Archive for the 'Internet' Category



Arah Hidup

Ini sebenarnya sudah terpikir sejak beberapa bulan yang lalu, walaupun secercah keinginan kecil untuk itu sudah ada sejak jauh di masa lampau bahkan sebelum saya mulai merantau. Hanya setelah nonton film pendek [Kony 2012] yang saya posting di Facebook, timbul niatan untuk nulis ini.

Postingan ini ada hubungannya dengan kegalauan hidup. Ya, galau. Galau dalam arti luas. Seluas langit atau samudera, entahlah. Yang jelas, berhubungan dengan [quarter-life crisis]. Lebih persisnya lagi, menurut penjelasan Erik Erikson [di sini], ini berkaitan dengan pertanyaan “What Can I Be?”

***

“Aku kan pergi jauh demi cita-citaku
Remi mohon doa restu darimu
Jangan bersedih teman-temanku
Hidup ini adalah perjuangan
[…] S’lamat berpisah semuanya
Aku ‘kan pergi untuk mengembara
Marilah kita mulai melangkah
Menuju cita-cita bahagia”

Opening “Remi” versi Indonesia

Dulu saya memutuskan untuk merantau dengan tujuan utama untuk membuat diri saya berguna. Adalah berkat yang luar biasa dari Tuhan buat saya lewat orang tua yang memotivasi untuk mengambil jalan hidup ilmu pengetahuan. Harapan saya pun besar untuk itu, bahwa saya bisa membuat kontribusi yang besar buat ilmu pengetahuan. Ternyata, dunia menampar beberapa kali, karena saya ternyata belum punya bekal kuat untuk sampai ke situ. Lebih jauhnya, silahkan liat postingan 3 tahun yang lalu [di sini]. Selain itu, lambat laun saya pun menyadari bahwa bidang saya pelajari ini nampaknya semacam “ilmu tersier”. Ya, siapa sih yang butuh Computer Graphics kalau bukan orang-orang yang sudah mampu beli game atau nonton kartun di bioskop. Pun itu tidak sebegitu megahnya bila dibandingkan Fisika murni dengan riset di CERN-nya, Biologi dengan teori evolusi dan kedokterannya, serta Astronomi dengan pencarian habitable planet-nya. Selain itu, riset saya juga melulu di lab, dari pagi siang sampai tengah malam. Tidak seperti [Apratz], misalnya, sesama murid PhD yang baru-baru ini ke Ethiopia dalam rangka riset plus makan makanan tradisional sana. Atau temen saya [labima] yang pekerjaan barunya membuatnya pergi ke pelosok-pelosok Indonesia, ke tempat-tempat yang memang membutuhkan perhatiannya. Pemikiran seperti ini juga yang membuat saya tempo hari [mensinisi Ilmu Murni]. Karena, buat saya yang sebenernya sudah berurusan dengan riset aplikatif ini, matematikawan murni nampak seperti anak-anak yang suka bermain-main saja dengan dunianya. Tapi yang ini sudah ditulis tempo hari. Yang jelas, saya kadang jadi merasa bahwa apa yang saya lakukan rasanya kurang berguna buat orang-orang.

Contohnya mudah saja, dan belum lama ini terjadi. Latar belakang ceritanya, saya ini lebih merasa sebagai “orang Jogja” ketimbang “orang Indonesia”. Setidaknya identitas pertama lebih kuat ke saya. Nah, teman-teman yang tinggal di Indonesia mestinya lebih familiar dengan berita [ini].  Intinya sih, seorang seniman Yogyakarta, Bramantyo Prijosusilo berencana membuat aksi teatrikal di depan markas Majelis Mujahiddin Indonesia, tapi batal karena konon kabarnya waktu masih di andong sudah ditarik-tarik sama anggota mereka. Pikir saya waktu itu, sementara kampung saya lagi bermasalah, apa yang saya lakukan di sini? Walaupun kalau saya ada di sana juga belum tentu bisa berbuat apa-apa.

Jadi ya begitulah. Sebenarnya ada terbersit sedikit keinginan di benak saya untuk melakukan kegiatan sosial yang benar-benar menyentuh orang yang memang perlu. Ndak perlu jauh-jauh pulang kampung ke Jogja, apalagi sampai ke Afrika. Di negara tempat saya tinggal ini, masih banyak juga orang kurang beruntung, seperti saya pernah ungkit di [blog lama saya].

Namun demikian, apapun yang saya tulis di sini, saya sadari bahwa keinginan ini masih emosional, dan tidak baik untuk mengambil keputusan yang dilandasi emosi belaka. Jadi saya melakukan sedikit pemikiran dan menemukan berbagai rintangan yang bisa ditemui. Pertama, dari saya sendiri, saya sedang stres. Hidup saya masih tak jelas, dengan waktu sebagian besar dihabiskan untuk bermain PS coding untuk riset. Kedua, masih dari saya sendiri, kendati ada rintangan pertama, saya menyadari bahwa semakin tua saya, kehidupan saya semakin stabil, dan mungkin suatu saat kelak [saya jadi dekaden dan cuma ingin menjaga kestabilan hidup]. Ketiga, dari luar, saya tidak tahu apakah orang tua dan pasangan saya kelak (jika ada) akan berkenan jika saya musti menghabiskan banyak waktu dengan “proyek tak jelas secara finansial”. Kalau menilik lagu di bawah ini

Aku dikudang mbesuk gedhe dadi dokter (Aku…dininabobokkan? Besok kalau besar jadi dokter)
[…] Hanacaraka datasawala (ABCDE-nya huruf Jawa)

Iki cerita jaman semana (ini cerita jaman dahulu)
Dijajah landa urip rekasa (dijajah Belanda, hidup sengsara)
Saiki merdika ya dha golek bandha (sekarang merdeka ya pada cari uang)

“Kuncung” – Didi Kempot

(Lirik dari [sini])

Adalah keinginan banyak orang tua generasi baby boomer *halah* di Indonesia bahwa anak-anaknya menjadi orang yang mapan dan sukses. Kalau dalam kasus saya agak mendingan, setidaknya sudah cukup untuk membuat saya bersyukur. Tokoh blogger Indonesia, Alex Hidayat *loh*, pernah menulis [di sini] bahwa di kampungnya, orang-orang tua menganggap bahwa bekerja itu antara pakai seragam (baca: jadi PNS) atau punya toko. Nah, yang saya takutkan yang macam ini. Bahwa orang-orang terdekat saya semata-mata menginginkan saya untuk hidup stabil. Apalagi kalau melihat banyak teman-teman di Facebook, yang menurut justifikasi bias dan sepihak saya, terlalu cepat hidup mapan, dan saya jadi sinis setengah hidup. Yah, kemungkinan ini datang dari lingkungan saya bisa jadi ada. Mari kita lihat saja.

***

Sudah cukup saya menulis panjang lebar. Jadi ya begitulah. Kesimpulannya, ada sedikit keinginan dari saya untuk bisa lebih berguna buat orang-orang. Mungkin suatu saat saya akan memulainya kecil-kecilan dulu dari sekitar saya, kalau beban hidup sudah berkurang.

…yang bahkan sebenarnya pun kurang tepat.

41 And Jesus sitting over against the treasury, beheld how the people cast money into the treasury. And many that were rich cast in much. 42 And there came a certain poor widow: and she cast in two mites, which make a farthing. 43 And calling his disciples together, he says to them: Amen I say to you, this poor widow has cast in more than all they who have cast into the treasury. 44 For all they did cast in of their abundance; but she of her want cast in all she had, even her whole living.

Mark 12:41–44

Sekian dan terima kasih.

Advertisements

Puasa

Bahwasanya hakikat puasa itu adalah:

  1. Tidak perlu bilang-bilang
  2. Tidak perlu menyuruh orang lain ikut puasa
  3. Tidak perlu menjauhi hal yang dipuasai sampai pada tingkat yang ekstrim; hadapi saja seperti biasa
*habis puasa update status / post / komen di Facebook hampir 1 minggu tanpa perlu deaktivasi*
*siul-siul*

Wisdom

There are always stupid and wrong people in this world, let alone on the internet. If you always face them every time you meet them, you will just waste your time. The key here is to pick your fights wisely, so as to not lead your life goal astray.

Teman Maya 1.0

Sewaktu saya SMA, jauh sebelum blog booming di Indonesia, saya muda cukup sering ngobrol-ngobrol dengan orang tak dikenal via mIRC. Saya, yang waktu itu masih keranjingan Utada Hikaru, I’s, dan produk Jejepangan lain, target utamanya satu: mencari teman dari Jepang, apalagi waktu itu ada teman SMA yang konon kabarnya berhasil. Dia sempat mamerin foto cewek kenalan dia itu, entah bener atau ga. Nah, oleh karena itu chatroom yang saya masuki biasanya berhubungan dengan Jepang (mungkin #japan ya, saya lupa). Biasanya sih saya gagal nemu orang Jepang, karena ternyata mayoritas isinya orang Indonesia dan Filipina. Namun, dari sana saya sempat menemukan teman maya pertama dan kedua saya, dan kami sering kontak-kontakan memakai e-mail.

Saya lupa nama teman maya pertama saya, tapi saya ingat nickname dia, yang inisialnya JB. Dia cewek, beberapa tahun lebih tua dari saya. E-mail pertama saya terima dari dia 10 Januari 2003 (barusan search di account e-mail). Sejujurnya ndak banyak yang saya ingat tentang dia, selain bahwa saya pernah mengunjungi rumah dia, yang ternyata ga jauh dari rumah tante saya waktu itu (sekarang sudah pindah) di Malang. Waktu itu liburan sebelum saya masuk UGM, saya pinjam sepeda punya om saya untuk jalan-jalan. “Nyari teman,” kata saya. Agak kerepotan nyari rumah dia, karena ternyata ada di jalan dan gang kecil. Sepertinya waktu itu siang hari, saya muter-muter di daerah rumah dia satu jam. Sempat tanya seorang mbak di sana, apa kenal Mbak JB ini atau ga. Setelah dipersilakan masuk ke rumahnya, saya diberi tahu, bahwa di daerah situ ada dua orang namanya seperti nama asli Mbak JB ini. Katanya, yang satu pinter nyanyi dangdut, yang satunya (saya lupa deskripsinya). Saya memutuskan tanya tentang orang kedua, lalu dikasih tau denah rumahnya. Setelah pamitan, saya pun ke rumah yang sudah dijelaskan, dan ketemu orangnya. Mbak JB. Dan ini  secara resmi adalah kopdar saya yang pertama.

Waktu itu, dia kaget bahwa saya bisa menemukan rumah dia. Tapi kalau boleh dibilang, kopdar itu garing hahahaha. Ndak banyak yang bisa kami omongin, karena kami ga tahu banyak tentang latar belakang masing-masing, kecuali bahwa dia kuliah di jurusan Sastra Jerman di sebuah universitas di Malang (saya lupa apa, tapi mungkin Universitas Negeri Malang, karena saya barusan googling dan hanya menemukan universitas tersebut di Malang yang ada jurusan Sastra Jerman), dan saya baru saja diterima di Elektro UGM. Saya disuguh tiga kue dari tetangga dia. Enak, tapi kata dia ndak tahan lama, karena ga pake pengawet. Saya sempat melihat salah satu buku kuliah dia, dan sempat melihat, di kamar tidurnya yang pintunya sedikit terbuka dan dalamnya dapat dilihat dari ruang tamu, sebuah salib besar, tanpa ada Yesus yang tersalib di sana. Ooh, Protestan. Saya di sana selama 2 jam saja. Itupun pada paruh kedua kunjungan saya, banyak waktu diam yang bikin awkward hehehe. Kemudian saya pamitan dan pulang. Setelah itu, kami ga banyak kontak-kontakan lagi, dan e-mail terakhir dari dia saya terima cuma tiga bulan setelah ketemuan. Saya baca lagi, garing juga hahaha. Dan itulah akhir dari komunikasi kami.

Nah, berbeda dari teman maya pertama saya, ada lebih banyak hal yang saya ingat dari teman maya kedua saya. Saya masih ingat inisial namanya DI, dan inisial nickname-nya YH. Nama Jepang. Pertama ketemu di chatroom dengan tema Jepang, saya pertamanya ngira dia orang Jepang, dan saya ajak ngomong dia dengan Bahasa Inggris. Tapi setelah beberapa awkward moment, kami pun tahu kalau kami sama-sama orang Indonesia. Padahal sudah tanya harga sekilo beras di Jepang segala hahahaha.

Dia, penggemar X Japan, khususnya Yoshiki, waktu itu kuliah di sebuah universitas di Surabaya (lupa). Walaupun tidak begitu hapal secara detil, ada beberapa hal yang saya ingat dari komunikasi kami. Tentang itu tadi, dia maniak X Japan khususnya Yoshiki. Tentang dia yang sering bepergian Surabaya – Mojokerto (dia tulis SBY – MJK). Tentang senior dia yang dia taksir. Tentang kejadian sehari-hari di tempat dia kursus Bahasa Jepang (lupa apakah dia belajar atau ngajar di sana). Tentang salah satu sensei dia yang berasal dari sebuah pulau kecil di Jepang (sepertinya lepas pantai Honshu, bukan Okinawa). Tentang love interest saya semasa SMA dan kuliah. Tentang gadis dari jurusan seberang, dan kisah patah hati pertama saya. Tentang cinta pertama saya, yang akhirnya saya temui lagi di sebuah gereja di utara kodya Yogyakarta setelah 4 tahun ga ketemu. Tentang keinginan saya cari beasiswa untuk ke luar negeri. Dan lain sebagainya. Berbeda dengan komunikasi saya dengan teman maya pertama, e-mail-e-mail antara saya dan Mbak DI ini panjang, kebanyakan isinya curhat-curhat, dan PS-nya (atau kalau di Bahasa Indonesia NB) sampai 10. Yang saya masih ingat juga, saya waktu itu tidak memakai titik (.) untuk memisahkan kalimat-kalimat, tetapi titik-titik (………). Jeda antar e-mail kalau tidak salah sekitar 3 hari – 2 minggu. Karena kalau ngetik di warnet lama (saya waktu itu belum ada internet di rumah; alternatif lain ngenet di ruangan hima jurusan saya), saya biasanya ngopi e-mail dia ke Notepad, save jadi file plain text .txt, lalu pindah ke disket (ya, disket; walaupun waktu itu sudah zamannya flash disk, saya masih memakai disket, karena saya masih memakai komputer yang kami beli tahun 1998-1999), lalu baca di rumah, dan tulis balasannya, juga di Notepad. Seingat saya, ada folder di harddisk di Jogja khusus untuk balas-balasan e-mail ini. Saya lupa apa saya copy ke laptop ini atau tidak.

Nah, sekitar 2005, dia bilang mau ke Jogja, mengunjungi teman dia, inisial A, yang kuliah di UGM. Sekalian saja, saya ngajak ketemuan. Kos temannya ada di daerah Klebengan di Jogja, dekat bagian timur UGM. Mencarinya pun ndak perlu susah-susah kaya waktu di Malang 2 tahun sebelumnya, apalagi saya sudah bawa motor. Itu pagi hari, sebelum saya masuk kuliah siang hari. Saya pun ketemu DI. Orangnya agak tinggi. Yang saya ingat, kulitnya gelap, rambutnya berombak hitam dengan sedikit warna ungu. Mengenai obrolan saya selama beberapa jam di sana, saya ga begitu ingat. Saya cuma sempat ambil foto kucing anggora yang ada di sana, ambil foto dia (mustinya foto ini masih ada, entah di laptop saya atau di harddisk di Jogja), dan sempat dia ingatkan untuk berhati-hati kalau mau ambil foto di sana, karena itu kos-kosan cewek dan banyak yang berjilbab di sana. Dan itulah kopdar kedua saya.

Seusai kopdaran, kami sempat beberapa lama komunikasi lagi. Tapi, seingat saya, waktu itu saya mulai tambah sibuk dengan kuliah. Kerja Praktek, ndaftar pertukaran mahasiswa (yang akhirnya gagal), dan sebagainya. Saya pun suatu saat meminta izin, tidak bisa membalas e-mail dulu untuk sementara. Ternyata itu adalah e-mail terakhir yang saya kirim ke dia. E-mail balasan terakhir dia, tertanggal 1 November 2006, pun sangat pendek. Penutupnya, “NB: jgn lupa kabarin ya ntar if dah dapet beasiswa.. ^^”

***

Bintang-bintang di atas ini untuk tujuan dramatisasi semata.

Beberapa bulan lalu, saya iseng-iseng mencari account Mbak DI di Facebook. Awalnya tidak ketemu. Tapi secara ajaib, saya berhasil menemukan account Facebook Mbak A, teman DI yang dulu kuliah di UGM itu. Ajaibnya lagi, ternyata A ini adalah teman dnial! Saya mencari nama DI di friend list A, dan, ya, ketemu! Tapi sempat saya bingung, apa ini orangnya? Waktu itu, perempuan di profile picture account itu berjilbab, walaupun posenya masih terkesan tomboi. Yang agak meyakinkan saya adalah bertebarannya X Japan dan Yoshiki di profile dia. Anyway, itu waktu saya masih suka deactivate account. Bulan lalu, saya beranikan kirim message ke dia. Sayangnya belum dibalas.

Demikian, saya akan mengupdate daftar kopdar saya.

An Open Letter to the US Navy SEALs

Dear Sirs,

I would like to deliver my gratitude to you for shooting Mr bin Laden (well, that bin Laden) down during the  deactivation period of my Facebook account. I am really grateful.

Yours faithfully,
lambrtz

PS: I am not curious to activate it either, even for just a short while.

Tentang Ngeblog

Pernah ga Anda pingin menulis tentang sesuatu yang ada di otak Anda, tapi ga jadi karena takut menyinggung orang lain? Continue reading ‘Tentang Ngeblog’

Dari Bangku Taman

Di kolam itu, ada ribuan Continue reading ‘Dari Bangku Taman’


lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

August 2019
S M T W T F S
« Jan    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
Click to view my Personality Profile page

Advertisements