Archive for the 'Inside My Brain' Category

The Current State of Ears

Back in 2009, I posted [this].

Nowadays I enjoy almost completely different sets of songs. Just want to share some that I enjoy lately.

***

Posted this late last year.

Discovered Malay rock and immediately liked it.

Have always liked Gregorian, but not to this level. Duty calls.

Went to Mew’s concert a few months ago. Their best song.

I don’t know who she is and I don’t know what she says, until I read an English translation.

Just sang this song in the church yesterday.

***

I don’t enjoy much what I call “angry people’s songs” anymore. Not that I turn my back on them now. I do still listen to the likes of Metallica, Nirvana, Alice in Chains, etc occasionally. But I don’t know, the spark is mostly gone…

Advertisements

Fides et Ratio et Humilitas

In search of William and Anastasia,
I re-found Jesus.

The new tagline is thus “fides et ratio et humilitas”.

Faith, reason, and humility.

Not one over another, but three, equal, as one.

These, should be the foundations of things to come.

Almost 2015

The year is approaching its end. I am getting old(er), and I realised that over the course of a few years, I have changed a lot in terms of blogging. I used to be more open about my private life, here on my blog and also on Facebook. Now, not so much. I am very hesitant to write about private matters, and on occasions, when I cannot suppress the desire, I write cryptically. The blogging frequency has decreased too. There was one day when I made three blog posts on one day. Now, I write one post in three months. The rise of Facebook certainly contributes to this, but as I become more content with my life, I also have less time now to blog.

Merry Christmas, and ***** ********.

**k Tetangga Selalu Terlihat Lebih Hijau: Impian, Perjalanan, Cinta Kasih, dan Tagline

Kalo diminta nggambarken potret versi romantisasi/idealisasi dari dirimu, apa yang kamu bayangkan? Bagaimana ekspresi wajahmu? Bagaimana posturmu? Pakaian apa yang kamu kenakan? Di mana kamu berada? Sedang apa dirimu?

Ndak tau kenapa, beberapa hari belakangan ini yang terpikir di otak saya adalah gambaran saya yang sedang berdiri tegak, membelakangi kamera/penggambar. Saya pakai pakaian lengkap, jaket, celana jins, sepatu tracking (saya sebetulnya ga punya), dan tas ransel, yang terlihat berat, banyak isinya…walaupun yang nampak di gambar cuman dari paha ke atas. Karena membelakangi, muka saya dan ekspresi muka saya ga kelihatan. Jadi ada kesan agak emotionless. Ada beberapa orang berseliweran di kanan kiri jauh dekat, tapi itu bukan keramaian. Latar belakangnya kabur agak berkabut, tapi saya membayangkan di balik kabut ada tampak samar-samar bangunan-bangunan residensial dan ruko-ruko yang agak tua, mungkin macam di Eropa.

Entah kenapa bayangannya seperti ini. Saya mengartikannya sebagai saya yang selalu siap pergi ke mana impian berada. Impian apa? Ya salah satunya impian mengelilingi dunia. Barangkali saya sudah berkali-kali nulis soal ini. Kalau ditelisik ke belakang, barangkali asal mulanya adalah motivasi orang tua. Orang tua yang selalu mendorong saya untuk menjelalah negeri lain, untuk bisa berbakti di manapun saya berada. Dan alasan lainnya ya alasan praktis. Bahwa buat keluarga kami yang jelas-tidak-kaya-walaupun-kalau-ngaku-miskin-pasti-ditertawakan, sampai beberapa tahun lalu, ke luar negeri adalah kemewahan yang hanya bisa berada di awang-awang. Jadi, ketika saya akhirnya punya kesempatan, saya ndak mau menyia-nyiakan lagi, setelah sebelumnya saya sejujurnya agak menyia-nyiakan juga. Saya senang tahun 2012 lalu saya bisa [ke Jerman], tapi itu cuman 10 hari, dan sekarang saya masih stuck, ndak terlalu jauh dari kampung halaman saya. Biar gitu, saya pingin pergi lebih jauh lagi.

Namun, sejujurnya, saya agak takut dengan hal itu. Barangkali ini efek menyebalkan media sosial juga: suka membanding-bandingkan dengan teman. Kalau saya melihat beberapa teman saya, baik di dunia maya maupun nyata, yang sudah berkeluarga dan menetap, kadang ada terbersit keirian dalam hati saya. Bahwa saya pingin juga punya juga yang begitu itu. Bahwa ada yang lebih muda dari saya dan baru saja punya anak, saya pingin juga seperti itu. Bahwa ada yang sedang merantau dan setiap hari kangen anaknya, saya pingin juga punya seseorang yang bisa dikangeni seperti dalam konteks ini. Lha lak itu tamak namanya. Tapi ya kenyataannya begitulah. Ditambah lagi, dengan kondisi saya yang sekarang ini, sepertinya membangun keluarga menjadi sedikit lebih susah. Apalagi kalau bukan [tentang] [kolam].

Kembali ke perjalanan. Saya punya keyakinan bahwa masa-masa saya di Singapore akan berhenti tidak lama lagi. Saya berharap setahun lagi saya sudah tidak di sini lagi. Saya mulai mendramatisasi kondisi ini. Tempat yang dulu saya anggap membosankan, ternyata lambat laun bisa juga jadi menyenangkan dan menenangkan, kalau cara hidupnya pas juga. Pada saat yang bersamaan, saya juga mencoba mewujudkan yang saya tulis di paragraf sebelumnya. Tapi, sejauh ini hasilnya belom bagus. Saya masih punya harapan, saya yakin. Tapi kalau sampai saat saya pergi saya masih belom dapat progres yang bagus, saya ndak tau lagi kapan yang di atas itu bisa terpenuhi.

Dan seperti ada tertulis di sesi favourite quotes di halaman about Facebook saya,

“A rolling stone gathers no moss.”

***

Sekian dulu postingan saya. Tadinya cuman pingin menjelaskan visualisasi romantisasi diri saya. Ternyata akhirnya secara tak sadar saya juga sedang menjelaskan tagline blog ini.

Renungan Martabak

fritz-martabak

Postingan ini adalah sebuah respon terhadap foto martabak yang diunggah [Fritz] di Facebook, seperti tergambar di atas.

  1. Tentang martabak: Ini baru martabak! Bukan “martabak” manis alias terang bulan itu!
  2. Tentang sepi jualan: di sebuah kantin di sini ada satu stall yang sepi, walaupun lokasinya di dekat pintu masuk. Jualannya katanya makanan Cina ala Taiwan. Yang jualan juga bapak ibu sekitar paruh baya. Kalo waktu makan siang sepiiiii begitu. Jarang sekali saya liat ada yang beli. Beberapa minggu/bulan lalu saya nyoba beli juga. Setelah dimakan, yaa…memang bisa dimengerti kenapa sepi. Ndak ada rasanya. Lama saya ndak beli lagi…kemarin kami ke kantin itu lagi, stallnya udah kosong. Bisnis makanan memang keras. Kalo kerja kantoran, ada kolega/bos yang marahin situ. Kalo jualan begini, ndak ada feedback dari siapa-siapa. Pembeli ndak kasih info apapun. :/
  3. Tentang lapak di pinggir jalan depan rumah: waktu di Jogja dulu, ada bapak-bapak jualan ayam mentah di perempatan dekat rumah, lagi motong-motong ayamnya. Itu sekitar 6-7 pagi. Mungkin bapak itu baru buka jualan, jadi belom ada yang beli. Kami–saya dan bapak saya–lewat naik mobil. Bapak saya nyapa, “laris Pak…” “Njih, matur nuwun,” jawab sang bapak penjual ayam. Buat saya menarik sih. Di Singapore ndak ada yang ngucapin begitu. Mungkin kalo di sini udah diteriakin, “laris laris, beli dong!”, setidaknya bingung. 😆
  4. Tentang martabak lagi: di Jogja kemarin saya nganterin beberapa temen orang asing + Indonesia jalan-jalan. Salah satunya ngidam(tm) martabak jalanan. Maka belilah kami martabak dari mas-mas yang jualan di dekat tempat mereka nginap. Belinya martabak spesial pake sosis dan jamur jumbo, pokoknya yang paling besar dan paling mahal buat mereka, beli dua! Bikinnya terasa lama, soalnya kami musti pergi ke tempat lain buat acara selanjutnya. Lalu setelah jadi satu, ebuset ternyata besar banget. Saya bingung, ini mereka (lima orang, plus saya plus teman bapak yang nyopirin) bisa habis ga. Elhadalah, beberapa jam kemudian dua martabak jumbo itu habis. Dan itu mereka masih pingin nambah martabak Italia aka pizza, jumbo dua juga. -_-

Cultural Confusion

Another sekat/partition.

I have a feeling, that if I spend considerable amount of times in two different countries with completely different cultures, I will be confused about what is right and what is wrong.

Suppose in one country, A is right, and B is wrong. In another country, B is right, A is wrong.

If go back and forth between the two countries, I will get confused about how I should stand with regard to that matter.

Of course I can die-die say, even though I just keep it to myself, that A is right and B is wrong. However, if life brings me to the second country and I accidentally do A. bang. I will be in trouble.

Menuju Sina

Aku baru saja bangun tidur. Kepalaku pusing, sepertinya karena tiga pekan terakhir ini matahari bersinar sangat terik, tak seperti bulan-bulan sebelumnya.

Tak terasa sudah dua bulan lewat sejak aku terakhir menulis di catatan perjalananku. Kota yang dulu lama kutimbang-timbang untuk kusinggahi, telah jauh kulewati. Entah karena apa. Mungkin karena mengurus izin masuknya sangat rumit. Mungkin karena impianku untuk ke Murrakus mengalahkan niatku masuk al-Sa’ada. Yang jelas adalah aku sudah jauh dari sana. Mungkin tidak tergariskan untuk kudatangi kali ini. Mungkin memang tak tergariskan sama sekali. Tapi kalau memang ada tergariskan, aku akan megunjunginya kembali.

Kalau petaku tak salah, dan kalau saudagar-saudagar yang kupapasi benar, aku sebentar lagi masuk Sina. Aku ingin mengunjungi Jabal Musa, sebelum singgah di…aku tak tahu, al-Qahirah atau al-Iskandariyya. Aku punya perasaan yang kuat tak lama lagi, dalam beberapa bulan saja, aku akan sampai di sana.

Dengan mengucap Bismillah, aku melanjutkan perjalanan.

.

Menuju Sina, tahun 521 bulan 10


lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

September 2019
S M T W T F S
« Jan    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
Click to view my Personality Profile page

Advertisements