Archive for the 'My Experience' Category



Film-film yang Kutonton pada Tahun 2015

Melanjutkan postingan [tahun]-[tahun] sebelumnya, saya mendaftar film-film yang saya tonton tahun ini. Sedikit saja, 30, dan ini ada unsur cheating, karena beberapa dari mereka adalah film pendek. Ya, memang saya perlu mengorbankan ini demi memasukkan thesis yang mustinya sudah masuk bertahun-tahun lalu. Anyway, ini daftar film yang saya tonton pada tahun ini.

  1. Made in Hong Kong (1997). Gangster (Singlish: ah beng) muda dirundung berbagai masalah keluarga dan pertemanan. Soal duka dan kelam di dalam hati manusia. Soal impian untuk meninggalkan jejak tapi merasa mentok. Tokoh utama bikin ingat sama Mas Anindito.
  2. The Admiral: Roaring Current (2014). Dua belas kapal Korea melawan 300an kapal Jepang pada saat invasi Toyotomi ke Korea. Lambat panasnya, dan mayoritas orang Jepangnya diperankan aktor Korea. Walaupun jelas timpang kalo dibandingkan dengan Red Cliff, lumayanlah.
  3. Leaving on the 15th Spring (2013). Anak SMP di tempat terpencil di Jepang yang ingin menyelamatkan kelanggengan keluarganya yang terpisah jarak.
  4. Farewell My Concubine (1993). Dua aktor opera Peking, sebagai elemen budaya lama, bertahan hidup dalam gejolak politik Cina pertengahan abad 20.
  5. Gangster Payday (2014). Gangster tua mendukung usaha kafe cewek yang dia taksir. Bonus Carrie Ng.
  6. A Road to Sampo (1975). Mantan napi pulang kampung ditemani buruh pengangguran dan wanita penghibur.
  7. Devils on the Doorstep (2000). Tentara Jepang dan penerjemah ditawan di desa di Cina. Duapertiga pertama ketawa-ketawa, sepertiga akhir depresi.
  8. To Live (1994). Tuan tanah jatuh miskin, yang sebenarnya menguntungkan buat dia karena jrengjrengjrengjreng perang saudara di Cina.
  9. Chungking Express (1994). Takeshi Kaneshiro dan Tony Leung mencoba move on dari pasangan masing-masing. Also feat. Faye Wong muda.
  10. In the Heat of the Sun (1994). Slice of life, persahabatan anggota gank remaja dan cinta monyet dengan latar belakang Revolusi Budaya. Diceritakan dengan samar2, dari sudut pandang si karakter waktu sudah dewasa.
  11. Yellow Earth (1984). Harapan tinggi seorang gadis petani yang dipaksa menikah muda, tapi sangat berhasrat untuk bergabung sama Partai Komunis.
  12. Calvary (2014).  In this world full of darkness, hatred, pride, and adultery, how can one spread the good news of God?
  13. Red Sorghum (1987). Gong Li sebagai bos pabrik ciu™ menghadapi intrik internal, bandit, dan Jepang.
  14. Blue Kite (1993). Perempuan kawin tiga kali, suaminya mati semua, gara-gara berbagai macam fase politik RRC.
  15. Spring in a Small Town (1948). Film Cina rasa Jepang. Tanpa politik dan dukungan maupun antipati terhadap kom—anuitu-isme. Tempo lambat kaya film-filmnya Ozu.
  16. Chicken Rice War (2000). Film Singapore berbahasa Cantonese (+ Singlish). Anyway cerita cintanya silakan lupakan. Nonton komedi antar keluarganya aja.
  17. Street Angel (1937). Drama komedi tentang kaum marjinal melawan kehidupan.
  18. Ju Dou (1990). Keluarga slewah, neraka dunia.
  19. Bus 44 (2001). Udah ketauan ini mah pasti ada  yang mati.
  20. Mei (2006).  Impian ingin ke luar negeri, dan ikatan keluarga. Ini film Taiwan feelingnya Jepang banget.
  21. Bean Cake (2001). Penindasan jingoism terhadap beancakeisme. Sesungguhnya anak ini adalah seorang martir on the making!
  22. Something Universal (2014?). Miskomunikasi antara turis India dan orang Singapore yang pingin belajar Hindi.
  23. 2046 (2004). 5cmps versi dewasa, versi Hong Kong, versi Wong Kar Wai. Atau, 5cmps itu 2046 versi Makoto Shinkai, versi remaja.
  24. A Brighter Summer Day (1991). Efek perang saudara terhadap kenakalan remaja di Cina-yang-satunya. Makian di mana-mana.
  25. A Time in Quchi (2013). Anak kota liburan di desa. Walaupun kadang subverted.
  26. Durian (2003). Orang selingkuh ditemani durian.
  27. Outpost (2012). Prajurit muda nan idealis ditempatkan di sebuah benteng pertahanan di Kuantan bersama prajurit veteran yang suuuuper nyantai.
  28. Mulberry (1985). Seorang wanita yang ditelantarin suaminya nggodain laki-laki sedesa.
  29. Nambugun: North Korean Partisan in South Korea (1990). Pasukan partisan Korut di wilayah selatan yang ditelantarkan utara dan satu per satu gogrok, entah mati atau ditangkap.
  30. Mandala (1981). Dua biksu berbeda gaya hidup bertualang bersama untuk mencari pencerahan.

Statistik asal negara (seperti biasa, Hong Kong saya pisah dari Cina, yang kebetulan tahun ini absen; Taiwan eeee…™):

  • RRC = 11
  • Korea Selatan = 5
  • Hong Kong = 4
  • Taiwan = 3
  • Jepang = 2
  • Singapore = 2
  • Irlandia = 1
  • Indonesia = 1
  • Malaysia = 1

Seperti biasa, film Asia sangat mendominasi. Bahkan, tahun ini saya cuman nonton 1 film non-Asia (Calvary, dari Irlandia). Bedanya, tahun ini RRC yang jadi nomor satu. Entah kenapa. Mungkin pesona Gong Li. *eh* Dan kok ya pas tahun ini juga saya dapat rezeki bisa ke Beijing sama bapak saya. Sementara, tiga film terakhir dari Korsel karena mudah nyarinya, ada channel khusus di Youtube.

Bikin ranking tahun ini sulit juga. Tapi buat saya begini.

  1. Nambugun: North Korean Partisan in South Korea
  2. In the Heat of the Sun
  3. Devils on the Doorstep
  4. 2046
  5. Farewell My Concubine

Selamat tahun baru, dan sampai jumpa lagi tahun depan!

It’s a Wonderful World

This day has been good to me.

I woke up earlier than usual, and I managed to sneak in to the early working time slot.

I had breakfast in the canteen not far from my lab. Slightly different than usual: 3 pieces of kaya toast, instead of the usual 5, and two half-boiled eggs, with teh-o gelas. Perfect Singaporean breakfast.

The rest of the day started slowly. But I managed to finish two slides my professor asked me to do (although I realised afterwards that I forgot some to add some contents; I can do it tomorrow). FYI I will be assisting him in a class that he teaches this semester, and I had been doing the slides for a few days already.

I also managed to liaise with other colleagues on another report.

In short, I accomplished a few tasks today.

In the evening, I went back home early.

I stopped by midway in a canteen to buy a cup of sliced fruits.

I walked slowly this evening, enjoying the clear evening breeze.

Not far my apartment, a primary school posted an advertisement for canteen stalls. One of the required stalls is “Muslim noodle”. This term always tickles me. I have a feeling that that probably means a stall that sells various Malay noodle dishes, e.g. mee siam, mee goreng, mee soto. However, if I were to sell halal [Lanzhou lamian], that would still be considered Muslim noodle too. In fact, that is the most common halal cuisine in China, if Wikipedia can be trusted on this. But anyway, that was just my imagination.

At home, I went to the washroom to do my business for a short while. It was so relaxing.

I then went out again to jog. I managed to jog around the complex where I live twice, or about 3 km. Without walking. That was quite an achievement for me. The key is actually to relax while running, and try to think about something else.

I then had a dinner of MUTTON SOUP in a nearby food court. FYI I don’t mutton very often, and the last time I ate mutton was when I returned home around 6 months ago, when my colleagues visited me. I can’t even remember when I had mutton soup the last time. I decided to eat one after I submitted my paper, which I did 2 days ago, just to give myself a small reward.

Probably the only bad news today was 1) my internet bill this month is 5x the usual bill. Yes I am pointing at you, Steam sales! 2) I experimented to cook instant noodle with rice cooker (Indonesian: magic jar/com?), but it failed. I let the noodle boiled for too long, and in the end the noodle was too soft.

All in all, 11;59 PM, and I feel happy. It’s a strange feeling of happiness, but anyway it’s a wond—

***

This is the beginning of the end.

Film-film yang Kutonton pada Tahun 2014

Jadi ini lanjutan [postingan saya tahun lalu]. Walaupun ini masih 30 Desember, saya memutusken untuk merilis artikel ini, karena kayanya saya ndak akan nonton film besok. Hanya film yang selesai saya tonton dari awal sampai akhir yang masuk di sini.

  1. City on Fire (1987). Agen polisi Hong Kong menyusup ke komplotan pencuri perhiasan.
  2. Durian Durian (2000). WTS yang beroperasi di Hong Kong kembali ke kampung halamannya di Cina timur laut.
  3. Prison on Fire (1987). Politik pesakitan di penjara.
  4. Prison on Fire II (1991). Dua orang, satu dari gang RRC satu dari gang Hong Kong, kabur dari penjara.
  5. The Killer (1989). Pembunuh bayaran dan polisi bersatu melawan mafia.
  6. Nineteen Eighty-Four (1984). Hidup di bawah rezim totaliter. Cintailah partaimu!
  7. 24 Eyes (1954). Kehidupan seorang guru SD di pulau kecil(?) di Jepang pada zaman ultra-nasionalisme sampe pasca perang.
  8. Last Woman on Earth (1960). Habis kiamat malah main serong-serongan. Utek slewah.
  9. Riki-Oh: The Story of Ricky (1991). Mestinya film super gory, dengan gelut ala Hokuto no Ken, tapi jadinya juayus banget. Anak-anak mungkin takut.
  10. Her (2013). Bagaimana Hollywood memandang hubungan antara manusia dan Artificial Intelligence.
  11. Dallas Buyers Club (2013). Aksen Texas yang kental, pecandu narkoba, pengidap HIV/AIDS, dan politik obat.
  12. The Wolf of Wall Street (2013). Bingung, saya ndak ngerti Ekonomi dan cara kerja broker.
  13. Travellers and Magicians (2003). Jalan-jalan di Bhutan sambil didongengin.
  14. Beyond Outrage (2012). Sekuel dari film yakuza yang saya tonton taun kemarin.
  15. Happily Ever After (2007). Mantan wanita tuna susila yang nrimo dan mantan yakuza yang super pendiam tapi temperamental, dalam sebuah ikatan…e…kumpul kebo.
  16. Wicked City (1987). Hubungan cinta beda kolam: satu manusia, satu iblis.
  17. May 18 (2007). Film tentang Insiden Gwangju lagi (tahun 2013 menonton film dengan tema serupa juga), tapi yang ini lebih banyak melodramanya.
  18. Lan Kwai Fong (2008). Pergaulan bebas di Hong Kong, dalam kacamata film abad 21. Berbeda dari pandangan film-film Hong Kong 2 dekade sebelumnya. Bikin nyinyir.
  19. Denok dan Gareng (2012). Orang Muslim beternak babi. Kehidupan sehari-hari masyarakat kelas bawah di pinggiran Yogyakarta.
  20. Russian Ark (2002). Sejarah Rusia ditampilkan secara teatrikal. Musti ngerti sejarahnya dulu kayanya biar paham. :/
  21. Jesus of Montreal (1989). Kisah aktor-aktris yang menampilkan teatrikal Kisah Sengsara Yesus dengan cara yang tidak konvensional. Aktor utama digambarkan menjalani kehidupan yang serupa dengan Yesus.
  22. Golden Chicken (2002). Transformasi wanita tuna susila hostess club menjadi independen, dengan latar belakang perubahan teknologi dan sosial Hong Kong dari tahun 1970an sampai 2000an. Ada kameo Andy Lau.
  23. National Security (2012). Kisah nyata penyiksaan aktivis anti-kediktatoran yang dituduh komunis.
  24. Golden Chicken 2 (2003). Perjalanan cinta sang wanita tuna susila (lihat no. 22) yang gagal maning gagal maning.
  25. Golden Chicken 3 (2014). Hong Kong yang terus berubah…tapi ndak semenarik dua prekuelnya…
  26. The Road (2009). Menjadi bapak di dunia pasca-kiamat.
  27. China Behind (1974). Petualangan beberapa orang Cina daratan meninggalkan Cina menuju Hong Kong pasca revolusi budaya.
  28. In the Mood for Love (2000). Nyaris selingkuh dengan tetangga gara-gara persahabatan platonik, yang bermula dari perasaan senasib sering ditinggal pasangan.
  29. Boat People (1982). Kehidupan pasca perang Vietnam, dari sudut pandang fotografer Jepang.
  30. Idiocracy (2006). Bumi di masa depan menjadi peradaban yang errr…”dystopian”, dengan orang-orang dengan level kecerdasan di bawah rata-rata dibandingkan masa sekarang.
  31. A Better Tomorrow (1986). Mantan mafia Hong Kong mencoba bertobat dan keluar dari dunia hitam, tapi gagal maning gagal maning, karena mereka yang di dunia hitam selalu menyeretnya kembali masuk sana.
  32. Bilur-Bilur Penyesalan (1987). Tertarik dengan Sophia Latjuba remaja, dan film epik berentang waktu 20+ tahun. Rano Karno terjebak perilaku saudara kembarnya yang terpisah, dengan bumbu hubungan masa lalu orang tua korban dan ibu pengacara. Korban apa? Ya nonton filmnya aja.
  33. Days of Being Wild (1990). Tokoh utama tidak bisa komit dalam hubungan karena terpengaruh hubungan yang tidak baik dengan ibu tiri, dan penantian untuk bertemu dengan ibu kandungnya.
  34. CINtA (2009). Yang pendek, yang bukan Cin(T)a. IMO malah lebih bagus dari yang satunya; galaunya dapat, walaupun amarahnya dan dialognya kurang. Poin utamanya kayanya jadi Cina (Tionghoa-Indonesia – red) maupun Muslim itu sama-sama gampang-gampang susah.
  35. ? (2011). Buat saya, pinakel film-film soal pluralisme Indonesia. 6/5. Sekian.
  36. Cinta Pertama (1973). Christine Hakim muda. Ada di album “Watch Later” di channel Youtube saya, tapi persisnya kenapa ada di sana, saya lupa. Ndak terlalu mengerti kenapa ini film dibilang salah satu yang terbaik dalam sejarah perfilman Indonesia.
  37. The Hundred-Foot Journey (2014). Urusan perkolaman di bidang masakan…dan tentunya keimigrasian. Urusan romansa ada, dan cukup annoying, tapi secara keseluruhan cukup menyentuh, karena soal passion dan kolam memang dekat di hati saya.
  38. Ranjang Pengantin (1974). Urusan perkolaman juga, tapi soal strata sosial. Pernikahan yang ga direstui orang tuanya, hamil duluan, anak berantem dengan bapak, kakak dengan adik, saudara dengan mertua, saudara dengan istri, dan suami dengan istri. Anak-anak yang tak kenal kakeknya. Keluarga ini dihancurkan sama penulis ceritanya.
  39. Arisan! (2003). Uaaaanyel nonton ini.
  40. Bintang Kejora (1986). Film ga masuk akal tapi menghibur. 😆
  41. Three Men in a Boat (1975). Menenangkan.
  42. Filth (2013). Gelap + aksen Glaswegian (?) + halusinasi ke sana kemari + flashback kanan kiri = bingung. Menarik sebenarnya. Rekomendasi dari Rudy Gunawan.
  43. Hard Boiled (1992). Bagus, menarik, menegangkan, dan ada Tony Leung. Cuman ya setelah nonton sakbajeg film Hong Kong tahun ini, lama-lama ada rasa saturasi juga, dalam artian noveltinya kurang. Mungkin mestinya diapresiasi relatif terhadap waktu itu.
  44. Interstellar (2014). Alias 2001: A Space Odyssey KW 2, lengkap dengan dimensi mindfvck, tapi dengan cerita yang lebih cerah dan visual efek lebih modern.
  45. Stations of the Cross (2014). Film tentang keluarga Katholik super konservatif yang tidak mengakui Vatikan dan ikut grup tradisionalis.
  46. Humanity and Paper Balloons (1937). Tentang ronin kere yang sudah menjual pedangnya dan tinggal di lingkungan kumuh serta sedang cari kerjaan. Tentang tetangga bandar judi ilegal yang cerdik dan culas dalam mengelabui bos gangster. Tentang persekongkolan, harga diri, dan ketidakberdayaan melawan hidup.
  47. Harakiri (1962). Seppuku pake pedang bambu, dan mertua yang dendam kesumat. Kemunafikan klan2 samurai yang menyembunyikan aib klan di balik kode etik samurai supaya tidak kehilangan muka.
  48. Sansho the Bailiff (1954). Tokoh anti perbudakan yang lahir jauh sebelum Abraham Lincoln, dan mengalami sendiri jadi budak, sebelum akhirnya jadi gubernur. Turun dari jabatannya untuk mengikuti ajaran kesederhanaan bapaknya.
  49. Ugetsu (1953). Akibat digoda hantu. Hantu ambisi, hantu kapitalisme, hantu fatalisme, dan hantu beneran.
  50. Fenomena (1990). Filmisasi lagu Isabella. Tertarik gara-gara ada Search aja sih.
  51. Enam Djam di Djogdja (1951). Ceritanya di Jogja tapi kok bahasanya kaku sekali. Ndak ada medhok Jogjanya, kecuali memang di dialog2 Bahasa Jawa yang cuma seuprit. Bener-bener ga ngeh apa yang terjadi. Mungkin musti diapresiasi secara kronologis.
  52. Comrades: Almost a Love Story (1996). Berbagai macam kesedihan akibat cintah(tm).
  53. A City of Sadness (1990). Tony Leung sebagai protagonis bisu tuli di tengah Insiden 228 di Taiwan.

Statistik asal negara (Hong Kong saya pisah dari Cina, yang kebetulan tahun ini absen; Taiwan eeee…):

  • Hong Kong = 17
  • Indonesia = 9
  • USA = 8
  • Jepang = 8
  • UK = 3 (Skotlandia = 1)
  • Korea Selatan = 2
  • Bhutan = 1
  • Rusia = 1
  • Kanada = 1
  • Jerman = 1
  • Malaysia = 1
  • Taiwan = 1

Berbeda dari tahun lalu, film Hong Kong jadi nomor satu tahun ini, dengan selisih yang banyak dari nomor 2 (Indonesia), hampir 2 kalinya. Ini karena ada berkaitan dengan kejadian di dunia nyata yang eee…saya ndak terlalu minat tulis di sini. 😛 Di sisi lain, Korea Selatan turun drastis. Walaupun film perang bikinan Korsel luar biasa, kayanya kehabisan stok tahun ini.

Entri yang mengejutkan tentu saja Bhutan. Kok bisa-bisanya ada Bhutan di sana!? Ya nyatanya bisa.

Pada tahun ini juga akhirnya saya meresmikan aktor-aktor favorit saya: Toshirou Mifune (walaupun ga ada filmnya saya tonton tahun ini), dan Tony Leung Chiu-Wai. Saya suka dengan pembawaan dan dandanan Tony Leung di film-film drama romantsi Wong Kar-Wai.

Saya masih mencari orang yang bisa saya sebut aktris favorit, dilihat dari segi aktingnya.

Bikin peringkat tahun ini susah, karena terlalu sedikit film yang benar-benar menonjol buat saya, ga seperti pada tahun lalu. Tapi kalau musti dipaksakan, ya…

  1. National Security
  2. Harakiri
  3. Interstellar
  4. CINtA
  5. ?

Ya sudah, sekian daftar untuk tahun ini. Selamat tahun baru, dan sampai jumpa pada akhir tahun depan.

’04-’05

Saya lupa gimana caranya beberapa minggu lalu saya menemukan lagu ini. Kayanya cuman related video di salah satu video yang saya tonton. Sebelumnya saya ga pernah dengar tentang lagu ini ataupun bandnya. Lagunya sendiri nomor dua. Yang menarik perhatian saya terutama adalah videonya. Teman-teman mereka (para personil band) semasa SMA, 20 tahun sebelum membuat video itu, ditunjukkan beserta foto mereka di buku tahunan. Yang dulu wagu jadi gagah. Yang ganteng tetep ganteng. Yang cantik tetep cantik. Beberapa dengan anggota keluarga/anak-anaknya. Menyentuh sekali buat saya. Saya sejak SD selalu berpindah. SD saya di Ponorogo. Tahun 1997 saya balik ke Jogja, dan sejak itu belum pernah ke Ponorogo lagi. SMP, SMA, universitas saya semua di Jogja. Setelah itu teman-teman pada merantau. Saya juga. Makanya itu saya jarang kontak dengan teman-teman saya. Terlebih saya sekarang di luar negeri, walaupun ada bagian lain Indonesia yang lebih jauh dari kampung halaman. Menonton klip ini mengingatkan saya akan masa lalu yang saya tinggalkan. Ya teman-teman saya. Ya cewek-cewek yang saya taksir dulu. Sekolah-sekolah saya. Kampung halaman saya. Terpenting, masa remaja saya. Ndak terasa, lulus SMA itu sudah 10 tahun lalu. Saya masih ingat sekali dulu waktu masih kecil, kira-kira 10 tahun, rasanya lama sekali proses untuk menjadi 18 itu. Tiba-tiba sekarang saya 26. Ndak tua, tentu; orang tua saya selalu tertawa kalau saya bilang saya tua (anyway saya agak disorientasi soal umur: teman-teman saya selalu lebih tua, tapi tampang saya sendiri tampang tua; tapi itu soal lain). Nah, di seperti saya tulis di [postingan lalu], tempat tinggal sekarang yang dulu saya rasa membosankan ternyata juga bisa ditinggali dengan nyaman. Tapi yah, saya pingin pergi juga, dan teman-teman saya sekarang juga suatu saat akan menjadi foto-foto di buku tahunan di video klip ini: hitam putih, kabur, samar, dan dimakan waktu. Besok-besok, ketika saya bertemu mereka kembali, yang muda akan jadi tua, yang tua mungkin juga mungkin akan sudah ga ada. Yang dulu sendirian sudah berkeluarga, dan yang dulu sudah berkeluarga sudah ditinggal anak cucunya merantau lagi. Saya sendiri ndak ada bayangan 20-30 tahun lagi akan jadi seperti apa. Mudah-mudahan masih hidup dan sehat. Dan mudah-mudahan ada yang bisa dan mau saya gondol™.

Renungan Martabak

fritz-martabak

Postingan ini adalah sebuah respon terhadap foto martabak yang diunggah [Fritz] di Facebook, seperti tergambar di atas.

  1. Tentang martabak: Ini baru martabak! Bukan “martabak” manis alias terang bulan itu!
  2. Tentang sepi jualan: di sebuah kantin di sini ada satu stall yang sepi, walaupun lokasinya di dekat pintu masuk. Jualannya katanya makanan Cina ala Taiwan. Yang jualan juga bapak ibu sekitar paruh baya. Kalo waktu makan siang sepiiiii begitu. Jarang sekali saya liat ada yang beli. Beberapa minggu/bulan lalu saya nyoba beli juga. Setelah dimakan, yaa…memang bisa dimengerti kenapa sepi. Ndak ada rasanya. Lama saya ndak beli lagi…kemarin kami ke kantin itu lagi, stallnya udah kosong. Bisnis makanan memang keras. Kalo kerja kantoran, ada kolega/bos yang marahin situ. Kalo jualan begini, ndak ada feedback dari siapa-siapa. Pembeli ndak kasih info apapun. :/
  3. Tentang lapak di pinggir jalan depan rumah: waktu di Jogja dulu, ada bapak-bapak jualan ayam mentah di perempatan dekat rumah, lagi motong-motong ayamnya. Itu sekitar 6-7 pagi. Mungkin bapak itu baru buka jualan, jadi belom ada yang beli. Kami–saya dan bapak saya–lewat naik mobil. Bapak saya nyapa, “laris Pak…” “Njih, matur nuwun,” jawab sang bapak penjual ayam. Buat saya menarik sih. Di Singapore ndak ada yang ngucapin begitu. Mungkin kalo di sini udah diteriakin, “laris laris, beli dong!”, setidaknya bingung. 😆
  4. Tentang martabak lagi: di Jogja kemarin saya nganterin beberapa temen orang asing + Indonesia jalan-jalan. Salah satunya ngidam(tm) martabak jalanan. Maka belilah kami martabak dari mas-mas yang jualan di dekat tempat mereka nginap. Belinya martabak spesial pake sosis dan jamur jumbo, pokoknya yang paling besar dan paling mahal buat mereka, beli dua! Bikinnya terasa lama, soalnya kami musti pergi ke tempat lain buat acara selanjutnya. Lalu setelah jadi satu, ebuset ternyata besar banget. Saya bingung, ini mereka (lima orang, plus saya plus teman bapak yang nyopirin) bisa habis ga. Elhadalah, beberapa jam kemudian dua martabak jumbo itu habis. Dan itu mereka masih pingin nambah martabak Italia aka pizza, jumbo dua juga. -_-

lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

July 2021
S M T W T F S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
Click to view my Personality Profile page