Archive for the 'Outside World' Category



A Coptic Hymn

As an Indonesian, I automatically perceive Arabic chants as Islamic. Well I don’t speak Arabic, so when I listened the above hymn it is very very hard for me to accept that it is a part of Christian tradition. I have to listen very carefully for any word I am familiar with; I think I heard some “Kyrie”s there. Also, I live with a Protestant family, and the neighbour next door is a Muslim family, so I am wondering if they think I am listening to an Islamic prayer, as IMO Orthodox Christianity, let alone the Coptic rite, is not widely known in this part of the world. But I have loved Arabic chants for a few years already, and somehow listening to this song makes me want to attend a Coptic service someday.

Update: I played the video again and realised that the video actually begins in English (…and forgive us our sins)! Gosh, it does take time!

Another update: not only does the video begin in English, but the first half of the video seems to be entirely in English! So I can confirm that my Indonesian ears are more sensitive to the Arabic tone than the actual prayer.

Advertisements

Under the Japanese Occupation

I have been watching the six of these episodes about the wartime food when Singapore was under the Japanese occupation. As fellow citizens of southeast Asian countries, I can definitely relate myself to the movie. My grandparents, most of whom have already passed away, as well as my parents, used to tell me how suffering it was under the Japanese occupation. Indonesian school textbooks say, despite occupying Indonesia only for 3.5 years, the Japanese brought us much much greater misery than what the Dutch gave in three hundred something years. Food was very scarce, and rice was a luxury. Clothing was rare, and a lot of people wore “bagor” or gunny sack. Another thing is, of course, the romusha, or the forced labourers, who are also featured in a later episode of the series. Some hundreds of thousands people from Java were sent to different parts of Indonesia as well as neighbouring countries, and received terrible treatment. I don’t remember my parents or grandparents telling me about any family member who became romusha, so I guess we were quite lucky with that. Instead, if I remember correctly, my paternal grandparent and his siblings and cousins participated in the war against the…I forget, whether against the Japanese or against the Dutch after we proclaimed our independence.

This situation did not end after Japan surrendered. I remember my father telling me about how common it was for toddlers to die because of some plague early in our independence. My mother also told me how when she was a kid, her family used to share a bowl of meatballs for their big family (she has 5 siblings), and this was well in the 1960s. There are other stories as well, but anyway nowadays it becomes so much more peaceful for the people in my generation that we often fail to appreciate the things we commonly have but were luxuries during their times.

During my period here in Singapore, I meet people of different nations. Among them are, of course, Singaporeans. They have their own share of the story, about how the Japanese would look for suspicious people, accuse them of being communists or treason, and execute them in front of the firing squads, in Changi, in Punggol, in Sentosa. I read somewhere (sorry I forget the link), that even until now people sometimes still find the skulls and bones of the people who were executed, especially in beaches at those places. I also meet Chinese nationals, and they told me also the Japanese atrocities during the wartime, and about the comfort women.

In spite of writing this here, I have one theoretical question. Are you able to tell these stories to Japanese people? I, of course, also meet some Japanese, and the only time I told a Japanese about this is about the then Japanese soldier who deserted from the army and took side with the locals in my hometown. After the war ended, he decided to become Indonesian and integrate to our culture. Again, if my memory doesn’t fail me, he lived in the highland in my province, was about 100 years old a few years ago, and one of his descendants is my father’s friend. There are a couple of other Japanese soldiers who did this. [Ando-kun] told me that during the war, Japanese civilians also suffered from lack of food and other basic necessities. It is my understanding as well that apart from that, a lot of boys and men in their families were also sent to war and never came back. So I guess it must be grievous moment as well for them.

I would love to see similar documentaries about Indonesia under the Japanese occupation.

Are You Willing to Kill?

Saya tak menyangka bahwa menaruh link [ini] di Facebook akan membuahkan komentar yang seru. Artikel ini bercerita tentang Nevin Yildirim, 26, seorang ibu di Turki yang setelah sering diperkosa oleh seseorang selama beberapa bulan, menembak pemerkosanya di alat kelaminnya, lantas setelah si pemerkosa mati, Mbak Nevin memenggal kepala pemerkosa dan membawanya ke tengah alun-alun desa. “Ini yang terjadi dengan orang yang mempermainkan harga diriku!”, katanya.

Ada beberapa komentar yang masuk. Silakan baca di sini. Saya capture yang penting-penting saja, jadi antara satu dan lainnya mungkin tidak langsung berkelanjutan. Klik untuk memperbesar.

Saya berada di belakang Mbak Nevin di sini. Tapi komentar Bang Alex membuat terhenyak juga. Di situ dia menuliskan bahwa memang sudah layak dan sepantasnya si pemerkosa itu dipenggal. Dia sendiri akan melakukan hal yang sama kalau  anggota keluarga dia mengalami hal yang sama (komentar #8). Hehe. Sejujurnya, saya ga kaget sih. Tapi, saya merefleksikan kasus ini ke diri saya sendiri. Kalau yang diperkosa istri saya, apakah saya akan membunuh pemerkosanya? Jujur saja saat ini saya bilang tidak tahu. Saya bukan orang sekeras Bang Alex. Kalau berdasar klasifikasi laki-laki [di sini], menurut saya, saya lebih dekat ke [magician], sedangkan dia ke tipe [warrior]. Warrior akan lebih siap menghadapi hal-hal seperti ini. Pun, di artikel warrior itu, ada dikatakan,

But in general, modern culture is not comfortable with Warrior energy. The advent of mechanized warfare during the first half of the 20th century dampened the romantic ideal of martial courage. Since the social and cultural revolutions of the 60s and 70s, we’ve generally taught boys and men to avoid confrontation and conflict and to instead nurture their “feminine side.” The result is the Nice Guy; the man who will avoid confrontation and aggression even when confrontation and aggression are justified.

Dan saya adalah salah satu produk nice guy itu, yang terlahir dari pengalaman keras generasi baby boomer, dan keinginan mereka agar anak mereka tidak mendapat pengalaman seperti mereka. Mindset saya jadi begini (maaf pake Bahasa Inggris, saya lebih bisa mengekspresikannya). Let’s say I kill a rapist who raped my wife. However morale and just my action can be, are you sure that I will not lose my job? Ya begitu mindset saya. Sementara sebenarnya saya setuju dengan komentar Bang Alex di gambar nomor 5, bahwa dalam perkembangan peradaban, ada kontribusi dari pertumpahan darah. Cuman ya itu. Saya yang sedang menjaga hubungan erat dengan pekerjaan ini, dikombinasikan dengan latar belakang kepribadian saya, membuat saya belum membuat keputusan soal ini. Yang saya pahami saat ini cuman bahwa dalam kasus seperti ini, fokus saya adalah memberi keamanan dan dukungan emosional ke istri saya, to the point that, when the need arises, I have to effin’ die to save her.

Bagaimana dengan Anda sendiri? Apakah Anda bersedia membunuh?

Rumah Sukorejo, aka Nyoba Ngembed Google Maps di WordPress

Terima kasih atas protes Koh [Eon Strife], saya berinisiatif untuk mengembed foto rumah saya di Ponorogo di blog. Sekalian ngetes untuk pertama kalinya.

Rumah saya yang atapnya coklat di sebelah kanan agak atas itu, yang ada putih-putihnya. Sepertinya sudah berubah sejak saya meninggalkannya tahun 1997. Di seberangnya ada Puskesmas tempat Mama saya kerja dulu. Di belakang ada Puskesmas ada masjid yang kalau sahur bulan Ramadhan nyetel lagu instrumental padang pasir yang bikin saya takut dulu. Terus ada sungai kecil di selatan rumah. Ada SD beberapa ratus meter di selatan sungai, tapi ga ada di preview.

Swansea City AFC

Swansea City AFC

Swansea City AFC (click to go to the Wikipedia article)

Walaupun tidak mengikuti, saya sebenarnya cukup familiar dengan liga-liga kasta 2-3-4 Inggris, gara-gara hobi main game manager sepak bola. Makanya saya sudah tahu nama macam Fulham dan Manchester City, barangkali jauh sebelum fan-nya di Indonesia berjamuran belakangan ini. Namun demikian, nama tim Swansea City AFC waktu itu kurang menancap di otak saya. Mungkin karena waktu itu prestasi mereka juga biasa-biasa saja. Makanya waktu tahun kemarin saya baca Swansea masuk English Premier League (EPL), pikiran saya cuman “Wah, keren juga nih, ada tim Wales di EPL.” Itu aja. Ndak lebih, ndak kurang. Saya juga ndak yakin mereka bisa bertahan sampai tahun berikutnya (tahun ini – red).

Tapi itu awal musim kemarin. Saya mulai memperhatikan mereka ketika tahu bahwa pertahanan mereka luar biasa. Paruh musim pertama, mereka dapat banyak clean sheet. Dan tentu saja pemain pertama yang menarik perhatian adalah kiper mereka. Michel Vorm. Kiper cadangan timnas Belanda setelah Martin Stekelenburg, harga cuma 4.0 di Fantasy Premier League (harganya cepat naik, dan pada akhir musim jadi di atas 5.0), tapi manjur. Kemudian mereka main tiki-taka. Main passing. Dan semua orang terkejut. Ada Barcelona di EPL! Ya walaupun tentu saja ga sekuat Barcelona sih. Tapi yang jelas pemain tengah mereka sangat berbahaya, bahkan lebih berbahaya daripada pemain depannya (biasanya Danny Graham) yang barangkali lebih mengambil peran false nine. Lalu, pada paruh musim kedua, Gylfi Sigurðsson datang. Bersama Papiss Cisse di Newcastle United dan Nikica Jelavic di Everton, Sigurðsson menjadi salah satu pemain yang datang pada transfer musim dingin dan mampu mencetak banyak gol. Produktivitas dan pertahanan yang kuat membawa mereka ke papan tengah EPL. Vorm menjadi salah satu kiper papan atas musim itu (11-12 sama Tim Krul di Newcastle United, walaupun nomor satu tentunya Joe Hart dari Manchester City).

Michel Vorm

Michel Vorm (click to go to the Wikipedia article)

Tentu saja ada sisi buruk. Sigurðsson tidak berhasil dipertahankan (dia akhirnya berlabuh di Tottenham Hotspurs, setelah sempat digosipkan akan menuju Liverpool), lantas pelatih Brendan Rodgers dan pemain tengah Joe Allen pergi ke Liverpool. Orang-orang (termasuk saya) juga jadi ragu apakah mereka masih bisa bertahan di EPL pada musim ini. Apalagi, konon kabarnya, musim kedua adalah musim terberat bagi banyak tim promosi.

Patah tumbuh hilang berganti. Manajemen Swansea berhasil membawa Michael Laudrup menjadi manajer tim. Pemain-pemain baru pun berdatangan. Barangkali yang paling mencolok sejauh ini adalah Miguel Pérez Cuesta/Michu. Pertandingan pertama musim ini baru saja selesai dan Michu mencetak 2 gol + 1 assist. Swansea menang 5-0, dan optimisme naik lagi. Di sisi lain, Liverpool kalah 0-3 dari West Bromwich Albion, yang musim lalu nyaris terdegradasi.

Barangkali sudah sah ini, bahwa sejak musim lalu, Swansea City adalah tim kedua yang saya dukung di EPL setelah Manchester United. Saya pun musim kemarin sempat meng-cover lagu kebangsaan Swansea City, Take Me to the Vetch Field. Ini lagu aslinya, sementara versi saya eksklusif buat teman-teman Facebook saya. :-”

Maka pertanyaan penutup postingan ini, adakah Brendan Rodgers dan Joe Allen menyesali kepindahan mereka ke Liverpool? *tega* *digorok*

Short Review: Hadashi no Gen (1983)

Hadashi no Gen

Hadashi no Gen (click for Wikipedia article and image source)

I never thought that this anime will be one I will praise. I was looking for light anime I could enjoy while folding my clothes, but this turned out to be one which caused my jaw to drop for a quite long time. I didn’t expect this to have some gory portrayal of melting, half- to fully rotten bodies. Nevertheless, this anime is emotionally touching. This is a manly movie. This boy Gen, six year of age, has to personally take care of his mother while he himself is haunted by the fresh memory of seeing some family members burnt alive and died. Some successes, some failures, but I believe when he grows up he will become a tough man.

But there are certain elements which I humbly feel lack. It’s too good to be true that Gen was safe and sound, only suffering from hair loss due to the radioactive element (?) he got from the dying soldier, while a person standing next to him during the bomb explosion was half-burnt and died. It sounds miraculous too for her mother to be safe, being able to deliver her baby.

I give this anime 5/5. The maximum point I’ve ever given was 6/5, so in fact I feel sinful not to give it 6/5. But that’s how it is. 5/5

I was about to write the afore-struck-through paragraphs, before I found out that the manga and the anime was actually based on [the author’s real life]. I think he saw and experienced many elements of this work himself. I give it 6/5.

Seberang Lautan

Baru saja menemukan account Facebook seorang legenda semasa SMA. Bukan guru bukan siswa. Jaman dulu saja sudah sepuh. Apalagi sekarang. Kalau tidak salah sudah pensiun. Seorang Cina yang secara resmi tercatat dengan nama Jawanya, tapi biasa dipanggil dengan nama Cinanya. Seorang Cina yang lebih Jawa daripada orang Jawa sendiri. Sosok yang di sekolah yang (menurutku cenderung) egaliter ini dipandang setara, ketika murid-murid bisa bercengkerama dengannya dengan bahasa Jawa kasar/ngoko sarat pisuh-pisuhan. Harus kuakui bahwa waktu itu aku tidak banyak srawung dengannya, dan barangkali dia lebih kenal aku karena aku anaknya bapakku, yang pada waktu itu, tiga puluhan tahun lalu, sepertinya lebih banyak dikenal di sekolah. Tapi melihat alumni sekolahku, senior-senior yang tidak pernah kujumpai (karena sepertinya sudah lulus duluan sebelum aku masuk) jagongan di rumahnya, aku tak pelak jadi merindukan atmosfir SMA secara khusus dan kota Jogja secara umum yang (dalam sudut pandangku) laidback, dengan aktivitas sosialisasi yang murah meriah, bahwa dengan tiga piring gorengan (pisang goreng, tempe, mendoan, telo*, sukun), lalu kacang rebus (walaupun saya sebenernya ga suka), serta teh nasgithel**, asbak buat yang ngrokok plus kartu dan papan catur dan sengsu***, total seharga beberapa puluh ribu rupiah saja untuk memberi makan lima ribu beberapa orang, sudah tercipta rasa gayeng alias keakraban. Tidak seperti di sini, ketika saya melihat kawan-kawan entah orang asli sini atau imigran(tm) macam saya demi kegayengan pergi ke restoran kelas menengah lalu mengambil potret diri nan narsis lalu dimasukkan Facebook: terlihat absurd di mata saya yang dari keluarga menengah agak bawah ukuran Indonesia ini ya walaupun saya toh melakukannya juga kadang-kadang demi adaptasi(tm). Kegayengan kelas mendoan ironisnya menjadi barang mewah buat saya, karena saya musti menghabiskan jutaan rupiah buat beli tiket ke Jogja buat bertemu dengan kawan lama, dan waktu juga tidak bisa dibeli. Tapi ya, untuk kembali ke sana dalam jangka waktu lama dan mendapatkan keakraban kampung halaman pun tak mungkin. Dijadikan semata pengingat sajalah bahwa hidup bukan melulu soal kerja, perang ideologi, dan kegalauan para kebelet-kawin.

.
.
.

* Ketela. Bilang telo di Jogja sudah biasa. Bilang telo di sini jadi perhatian. Dibilang medok. Ada sedikit perasaan ga nyaman, walaupun saya yaa take it easy sajalah. Halo teman-teman Jowo ngapak, saya jadi bisa merasakan “penderitaan” kalian. 😛

** Panas legi (manis) kenthel (kental)

*** Oseng-oseng asu (anjing).  Jadi simbol de facto orang Jawa (entah Jawa beneran atau Cina yang terkena pengaruh Jawa Jawa-jawaan) non-Muslim. Tapi sebelum konservatard dan libertard menyerang, saya sendiri sudah lama ga makan sengsu, dan beberapa waktu lalu memutuskan untuk tidak makan sengsu sampai mereka diternakkan secara pantas (sepertinya tidak mungkin terjadi). Sebenarnya saya masukkan di situ untuk tidak diseriusi.


lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

August 2019
S M T W T F S
« Jan    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
Click to view my Personality Profile page

Advertisements