Elitism Manifesto

Before you read the rest of the post, please note that this post covers a resentful thought of mine. That’s why so far I always keep it to myself, and share it only to a few people. But I am worried, and not feeling comfortable with it.

So, here goes the premise:

Under the same circumstances, the bigger the contribution a person gives, the bigger the importance of that person’s existence.

The example is simple. An MIT professor’s existence is much more worthy than that of a professor at any university in my home country, since generally her/his research results are of much better quality and more widely published, thus more beneficial to the society. The implementation varies depending on the field you are at, but the idea is the same: be an Albert Schweitzer, be a Mother Teresa, be a Stephen Hawking, be a Richard Stallman, be a Muhammad Yunus.

This idea, however, brings unpleasant consequences if you fully adhere to it. Firstly, you are prone to depression, moreover if you cannot achieve your idealised goal. Secondly, you tend to underestimate other people whose, let’s say, position is lower than you. I would like to bring this article to your attention, but it was actually her fault for being ill-mannered. Thirdly, you will enforce this idealism to your peers, who might disagree with you. Indeed contributing to the society is good, but does s/he really want to maximise it? Fourthly, you cannot appreciate other’s works, especially those which might look small to you, but are very precious to them. People who can get out of poverty by their own hands are heroes to themselves.

About this issue, my friend argues that:

Every person deserves equal rewards, regardless how big her/his contribution is.

and that

Life is complementary.

Religiously speaking, Jesus himself asserted this when he said (please read the whole passage to get the idea what his saying is about):

“But one thing is necessary. Mary hath chosen the best part, which shall not be taken away from her.”

Luke 10: 42

But I can’t find what my friend said convincing. I have no sentiment towards communism, but the better person should deserve more reward, or essentially possess a more important existence. And yes life is complimentary, but the dirty works should be left to machines, so that we humans can fully concentrate on innovations. And regarding the Bible passage, to me hearing Jesus’ words and preparing meals for the guests are of almost the same importance, so it’s not that it is related to what I am concerned of.

I don’t like elitism. I want every person to be equal, whatever s/he does as long as s/he complies with the law and norms. I want to believe in egalitarianism, but I am stuck within this idea of elitism. Unless I can disprove it, I am doomed to mind-blowing experiences.

Image source
Bible verse source

UPDATE: This Greg Mankiw’s article somehow attracts my attention. To cite his sentence a little bit,

“Saint Peter will not judge you solely by checking the Social Science Citation Index.”

21 Responses to “Elitism Manifesto”


  1. 1 Ando-kun 14/11/2009 at 3:11 AM

    Lihat gambarnya…..
    Gambarnya bagus…..
    Bagus juga perumpamaannya….
    Perumpamaannya dengan elitisme

  2. 2 Mizzy 14/11/2009 at 8:30 AM

    Every person deserves equal rewards, regardless how big her/his contribution is.

    IMHO, ini agak kurang adil. Semakin besar kontribusi seseorang berarti semakin besar usaha yang dia lakukan, dan semestinya semakin besar reward yang dia peroleh juga. Jika semuanya, baik yang kerja dikit maupun yang banyak memperoleh reward yang sama, bisa jadi yang bekerja banyak (mungkin) berfikir begini, “ah, saya kerja cape-cape tapi kok dihargai sama dengan yg kerjanya dikit. Mendingan kerja santai aja”.. well, misalnya begitu:mrgreen:

    Fourthly, you cannot appreciate other’s works, especially those which might look small to you, but are very precious to them.

    Eee iya sih, pandangan “besar” atau “kecil”-nya perkerjaan orang lain, kan menurut pendapat kita. Bisa jadi menurut kita “kecil”, tapi buat dia “besar”.

    *nyambung ga sih*🙄

  3. 3 ManusiaSuper 14/11/2009 at 9:43 AM

    bergerak di sisi pemikiran semacam ini memang kadang membingungkan.. rumit, bikin pusing, repot…

    bagaimana kalau kita coba saya melakukan sesuatu yang ‘besar’ dulu lalu tunggu apa yang hidup berikan pada kita sebagai ganjarannya…

    eh, ngomong-ngomong, saya melihat negara ini kok pada dasarnya menganut faham ‘kiri’ ya? melihat dari sistem kepegawaiannnya, PINTER BEGO GAJI SAMA…. *Pegawai Negeri yang merasa dirinya golongan Elite*

  4. 4 Arm 14/11/2009 at 6:52 PM

    Secondly, you tend to underestimate other people whose, let’s say, position is lower than you

    this:mrgreen:
    pernah di posisi yg cuma liat tokai, pernah juga di posisi yg cuma liat pantat
    IMO sih menjadi elitis boleh2 saja sesekali, untuk membangkitkan rasa pede aja. cuma secara keseluruhan ya harus sadar kalo terus2an menjadi elitis lama2 ga bisa menghargai orang lain🙂
    karena IMHO idealnya semua pekerjaan itu asal dikerjakan dengan profesional oleh orang yg tepat sangat layak untuk dihargai😉

  5. 5 dnial 14/11/2009 at 7:50 PM

    Elitism itu baru bisa jalan kalau mereka yang di atas bisa bilang: “Ke sinilah, lihat dunia dari atas sini.” dan mereka yang di bawah punya kesempatan yang sama untuk mendaki ke puncak.

    Tapi faktanya nggak gitu kan?

    Yang di atas akan merasa potongan kuenya semakin kecil dengan banyak orang di atas, yang di bawah merasa iri dengan di atas.

    Tapi, itu adalah prinsip dasar yang, kalo di Amrik, kanan. Same Opportunity instead of same rewards.

    Ada hal-hal yang harusnya equal reward, atau tepatnya didistribusikan secara merata, atau minimal cukup, seperti gizi, pendidikan wajib, dan air. Ada hal yang dihadiahkan pada mereka yang layak, pendidikan tinggi, uang, sosial status.

    Eniwei:

    Every person deserves equal rewards, regardless how big her/his contribution is.

    Bukannya ini prinsip komunis ya? Tapi kalau kerja keras, dan kerja biasa , dan nggak kerja hasilnya sama, ngapain kita susah-susah kerja?

    Insentif itu tetap perlu.

  6. 6 Ali Sastro 15/11/2009 at 1:59 AM

    You don’t give us a clear definition of what you mean with elitism. Maksudnya elitisme dalam pengertian bahwa hanya orang pintar saja yang perlu dianggap serius dan dibolehkan memimpin negara? Seperti misalnya Sam Harris menolak Palin karena dia bodoh? Atau elitisme orang-orang berduit? Atau elitisme apa nih? Menurutku elitisme itu sah-sah aja; tapi unwise. Karena you never know bahwa dunia gak mesti hirarkis kayak gitu; ada yang di tas dan di bawah. Elitisme bisa jadi cuma sebentuk kekeraskepalaan saja.

  7. 7 Nicholas Hwa 15/11/2009 at 10:27 AM

    Anyway, I notice that the weakness of elitism is that it doesn’t recognise efforts. Only results.

    @Ando-kun
    Burung + tahi = bagus?😕

    @Mizzy

    “ah, saya kerja cape-cape tapi kok dihargai sama dengan yg kerjanya dikit. Mendingan kerja santai aja

    Karena itu saya menuduh temen saya komunis.😆

    Eee iya sih, pandangan “besar” atau “kecil”-nya perkerjaan orang lain, kan menurut pendapat kita. Bisa jadi menurut kita “kecil”, tapi buat dia “besar”.

    Nah, ini dia kelemahan lain. Elitisme hanya memandang besar dan kecil secara makrokosmos. *halah*

    @ManusiaSuper

    bagaimana kalau kita coba saya melakukan sesuatu yang ‘besar’ dulu lalu tunggu apa yang hidup berikan pada kita sebagai ganjarannya…

    Saya ini kayanya termasuk calon elitis gagal.😆 Jadi ya saya kerjakan saja tugas-tugas saya sebisa mungkin.🙂

    saya melihat negara ini kok pada dasarnya menganut faham ‘kiri’ ya? melihat dari sistem kepegawaiannnya, PINTER BEGO GAJI SAMA…

    Baru tahu ya kalau dasar negara kita itu adalah komunisme? Namanya aja Republik Rakyat Indonesia.😆 (ninja)

    @Arm

    IMO sih menjadi elitis boleh2 saja sesekali, untuk membangkitkan rasa pede aja. cuma secara keseluruhan ya harus sadar kalo terus2an menjadi elitis lama2 ga bisa menghargai orang lain

    *tertohok* Kurang bisa menghargai orang yang target hidupnya medioker.😐

    @dnial
    Kekekeke main ekonomi nih.:mrgreen:

    Elitism itu baru bisa jalan kalau mereka yang di atas bisa bilang: “Ke sinilah, lihat dunia dari atas sini.” dan mereka yang di bawah punya kesempatan yang sama untuk mendaki ke puncak.

    Well, dalam kasus saya, awal mulanya adalah melihat mereka-mereka (para profesor dan postdoc) yang ada di atas (di MIT, Stanford, …). Dan saya ingin menjadi seperti mereka. Rasanya kalau tidak demikian hidup tidak ada artinya.😐

    Tapi, itu adalah prinsip dasar yang, kalo di Amrik, kanan. Same Opportunity instead of same rewards.

    Wah saya orang kanan dong.😆

    @Ali Sastro
    Waduh kurang jelas ya? Jadi maksud saya begini. Ini elitisme dalam hal kontribusi ke society. Semakin besar kontribusi seseorang, semakin besar arti pentingnya eksistensi individu tersebut. Kalau kontribusimu tidak besar, berarti eksistensimu kurang bernilai dan orang lain bisa menggantikanmu. Cara ekstrimnya, kamu tidak pantas hidup. Oleh karena itu kita harus mengejar posisi setinggi mungkin, lewat jalur-jalur yang memang sudah elite, apalagi kalau memang dari awal sudah ada potensi untuk ke sana. Makanya saya suka sebel kalo melihat teman-teman saya yang cuman berakhir mburuh di Jakarta. Mereka ini harusnya bisa ke luar negeri! Ini juga yang menjadi alasan saya mendorong adik saya untuk tidak kuliah di univ dalam negeri yang ilmunya tidak up-to-date dan dipenuhi mindset yang salah. Anak-anak Indonesia yang mau kuliah itu harusnya target utamanya bukan ITB, UI atau UGM, tapi MIT, Harvard, Princeton atau Tokyo, univ-univ besar yang ngasih beasiswa penuh itu!

  8. 8 Ali Sastro 15/11/2009 at 10:34 AM

    That’s not elitism, IMO. TIdak ada elitisme tanpa privilege yang nhyata secara fisik. Kalo cuma kepuasan hati; semua orang juga merasa elit toh dengan dirinya sendiri?

  9. 9 Nicholas Hwa 15/11/2009 at 11:17 AM

    Privilege yang nyata as in diskriminasi, kamu ga level jangan gabung sama kami? Walah, mosok saya harus benar-benar mengimplementasikannya di RL baru boleh protes.😆
    Atau salah istilah saja ini? IMO opini ini mirip dengan artikel ini (yah Wikipedia lagi sih).😕

  10. 10 bennlucky7 15/11/2009 at 7:54 PM

    hmm.. menarik juga nih ya, akademic elitsm.
    gambarnya cocok juga haha

  11. 11 Mizzy 16/11/2009 at 8:47 AM

    Nixx, elit di sini dalam hal ybs menganggap dirinya elit, atao orang lain yang dibawahnya yang ngiri bilang ybs elit? (unsure)😐

  12. 12 Felicia 16/11/2009 at 9:37 AM

    di kantorku, konon orang2nya dibayar berdasarkan 3 hal…
    pertama, orang2 yang duduk di posisi yang sama akan mendapat gaji yang sama…
    tapi setelah posisi, yang menentukan besarnya bonus adalah performance orang tersebut…
    mungkin bisa juga dipraktekan seperti itu…
    maksudnya ada reward dasar yang besarnya sama untuk semua orang, tapi ada juga kelebihan reward yang diterima sebagai bonus dari besarnya usaha yang dilakukan😀

  13. 13 Snowie 17/11/2009 at 4:14 PM

    entah kenapa, saya cuma ngerti, semakin berisi, padi semakin merunduk…
    Semakin mendapat posisi semakin bisa berbuat banyak kebaikan…

    Ah, gak tau deh… Toh posisi saya juga entah di level mana. Jadi gak bisa dipertanggung jawabkan juga sih pendapatnya.😛

  14. 14 jensen99 18/11/2009 at 1:05 AM

    I want every person to be equal, whatever s/he does as long as s/he complies with the law and norms.

    Hmm… Workers in the Vineyard style?

    Anak-anak Indonesia yang mau kuliah itu harusnya target utamanya bukan ITB, UI atau UGM tapi […]

    Kalo aja kita gak temenan di blogsfer, kaya’nya saya bakal jadi tokai dimatamu deh… *gulp*😐

  15. 15 S™J 18/11/2009 at 2:19 PM

    Hmmm… I guess I’m the one who see assholes *please don’t throw me shit*:mrgreen:

  16. 16 Ali Sastro 19/11/2009 at 8:51 AM

    ^

    Di kantor? Walah itu mah assholes menyebalkan!!!

  17. 17 dnial 19/11/2009 at 9:26 AM

    Asal happy jadi tokay sih asik2 aja…
    The problem with elitism is they don’t guarantee happiness, moreover, they guarantee you won’t be happy. Happiness is sign of complacency. (haiyah bener nggak sih? Complacent – adj, complacency noun-nya?) They abhor complacency. Keep moving… fire and motion, fire and motion.

    As Indonesian, I find this life kinda depressing. So, any of you, see lambrtz few years for now, just ask him, “Do you happy?”

    I hope he is.😀

    Do Singaporean happier than us, Indonesian, I wonder?

  18. 18 dnial 19/11/2009 at 9:30 AM

    abhor: to regard with extreme repugnance or aversion; detest utterly; loathe; abominate.

    hasil belajar GRE, tuh kan kata2 yang dipakai sudah mulai aneh. :))

  19. 19 dnial 19/11/2009 at 9:33 AM

    Kalo aja kita gak temenan di blogsfer, kaya’nya saya bakal jadi tokai dimatamu deh… *gulp*😐

    Dude, jangan biarkan universitas alumnimu mendefinisikan dirimu.😀

  20. 20 S™J 19/11/2009 at 10:03 AM

    @ Ali Sastro

    yoi… dalam hirarki negara juga kan… i guess alot of people just throw shits on me.. shiiiiiiit! :))

  21. 21 Fitri 19/11/2009 at 1:55 PM

    Nice keep posting.

    Jika padi berisi memang makin merunduk. Tapi merunduknya karna keberatan isi lho.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

November 2009
S M T W T F S
« Oct   Dec »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
Click to view my Personality Profile page