Archive for the 'Language' Category

lambrtz and Languages

Just now, this [Superman] shared [this link] on Facebook. To understand this, I need not to look farther than my mirror. I consider myself belong to the earliest generation in which this phenomenon starts to be prevalent. By Indonesian standard, even for non-native standard, I speak fluent English. But my proficiency in Javanese, which is supposed to be my first/second language, is limited to the ngoko/”rude” form and very little krama inggil/the “polite” form. That’s like only knowing a half of the language. There are a few reasons of this. Somehow my parents decided to teach me more Indonesian, which I am very fluent in, and only little Javanese. Family members can also speak to each other in ngoko, although with some krama inggil words when referring to the parents (although I usually just replace those words with Indonesian words instead), so it’s no wonder that my krama inggil doesn’t improve much.

I live in Singapore, so there is very little need of knowing and speaking Javanese. There was one occasion though, when I die die had to speak krama inggil Javanese. When I still rented my previous room, I stayed with, well, the Singaporean owner, of course, and a Javanese family also from my hometown (actually our homes are just a few hundred metres apart). The couple’s parents often visited them, and they seemed to speak Javanese more often. So, when I conversed with them, I had to use krama inggil. It felt very awkward, since I didn’t know the polite forms of many words, so at times I had to resort to Indonesian, or mistakenly used the rude forms. Another thing is, older Javanese generations speak veeeeeery slowly, whereas I am known for my fast talk, so the way I spoke krama inggil was like very un-Javanese.

On another occasion, when I returned home last year, my Father took me to his school reunion, in which I talked to some of his friends. At this time, however, I initiated to talk in krama inggil, instead of Indonesian. At home, my Father laughed. He seemed very surprised and was very keen of talking about this to my Mother.

Closing remarks. I talked to my Father just a few weeks ago when he visited me (I am in [Palapa Oath] mode, so I don’t want to return home until I submit another paper), that quite likely I will not have a Javanese wife. I understand very much about the surrounding issues of having girlfriend/spouse of different ethnicity/nationality, but like it or not, with this current condition most women I meet are not Indonesian, let alone Javanese. So the family line from my branch may stop being and speaking Javanese at some point of time.

Nikah dan Kawin

Mungkin di sekitar saya cuman saya yang tidak membedakan arti kata nikah dan kawin, dalam artian nikah = prosesi dan kawin = proses biologis. Buat saya, kawin dan nikah itu sama saja, yaitu prosesinya. Entah kenapa. Dari dulu sudah begitu. Mungkin karena ada yang menyebut [ini] sakramen pernikahan, ada yang bilang sakramen perkawinan. Di KBBI pun juga begitu. Lha lalu proses biologisnya apa? Ya sex, persetubuhan. Apa lagi.

Tentang Perjalanan Seorang Diri

讀萬卷書不如行萬里路

– ungkapan Tiongkok

Minggu kemarin saya kemari.

Fraunhofer IGD

Fraunhofer IGD

Perjalanan terjauh saya, ke negara yang sungguh asing buat saya. Saya ke sana sendiri. Jalan-jalan sendiri. Memang dua hari terakhir saya bertemu teman saya. Tapi secara umum saya jalan-jalan sendiri. Ke tempat dengan bahasa yang tidak saya ketahui. Jadi sebelumnya musti belajar frase-frase penting dulu. Setidaknya cukup untuk membawa saya muter-muter di dan ke beberapa kota. Selain itu, saya juga belajar tentang sistem angkutan umumnya dulu terlebih dahulu. Namun demikian, tetap aja banyak hal yang sempat buat saya kaget. Hari pertama, sudah nyaris bikin masalah karena ketidakfamilieran saya dengan sistem [proof-of-payment]. Lalu, menelepon hotel teman di kota lain karena teman yang dijadwalkan datang pada hari yang sama belum kontak keluarganya ataupun saya. Terus perjalanan antar kota sendiri juga. Di event yang saya kunjungi pun, secara praktis saya juga sendiri. Memang ada dosen dari kampus saya, tapi kami tidak saling mengenal. Tidak ada teman. Jadi saya musti aktif juga mendekati orang-orang asing itu. Ndak buruk sih. Hari pertama bisa dapat teman makan malam mahasiswa dari Swiss dan Liechtenstein (negara ini, bahkan teman saya yang orang Perancis belum pernah bertemu orang dari negara ini). Hari kedua teman makan malamnya dosen Inggris, Italia, dan Swedia. Hari ketiga makan siang bersama dosen dari Jepang dan Inggris. Musti aktif juga membangun jaringan. Agak kaget juga saya. Karena saya selalu menganggap saya ini pendiam *bah*, introvert, dan agak susah berkomunikasi. Tidak luwes dalam bersosialisasi. Tapi setidaknya saya ada bukti bahwa saya cukup multicultural. 😛

Menyenangkan berjalan-jalan seorang diri. Di satu sisi ada kepuasan tersendiri, karena ternyata tanpa bantuan praktis (ada bantuan finansial dan moral tentu saja) dari orang lain, saya bisa muter-muter sendiri di negara orang yang juauh dari kampung halaman saya. Walaupun di sana cuma sebentar, saya belajar banyak hal, baik tentang saya sendiri maupun orang sana. Musti berani tapi lihai, misalnya ketika mendekati orang asing. Belajar juga tentang keseharian orang sana. Tentang makanan dan perilakunya. Dan lain sebagainya.

Jika ada waktu dan dana, saya sarankan pembaca untuk berkelana sendiri sekali-sekali. Sendiri as in sendiri. Saya ingin melakukannya lagi sekali waktu. Semoga pada perjalanan berikutnya, ndak ada masalah yang cukup berarti.

Sekian aja, saya ngantuk. 😛

Random

1) Daniel Continue reading ‘Random’

Random

Kway teow

Picture unrelated

(was: Gelap) Continue reading ‘Random’


lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

July 2021
S M T W T F S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
Click to view my Personality Profile page