Archive for the 'Religion' Category



Interfaith Relationships and Interoperability: An On-Progress Concept

I don’t know why last night (i.e. several hours ago) I found my mind stumbling with the mystery of interfaith marriage, an issue very personal to me (but that’s another story™). A building block had been established as early as [the end of 2009], possibly even earlier. At that time, however, my view was rather based on emotional observation, immature idealism, and narrow view. Those who know me personally know what happened next, but that’s also another story™. Nevertheless, considering how ideas actually evolve and how a man develops, it was somehow normal. Now, I have learnt more, and what I want to write here is a development of the previous idea.

Now I truly understand that interfaith relationships are a VERY HARD concept (pardon me for the capitalisation). Even regular relationships are already hard, considering how two persons under the same umbrella can actually have totally different world views. Never mind extremely conservative ideologies, never mind the fundamentalists, never mind social taboos. In liberal societies, judgments might be far and between, and more religious clerics may be willing to give blessings in interfaith wedding ceremonies, but interfaith relationships are still VERY HARD (again, pardon me). I observe the following things.

  1. A religion in itself is a system with a clear(er) boundary. You either profess or you do not. Although different religions can share the same golden rule, in details, one religion’s view can contradict another’s. This is as opposed to ethnic and cultural backgrounds, which can be blurry, to the point that a friend of mine could say that he was 25% Malay, 25% Chinese, 25% Sundanese, and 25% Batak, although he identifies himself more as a Malay. This is also different from how religions can adopt elements of local culture, like me bearing the labels “Javanese” and “Catholic” at the same time. And even “Indonesian”, for that matter. I cannot see how one can hold more than two religions at the same time without creating a new world view. If you know, please enlighten me.
  2. I now see marriage not only happen between two persons; it also ties the knots between their two families. In this situation, complexity raises by numerous folds, as an additional one person to consider rises the problem’s dimension, eventually creating an [explosion]. While you might be able to make common grounds with your partner, it might not be the case with your in-laws. You may not communicate with them regularly, but even one rare fundamental disagreement with them can spread to you and your partner.
  3. Some problems might be due to lack of preparations by the couples themselves. Love blinds. Add immature decision making, couples might not talk intensively about their differences, and a time bomb is on the make. Even after considering a lot of things, lots and lots of them, eventually in your marriage, you might face a situation which you never thought of before.
  4. Interfaith couples are more likely to divorce [link].
  5. (I might add more later on)

Therefore interfaith relationships in their nature are VERY HARD. I have to be honest: the way I see it, interfaith couples are very likely to be depressing. They are risky and relatively unstable.

***

But there is actually a chance for interfaith relationships to work, right?

For some couples, they do work. I have aunts and uncles who have such marriages. So, is there a formulation to increase global happiness for interfaith couples? Ethnic differences in the past might be obstacles to marriages, but it seems to me they are less so nowadays.

I think I see something from my Computer Science background which can help. The keyword is [Interoperability], which is a study on how different systems can work together and maximise their (united) performance.

The thing is, I am not really familiar with Interoperability. I don’t know advanced concepts, and I am not aware of their current status. I can only say, based on my experience on doing research making use of different libraries, three things.

  1. There are a lot of conflicts. On one occasion, I gave up using one very famous library (let’s call it L1), free but closed source, because the provided libraries were not built with the same configuration as another library (let’s call it L2) which is more fundamental to my code. L1 was built with Multithreaded option (/MT), L2 was with Multithreaded DLL (/MD). L1 doesn’t support L2’s configuration, and vice versa. L1 and L2 broke up and eventually I found an alternative library (L3) which has the same purpose as L1 and can be integrated to the system. Now, what can make a happy ending possible for the relationship between L1 and L2? Either 1) L1’s developers publish L1’s source code so that I can use L2’s configuration when building L1, or 2) I join the company who makes L1.
  2. There are also a lot of gives-and-takes. By a lot, I mean a lot. While a library can provide a very fast implementation of an algorithm, it might lack performance for other algorithms, or they might not exist at all, the solution of which you have to implement yourself. Also, while I aim for as strict abstraction as possible, such that I only allow library-specific code in a wrapper class, it can simply be beyond reach at times. For example, the interfaces to save a data structure in different formats are very different, and I am not sure how I could have a unified access to both formats. Since it lies well down below in my priority list, currently I had library-specific codes inside the main project, with a hope that the future me can move it to the wrapper.
  3. Solving differences and dependencies can be very tough, especially if solutions are obscure, not readily available, or beyond your knowledge and reach when the situation arises. Be mentally prepared, and do give a lot of time for it. Are you willing to dedicate your entire life just for your interfaith marriage, with the possibility of giving up some other dreams of yours?

I do not currently have any idea whether there is a good or bad conclusion for this, or even if it is conclusive at all, but I hope someday I can continue to develop this framework.

Departures

Departures

Departures. Klik untuk masuk ke halaman Wikipedianya.

Tiga tahun lalu, Bang Ando menulis review film ini dengan membahas aspek budaya [di sini]. Postingan ini hanya memuat pendapat subjektif dan refleksi pribadi dari saya.

Saya kasih film ini skor 4.5/5. Menurut saya sih, film ini tipikal drama Jepang dengan tempo lambat dan setting yang alami nan aduhai. Cuman penggambaran emosi agak terlalu eksplisit di sini, misalnya bila dibandingkan sama [Tokyo Story] (apa bisa membandingkan dengan film jadul ya?) atau [After Life] (review [di sini]). Selain itu, endingnya terlalu indah, kurang cocok buat saya yang cenderung mengapresiasi film pahit atau pahit manis(tm). Tapi ya gimana lagi. Saya bias sama film Jepang. Makanya saya kasih 4.5/5.

Walaupun fokus film ini, baik dalam hasil akhir filmnya maupun kisah-kisah behind the scene-nya, adalah tentang filosofi kematian, saya malah lebih memerhatikan hal lain di film tersebut, mungkin karena hal itu lebih menjadi concern saya beberapa bulan—atau malah tahun—terakhir, yaitu karir, keluarga, dan pernikahan. Ini dimulai sejak Daigo, si tokoh utama, mengaku kepada istrinya, Mika, bahwa dia membeli cello super mahal, tapi tanpa berdiskusi dengan Mika terlebih dahulu, karena yakin bahwa Mika tidak akan setuju. Hal ini berulang berkali-kali, misalnya tentang pekerjaan baru Daigo sebagai perias jenazah, yang menjadi tulang punggung cerita ini. Memang pada tengah-tengah film dijelaskan bahwa ini sudah jadi sifat Daigo sejak kecil, tapi saya sejujurnya tidak suka dengan sifat macam ini. Pendapat saya, rahasia macam begini hanya akan membawa masalah esok harinya. Lebih baik ribut sekarang, mumpung belum terjadi/baru pada tahap awal, daripada ribut belakangan ketika sudah basah kuyup. Dan mengejutkan buat saya bahwa sifat ini tetap terbawa sampai ketika dia menikah.

Kenapa sih kok saya ribut sekali soal ini? Ya karena saya dulunya juga seperti itu, tentu saja. Jadinya ya banyak masalah yang datang kemudian, dan I’ve learnt my lesson itu Bahasa Indonesianya gimana ya. Ya pokoknya begitulah.

Persoalan lain adalah soal, seperti biasa, karir vs pernikahan/keluarga. Bang Ando sudah menjelaskan di blognya bahwa pekerjaan perias jenazah ini mendapat stigma negatif di Jepang, makanya Maki awalnya menentang keputusan Daigo untuk mengambil pekerjaan tersebut. Saya harus pake Bahasa Jawa untuk mengekspresikan perasaan saya dengan lebih akurat. Atiku mak-deg nonton adegan kuwi. Hati saya mak-deg menonton adegan itu. Bagaimana kalau itu terjadi pada kehidupan saya? Katakan saja saya sudah menikah ketika karir saya berantakan, lantas saya musti mengambil pekerjaan baru yang sebenarnya saya sukai, nikmati, dan pahami betul filosofinya, tapi ada penentangan dari istri saya. Kalau saya tetap teguh dengan pekerjaan itu, istri tidak suka dan pulang ke rumah orang tuanya. Yang macam begini ini menjadi kekhawatiran saya, karena sudah sejak beberapa tahun lalu saya memutuskan untuk menjalani pola hidup Katholik dengan lebih kuat kendati dengan pola pikir yang aneh-aneh, dan menurut pemahaman saya, kecuali pada beberapa kasus khusus, [perceraian adalah haram] buat agama yang saya anut. Kalau saya keluar dari pekerjaan, I’m not tough and I’m not a man (lagipula ini toh bukannya saya jadi (nuwun sewu) gigolo atau bagaimana). Kalau saya tetap pada pekerjaan ini, istri minta cerai, saya masuk neraka(tm). Entahlah. I need to sort these things out before entering this stage. Bahwa Maki kembali ke rumah Daigo setelah beberapa bulan pulang di orang tuanya, bersama dengan beberapa adegan lain, adalah elemen plot yang terlalu bagus buat saya, yang membuat saya tidak bisa memberi poin 0.5 tambahan dan menjadikan skor total 5/5.

Sekian dan terima kasih.

Update

Hello again.

Life has been hectically hectic in the last few weeks, but I don’t think I can/should tell much here, other than this involved me camping in the lab for a few days and reversing my active schedule, being active at night and dormant in the morning. My friend cum rival [Koh Eon] called this “creating one’s own jetlag”. Another thing, the word “[capalang]” has been very familiar to my ear. In Indonesia, we call it “seksi sibuk”.

For these reasons, among a few others, I have been quite inactive on Facebook. I have not been in a mood to have lengthy discussions about pointless, trivial stuffs, although admittedly, I have a number of questions as well as cynical remarks in my mind. This includes questions about another perspective about things which recently happened in the Indonesian embassy in Germany, about our vice president’s statement on loudspeakers in Indonesian mosques, about politics in campus, and many others. Albeit me stating things here, please do not bother to mention things about them, lest my ignoring your comments.

For leisure, I have gone to the city a few times in the last one week. I, Koh Eon, and two other labmates KMD and AC went to a [ramen championship] in Bugis. It says that the chefs are among the famous in Japan, coming from the corners of Hakata to Sapporo, so the taste of the meals must be authentic and of a high standard.  These chefs are competing with each other to find whose stalls are the most wanted. I tried spicy tsukemen, which, unlike ramen, has the noodle and the soup served separately. Well it was quite nice, but not in my best list. Certainly it must be quite hard for Indonesians to appreciate delicacies of other nations. At about 15 SGD per serving, it might be comparable to mid-range restaurants in Singapore. I don’t know how this compares to restaurants in Japan.

Two days ago I and Koh Eon had a kopdar with [Felicia] and her friend, initial F (?), in Chinatown, Singapore. You can see some photos of us in Koh Eon’s photo album.

Among the blogs I newly discover is [100 Reasons NOT to Go to Grad School]. Another demotivational blog. Some points in it pierce my heart so deep (the use of an adjective, instead of an adverb, is deliberate). Indeed the most elite universities are always mostly filled by those graduates of Ivy League and Oxbridge, so as an underperforning student of a young university, my inferiority complex and worry about my future raised again when I read it. [One commentator] even went as far as, “If you can’t get into a top grad program, what makes you think you can get a top job? Reality check, people!” Although, well, yes and no. This might be statistically true. However, having got their PhD degrees for arguably less internationally known universities, some professors, like Hiroshi Ishii and Pattie Maes, manage to teach and do research in globally famous universities, like MIT’s Media Lab in their case. At the end, it depends on what kind of paths you want to take. Let’s not discuss about my situation with respect to this idea. Anyway, there are two other things. One, I can’t help being confused when the writer argue about salary. Indeed if you want to earn much money, you work for bank or oil companies, not as a medieval English literature researcher. Two, I think everything there is mentioned from the point of view of an American, which might be applicable to other people from other developed countries. However, if you are unlucky enough to be born in third-world countries, it is very unlikely for you to list down Stanford or MIT or Cambridge as a university you realistically want to get enrolled at after your graduation from high school, let alone teaching in world class universities, and therefore teaching in a globally second or third class university is already good enough. We just didn’t have such luxury, which sucked. This also motivates me to go and settle in another country, so that my descendants, if I ever find my rare-breed soulmate, have better opportunities than me.

Enough of this rage.

Lastly, to end this post, here is a picture of Angela Gossow of Arch Enemy. Hot enough for a lady, I often imagine her hissing like a snake above me.

Angela Gossow (via Wikipedia)

Angela Gossow (via Wikipedia)

Renungan Paskah

Baptism of Jesus

Baptism of Jesus (via Wikipedia)

Singkat aja.

Hari Sabtu kemarin adalah pertama kalinya saya lihat sadar sepenuhnya sakramen pembaptisan orang lain, bertepatan dengan perayaan Paskah tahun ini. Tentu saja itu bukan benar-benar pertama kali, tapi toh tidak ada yang saya ingat dari pembaptisan saya lebih dari dua puluh tahun lalu. Anyway, ada sekitar 10an orang yang dibaptis. Semua orang dewasa: ada yang terlihat seumuran saya, ada yang sudah kakek-kakek. Setelah pembaptisan mereka, kami menyanyikan lagu penyambutan, semacam “welcome to the family”, dan bertepuk tangan, sementara para baptisan baru berpelukan dengan anggota keluarga mereka. Semua tampak riang gembira, karena mustinya ini momen penting dalam hidup mereka. Namun saya malah terpikir ini.

Mengapa mereka menjadi Katholik?

Tentu saja pemikiran ini tak terhindarkan, mengingat mereka sudah dewasa. Buat saya, agama dan elemen ideologi lain itu macam sistem operasi komputer. Orang-orang yang dibaptis bayi (seperti saya) bisa diumpamakan fresh installation: masih kosong, belum ada sistem operasi lain. Sementara mereka yang dibaptis dewasa mustinya sudah pernah punya sistem operasi. Lalu apa yang membuat mereka menginstal sistem operasi baru ini? Apa yang terjadi dengan yang lama? Apa dulu cuma pakai versi trial (dalam artian Katholik yang belum dibaptis)? Atau mereka dulu punya sistem operasi yang berbeda? Kalau yang kedua, apakah karena mereka tidak cocok dengan yang lama? Atau ada kekecewaan? Bagaimana reaksi orang sekitar mereka? Apa mendukung (melihat perayaan pasca pembaptisan, mestinya ada yang mendukung)? Atau ada yang mengecam?

Jadi ya seperti begitu yang ada di pikiran saya.

Sekian. Selamat Paskah buat teman-teman sesama Kristiani.

Arah Hidup

Ini sebenarnya sudah terpikir sejak beberapa bulan yang lalu, walaupun secercah keinginan kecil untuk itu sudah ada sejak jauh di masa lampau bahkan sebelum saya mulai merantau. Hanya setelah nonton film pendek [Kony 2012] yang saya posting di Facebook, timbul niatan untuk nulis ini.

Postingan ini ada hubungannya dengan kegalauan hidup. Ya, galau. Galau dalam arti luas. Seluas langit atau samudera, entahlah. Yang jelas, berhubungan dengan [quarter-life crisis]. Lebih persisnya lagi, menurut penjelasan Erik Erikson [di sini], ini berkaitan dengan pertanyaan “What Can I Be?”

***

“Aku kan pergi jauh demi cita-citaku
Remi mohon doa restu darimu
Jangan bersedih teman-temanku
Hidup ini adalah perjuangan
[…] S’lamat berpisah semuanya
Aku ‘kan pergi untuk mengembara
Marilah kita mulai melangkah
Menuju cita-cita bahagia”

Opening “Remi” versi Indonesia

Dulu saya memutuskan untuk merantau dengan tujuan utama untuk membuat diri saya berguna. Adalah berkat yang luar biasa dari Tuhan buat saya lewat orang tua yang memotivasi untuk mengambil jalan hidup ilmu pengetahuan. Harapan saya pun besar untuk itu, bahwa saya bisa membuat kontribusi yang besar buat ilmu pengetahuan. Ternyata, dunia menampar beberapa kali, karena saya ternyata belum punya bekal kuat untuk sampai ke situ. Lebih jauhnya, silahkan liat postingan 3 tahun yang lalu [di sini]. Selain itu, lambat laun saya pun menyadari bahwa bidang saya pelajari ini nampaknya semacam “ilmu tersier”. Ya, siapa sih yang butuh Computer Graphics kalau bukan orang-orang yang sudah mampu beli game atau nonton kartun di bioskop. Pun itu tidak sebegitu megahnya bila dibandingkan Fisika murni dengan riset di CERN-nya, Biologi dengan teori evolusi dan kedokterannya, serta Astronomi dengan pencarian habitable planet-nya. Selain itu, riset saya juga melulu di lab, dari pagi siang sampai tengah malam. Tidak seperti [Apratz], misalnya, sesama murid PhD yang baru-baru ini ke Ethiopia dalam rangka riset plus makan makanan tradisional sana. Atau temen saya [labima] yang pekerjaan barunya membuatnya pergi ke pelosok-pelosok Indonesia, ke tempat-tempat yang memang membutuhkan perhatiannya. Pemikiran seperti ini juga yang membuat saya tempo hari [mensinisi Ilmu Murni]. Karena, buat saya yang sebenernya sudah berurusan dengan riset aplikatif ini, matematikawan murni nampak seperti anak-anak yang suka bermain-main saja dengan dunianya. Tapi yang ini sudah ditulis tempo hari. Yang jelas, saya kadang jadi merasa bahwa apa yang saya lakukan rasanya kurang berguna buat orang-orang.

Contohnya mudah saja, dan belum lama ini terjadi. Latar belakang ceritanya, saya ini lebih merasa sebagai “orang Jogja” ketimbang “orang Indonesia”. Setidaknya identitas pertama lebih kuat ke saya. Nah, teman-teman yang tinggal di Indonesia mestinya lebih familiar dengan berita [ini].  Intinya sih, seorang seniman Yogyakarta, Bramantyo Prijosusilo berencana membuat aksi teatrikal di depan markas Majelis Mujahiddin Indonesia, tapi batal karena konon kabarnya waktu masih di andong sudah ditarik-tarik sama anggota mereka. Pikir saya waktu itu, sementara kampung saya lagi bermasalah, apa yang saya lakukan di sini? Walaupun kalau saya ada di sana juga belum tentu bisa berbuat apa-apa.

Jadi ya begitulah. Sebenarnya ada terbersit sedikit keinginan di benak saya untuk melakukan kegiatan sosial yang benar-benar menyentuh orang yang memang perlu. Ndak perlu jauh-jauh pulang kampung ke Jogja, apalagi sampai ke Afrika. Di negara tempat saya tinggal ini, masih banyak juga orang kurang beruntung, seperti saya pernah ungkit di [blog lama saya].

Namun demikian, apapun yang saya tulis di sini, saya sadari bahwa keinginan ini masih emosional, dan tidak baik untuk mengambil keputusan yang dilandasi emosi belaka. Jadi saya melakukan sedikit pemikiran dan menemukan berbagai rintangan yang bisa ditemui. Pertama, dari saya sendiri, saya sedang stres. Hidup saya masih tak jelas, dengan waktu sebagian besar dihabiskan untuk bermain PS coding untuk riset. Kedua, masih dari saya sendiri, kendati ada rintangan pertama, saya menyadari bahwa semakin tua saya, kehidupan saya semakin stabil, dan mungkin suatu saat kelak [saya jadi dekaden dan cuma ingin menjaga kestabilan hidup]. Ketiga, dari luar, saya tidak tahu apakah orang tua dan pasangan saya kelak (jika ada) akan berkenan jika saya musti menghabiskan banyak waktu dengan “proyek tak jelas secara finansial”. Kalau menilik lagu di bawah ini

Aku dikudang mbesuk gedhe dadi dokter (Aku…dininabobokkan? Besok kalau besar jadi dokter)
[…] Hanacaraka datasawala (ABCDE-nya huruf Jawa)

Iki cerita jaman semana (ini cerita jaman dahulu)
Dijajah landa urip rekasa (dijajah Belanda, hidup sengsara)
Saiki merdika ya dha golek bandha (sekarang merdeka ya pada cari uang)

“Kuncung” – Didi Kempot

(Lirik dari [sini])

Adalah keinginan banyak orang tua generasi baby boomer *halah* di Indonesia bahwa anak-anaknya menjadi orang yang mapan dan sukses. Kalau dalam kasus saya agak mendingan, setidaknya sudah cukup untuk membuat saya bersyukur. Tokoh blogger Indonesia, Alex Hidayat *loh*, pernah menulis [di sini] bahwa di kampungnya, orang-orang tua menganggap bahwa bekerja itu antara pakai seragam (baca: jadi PNS) atau punya toko. Nah, yang saya takutkan yang macam ini. Bahwa orang-orang terdekat saya semata-mata menginginkan saya untuk hidup stabil. Apalagi kalau melihat banyak teman-teman di Facebook, yang menurut justifikasi bias dan sepihak saya, terlalu cepat hidup mapan, dan saya jadi sinis setengah hidup. Yah, kemungkinan ini datang dari lingkungan saya bisa jadi ada. Mari kita lihat saja.

***

Sudah cukup saya menulis panjang lebar. Jadi ya begitulah. Kesimpulannya, ada sedikit keinginan dari saya untuk bisa lebih berguna buat orang-orang. Mungkin suatu saat saya akan memulainya kecil-kecilan dulu dari sekitar saya, kalau beban hidup sudah berkurang.

…yang bahkan sebenarnya pun kurang tepat.

41 And Jesus sitting over against the treasury, beheld how the people cast money into the treasury. And many that were rich cast in much. 42 And there came a certain poor widow: and she cast in two mites, which make a farthing. 43 And calling his disciples together, he says to them: Amen I say to you, this poor widow has cast in more than all they who have cast into the treasury. 44 For all they did cast in of their abundance; but she of her want cast in all she had, even her whole living.

Mark 12:41–44

Sekian dan terima kasih.


lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

September 2021
S M T W T F S
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  
Click to view my Personality Profile page