasukkan Facebook: terlihat absurd di mata saya yang dari keluarga menengah agak bawah ukuran Indonesia ini ya walaupun saya toh melakukannya juga kadang-kadang demi adaptasi(tm). Kegayengan kelas mendoan ironisnya menjadi barang mewah buat saya, karena saya musti menghabiskan jutaan rupiah buat beli tiket ke Jogja buat bertemu dengan kawan lama, dan waktu juga tidak bisa dibeli. Tapi ya, untuk kembali ke sana dalam jangka waktu lama dan mendapatkan keakraban kampung halaman pun tak mungkin. Dijadikan semata pengingat sajalah bahwa hidup bukan melulu soal kerja, perang ideologi, dan kegalauan para kebelet-kawin.

.
.
.

* Ketela. Bilang telo di Jogja sudah biasa. Bilang telo di sini jadi perhatian. Dibilang medok. Ada sedikit perasaan ga nyaman, walaupun saya yaa take it easy sajalah. Halo teman-teman Jowo ngapak, saya jadi bisa merasakan “penderitaan” kalian. 😛

** Panas legi (manis) kenthel (kental)

*** Oseng-oseng asu (anjing).  Jadi simbol de facto orang Jawa (entah Jawa beneran atau Cina yang terkena pengaruh Jawa Jawa-jawaan) non-Muslim. Tapi sebelum konservatard dan libertard menyerang, saya sendiri sudah lama ga makan sengsu, dan beberapa waktu lalu memutuskan untuk tidak makan sengsu sampai mereka diternakkan secara pantas (sepertinya tidak mungkin terjadi). Sebenarnya saya masukkan di situ untuk tidak diseriusi.

Teman Maya 1.0

Sewaktu saya SMA, jauh sebelum blog booming di Indonesia, saya muda cukup sering ngobrol-ngobrol dengan orang tak dikenal via mIRC. Saya, yang waktu itu masih keranjingan Utada Hikaru, I’s, dan produk Jejepangan lain, target utamanya satu: mencari teman dari Jepang, apalagi waktu itu ada teman SMA yang konon kabarnya berhasil. Dia sempat mamerin foto cewek kenalan dia itu, entah bener atau ga. Nah, oleh karena itu chatroom yang saya masuki biasanya berhubungan dengan Jepang (mungkin #japan ya, saya lupa). Biasanya sih saya gagal nemu orang Jepang, karena ternyata mayoritas isinya orang Indonesia dan Filipina. Namun, dari sana saya sempat menemukan teman maya pertama dan kedua saya, dan kami sering kontak-kontakan memakai e-mail.

Saya lupa nama teman maya pertama saya, tapi saya ingat nickname dia, yang inisialnya JB. Dia cewek, beberapa tahun lebih tua dari saya. E-mail pertama saya terima dari dia 10 Januari 2003 (barusan search di account e-mail). Sejujurnya ndak banyak yang saya ingat tentang dia, selain bahwa saya pernah mengunjungi rumah dia, yang ternyata ga jauh dari rumah tante saya waktu itu (sekarang sudah pindah) di Malang. Waktu itu liburan sebelum saya masuk UGM, saya pinjam sepeda punya om saya untuk jalan-jalan. “Nyari teman,” kata saya. Agak kerepotan nyari rumah dia, karena ternyata ada di jalan dan gang kecil. Sepertinya waktu itu siang hari, saya muter-muter di daerah rumah dia satu jam. Sempat tanya seorang mbak di sana, apa kenal Mbak JB ini atau ga. Setelah dipersilakan masuk ke rumahnya, saya diberi tahu, bahwa di daerah situ ada dua orang namanya seperti nama asli Mbak JB ini. Katanya, yang satu pinter nyanyi dangdut, yang satunya (saya lupa deskripsinya). Saya memutuskan tanya tentang orang kedua, lalu dikasih tau denah rumahnya. Setelah pamitan, saya pun ke rumah yang sudah dijelaskan, dan ketemu orangnya. Mbak JB. Dan ini  secara resmi adalah kopdar saya yang pertama.

Waktu itu, dia kaget bahwa saya bisa menemukan rumah dia. Tapi kalau boleh dibilang, kopdar itu garing hahahaha. Ndak banyak yang bisa kami omongin, karena kami ga tahu banyak tentang latar belakang masing-masing, kecuali bahwa dia kuliah di jurusan Sastra Jerman di sebuah universitas di Malang (saya lupa apa, tapi mungkin Universitas Negeri Malang, karena saya barusan googling dan hanya menemukan universitas tersebut di Malang yang ada jurusan Sastra Jerman), dan saya baru saja diterima di Elektro UGM. Saya disuguh tiga kue dari tetangga dia. Enak, tapi kata dia ndak tahan lama, karena ga pake pengawet. Saya sempat melihat salah satu buku kuliah dia, dan sempat melihat, di kamar tidurnya yang pintunya sedikit terbuka dan dalamnya dapat dilihat dari ruang tamu, sebuah salib besar, tanpa ada Yesus yang tersalib di sana. Ooh, Protestan. Saya di sana selama 2 jam saja. Itupun pada paruh kedua kunjungan saya, banyak waktu diam yang bikin awkward hehehe. Kemudian saya pamitan dan pulang. Setelah itu, kami ga banyak kontak-kontakan lagi, dan e-mail terakhir dari dia saya terima cuma tiga bulan setelah ketemuan. Saya baca lagi, garing juga hahaha. Dan itulah akhir dari komunikasi kami.

Nah, berbeda dari teman maya pertama saya, ada lebih banyak hal yang saya ingat dari teman maya kedua saya. Saya masih ingat inisial namanya DI, dan inisial nickname-nya YH. Nama Jepang. Pertama ketemu di chatroom dengan tema Jepang, saya pertamanya ngira dia orang Jepang, dan saya ajak ngomong dia dengan Bahasa Inggris. Tapi setelah beberapa awkward moment, kami pun tahu kalau kami sama-sama orang Indonesia. Padahal sudah tanya harga sekilo beras di Jepang segala hahahaha.

Dia, penggemar X Japan, khususnya Yoshiki, waktu itu kuliah di sebuah universitas di Surabaya (lupa). Walaupun tidak begitu hapal secara detil, ada beberapa hal yang saya ingat dari komunikasi kami. Tentang itu tadi, dia maniak X Japan khususnya Yoshiki. Tentang dia yang sering bepergian Surabaya – Mojokerto (dia tulis SBY – MJK). Tentang senior dia yang dia taksir. Tentang kejadian sehari-hari di tempat dia kursus Bahasa Jepang (lupa apakah dia belajar atau ngajar di sana). Tentang salah satu sensei dia yang berasal dari sebuah pulau kecil di Jepang (sepertinya lepas pantai Honshu, bukan Okinawa). Tentang love interest saya semasa SMA dan kuliah. Tentang gadis dari jurusan seberang, dan kisah patah hati pertama saya. Tentang cinta pertama saya, yang akhirnya saya temui lagi di sebuah gereja di utara kodya Yogyakarta setelah 4 tahun ga ketemu. Tentang keinginan saya cari beasiswa untuk ke luar negeri. Dan lain sebagainya. Berbeda dengan komunikasi saya dengan teman maya pertama, e-mail-e-mail antara saya dan Mbak DI ini panjang, kebanyakan isinya curhat-curhat, dan PS-nya (atau kalau di Bahasa Indonesia NB) sampai 10. Yang saya masih ingat juga, saya waktu itu tidak memakai titik (.) untuk memisahkan kalimat-kalimat, tetapi titik-titik (………). Jeda antar e-mail kalau tidak salah sekitar 3 hari – 2 minggu. Karena kalau ngetik di warnet lama (saya waktu itu belum ada internet di rumah; alternatif lain ngenet di ruangan hima jurusan saya), saya biasanya ngopi e-mail dia ke Notepad, save jadi file plain text .txt, lalu pindah ke disket (ya, disket; walaupun waktu itu sudah zamannya flash disk, saya masih memakai disket, karena saya masih memakai komputer yang kami beli tahun 1998-1999), lalu baca di rumah, dan tulis balasannya, juga di Notepad. Seingat saya, ada folder di harddisk di Jogja khusus untuk balas-balasan e-mail ini. Saya lupa apa saya copy ke laptop ini atau tidak.

Nah, sekitar 2005, dia bilang mau ke Jogja, mengunjungi teman dia, inisial A, yang kuliah di UGM. Sekalian saja, saya ngajak ketemuan. Kos temannya ada di daerah Klebengan di Jogja, dekat bagian timur UGM. Mencarinya pun ndak perlu susah-susah kaya waktu di Malang 2 tahun sebelumnya, apalagi saya sudah bawa motor. Itu pagi hari, sebelum saya masuk kuliah siang hari. Saya pun ketemu DI. Orangnya agak tinggi. Yang saya ingat, kulitnya gelap, rambutnya berombak hitam dengan sedikit warna ungu. Mengenai obrolan saya selama beberapa jam di sana, saya ga begitu ingat. Saya cuma sempat ambil foto kucing anggora yang ada di sana, ambil foto dia (mustinya foto ini masih ada, entah di laptop saya atau di harddisk di Jogja), dan sempat dia ingatkan untuk berhati-hati kalau mau ambil foto di sana, karena itu kos-kosan cewek dan banyak yang berjilbab di sana. Dan itulah kopdar kedua saya.

Seusai kopdaran, kami sempat beberapa lama komunikasi lagi. Tapi, seingat saya, waktu itu saya mulai tambah sibuk dengan kuliah. Kerja Praktek, ndaftar pertukaran mahasiswa (yang akhirnya gagal), dan sebagainya. Saya pun suatu saat meminta izin, tidak bisa membalas e-mail dulu untuk sementara. Ternyata itu adalah e-mail terakhir yang saya kirim ke dia. E-mail balasan terakhir dia, tertanggal 1 November 2006, pun sangat pendek. Penutupnya, “NB: jgn lupa kabarin ya ntar if dah dapet beasiswa.. ^^”

***

Bintang-bintang di atas ini untuk tujuan dramatisasi semata.

Beberapa bulan lalu, saya iseng-iseng mencari account Mbak DI di Facebook. Awalnya tidak ketemu. Tapi secara ajaib, saya berhasil menemukan account Facebook Mbak A, teman DI yang dulu kuliah di UGM itu. Ajaibnya lagi, ternyata A ini adalah teman dnial! Saya mencari nama DI di friend list A, dan, ya, ketemu! Tapi sempat saya bingung, apa ini orangnya? Waktu itu, perempuan di profile picture account itu berjilbab, walaupun posenya masih terkesan tomboi. Yang agak meyakinkan saya adalah bertebarannya X Japan dan Yoshiki di profile dia. Anyway, itu waktu saya masih suka deactivate account. Bulan lalu, saya beranikan kirim message ke dia. Sayangnya belum dibalas.

Demikian, saya akan mengupdate daftar kopdar saya.


lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

May 2019
S M T W T F S
« Jan    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
Click to view my Personality Profile page

Advertisements